
Hari masih pagi, jam masih menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit. Beberapa kamar masih tampak sepi, pertanda si pemilik masih sedang terlelap. Hanya beberapa kamar yang sudah tampak terbuka, ada yang sedang menjemur pakaian, menyapu atau sekedar duduk di depan kamar dan teras kos.
Dimas berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Sesampainya di sana, ia melihat Dini dan Andi tengah menyantap sarapan mereka. Waktu yang tidak tepat, batinnya.
"Aku ganggu ya?" tanya Dimas.
"Enggak kok, masuk aja!" jawab Dini yang baru menyadari kehadiran Dimas.
"Lo bukannya ada kelas pagi?" tanya Andi.
"Iya, gue cuma bentar kok!"
"Kelas pagi?" tanya Dini tak mengerti. Ya, Dini masih tak tau jika Dimas adalah mahasiwa di kampus yang sama dengannya, bahkan mereka satu fakultas.
"Aku ke sini cuma mau ngasih ini buat kamu, aku balik dulu ya!" ucap Dimas sambil memberikan satu kantong besar berisi bermacam macam makanan untuk Dini.
"Makasih," balas Dini dengan senyum manisnya.
Dimas membalas senyuman Dini dan mengusap rambutnya pelan lalu meninggalkan kamar Dini.
"telat, Andi lagi Andi lagi," gerutu Dimas dalam hati.
Ketika sedang turun dari tangga, ia baru menyadari jika kotak hadiah yang ia siapkan untuk Dini masih tertinggal di dalam tasnya. Ia ragu untuk kembali karena ia pasti akan melihat Andi lagi, entah kenapa rasa cemburunya semakin besar kepada Andi.
"Dimas ya?" tanya Aletta yang melihat Dimas hanya berdiri di tangga.
"Iya, Aletta?" tanya Dimas meyakinkan.
"Iya, cari Dini ya? dia ada di kamarnya kok!"
"Aku bisa minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong kamu kasihkan Dini ya, aku udah dari sana tadi, tapi lupa ini masih kebawa di tasku!" ucap Dimas sambil memberikan sebuah kotak dengan pita merah yang mengikatnya.
"Oh oke," jawab Aletta.
"Ya udah gue duluan ya, ada kelas pagi, thanks ya!"
Aletta mengangguk lalu segera naik ke lantai dua. Ia melangkahkan kakinya ke kamar Dini. Sebelum sampai di kamar Dini, sesekali terdengar gurauan Andi dan Dini.
"nyusahin aja si Dimas ini!" gerutu Aletta kesal.
"Permisi, gue ganggu bentar ya!" ucap Aletta ketika sudah sampai di depan kamar Dini.
"Nggak ganggu kok, masuk aja!" balas Dini.
Aletta melangkahkan kakinya untuk masuk dan duduk di sebelah Dini.
"Dari Dimas, gue ketemu dia di bawah tadi!" ucap Aletta sambil memberikan kotak dengan pita merah pada Dini.
"Makasih Al, kamu udah makan belum? ada banyak makanan nih!"
"Udah barusan, masih kenyang gue!" jawab Aletta sambil mengelus perutnya tanda ia sudah kenyang.
"Ta, lo udah nggak marah kan sama gue?" tanya Andi.
"Enggak, ngapain gue marah sama lo!" balas Aletta.
"Lo nggak inget semalem lo diemin gue? gue......"
"Gue semalem ngantuk Ndi, jadi antara sadar nggak sadar hehe....."
"Gue pikir lo marah sama gue!"
"Segitu takutnya lo kalau gue marah?"
"Ya gue takut aja kalau gue ada salah sama lo," jelas Andi beralasan. Ia sebenarnya juga tidak mengerti kenapa ia terlalu memikirkan sikap Aletta semalam.
"Tenang aja, gue orangnya sabar kok haha...."
"Good!" ucap Andi sambil menempelkan ibu jarinya di kening Aletta.
"Dasar manusia kutub, gue duluan ya, ada kelas pagi!"
"Gue berangkat agak siangan Ta, bilangin Nico ya!"
