
Bulan masih menggelayut pada gelapnya malam. Cahayanya seolah sedang tersenyum menyaksikan dua pasang manusia yang tengah menikmati debar debar indah dalam hati mereka.
Di sana, mata indah itu masih memancarkan cinta yang begitu dalam. Cinta yang tak pernah ia tau bagaiamana akhirnya. Namun dalam hatinya ia masih berharap, berharap untuk bisa merasakan manis pahit jalan cintanya bersama laki laki di hadapannya.
Biiipp Biiipp Biiipp
Ponsel Dimas berdering, membuat Dimas dan Dini segera tersadar dari segala imajinasi mereka. Dimas lalu merebahkan badannya di samping Dini dan mengambil ponsel dari saku celananya. Nama Yoga terlihat di layar ponselnya.
"Halo Ga, gimana?"
"Sorry Dim, gue belum bisa kesana, besok gue usahain."
"Ya udah nggak papa."
Dimas lalu meletakkan ponselnya di sampingnya. Detak jantungnya masih memompa dengan cepat. Debaran cinta dalam hatinya masih sangat jelas terdengar. Begitu juga Dini, lidahnya seperti kelu tak mampu mengucapkan apapun. Semua emosi dan kekecewaannya sudah hilang begitu saja. Cinta di hatinya bisa dengan mudah memaafkan semua kesalahan Dimas.
"Andini, aku sayang sama kamu, kamu tau itu kan?"
"Semuanya udah beda Dimas, kita udah bukan anak SMA lagi, kita......"
"Nggak ada yang beda, aku masih sayang dan cinta sama kamu, begitu juga kamu, iya kan?"
"Kamu tau cerita romeo sama juliet kan? mereka juga saling cinta, tapi cinta mereka nggak berakhir bahagia, ada kalanya kita harus memilih apa yang bukan kita inginkan demi kebaikan semuanya," balas Dini.
"Aku nggak setuju, aku akan dapetin semua yang aku inginkan Andini, aku percaya nggak akan ada yang sia sia setelah kita berusaha, kalaupun belum tercapai, itu artinya usahaku kurang maksimal, atau......"
"Kamu nggak bisa menentang takdir Dimas," ucap Dini dengan menoleh ke arah Dimas.
"Aku nggak menentang takdir Andini, aku nggak tau kemana takdir membawaku, itu kenapa aku akan berusaha sampai aku bisa dapetin apa yang aku inginkan, sampai takdir memaksa ku buat menyerah," jelas Dimas.
Dimas menatap Dini dan mengusap pipinya.
"Perasaan aku dari dulu nggak pernah berubah Andini, maaf karena aku sering nyakitin kamu," ucap Dimas.
Dini melepaskan tangan Dimas dari pipinya dan menggenggamnya.
"Lupain semuanya Dimas, tentang aku, tentang masa lalu kita, kamu udah punya jalan cinta kamu yang baru sekarang," ucap Dini lalu melepaskan tangan Dimas dari genggamannya.
"Enggak Andini, aku nggak bisa, aku yakin kamu juga punya perasaan yang sama sama aku, iya kan?"
Dini hanya diam. Dimas benar, perasaannya masih sama seperti dulu. Cinta yang dulu hadir, tinggal dan menetap di dalam hatinya, bahkan setelah semua kesakitan yang ia rasakan, cinta itu masih di sana, terpatri dengan kuat dalam hatinya.
Ucapan Anita memang benar, ingatan Dimas sudah kembali, tapi Dini yakin jika Dimas tidak sedang mempermainkannya. Entah dari mana datangnya keyakinan itu, yang pasti ia masih bisa merasakan cinta Dimas yang merasuki hati dan jiwanya.
Namun, yang jadi masalah bukanlah ingatan Dimas yang sudah kembali atau bukan. Masalah terbesarnya adalah meski ingatan Dimas kembali, Dimas masih berstatus sebagai tunangan Anita. Dimas tidak bisa meninggalkan Anita. Dinipun tidak bisa memaksa Dimas untuk meninggalkan Anita, meski dia ingin, tapi dia masih punya hati nurani untuk tidak melakukan hal itu.
