Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Opening


__ADS_3

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Dimas segera menghubungi Pak Adi agar menjemputnya di cafe.


Tak berapa lama kemudian, Pak Adi sudah sampai di cafe.


"Ton, kita balik dulu ya!" pamit Dimas pada Toni.


"Hati hati bos!"


Dimas dan Dini masuk ke mobil.


"Anterin temen saya pulang dulu ya Pak!" ucap Dimas pada Pak Adi.


"Iya mas, nanti mas tunjukin jalannya aja!"


"Siap Pak!"


Di perjalanan pulang, Dini tak banyak bicara. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana sikap mama Dimas padanya. Ada sedikit keraguan yang muncul di benaknya namun segera ia tepis semua keraguan itu.


"Kamu masih mikirin omongan mama tadi?" tanya Dimas pada Dini.


"Enggak kok," jawab Dini berbohong.


"Aku minta maaf ya kalau......"


"Udah Dim, nggak usah dibahas lagi."


Dimas menghela napas panjang dan menggenggam tangan Dini. Ia harus berusaha keras agar mamanya bisa menerima Dini dan bersikap baik padanya.


"Besok aku jemput ya!"


Dini mengangguk, tak sepatahkatapun keluar dari bibirnya.


Sesampainya di depan rumah Dini, Dimas segera turun membukakan pintu mobil untuk Dini.


"Kamu langsung pulang ya, aku capek banget!" ucap Dini pada Dimas.


"Oh, ya udah kalau gitu," balas Dimas dengan sedikit rasa kecewa di hatinya karena ia masih ingin menemani Dini di rumah.


Dimas mendekat, bersiap untuk memeluk Dini namun Dini segera menghindar.


"Aku masuk ya, bye!" ucap Dini menghindari pelukan Dimas dan segera masuk ke rumahnya tanpa kembali menoleh ke arah Dimas.


Dimas mengacak acak kasar rambutnya melihat sikap dingin Dini.


"Ayo pulang Pak!" ucap Dimas pada Pak Adi.


*****************


Esok harinya ketika di sekolah, Andi mendapat panggilan dari kepala sekolah yang tak lain adalah papa Anita.


"Kamu ke perpustakaan duluan ya, aku harus ke ruangan kepala sekolah!" ucap Andi pada Dini ketika bel istirahat berbunyi.


"Ada apa Ndi? kamu nggak bikin masalah lagi kan?"


"Enggak lah, aku kan anak baik baik," jawab Andi penuh percaya diri.


"Nggak inget lo pernah hampir dikeluarin dari OSIS?" seloroh Dimas yang tiba tiba datang.


"Itu kan gara gara lo!"


"Kok gara gara gue, lo yang nyerang gue!" protes Dimas.


"Udah udah, sana keluar!" ucap Dini sambil mendorong tubuh Andi keluar dari kelas, meninggalkan Dimas yang masih duduk di dalam kelas.


"Kamu nggak sama Dinda?" tanya Dini sebelum masuk ke perpustakaan.


"Enggak, cuma aku yang dipanggil!"


"Nanti cerita ya!"


"Siap tuan putriiii," balas Andi sambil membungkukkan badannya.


"Ya udah sana pergi!"


"Eh, kamu nggak ngajak Dimas ke sini?" tanya Andi sebelum benar benar berpisah dengan Dini.


Dini tak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya dan segera masuk ke perpustakaan.


Andi hanya menggeleng gelengkan kepalanya dan segera menuju ke ruangan kepala sekolah.


"Kamu sendirian?" tanya Pak Sony ketika Andi sudah duduk di hadapannya.


Andi menoleh ke kanan dan ke kiri tak mengerti maksud dari pertanyaan Pak Sony karena sudah jelas hanya ada dia dan Pak Sonny di ruangan itu.


"Kamu nggak ngajak Anita ke sini kan?" tanya Pak Sony mempertegas maksud dari pertanyaannya.


"Oh, enggak Pak."


"Bagus!" balas Pak Sony singkat.


"Bapak panggil saya ada perlu apa ya Pak? soal kepengurusan OSIS yang baru?" tanya Andi.


"Bukan, ini bukan soal OSIS, tapi soal masalah pribadi."


"Maaf, saya nggak paham maksud Bapak."


