Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Damai


__ADS_3

Entah apa yang membuat Dimas tetap berdiri di sana meski hujan tak berhenti membasahi badannya dan Dini yang masih tetap mengabaikannya.


"Andiiii!" teriak Pak Joko yang tiba-tiba mendekati Andi.


"Ada apa yah?" tanya Andi pada ayahnya.


"Ibu kan minta kamu beli benang, ngapain malah di sini?"


"Eh, iya yah, Andi lupa, Andi beli dulu yah!" jawab Andi sambil berjalan cepat meninggalkan ayahnya.


Setelah membeli benang, Andi masih melihat Dimas di depan rumah Dini.


"Maaf Bu, lama," ucap Andi pada ibunya sambil memberikan benang yang sudah dibelinya.


"Iya, nggak papa," jawab Bu Joko sabar.


Andi kembali masuk ke kamarnya, ada banyak missed call dan chat dari Anita.


"Andi, kamu jangan salah paham ya, aku sama Dimas nggak ada apa-apa, dia cuma bantuin aku, aku bener-bener terpuruk saat itu, aku di rumah sakit beberapa hari dan papa sama sekali nggak peduliin aku, cuma Dimas yang selalu nemenin aku, dia bener-bener sayang sama Dini, banyak cewek yang deketin dia, tapi baginya cuma Dini masa depannya, jadi aku nggak mungkin ada apa-apa sama Dimas, tolong kamu percaya Ndi." -isi chat Anita-


Andipun pergi ke rumah Dini, bukan untuk menemui Dini, tapi untuk menemui Dimas.


Ia tidak bisa lagi menutup mata pada apa yang sudah Dimas lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Dini.


Suka atau tidak, Dimas sekarang memang bukan Dimas yang dulu dia kenal. Dia begitu gigih untuk mendapatkan maaf dari Dini.


Kesungguhannya sangat terlihat meski Andi mencoba untuk tidak mempercayainya. Andipun melihat Dini sudah benar-benar memaafkan Dimas dan terlihat bahagia ketika bersama Dimas.


"Andi ke rumah Dini bentar ya Bu."


"Iya, hati-hati."


Sesampainya di depan rumah Dini, ia segera mendekati Dimas.


"Lo ngapain di sini?" tanya Andi sambil memayungi Dimas yang sudah basah.


"Gue mau minta maaf sama Dini, tolong biarin gue di sini Ndi."


"Jangan bodoh lah Dim!"


"Ini cuma salah paham Ndi, Dini harus tau yang sebenarnya."


"Dini nggak akan mungkin keluar Dim dan gue juga nggak mau pegang payung terus buat lo!"


"Kita hujan-hujan bareng Ndi!" balas Dimas sambil merebut payung yang dibawa Andi dan membuangnya.


"Gila lo Dim!" umpat Andi yang mulai basah.


"Hahaha, biar adil Ndi," balas Dimas dengan tertawa puas.


Andi hanya pasrah membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Lo ngapain ke sini?" tanya Dimas pada Andi.


"Gue mau minta maaf sama lo," jawab Andi pelan.


"Apa? gue nggak salah denger?" tanya Dimas tak percaya.


"Gue serius, mungkin ini saatnya gue lepasin Dini buat lo," jawab Andi serius.


"Kenapa lo tiba-tiba...."


"Gue lakuin ini buat Dini, gue cuma mau Dini bahagia dan gue percaya lo bisa bikin dia bahagia."


"Gue nggak akan ambil Dini dari lo Ndi, gue tau sedeket apa hubungan kalian, biarin Dini yang nentuin sendiri siapa yang akan dia percaya buat masa depannya."


Andi mengangguk, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini adalah yang terbaik untuk semuanya. Mungkin dengan ini perasaannya pada Dini bisa hilang sedikit demi sedikit.


"Tapi kalau sampe' lo nyakitin Dini sekali aja, jangan harap akan ada kesempatan lagi," ucap Andi tegas.


"Iya Ndi, gue tau."


Dini yang masih memperhatikan Dimas dari balik jendela terkejut melihat Andi yang tiba-tiba datang, terlebih sikapnya pada Dimas begitu berubah.