"Siap, makan yang banyak ya Din biar sehat," balas Aletta sambil menepuk nepuk pundak Dini.
Dini mengangguk dengan tersenyum kecil. Aletta lalu segera keluar dari kamar Dini dan bersiap untuk berangkat ke kampus.
"duuhh, nyesek hehe...." batin Aletta sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
Ia berusaha menampik rasa di hatinya. Rasa indah ketika mereka bersama, rasa yang membuat tak nyaman jika melihatnya bersama yang lain. Ia tak mau jatuh cinta lagi, ia tak ingin jatuh untuk kedua kalinya. Hatinya sudah cukup tersakiti oleh cinta pertamanya, ia tak ingin membuat luka itu semakin besar. Ia tak ingin luka yang belum sembuh itu bertambah perih karena kehadiran cinta lain di hatinya.
"Andi cakep, pinter, baik, cool, wajar kalau gue ngerasa kayak gini, ini bukan cinta kan? bukanlah!"
"lo beruntung punya Andi di samping lo Din,"
Biiippp biiippp biiippp
Ponsel Aletta berdering, terlihat sebuah nomor menghubunginya. Ia mengabaikannya. Sekali dua kali hingga tiga kali, nomor itu masih menghubunginya, hingga akhirnya Aletta menerima panggilan itu. Ia diam, ia ingin mendengarkan terlebih dahulu siapa pemilik nomor asing itu. Aletta adalah pendengar yang handal, jika itu nomor orang terdekatnya ia pasti akan tau bahkan hanya dengan mendengar suaranya melalui ponsel.
"Aletta," panggilnya pelan.
Deg. Aletta mengenal suara itu. Aletta segera memutus sambungan ponselnya dan menonaktifkan ponselnya. Hatinya bergemuruh, jantungnya berdetak tak beraturan, ia seperti kehilangan tenaganya, ia terduduk lemas dengan bersandarkan dinding.
Luka di hatinya kembali terasa perih, seperti ada jutaan garam yang berhamburan menghujani luka di hatinya. Ia berusaha keras menahan semua kesakitannya sendiri. Ia mengusap dadanya kasar, ia tak ingin merasakan sakit itu lagi, ia tak ingin menangis lagi. Ia bahkan lupa entah kapan terakhir kali ia menangis, ia tak ingin menangis lagi hanya karena lelaki yang sudah merenggut masa depannya. Laki laki yang memberinya beribu janji manis yang penuh dengan omong kosong. Aletta membencinya, sangat membencinya. Namun ia tak dapat mengelak, hati kecilnya merindukannya. Merindukan kebersamaan mereka, merindukan sentuhan mesranya, merindukan senyum indah bak cahaya bulan di tengah kegelapan, bagaimanapun juga laki laki itu adalah cinta pertamanya. Cinta yang ia rasakan selain dari kakaknya, cinta dari seseorang yang selalu mampu menghilangkan semua kesedihannya. Dia adalah laki-laki pertama yang ia cintai, laki laki pertama yang memberinya begitu banyak hal indah hingga ia tak mampu untuk melupakannya. Laki laki yang pada akhirnya memberinya luka yang begitu dalam, sangat dalam hingga ia tak ingin untuk jatuh cinta lagi.
Aletta menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Matanya menatap langit langit kamarnya menahan air mata yang sudah siap tumpah. Ia tak akan menangis lagi. Laki laki itu adalah milik kakaknya sekarang. Entah hubungan seperti apa yang mereka miliki dulu, semuanya hanya tinggal kenangan yang sudah seharusnya ia lupakan.
"apa kakak bahagia sekarang? apa ini yang kakak mau?"
Aletta pergi ke kamar mandi, membasuh wajahnya, menghilangkan semua memori masa lalu yang kembali menghantui pikirannya. Ia tersenyum menatap dirinya di depan cermin.
"Lo bukan cewek lemah Al, lo kuat, biarkan mereka bahagia, lo pasti bahagia, akan ada saatnya seseorang yang bisa nerima lo apa adanya datang, yakin Al, badai pasti berlalu hehe...."