"Soal apa yang kamu lihat di rumah saya kemarin, kamu udah cerita sama siapa aja?"


"Saya nggak cerita siapa siapa Pak."


"Kamu jangan bohong sama saya ya, saya bisa tahu kamu jujur atau enggak sama saya!"


"Berarti sekarang Bapak tau kalau saya jujur."


"Oke, langsung aja ya, apa yang kamu lihat kemarin nggak seperti yang kamu pikirkan Ndi, saya nggak bermaksud kasar sama Anita, kamu tau kan kalau orang tua punya caranya sendiri untuk mendidik anaknya walaupun kadang terlihat salah di mata orang lain, sebaik baiknya teman tetap orangtua lah yang paling memahami anaknya, saya harap kamu nggak salah paham Ndi."


"Saya mengerti Pak."


"Kalau kamu mau, saya bisa bantu kamu masuk perguruan tinggi negri yang kamu inginkan asal masalah ini cukup kamu aja yang tau."


"Terima kasih Pak, tapi saya yakin saya bisa masuk perguruan tinggi dengan nilai saya sendiri."


"Kamu menolak bantuan saya?"


"Maaf Pak, bukan maksud saya untuk menolak bantuan Bapak, tapi tanpa Bapak membantu sayapun saya tidak akan membahas soal apa yang salah lihat kemarin pada orang lain, Bapak bisa percaya sama saya," balas Andi meyakinkan dengan berusaha untuk tetap sopan.


"Baiklah kalau itu mau kamu, saya percaya sama kamu dan satu lagi, apapun yang Anita ceritakan sama kamu itu tidak sepenuhnya benar, saya sangat menyayanginya karena dia anak saya satu satunya, semenjak kepergian mamanya dia memang sudah berubah, lebih banyak diam di rumah dan semakin tempramental, kamu cukup jadi pendengar yang baik buat dia."


"Iya Pak, saya mengerti."


Di sisi lain, Anita yang sedang mencari Andi ke kelasnya malah bertemu Dimas.

__ADS_1


"Tumben sendirian, kamu udah kehilangan pesona kamu ya?"


"Aku ngantuk Nit, jangan ganggu," balas Dimas dengan masih memejamkan matanya.


"Biasanya kamu dikerubutin cewek cewek, sekarang malah sendirian mengenaskan kayak gini," sindir Anita.


"Aku kan harus jaga perasaan Andini Nit, aku udah nggak kayak dulu lagi, buat aku Andini....."


"Terserah deh, tapi Andi kemana? ke perpustakaan ya? sama Dini ya?"


"Tau' ah, cari aja sendiri," jawab Dimas dengan menguap.


Hari ini Dimas memang terlihat sangat lesu, aktivitas nya beberapa hari ini sudah sangat menguras energinya. Jika saja ia baik baik saja saat ini, sudah pasti ia akan mengikuti Dini ke perpustakaan, tapi badannya memaksanya untuk tetap berada di kelas dan merebahkan kepalanya di meja bangkunya.


Anita keluar dari kelas Dimas dan segera ke perpustakaan. Ia berkeliling mencari keberadaan Andi namun tak ada. Ia hanya melihat Dini yang tengah serius membaca seorang diri di sudut perpustakaan.


"Sendirian Din?" tanya Anita pada Dini.


"Seperti yang kamu liat," jawab Dini tanpa memalingkan pandangannya dari buku yang dipegangnya.


"Andi kemana?"


"Ke ruang kepala sekolah."


"APA??" teriak Anita terkejut. Memang hal yang biasa jika Andi pergi ke ruang kepala sekolah, mengingat ia adalah ketua OSIS di sekolah, tapi itu dulu. Setelah kelas 3 mulai sibuk dengan kegiatan belajar yang ditambah untuk persiapan ujian nasional, kepengurusan OSIS sudah diganti oleh mereka yang masih kelas 1 dan 2.


"DILARANG BERISIK!!" teriak penjaga perpustakaan yang mendengar teriakan Anita.


"Huuuusssttttt," balas Dini dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Anita.


"Hehehe, sorry, emang ngapain dia ke ruangan papa?" tanya Anita setengah berbisik.


"Nggak tau, padahal dia kan bukan OSIS lagi," jawab Dini yang kembali fokus pada buku yang dibacanya.


"Aku harus kesana!" ucap Anita pelan.


"Eh, mau kemana?"


