Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Pandangan Mata


__ADS_3

Cahaya temaram bulan masih terpancar malam itu. Andi dan Aletta masih berdiri di tangga antrian untuk menaiki bianglala yang berputar pelan di hadapan mereka. Aletta masih sibuk dengan hatinya yang berbunga bunga. Hatinya kini seperti taman dengan banyak bunga yang bermekaran di sana.


Tiba tiba seseorang tanpa sengaja menumpahkan minumannya hingga mengenai jaket jeans yang dikenakan Aletta, membuat Aletta tersadar dari lamunannya, membuatnya tersadar jika ia harus segera pergi dari tempat itu.


"Maaf kak, nggak sengaja, maaf ya!" ucap seseorang itu.


"Nggak papa kok," jawab Aletta sambil melepaskan jaket jeans yang dikenakannya, hanya menyisakan kaos lengan pendek saja.


"Aku turun aja ya," ucap Aletta pada Andi.


"Jangan, pake' punya ku aja," ucap Andi sambil melepas kemejanya dan memakaikannya pada Aletta.


Aletta hanya diam membiarkan Andi memakaikan kemeja itu padanya. Andi kembali menggandeng tangan Aletta. Setelah keranjang besar berhenti di depan mereka, Andi segera melangkah masuk dan menarik tangan Aletta yang seperti enggan untuk masuk.


"Ayo Ta, buruan!"


Dengan ragu Aletta melangkahkan kakinya untuk masuk dan duduk di dalam keranjang besar yang mulai bergerak naik dengan sangat pelan. Ia duduk di hadapan Andi dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya. Ia menutup mata dengan kedua tangannya, ia bahkan tak mampu untuk duduk dengan tegak.


"Lo nggak papa? apa masih mual?" tanya Andi yang melihat Aletta sedang tidak baik baik saja.


Aletta hanya diam dan menggeleng pelan.


"Lo kenapa Ta?"


Aletta masih diam. Badannya terasa kaku, darahnya seperti berhenti mengalir saat itu juga. Ia memejamkan matanya, bayangan seorang wanita datang menghampirinya. Wanita itu mengajaknya untuk berjalan ke atas sebuah menara. Ia menaiki satu demi satu anak tangga yang membawanya ke puncak menara. Senyum ceria dan bahagia tampak dari wanita yang menggandeng tangannya itu. Ketika mereka sudah berada di puncak menara, wanita itu berbicara padanya.


"bahagia lah sayang, meski tanpa mama,"


Ucapnya lalu berdiri di tepi pembatas dan menancapkan pisau ke perutnya lalu menjatuhkan diri dari puncak menara itu. Aletta yang masih sangat kecil waktu itu hanya bisa menangis. Ia melihat ke bawah dan hanya melihat pepohonan yang rimbun. Ia kehilangan mamanya. Ia menangis sampai seseorang datang dan membawanya pergi.


Andi segera pindah dari tempat duduknya. Ia duduk di sebelah Aletta, membuat keranjang besar itu sedikit bergoyang karena tidak seimbang. Aletta berteriak dengan masih menutup mata menggunakan kedua tangannya.


Andi merengkuh Aletta ke dalam pelukannya. Ia baru menyadari jika mungkin Aletta takut ketinggian. Aletta masih menutup matanya. Ia tidak berani bergerak sedikitpun, badannya bergetar menahan ketakutan yang menyerang dirinya.


"Tenang Ta, ada gue di sini," ucap Andi berusaha menenangkan Aletta.


Aletta masih diam. Ia memeluk Andi dengan erat. Debar di jantungnya sekarang bukan lagi tentang cinta. Lagu romantis yang berdendang mesra di hatinya kini menjadi alunan musik yang mencekam baginya.


Sampai keranjang itu membawanya turun, Aletta masih belum melepaskan Andi dari pelukannya. Tepat ketika petugas bianglala membuka pintu untuk mereka keluar, Aletta pingsan. Dengan dibantu oleh petugas, Andi membawa Aletta ke ruangan informasi. Di sana Aletta di baringkan di ranjang yang biasa digunakan untuk para petugas beristirahat.


Tak sampai 10 menit, Aletta bangun. Andi masih menunggu di sampingnya dengan khawatir.


"Minum dulu Ta," ucap Andi dengan membantu Aletta duduk dan memberinya minum.


"Kita dimana Ndi?"


"Di ruangan informasi, gimana keadaan lo?"