Aletta memukul pelan dadanya, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ia lalu bersiap siap untuk berangkat ke kampus.
**
Di tempat lain, Andi masih menemani Dini di kamar.
"Dimas sekarang kuliah ya?" tanya Dini pada Andi.
"Iya, satu fakultas sama kamu," jawab Andi.
"Satu fakultas? dia kuliah di Universitas X?"
Andi mengangguk.
"Dia junior kita dong!"
Andi menggeleng.
"Enggak?"
"Serius?"
"Iya, efek abis koma terus hilang ingatan mungkin," jawab Andi asal.
"Emang beneran ada yang kayak gitu?"
"Ada, malah ada yang tiba tiba bisa banyak bahasa abis koma, pernah denger kan?"
"Iya sih, jadi sekarang aku satu angkatan sama dia?"
Andi mengangguk lagi, Dini juga mengangguk.
"Kamu sekarang deket ya sama Aletta," ucap Dini.
"Itu pertanyaan apa pernyataan Din?"
"Pernyataan, aku liat kalian deket," jawab Dini.
"Mmmm, lumayan, dia anaknya seru, unik, lain daripada yang lain," balas Andi dengan mengingat kejadian pertama yang membuat mereka bertemu, hingga beberapa kejadian berikutnya yang selalu membuat Andi kesal namun akhirnya mereka bisa berteman dekat.
Andi tersenyum kecil jika mengingat semua itu. Terlebih bagaimana Aletta yang tampak ketakutan ketika menaiki bianglala, bagaimana ekspresi Aletta ketika ia memakan makanan pedas, itu semua seperti berbanding terbalik dengan sikapnya yang biasanya selalu barbar menurut Andi.
Dini tersenyum tipis memperhatian Andi.
"Dia kayaknya suka sama kamu,"
"kamu juga suka sama dia," lanjut Dini dalam hati.
"Aletta? suka sama aku? nggak mungkin lah Din!"
aku suka sama kamu
Kalimat itu kembali terngiang di telinga Andi. Bahkan ia masih bisa merasakan hembusan napas Aletta yang membuatnya merinding. Mimpi yang aneh, batinnya.
"Kenapa enggak? kamu cakep, pinter, baik, banyak cewek yang suka sama kamu, tapi nggak ada dari mereka yang bisa deket sama kamu, kecuali Aletta, dia pasti beruntung banget," jelas Dini.
"Dia beda sama cewek cewek yang lain Din, itu kenapa aku bisa deket sama dia," balas Andi.
"Bedanya?"
__ADS_1
"Kita udah nggak akur dari pertama kali ketemu, ada aja yang bikin aku kesel sama dia, dia juga kesel sama aku sampe' panggil aku manusia kutub, dia barbar banget jadi cewek, nggak ada anggun anggunnya sama sekali, tapi lama lama aku tau dia ternyata baik juga, kalau kamu deket sama dia pasti kamu juga akan ngerasa kalau dia emang baik," jelas Andi panjang.
"Kamu suka sama dia?"
Andi menggeleng dengan tersenyum.
"suka seperti apa yang kamu maksud Din? aku suka sama dia, dia perempuan unik yang selalu bisa bikin aku ketawa, tapi aku nggak mungkin jujur sama kamu, aku nggak mau ada salah paham, antara aku kamu ataupun Aletta,"
"Kenapa?"
"Apa harus ada alasannya?"
"Iya, dari cerita kamu kayaknya kamu suka sama dia!"
"Aku anggap dia temen yang baik, nggak lebih dari itu," jelas Andi.
"Apa karena Anita?"
"Anita? kenapa jadi bawa bawa Anita?"
"Kamu masih suka sama dia?"
"Enggak lah Din, aku aja ragu sama perasaan aku, entah aku beneran suka atau cuma kasian sama dia, aku udah nggak ada perasaan apa apa sama dia, benaran!"
"Baguslah kalau gitu, dia bukan cewek yang baik buat kamu, aku nggak suka kamu deket sama dia!"
"Dia baik kok Din, dia....."
"Maksud aku Anita Ndi!"
"Oh, aku pikir Aletta hehe....."
