
Di sekolah, Dini terlihat gelisah karena belum melihat Dimas, sedangkan bel masuk tak lama lagi akan berbunyi. Ia pun memutuskan untuk menghubungi Dimas.
"Aku ke kamar mandi dulu ya Ndi," ucap Dini pada Andi di susul anggukan kepala Andi.
Dini keluar dari kelas, namun langkahnya terhenti ketika ia sampai di jajaran loker-loker siswa. Ia ingin membuka lokernya, ingin tau apakah masih ada surat ancaman di dalamnya.
Dini menyiapkan hatinya untuk membuka lokernya sendiri, ia harus siap jika ada surat ancaman itu lagi, karena ia tidak mau surat itu mengganggu konsentrasinya di kelas.
Dengan perlahan dan gugup iapun membuka lokernya dan ternyata kosong. Tak ada apapun di sana, membuat Dini lega.
"bener kata Dimas, mungkin dia capek sendiri tiap hari ngasih surat ancaman kayak gitu, tapi gimanapun juga aku masih penasaran, siapa pelakunya dan apa maksudnya melakukan itu," ucap Dini dalam hati sambil berjalan ke arah kamar mandi setelah menutup lokernya.
Di kamar mandi, Dini segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dimas.
Setelah tau jika Dimas akan segera berangkat, ia pun mematikan panggilannya dan segera kembali ke kelas.
Tepat setelah bel masuk berbunyi, Dimas masuk ke kelasnya. Dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari dari tempat parkir, ia menyapa Dini seperti biasa.
"Pagi sayang!"
Dini hanya tersenyum.
Dimaspun segera duduk di bangkunya. Tiba-tiba Lia melemparkan satu pack tissue ke meja Dimas.
"Pangeranku keringetan aja cakep banget dah!" ucap Lia pelan sambil mengedipkan sebelah matanya dan dibalas dengan senyuman Dimas yang membuatnya kegirangan.
"Aaaaa, pangeranku senyum," ucap Lia menahan kegirangannya sambil memeluk teman sebangkunya.
"Biasa aja kali, dia juga biasa senyum sama cewek-cewek, yang ajaib itu kalau Andi bisa senyum sama kamu, baru keajaiban dunia itu!" balas teman sebangku Lia.
"Iihh, sirik aja sih, Andi orangnya terlalu cool, bisa senyum sama Dini doang!"
"Tapi sekarang kayaknya dia deket sama Anita deh!"
"Cocok sih, Anita kan cantik, baik, ramah lagi, jadi biar bisa ngimbangin Andi yang pendiem, ya kan?"
"Kalau menurutku sih lebih cocok sama aku hahaha...."
"Anita sama kamu?"
"Ya Andi dong, ngapain aku sama Anita!"
"Andinya mana mau sama cewek jumbo, yang ada malah ngabisin duit buat makan mulu hahaha....."
"Eh, nggak boleh body shaming loh!"
__ADS_1
"Hahaha, iya sorry, bercanda!"
Setelah jam pelajaran selesai, bel istirahatpun berbunyi.
Sebelum Dini keluar, Anita sudah lebih dulu masuk ke kelasnya dan menghampirinya.
"Ndi, bisa tinggalin kita berdua?" tanya Anita pada Andi.
"Oke, aku ke perpustakaan ya Din!"
Dini mengangguk.
"Lo nggak ikut?" tanya Andi pada Dimas.
"Ikut," balas Dimas yang langsung duduk di kursi dekat Dini dan Anita.
"Ikut gue, bukan ikut ngerumpi!" ucap Andi sambil menarik kerah belakang Dimas membuat Dimas terpaksa mengikutinya.
"Eh ngapain gue ikut lo!" balas Dimas sambil berjalan mundur karena Dimas menarik kerah belakangnya seperti kucing.
"Udah, ikut aja biarin mereka ngobrol berdua."
Dimaspun mengikuti Andi ke perpustakaan meski sebenarnya ia ingin mendengarkan apa yang Anita katakan pada Dini.
"Dini, kamu marah sama aku?" tanya Anita pada Dini.
"Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu, aku cuma mau jelasin soal apa yang kamu lihat di taman kemarin."