"Kamu miliknya Dimas, aku nggak mau dianggap sebagai perebut milik orang," ucap Dini.
Dimas lalu bangun dan menarik tangan Dini untuk bangun. Mereka sekarang duduk berhadapan di ranjang Dini. Dimas menatap mata Dini dan menggenggam tangannya.
"Andini, aku tau perasaan kamu masih sama, jadi tolong kasih aku waktu, aku akan akhiri semua ketidakpastian ini, kamu percaya kan sama aku?"
Dini mengangguk pelan. Meski banyak hal menyakitkan yang ia rasakan, kebahagiaannya bersama Dimas lebih besar dari kesakitan itu.
Dimas lalu memeluk Dini dengan erat. Ia merasa lega karena Dini masih memberinya kesempatan dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Makasih sayang," ucap Dimas dengan masih memeluk Dini.
"tinggal nunggu waktu buat aku tau semuanya Andini, kalau emang aku bener, aku akan segera datang dan memeluk kamu, tapi kalau aku salah, aku akan pergi jauh, sangat jauh dan nggak akan pernah kembali, aku yakin kamu akan bahagia walaupun tanpa aku, ada sahabat kamu yang menyimpan cinta yang besar dalam hatinya cuma buat kamu, setelah kepergianku nanti aku yakin dia bisa bahagiain kamu lebih dari yang aku bisa,"
Di sisi lain, Andi yang baru saja mengetahui banyak panggilan tak terjawab dari Dini segera berlari ke kamar Dini setelah ia sampai di kos.
"Din, kamu tadi.........." Andi menghentikan ucapannya begitu melihat Dini dan Dimas yang sedang berpelukan. Sesaat ia diam mematung di depan kamar Dini, perih di hatinya begitu terasa menyakitkan.
Andi lalu tersenyum dan meninggalkan kamar Dini dengan membawa goresan luka di hatinya.
Sedangkan Dimas dan Dini segera melepaskan pelukan mereka begitu Andi datang. Beberapa saat suasana menjadi canggung.
"Aku turun dulu ya, kamu istirahat, besok pagi aku jemput!" ucap Dimas lalu mencium kening Dini dan mengambil ponselnya.
"Besok aku nggak bisa," balas Dini.
"Kenapa? ada acara?"
"Besok aku mau pulang sama Andi," jawab Dini.
"Oh, ya udah kalau gitu, kabarin aku ya!"
Dini mengangguk. Dimas lalu keluar dari kamar Dini dan turun ke lantai satu dengan tertatih tatih karena kakinya yang masih sakit.
Di teras, sudah ada Andi, Aletta dan Nico. Ya, ada Nico di sana. Ia memang sedang berselisih paham dengan Andi, namun ia tidak akan menunjukkannya pada orang lain. Masalahnya dengan Andi, biar ia saja yang tau. Orang lain cukup melihat mereka sedang baik baik saja.
"Baru pulang Ndi?" tanya Dimas yang lalu duduk di samping Andi.
"Iya, abis hunting foto sama Aletta," jawab Andi.
"Kalian berdua pacaran?" tanya Dimas pada Andi dan Aletta.
Aletta hanya diam dengan menoleh ke arah Andi.
"Apaan sih Dim, itu luka lo kenapa? dipukulin Dini ya hahaha....."
"Enggak lah, ada yang nabrak gue di depan tadi," jawab Dimas.
__ADS_1
"Serius?" tanya Andi tak percaya.
"Tanya aja Nico!"
"Beneran Nic?" tanya Andi pada Nico.
"Iya, tapi yang nabrak langsung kabur, untung aja cuma luka kecil," jawab Nico.
"Lagian lo tumben banget nggak bawa mobil!"
"Pingin jalan aja."
Setelah mengobrol beberapa hal, Dimas berpamitan pulang.
"Gue balik dulu ya!" ucap Dimas.
"Gue anter ya? lo mau jalan kayak gitu ke apartemen lo?"
"Lo mau gendong gue?"