Mereka terlihat berbicara serius tapi juga sesekali tertawa memperlihatkan keakraban mereka.


Dimas yang sudah berjam jam berdiri di bawah guyuran hujan tidak henti-hentinya bersin membuat Andi tertawa puas melihatnya.


"Lo nyebarin virus aja sih!" ucap Andi melangkah menjauhi Dimas.


"Hahaha, bersihin ingus lo tuh baru ngomong," balas Andi mengejek Dimas.


Karena tidak tega melihat Dimas dan Andi, Dinipun membuatkan teh hangat untuk mereka berdua dan menyuruh mereka masuk.


"Masuk, aku udah bikin teh hangat buat kalian," ucap Dini datar.


Andi dan Dimaspun segera masuk dan meminum teh yang sudah Dini buat untuk mereka.


"Makasih Andini," ucap Dimas pada Dini, ia senang karena usahanya tidak sia-sia.


"Lo harus ganti baju deh kayaknya, kalau gue sih kuat ya, hujan-hujan gitu doang nggak bikin gue sakit," ucap Andi mencibir.


"Eh, gue nggak sakit ya, gue..... haaaciiihhh...."


"Hahaha, dasar lemah," lanjut Andi sambil tertawa puas.


"Udah Ndi, kamu ganti baju ya Dim, tapi aku nggak punya baju cowok, ada jaket yang agak gede sih kalau kamu mau sama celana olahraga ku juga agak gede," ucap Dini.


"Iya nggak papa daripada aku nggak ganti baju," balas Dimas sambil menahan bersin.


Dinipun mengambilkan jaket dan celana olahraganya yang menurutnya besar dan menunjukkan kamar mandinya agar Dimas segera mengganti pakaiannya yang basah.


Setelah berganti pakaian, Dimas keluar dari kamar mandi dengan berjalan pelan karena pakaian yang Dini berikan terlalu kecil untuk badannya.

__ADS_1


Melihat hal itu, Andi kembali tertawa puas.


"Hahaha, lo sexy banget Dim, mau mangkal?"


"Andini, kamu yakin ini pakaian kamu yang paling besar?" tanya Dimas pada Dini.


"Iya Dimas, aku nggak punya lagi."


"Aku takut robek," ucap Dimas tanpa berani banyak bergerak.


"Nggak papa, itu celana olahraga lama kok, jaketnya juga jarang aku pake' gara-gara terlalu besar."


"Sini, duduk sama om," ucap Andi menggoda Dimas.


"Apaan sih lo Ndi, geli banget deh!" jawab Dimas kesal.


"Hahaha...."


"Kalian ngapain sih hujan-hujan?" tanya Dini.


"Aku nunggu kamu mau dengerin penjelasanku Andini," jawab Dimas.


"Aku ikut-ikut aja hehehe," jawab Andi terkekeh.


"Andini, tolong kasih kesempatan aku buat jelasin yang sebenarnya sama kamu," ucap Dimas sambil memegang kedua tangan Dini.


Dini merasakan tangan Dimas begitu dingin dan ia baru sadar jika wajah Dimas terlihat pucat. Ia pun menempelkan tangannya di dahi Dimas.


"Dimas, kamu demam?" tanya Dini.


"Enggak, aku nggak papa, aku cuma.... haaacciiiihhh...."


"Maaf Andini, aku.... haaacciiiihhh...." ucap Dimas terputus-putus karena bersin.


"Minum Dim," ucap Dini sambil memberikan teh hangat untuk Dimas.


"Lo nggak bawa mobil Dim?" tanya Andi.


"Enggak, gue jalan kaki dari rumah," jawab Dimas.


"Hmmmmm, niat banget sih lo Dim, lo emang paling bisa ngambil hati Dini," ucap Andi dalam hati.


"Mau gue anter pulang?"


"Boleh deh, tapi ntar ya, gue mau ngomong bentar sama Dini," jawab Dimas sambil mengedipkan mata pada Andi, sebagai isyarat untuk memberikan waktu Dimas dan Dini berdua.


Andipun paham dan segera berpamitan pulang.


"Gue pulang dulu ya Din, ambil motor buat anter Dimas."


"Iya Ndi."

__ADS_1


__ADS_2