"Gue nggak papa, sorry gue jadi ngrepotin lo!"


"Gue yang harusnya minta maaf, maaf karena maksa lo buat naik bianglala itu," ucap Andi dengan rasa bersalah.


"Nggak papa," balas Aletta dengan senyum cerianya.


"Kenapa lo nggak bilang sih kalau lo takut ketinggian?"


"Gue malu hehehe....."


"Ngapain malu Ta, semua orang punya hal yang ditakutinya masing masing."


Aletta mengangguk lalu kembali menyeruput minuman yang Andi beri untuknya.


"Ayo keluar!" ajak Aletta.


"Lo udah nggak papa?"


"Nggak papa, gue baik baik aja, ayo!" jawab Aletta lalu turun dari ranjang dan keluar dari ruangan itu.


Mereka segera mencari Nico karena ponsel mereka berdua lowbatt saat itu.


Setelah beberapa lama berputar putar mencari Nico, mereka akhirnya menyerah.


"Kemana sih tuh anak!" gerutu Aletta kesal.


"Kita tunggu di pintu keluar aja gimana?"


"Ayo!"


Andi dan Alettapun berjalan ke arah pintu luar. Sama halnya seperti pintu masuk, di sekitar pintu keluar juga berjajar makanan dengan segala macam rasa dan harganya.


Tak jauh dari pintu keluar, mereka melihat Nico sedang asik dengan beberapa jenis makanan di hadapannya. Andi dan Alettapun segera menghampirinya.


"Makan nggak ngajak ngajak!" ucap Aletta sambil mengambil 1 potong martabak di hadapan Nico.


"Kalian dari mana aja sih? dua duanya gue hubungin nggak ada yang bisa."


"Lowbatt!"


"Lowbatt!" jawab Aletta dan Andi bersamaan.


"Kompak banget, ayo pulang, capek banget gue!"

__ADS_1


"Capek makan maksud lo?"


"Iya hahaha....."


Merekapun pulang dengan menggunakan taksi. Aletta sudah tidak berani lagi menaiki bis.


"Jaket lo kenapa Al?" tanya Nico yang melihat Aletta membawa jaketnya dan mengenakan kemeja milik Andi.


"Ketumpahan minuman tadi," jawab Aletta.


"Lo tuh ceroboh pasti, kemarin waktu di rumah sakit juga baju lo ketumpahan minuman kan?"


"Beda cerita Nic, waktu di rumah sakit gue ketemu......" Aletta menghentikan ucapannya, hampir saja ia salah bicara.


"Ketemu siapa?" tanya Nico penasaran.


"Mmmmm, ketemu orang orang hehe....."


"Nggak jelas lo!"


"Bodo amat!"


Sesampainya di kos, mereka segera merebahkan badan di kursi panjang teras kos.


"Capek banget," ucap Nico.


"Kebanyakan makan sih lo!" balas Aletta.


"Gue tidur dulu ya guys, ngantuk!" ucap Nico lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.


"Kebiasaan, abis makan tidur!" balas Andi namun diabaikan oleh Nico.


Kini hanya ada Aletta dan Andi di sana.


"Kemejanya gue balikin besok ya kalau udah gue cuci," ucap Aletta pada Andi.


"Santai aja," jawab Andi.


"Gue mau nanya sesuatu," lanjut Andi.


"Apa?"


"Nggak jadi hehehe..."


Andi mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang kejadian di bianglala tadi. Ia ingin tau apa yang membuat Aletta begitu takut dengan ketinggian. Tapi ia merasa belum terlalu dekat dengan Aletta, jadi ia masih menyimpan pertanyaan itu dalam dirinya.


"Lo mau tanya apa? soal di bianglala tadi?"


"Enggak kok, bukan soal itu," jawab Andi mengelak.


"Iya gue takut ketinggian, gue akrofobia, gue udah pernah coba buat hilangin ketakutan gue tapi nggak bisa, beberapa kali gue maksa buat naik ke tempat tinggi, hasilnya gue malah pingsan," jelas Aletta.


Akrofobia, Andi tidak asing dengan hal itu. Ia pernah membaca buku tentang berbagai macam fobia termasuk akrofobia atau yang biasa disebut fobia ketinggian. Ketakutan berlebihan ketika seseorang berada di ketinggian meskipun tidak dalam situasi yang berbahaya. Penderita akrofobia biasanya akan merasa panik, cemas, gelisah dan ketakutan yang tak tekendali selain itu mereka kadang merasa pusing, keluar keringat dingin, sesak napas hingga pingsan.