"Nggak papa, aku ngerti, aku juga nggak ada hubungan apa-apa sama Dimas, jadi buat apa aku marah," balas Dini dengan tersenyum, menutupi luka yang menggores hatinya.
"Aku tau Dimas suka sama kamu Din, aku mau bilang ini biar nggak ada salah paham, aku cuma tertekan sama semua masalah aku dan Dimas datang buat tenangin aku, itu aja."
"Iya, Dimas udah cerita."
"Aku minta maaf kalau kedekatan aku sama Dimas bikin kamu sakit hati, tapi Dimas bener-bener suka sama kamu, jadi dia nggak mungkin ada apa-apa sama aku."
"Nggak ada yang sakit hati kok, aku udah lupain apa yang aku lihat kemarin."
"Tapi kamu maafin aku kan?"
"Nggak ada yang harus dimaafin Nit, kamu nggak salah apa-apa," jawab Dini yang seperti sudah jengah dengan obrolan ini karena sebenarnya ia sama sekali tidak bisa melupakan kejadian itu.
"Kita masih jadi teman kan?" tanya Anita meyakinkan. Ia tidak mau jika citranya akan menjadi buruk karena sudah berusaha merebut Dimas dari Dini.
Dini mengangguk.
__ADS_1
Anitapun memeluk Dini, ia merasa lega karena sudah tidak menyimpan kekhawatiran jika Dini akan membencinya.
Bagi Anita, citra dirinya sangatlah penting. Ia tidak mau ada satu orangpun yang membencinya karena itu akan merusak citra baik yang selama ini ia tunjukkan di depan semua orang.
Sedangkan Dini, berusaha menganggap jika ini adalah lika liku cintanya yang memang harus dia hadapi. Ia yakin masih ada banyak batu penghalang yang menguji perasaannya pada Dimas.
Ia juga tidak ingin berada dalam cinta yang salah yang membuatnya akan menyesal seumur hidupnya.
Meski Dini percaya pada Dimas saat ini, bukan tidak mungkin jika Dimas akan berpaling darinya karena ketampanan dan kesempurnaan yang dimilikinya akan dengan mudah membuat siapapun jatuh cinta padanya.
Dini hanya bisa berharap jika ucapan Dimas tidaklah main-main meski perjalanan mereka masih panjang.
***************
Di perpustakaan.
"Lo kenapa ngajak gue kesini sih, gue kan mau denger Anita ngomong apa sama Dini!" ucap Dimas pada Andi.
"Ya itu, biar lo nggak nguping obrolan mereka," jawab Andi sambil membaca buku yang dibawanya.
"Ndi, gue mau nanya serius ya, kalau Anita suka sama gue gimana?" tanya Dimas membuat Andi sedikit terkejut mendengarnya.
"Ambil aja, biar Dini sama gue!" jawab Andi dengan senyum liciknya.
"Tapi Dini sukanya sama gue gimana dong!" balas Dimas sombong.
"Tau ah, sana pergi, ganggu orang aja!" ucap Andi kesal.
"Laaahhh, lo yang ngajak gue kesini sekarang lo yang ngusir gue!"
"DILARANG BERISIK!" teriak penjaga perpustakaan dari sudut ruangan membuat Andi dan Dimas segera terdiam.
Dimaspun keluar dari perpustakaan meninggakan Andi. Karena sebenarnya ia tidak begitu suka berlama-lama di perpustakaan jika bukan karena Dini. Ia menganggap perpustakaan begitu sunyi, tak ada keceriaan dan kegembiraan yang ia rasakan di sana.
Ketika ia hendak kembali ke kelas, ia melihat Anita keluar dari kelasnya. Iapun mengejarnya.
"Ada apa Dim?" tanya Anita yang merasa jika Dimas mengejarnya.
"Ikut aku!" ucap Dimas sambil menggandeng tangan Anita mengajaknya ke tempat yang lebih sepi.
"Kamu udah jelasin semuanya sama Andini?" tanya Dimas.
"Udah kok."
"Termasuk surat ancaman itu?"
__ADS_1
Anita menggeleng, ia masih belum siap jika harus mengakui hal itu saat ini. Ia harus memikirkan cara agar ia tidak harus mengakuinya karena Dimas pasti akan mendesaknya untuk segera menjelaskan hal itu pada Dini.