Dini diam. Pikirannya sibuk dengan semua kemungkinan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Andi bukanlah tipe laki laki yang bisa dengan mudah akrab dengan perempuan. Tapi melihatnya bersama Aletta, kebersamaan dan kedekatan mereka seperti lain. Andi selalu tampak bersemangat ketika menceritakan tentang Aletta, padahal biasanya ia selalu malas untuk membahas perempuan yang selalu berusaha untuk mendekatinya.
Dari tatapan mata Aletta, Dini melihat ada sebuah harapan dari tatapan matanya pada Andi. Ia yakin jika Aletta menyimpan perasaannya pada Andi. Hanya saja Aletta sangat bisa menyimpannya dengan baik. Entah kenapa Andi tak bisa melihatnya, seperti ada dinding yang membatasi hatinya untuk menerima perempuan lain di hatinya. Dini tak mengerti, ia hanya melihat jika Andi dan Aletta saling menyukai. Entah suka seperti apa, yang pasti sikap Andi pada Aletta sangat berbeda dengan sikapnya pada teman perempuannya yang lain.
"aku harap bukan karena Anita, kamu berhak mendapatkan yang terbaik Ndi!"
Setelah selesai makan dan mengobrol banyal hal, Andi segera keluar dari kamar Dini, ia harus bersiap siap untuk berangkat ke kampus.
Setelah Andi keluar, Dini membuka kotak dengan pita merah di hadapannya. Terlihat sebuah coklat, ponsel dan juga sim card baru untuknya. Ia membaca tulisan di kertas yang ada di bawahnya.
Sim card baru, cerita cinta baru
Dini tersenyum kecil. Ia segera memasang sim card itu di ponselnya. Ia menahan tawanya ketika melihat foto Dimas yang terpampang di wallpaper dan juga screenlock ponselnya. Ia membuka penyimpanan kontaknya, ada nama Dimas di sana. Ia segera menghubungi Dimas. Tak ada jawaban karena memang Dimas sedang ada kelas waktu itu.
**
Di kampus, Dimas berjalan ke tempat parkir dengan menggeser geser layar ponselnya. Senyum manis tergaris indah di bibirnya. Ia melihat satu panggilan tak terjawab dari Dini. Ia memang sangat sibuk hari itu, banyak tugas yang harus ia kumpulkan. Ia juga sibuk mengejar ketertinggalannya.
Ia segera menghubungi Dini ketika ia sudah berada di dalam mobilnya.
"Selamat siang nona Andini," ucap Dimas begitu Dini menerima panggilannya.
"Selamat siang tuan," balas Dini.
"Maaf aku hari ini sibuk banget, banyak tugas!"
"Iya nggak papa, aku tadi cuma iseng kok!"
"Iseng apa kangen?" goda Dimas.
"Iseng aja, jangan GR kamu!"
"Aku ke tempat kamu sekarang ya!"
"Jangan, aku lagi nggak di kos sekarang!"
"Kamu di mana? aku ke sana sekarang!"
"Aku di toko buku depan gang, tapi bentar lagi mau pulang kok!"
"Tunggu aku bentar ya, aku ke sana sekarang!"
"Siap tuan, saya akan menunggu!"
"Bagus, nona yang penurut!"
Dini tertawa kecil lalu mematikan sambungan ponselnya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya sebelum seseorang dengan cepat merebut ponsel Dini dan membawanya berlari.
"Jambret, toloong!" teriak Dini.
Dini berusaha mengejar si penjambret dengan meneriakinya, namun orang orang hanya melihat tak ada yang membantunya mengejar si penjambret. Hingga tiba tiba seseorang berlari mendahului Dini dan melemparkan tas ranselnya pada si penjambret, membuat si penjambret terjatuh seketika. Seseorang itu segera mendekat dan merebut ponsel Dini dari tangan si penjambret. Sialnya, si penjambret ternyata membawa pisau dan melukai lengan seseorang itu hingga berdarah, namun ia tak gentar, ia masih berusaha merebut ponsel Dini hingga beberapa orang datang dan menangkap si penjambret.
__ADS_1