"Penting!" jawab Anita singkat sambil keluar dari perpustakaan.


Anita segera menuju ke ruangan papanya. Anita masuk tanpa mengetuk pintu ataupun mengucapkan permisi.


Braaakkk


Anita membuka pintu ruangan dengan kasar.


"Papa ngapain panggil Andi?" tanya Anita yang terlihat emosi.


"Huuuusssttttt, pelan pelan ngomongnya Nit," ucap Andi dengan mendudukkan Anita di kursi sebelahnya.


"Kamu lihat sendiri kan Ndi? dia memang nggak punya sopan santun," balas Pak Sony.


"Kamu juga nggak perlu sopan sama dia Ndi!"


"Jaga omongan kamu Nit! di sekolah ini papa kepala sekolah kamu!"


"Papa jangan ngancam Andi soal apapun ya atau Anita sendiri yang akan......"


"Udah Nit," ucap Andi dengan menggenggam erat tangan Anita, mencoba menahan agar emosinya tak semakin naik.


Anita menghembuskan napasnya kasar dan segera berdiri berniat untuk keluar.


"Saya permisi Pak!" ucap Andi pada Pak Sony.


Pak Sony hanya diam menahan emosi yang ingin segera dituntaskannya.


Setelah keluar dari ruangan Pak Sony, Anita segera ke kamar mandi.


"Aku mau ke kamar mandi," ucap Anita pelan, seperti sudah kehabisan tenaga.


"Aku tunggu," balas Andi sambil duduk di kursi dekat lorong kamar mandi.


Setelah bel masuk berbunyi, Anita keluar dari dalam kamar mandi dan segera ke kelasnya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Anita yang melihat Andi masih menunggunya.


"Nunggu kamu, kamu baik baik aja kan?"


"Aku nggak papa, ayo ke kelas!"


Merekapun masuk ke kelasnya masing masing.


Di sisi lain, Dini yang baru masuk ke kelasnya segera menghampiri Dimas yang tampak tertidur.


"Dim, kamu tidur?" tanya Dini memastikan.


Tak ada jawaban, bahkan Dimas tak bergerak sedikitpun.


"Dimas," panggil Dini pelan dengan menyentuh lengan Dimas.


Panas, itu yang terasa di tangan Dini ketika menyentuh lengan Dimas. Ia pun menempelkan telapak tangannya di dahi Dimas, lebih panas lagi. Ya, Dimas demam karena terlalu lelah dengan semua kesibukannya beberapa hari ini.


"Dimas, bangun Dim, aku anterin ke UKS ya!"


Dimas sedikit menggeliat dan samar samar melihat Dini di hadapannya. Ia tersenyum dan menggenggam tangan Dini.


Dini merasakan tangannya terasa panas karena genggaman tangan Dimas.


"Aku anterin ke UKS ya!"


"Nggak mau," jawab Dimas yang pelan.


"Kamu demam Dim, kamu harus minum obat, istirahat, nanti malem kamu kan opening, apa openingnya dipending aja?"


"Nggak mungkin Din, selebarannya udah dimana mana, mama papa juga udah ngundang temen temannya jadi nggak mungkin di tunda lagi."


"Kalau gitu kamu harus istirahat sekarang, ya!"


"Temenin ya!"


"Ya nggak bisa lah Dim, ayo buruan!"


Dimaspun menurut dan pergi ke UKS bersama Dini. Sebelum masuk ke UKS, Dini dan Dimas berpapasan dengan Anita dan Andi.


"Lo kenapa Dim, lemes banget kayaknya!"


"Nggak papa," jawab Dimas singkat.


Setelah memastikan Dimas beristirahat di UKS, Dinipun keluar dan kembali ke kelasnya.


"Dimas kenapa Din?" tanya Andi pada Dini yang sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Demam Ndi, kecape'an kayaknya, mudah mudahan nanti udah baikan," jawab Dini yang terlihat cemas.


"Kalau keadaannya masih lemes gitu openingnya terpaksa ditunda kan?"


"Iya Ndi, gimana lagi, tapi Dimas nggak mau kalau sampe' ditunda."


"Keras kepala emang tuh anak!"


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, bel pulangpun berbunyi.


Dini segera menuju ke UKS untuk melihat keadaan Dimas.