Aletta tau apa yang ia rasakan ketika di tempat yang tinggi tidaklah wajar, tapi ia tidak bisa meredam rasa takut itu. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak merasakan hal hal yang membuatnya takut.


Malam semakin larut. Andi dan Aletta masih berada di luar. Menatap cahaya samar sang rembulan yang bersembunyi di balik awan. Langit tampak sepi, tak ada titik titik bintang yang menemani bulan di atas sana.


Tak lama kemudian angin datang membawa rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Hawa dingin mulai menyelimuti mereka yang hanya duduk berdua tanpa suara.


"Masuk Ta, dingin," ucap Andi pada Aletta.


"Lo duluan aja!" balas Aletta.


"Gue mau keluar," ucap Andi sambil mengambil payung dari dalam kamarnya.


"Lo mau kemana?"


"Rahasia," jawab Andi lalu keluar menerobos tetes tetes hujan yang sudah mulai membuat genangan di beberapa tempat.


Andi berjalan pelan ke arah rumah sakit. Ia merindukan sahabatnya, sahabat yang dicintainya dalam diam. Andi berjalan di bawah payung yang melindunginya dari derasnya hujan, tapi hujan malam itu tidak sendirian, ia membawa serta angin yang memeluknya erat, membawa rasa dingin yang menyusup ke seluruh tubuh. Andi sedikit menggigil. Ia hanya mengenakan kaos lengan pendek saat itu. Ia tak sempat mengenakan jaket atau berganti pakaian tadi.


Bagi Andi, hujan selalu membawa rindu di hatinya. Menarik dirinya untuk segera menemui seseorang yang selalu meringkuk di bawah hujan. Seseorang yang akan selalu ia lindungi dengan segenap hati dan jiwanya. Seseorang yang akan selalu ia simpan jauh di lubuk hatinya. Seseorang yang akan selalu menjadi satu satunya cinta dalam hatinya. Seseorang yang selalu hadir dalam impian masa depannya.


Andi tak banyak berharap, ia hanya ingin sahabat yang dicintainya itu bahagia. Cinta di hatinya begitu tulus, ia tak mengaharapkan balasan apapun. Bahkan ia rela menyimpan perasaan itu dalam dalam, mengesampingkan inginnya untuk memiliki. Dalam hati kecilnya, ia ingin Dini bersamanya, menjadi miliknya seutuhnya. Tapi ia buang jauh jauh rasa itu. Memaksakan keinginannya hanya akan menyakiti Dini dan membuat Dini menjauh darinya. Tentu ia tidak ingin itu terjadi.


Jadi, cukup ia yang mencintai Dini. Cukup rasa itu hadir tanpa meminta balasan. Andi bahagia dengan cinta di hatinya.


Senyum manis tergaris di bibirnya ketika ia sudah dekat dengan ruangan Dini. Ia menyapa 2 body guard Nico yang masih setia menjaga Dini di sana.


Pelan, ia membuka pintu ruangan Dini. Senyum di bibirnya pudar ketika ia melihat Dimas yang menggengam tangan Dini erat. Bunga bunga di hatinya seperti tiba tiba layu. Semerbak hembusan wanginya kini menjelma menjadi hembusan panas yang membakar hatinya. Ia diam beberapa saat sebelum ia bisa menguasai hatinya.


"Andi," panggil Dini.


Andi tersenyum dan menaruh 1 kantong buah di meja sebelah ranjang Dini.


"Aku cuma mau nganter ini, dari ibu," ucap Andi berbohong.


"Kenapa nggak besok aja?" tanya Dimas.


"Gue pikir lo udah pulang, sorry kalau gue ganggu!"

__ADS_1


"Enggak kok, kamu nggak ganggu," sahut Dini.


"Gimana keadaan kamu Din?"


"Baik, Dokter bilang mungkin 2 atau 3 hari lagi aku udah bisa pulang," jawab Dini.


"Jangan tidur malem malem ya, kamu harus banyak istirahat!"


Dini mengangguk.


"Aku balik dulu kalau gitu, gue duluan ya Dim!" ucap Andi lalu berpamitan pada Dimas.


"Oke Ndi!"


"Hati hati Ndi, makasih buahnya!"


Andi mengangguk dan tersenyum lalu melangkah keluar dari ruangan Dini.