"Enggaklah, gue pinjem motor anak anak dulu!" ucap Andi lalu segera meminjam motor pada temannya.
Andipun mengantarkan Dimas kembali ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen, Andi dan Dimas berpapasan dengan Anita.
"Dimas, kamu kenapa?" tanya Anita yang melihat Dimas berjalan terpincang pincang dengan luka di keningnya.
"Nggak papa," jawab Dimas.
Anita sebenernya ingin marah saat itu karena Dimas tidak menjemputnya ketika pulang kerja, tapi melihat keadaan Dimas yang seperti itu, ia membuyarkan semua emosinya.
"Gue balik dulu ya Dim!" ucap Andi pada Dimas.
"Thanks Ndi," balas Dimas.
Andi hanya mengangguk. Ia menoleh ke arah Anita sesaat sebelum ia pergi. Mereka saling menatap dalam waktu singkat, tak ada sapaan atau sekedar basa basi diantara keduanya.
Anita lalu membantu Dimas masuk dan mengobati lukanya.
"Kamu kenapa bisa kayak gini?" tanya Anita.
"Jatuh," jawab Dimas berbohong.
"Kamu dari mana? nggak bawa mobil?"
Dimas tak menjawab, hanya menggeleng.
"Kamu tadi kenapa nggak jemput aku?"
**
Di teras kos.
Nico da Aletta masih duduk berdua di sana.
"Al, menurut lo Andi itu gimana?"
"Andi? dia baik, pinter, cakep," jawab Aletta cepat.
"Lo suka sama dia?"
Aletta tersenyum tipis mendengar pertanyaan Nico.
"Buat gue dia itu kayak bintang Nic, indah tapi jauh dan nggak akan bisa gue gapai," jawab Aletta dengan memandang bintang di langit.
"Lo kenapa jadi melow gini sih? kebanyakan liat film romantis lo ya?"
"Hahaha.... iya kayaknya, gue sampe' capek nangis," jawab Aletta asal.
"jawaban lo udah cukup buat gue ngerti kenapa lo nangis Al," batin Nico dalam hati.
"Nic, kalau gue pergi, apa ada yang cari gue nanti?"
"Gue pasti cari lo Al!"
"Kenapa?"
"karena gue sayang sama lo,"
"Karena pasti bakalan sepi kalau nggak ada lo!"
Tak lama kemudian Andi datang dan duduk di samping Aletta.
"Tugas lo udah selesai Nic?" tanya Andi pada Nico.
"Belum, gue lanjut dulu ya!" ucap Nico lalu masuk ke kamarnya.
Sekarang hanya ada Aletta dan Andi di sana.
"Tugas kamu Ta?"
"Beres dong!"
__ADS_1
"Ndi, menurut kamu, apa ada yang cari aku kalau aku pergi?"
"Emang kamu mau kemana?"
"Misalnya aja Ndi, apa ada yang merasa kehilangan kalau aku nggak ada?"
"Kenapa kamu harus pergi?"
"Jangan balik tanya dong Ndi, aku butuh jawaban bukan pertanyaan," gerutu Aletta kesal.
"Aku nggak mau ngerasa kehilangan Ta, aku pasti akan cegah kamu sebelum kamu pergi, aku nggak mau kamu pergi, jadi jangan pergi," ucap Andi dengan menatap tajam ke dalam mata Aletta.
Mendapat tatapan mata dari Andi, membuat jantung Aletta kembali berdetak tak terkendali. Ia segera mengalihkan pandangannya, takut jika pertahanan hatinya akan roboh.
Dari dalam kamar, Nico mendengar percakapan Andi dan Aletta.
"kenapa lo kasih dia harapan palsu Ndi, kenapa lo bikin dia berharap padahal jelas jelas lo cuma anggap dia temen,"
Di sisi lain, Dini yang baru saja turun dari tangga juga mendengar percakapan Aletta dan Andi.