Dimas yang keadaannya sudah membaikpun berjalan ke arah kelasnya.


"Dimas!" panggil Dini yang terlihat sumringah.


"Sayaaang," balas Dimas sambil berniat untuk memeluk Dini namun Andi segera berlari ke arahnya hingga membuatnya terpaksa memeluk Andi.


"Sekolah Dim, sekolah, modus aja lo!" seloroh Andi.


"Syirik aja sih lo, sana pulang, Andini sama gue!"


"Lo sama supir?"


"Iya bawel lo!"


"Tadi aja lemes banget, kasian, sekarang udah sehat ngeselin!" gerutu Andi sambil berjalan meninggalkan Dini dan Dimas.


"Temen kamu tuh!" ucap Dimas pada Dini.


"Temen kamu juga, ayo pulang!"


Merekapun akhirnya pulang.


Tepat jam 7 malam, Dimas datang menjemput Dini.


"Udah siap sayang?" tanya Dimas yang melihat Dini keluar dari rumahnya.


"Aku gugup Dim," balas Dini.


"Gugup kenapa? kamu udah cantik banget gini!"


"Aku nggak berani ketemu mama kamu."


"Andini, aku janji akan berusaha bikin kamu deket sama mama, kalau kalian udah deket mama pasti baik sama kamu."


Dini mengangguk dan tersenyum simpul.


Merekapun berangkat ke cafe bersama Pak Adi yang masih setia mengantar Dimas kemanapun.


Sesampainya di cafe, keadaan cafe sudah sangat ramai. Terlihat mama Dimas yang bak putri iklan berdiri dengan anggunnya.


"Sini sayang, temen temen mama mau ketemu kamu," ucap mama Dimas ketika melihat Dimas sudah turun dari mobil bersama Dini.


"Ayo Din!" ajak Dimas dengan menggandeng tangan Dini.


"Eh, kamu sendirian aja, ada papa juga di sana, Dini biar sama mama," cegah mama Dimas.


"Oh, oke deh, aku tinggal bentar ya sayang!" ucap Dimas dengan mengusap lembut rambut Dini.


Dini hanya tersenyum canggung, membiarkan Dimas meninggalkannya.


"Sini kamu, ikut ke belakang!" ucap mama Dimas pada Dini.


"Iya tante."


Mama Dimas membawa Dini ke pantry dan memintanya untuk membantu Toni.


"Kamu di sini aja ya, bantuin Toni!"


"Ii iya tante," jawab Dini terbata bata.


Toni yang melihat hal itu segera menghampiri Dini.


"Kak Dini di depan aja kak, masak cantik cantik di pantry!" ucap Toni pada Dini.


"Nggak papa Ton, mamanya Dimas nyuruh aku buat bantuin kamu."


"Aku udah ada yang bantuin kak, bos Dimas udah siapin temen buat bantuin aku, jadi kak Dini di depan aja jangan di sini!"


"Nggak papa Ton, lagian Andi sama Anita juga belum dateng."


"Bos Dimas kemana sih kak?"


"Ketemu tamu tamunya."


Tak lama kemudian Anita dan Andi sampai di cafe. Mereka segera masuk ke dalam cafe dan disambut oleh mama Dimas.


"Selamat datang, kalian temannya Dimas ya!"


"Iya tante, saya Anita, ini Andi kita satu sekolah sama Dimas," jawab Anita ramah.


"Kunci mobil kamu Nit, aku mau ke kamar mandi dulu!" ucap Andi sambil memberikan kunci mobil Anita.


"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya mama Dimas pada Anita.


"Iya tante."


"Ooh, kamu tinggal di mana? orangtua kamu namanya siapa barangkali tante kenal."


"Saya tinggal di perumahan x tante, papa saya Sony Atmajaya."


"Sony Atmajaya? kepala sekolah Dimas?"


"Betul tante, papa saya kepala sekolah."


"Kalau mama kamu?"


"Mmmm, mama udah meninggal tante, kena kanker," jawab Anita dengan wajah murung.


"Oh, maaf, tante nggak bermaksud."


"Nggak papa tante," balas Anita dengan tersenyum.


"Kalau kamu mau kamu bisa panggil tante mama, kayak Dimas."


"Waaahh beneran tante?"


"Iya, beneran, biar lebih akrab."


"Makasih tante, eh mama," balas Anita dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2