Langkah yang berat baginya. Ia sudah tak merasakan dingin lagi, ia bahkan merasa panas. Ia keluar dari rumah sakit tanpa membawa payungnya. Ia membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Mencoba mendinginkan hatinya yang sedang membara. Ia berjalan pelan ditemani tetes hujan yang seakan memeluk dirinya dengan kesedihan dan kepedihan.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, hujan masih belum lelah menumpahkan semua tetesnya. Andi masih belum kembali ke kosnya. Ia duduk di kursi trotoar, menatap kosong ke arah jalan raya. Ia tersenyum pilu. Hatinya masih terasa sakit, tapi ia mengabaikannya.


Tiba tiba ia merasa tetes hujan berhenti membasahi tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati hujan yang masih memenuhi genangan air.


"Manusia kutub," panggil Aletta yang berdiri di belakang Andi.


Andi menoleh, ia melihat Aletta dengan senyum manisnya sedang berdiri memegang payung.


"Lo ngapain kesini?" tanya Andi dengan mengarahkan payung ke arah Aletta karena sebelumnya Aletta mengarahkan payung itu ke arahnya, membuat bagian belakang tubuh Aletta basah.


"Pingin jalan jalan aja," jawab Aletta sekenanya. Ia lalu duduk di samping Andi, tak peduli jika kursi yang ia duduki basah.


"Jalan jalan? tengah malem gini?"


"Iya, emang kenapa? lo juga ngapain di sini malem malem, hujan hujan lagi!"


"Ta, lo ini cewek, jangan suka jalan sendiri tengah malem!"


"Kenapa? emang cuma cowok yang boleh keluyuran waktu malem?"


"Ya nggak gitu, lo......"


"Lo belum jawab pertanyaan gue manusia kutub!" sela Aletta.


"Gue.... gue cari angin.... iya cari angin," jawab Andi asal.


"Cari angin? lo nggak punya kipas angin di kamar?"


"Lo pulang aja Ta, ini udah malem!"


"Lo biarin gue pulang sendirian?"


"Gue....."


"Oke, gue balik dulu ya!" ucap Aletta lalu beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Andi.


Andi tersenyum tipis lalu berjalan cepat ke arah Aletta dan merebut payung yang dipegang Aletta. Kini dia berjalan berdua dengan Aletta, tangannya memegang payung untuk memayungi mereka berdua meski dirinya sendiri sudah basah kuyup.


Sesampainya di tempat kos, Andi segera mandi dan berganti baju. Ketika akan merebahkan badannya, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Andi bangkit dan membuka pintu kamarnya.


"Taraaa, mie kuah dengan telur bulat sempurna dan irisan cabe siap untuk dinikmati," ucap Aletta sambil memamerkan semangkok mie kuah di tangannya.


Andi tak dapat menahan senyumnya kali ini. Ia menyuruh Aletta masuk.


"Cuma bikin satu?" tanya Andi.


Aletta memangguk cepat. Sejujurnya air liurnya sudah hampir menetes sejak tadi, tapi ia hanya memiliki 1 bungkus mie di kamarnya.


Andi menyendok mie kuah di hadapannya dan meniupnya pelan lalu menyuapkannya pada Aletta.


"Buat gue?" tanya Aletta meyakinkan.


Andi mengangguk dengan tersenyum.


Dengan senang hati Aletta membuka mulutnya dan menerima suapan Andi. Namun tak lama setelah senyumnya mengembang, wajahnya terlihat memerah.


"Ada cabenya?" tanya Aletta panik.


"Iya, lo nggak bisa makan pedes?"


Aletta menggeleng cepat. Keringat sudah mengucur deras membasahi wajahnya. Andi segera mengambil minum untuk Aletta dan memberinya roti sebagai penawar pedas.


"Nggak nyangka ya cewek barbar kayak lo nggak bisa makan pedes, takut ketinggian lagi," ucap Andi sambil menahan tawanya.


"Lo emang mau ngerjain gue ya? lo balas dendam ya?"


Andi tak menjawab, ia sibuk menikmati mie kuah favoritnya.


"Rese', nyebelin, dasar manusia kutub," ucap Aletta dengan memukul mukul lengan Andi.


Dengan cepat Andi menahan tangan Aletta yang memukulnya, memegangnya erat dan menatap tajam ke arah Aletta. Aletta seperti terhipnotis oleh pandangan itu, ia diam membiarkan degup jantungnya bergejolak tak beraturan.

__ADS_1


__ADS_2