"kamu nggak mau kehilangan dia? kenapa? karena kamu udah mulai cinta sama dia? kamu bahkan lupa sama aku waktu kamu lagi sama dia, aku juga nggak mau kamu pergi Ndi, kehilangan emang menyakitkan dan aku juga nggak mau ngerasain itu, ngebayanginnya aja udah bikin sesak di hati,"
Dini lalu kembali naik dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Andi dan Aletta masih duduk berdua bersama kebisuan.
"Masuk Ta, udah malem!" ucap Andi.
Aletta mengangguk lalu berdiri dan melangkah pergi. Andi menarik tangan Aletta dan menggamnya kuat kuat.
"Jangan pergi Ta," ucap Andi.
Aletta hanya tersenyum lalu menarik tangannya dari genggaman Andi dan segera naik ke lantai dua lalu masuk ke kamarnya.
Andi masih duduk di teras. Ia memandang jauh ke atas, menembus gelapnya malam. Ia memegang dadanya, ada perasaan halus yang perlahan menyusup ke dalam hatinya. Seperti ada duri duri kecil yang perlahan menusuk hatinya. Entah karena ia melihat Dini dan Dimas berpelukan beberapa waktu lalu atau karena pertanyaan Aletta yang membuatnya takut.
"aku nggak mau kamu pergi Ta, jangan tanya kenapa karena aku juga nggak tau," ucap Andi dalam hati.
Andi lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan teks pada Dini.
Din, udah tidur?
Tak sampai satu menit, Dini segera memberikan jawaban.
Belum
Andi lalu naik ke lantai dua dan perlahan mengetuk pintu kamar Dini. Setelah pintu kamar terbuka, Andi segera masuk.
"Kamu udah makan?" tanya Andi.
"Aku pikir kamu udah nggak peduli sama aku," jawab Djni tanpa melihat ke arah Andi.
"Kok kamu bilang gitu sih, kamu marah?"
"Enggak."
"Maaf Din, aku tadi nggak sempet liat HP, aku fokus cari spot foto yang bagus buat tugas kuliah," jelas Andi.
"Hmmmm!"
"Jangan marah dong Din!"
"Emang kenapa kalau aku marah?"
"Kalau kamu marah, kamu jadi jelek hehe...."
"Nggak lucu, kamu selalu nggak bisa dihubungi kalau lagi sama Aletta, maaf kalau aku selalu ganggu kamu!"
"Kamu cemburu?"
Dini menoleh cepat ke arah Andi.
"cemburu? enggak, aku cuma kesel karena kamu nggak angkat telfon ku, aku kesel karena kamu nggak bisa dihubungi tiap lagi sama Aletta, aku kesel karena kamu lebih pentingin Aletta, aku kesel karena.... aku cemburu? apa sahabat bisa cemburu?"
"Din, aku minta maaf," ucap Andi membuyarkan lamunan Dini.
"Nggak papa," jawab Dini singkat.
"Maaf juga karena ganggu waktu kamu sama Dimas hehe...." ucap Andi terkekeh. Ia menertawakan hatinya yang terasa sakit karena cinta yang telah lama ia pendam.
"Aku..... aku cuma....."
"Udah baikan?"
Dini mengangguk.
"Kamu harus belajar dari yang dulu dulu Din, ikutin kata hati kamu, jangan peduliin hal lain yang belum tentu bener, hati kamu cuma kamu yang tau," ucap Andi dengan membelai rambut Dini.
"Aku sayang sama dia Ndi, aku nggak mau kehilangan dia lagi, tapi kalau takdir membawanya datang untuk berpisah, aku bisa apa?"
"Apapun keputusan kamu, aku selalu di sini buat kamu, kamu harus selalu bahagia Din, dengan atau tanpa Dimas."
Dini mengangguk lalu memeluk Andi.
"Kamu jangan pergi ya Ndi, aku nggak bisa apa apa tanpa kamu," ucap Dini dengan memeluk Andi erat.
__ADS_1
"Aku selalu di sini Din, aku selalu ada buat kamu," balas Andi.
"aku selalu di sini, membawa cinta di hati yang nggak akan pernah bisa tersampaikan bahkan sampai aku mati nanti," ucap Andi dalam hati.