Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Cemburu


__ADS_3

Anita tak ingin mendengar jawaban Andi, ia segera berlari dengan air mata yang tak mampu ia tahan lagi. Ia tau bahwa Andi menaruh rasa pada Dini, bukan sebagai sahabat, tapi lebih dari itu. Dan Dini? Apa Dini juga merasakan hal yang sama pada Andi? Anita tak tahu. Baginya yang terpenting adalah bisa mendapatkan Andi karena Andi adalah sosok yang sempurna menurutnya. Tak mudah memang, tapi Anita yakin, pelan-pelan ia pasti bisa mendapatkan Andi.


Anita tau, ia akan semakin terluka ketika memutuskan untuk masuk dalam kehidupan Andi dan Dini karena ia tau bagaimana Andi memperlakukan Dini, bagaimana Andi bisa sangat hangat pada Dini dan ia tau bagi Andi satu-satunya perempuan yang harus ia bahagiakan selain ibunya adalah Dini. Tapi itu adalah perasaan yang salah di mata Anita. Anita tak mau Andi semakin tenggelam dalam cinta yang salah itu, karena ia yakin cinta dalam persahabatan tak akan bisa dibenarkan dan tak akan pernah berakhir dengan bahagia.


Anita mengusap air matanya dan kembali ke kelas.


Disisi lain, Dini yang melihat Andi dan Anita dari dalam UKS mulai menerka-nerka.


"apa Anita sudah menyatakan perasaannya pada Andi? apa mereka sudah punya hubungan khusus? apa Andi akan meninggalkanku?"


Pikiran-pikiran itu mulai menghantui Dini.


"Kamu udah minum obat Din?" tanya Andi setelah Anita pergi.


Dini tak menjawab dan balik bertanya pada Andi.


"Kamu jadi pergi Ndi?"


"Enggak Din, mana mungkin aku ninggalin kamu."


"Kalau Anita marah?"


"Dia pasti ngerti kok, kamu tenang aja."


"Kamu pergi aja Ndi, aku nggak papa kok."


"Enggak Din, cukup sekali aku ninggalin kamu, aku nggak mau lagi."


Tanpa Andi tau bel masuk sudah berbunyi, ia masih di UKS menemani Dini.


"Loh Andi, kamu nggak masuk kelas?" tanya Bu Sarah yang tiba-tiba sudah berada di dalam UKS.


"Nunggu bel Bu," jawab Andi.


"Belnya kan udah 5 menit yang lalu Ndi, kamu nggak denger?"


"Haaahh, i... iya Bu, saya ke kelas sekarang," jawab Andi terkejut karena ia sama sekali tidak mendengar bunyi bel masuk, begitu juga dengan Dini.


"Aku ke kelas dulu ya Din."


Dini hanya menganggukkan kepalanya.


"Bu, saya boleh ke kelas?" tanya Dini pada Bu Sarah.


"Kalau kamu masih pusing, jangan dulu ya Din."


"Saya udah baikan kok Bu."


"Ya udah kalau gitu, ini obat sama vitamin buat kamu biar kamu nggak perlu beli di apotik," ucap Bu Sarah sambil menyodorkan satu botol kecil dan satu tablet obat pada Dini.


"Terimkasih Bu."


"Jangan lupa diminum obatnya ya!"


"Iya Bu, saya permisi dulu."


Bu Sarah tersenyum.


Dengan tubuh yang masih lemah, Dini berjalan ke kelasnya. Ternyata di kelasnya sedang jam kosong, tidak ada guru pengganti yang memberi tugas. Mata Dini menyapu seisi kelasnya, ia tak melihat Andi.


"tau gini mending di UKS aja," batin Dini


Dinipun hanya duduk dengan kepala yang di tidurkan di meja bangkunya.

__ADS_1


"Udah baikan Din?" tanya Doni.


Dini hanya tersenyum tipis tanpa mengangkat kepalanya.


"Kalau kamu cari Andi, dia tadi ke kelas IPA, lagi jam kosong juga disana," lanjut Doni.


Dini tak bergeming, ia memejamkan matanya.


Di kelas Anita, meski jam kosong, guru pengganti tetap memberi mereka tugas.


"Anita," panggil Andi.


"Andi, ada apa?"


"Aku mau minta maaf."


"Buat?"


"Karena aku belum bisa nepatin janjiku sama kamu, aku harap kamu ngerti Nit, aku nggak mau ada salah paham."


"Nggak papa kok, lupain aja!"


"Kamu nggak marah?"


Anita menggeleng.


"Aku harap kamu ngerti posisiku sekarang Nit."


"Iya, aku ngerti."


"Makasih Nit, lain kali kita bisa kan jalan bareng bertiga!"


"Serius Ndi?"


Ladang tandus di hati Anita seperti tersiram kembali mendengar perkataan Andi.


Anitapun tersenyum lagi.


"Aku balik ke kelas dulu ya!"


"Oke."


Andi keluar dari kelas Anita. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Ia tak mau menyakiti siapapun, Anita ataupun Dini.


Untuk pertama kalinya ia melihat perempuan lain selain Dini yang menangis di depannya. Sedikit banyak Andi tau kalau Anita menyukainya. Ia berusaha menerima itu, membiarkan Anita masuk di hidupnya. Meski ia belum yakin kalau akan ada perempuan lain yang bisa menggantikan Dini di hatinya.


Sesampainya di kelas, Andi terkejut melihat Dini yang sudah berada di bangkunya.


"Dini, kamu kok disini?"


"Kamu darimana?"


"A.. aa.. aku dari kamar mandi," jawab Andi berbohong.


Dini hanya diam meski ia tahu Andi berbohong. Ia hanya menyimpan semua tanya dalam dirinya sendiri. Entah apa yang membuat Andi tidak jujur padanya.


Bel pulang sekolahpun berbunyi. Sebelum Andi dan Dini keluar kelas, Anita sudah dahulu menemui mereka.


"Kamu udah sehat Din?" tanya Anita.


"Lumayan," jawab Dini singkat sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Abis ini jadi rapat OSIS kan Ndi?" tanya Anita pada Andi.

__ADS_1


"Jadi, tapi aku minta Dinda buat gantiin aku nanti."


Dinda adalah wakil ketua OSIS, sedangkan Anita adalah bendahara OSIS.


"Jadi kamu nggak ikut rapat?"


"Enggak, aku mau nemenin Dini dulu."


"Materi rapatnya gimana?"


"Aku udah jelasin semuanya sama Dinda, dia pasti ngerti." jawab Andi yakin.


"Ooh, ya udah kalau gitu aku duluan ya!" ucap Anita sambil melambaikan tangannya dan keluar dari kelas Andi dan Dini.


Setelah selesai berkemas, Dini dan Andi segera keluar kelas. Sebelum sampai di gerbang sekolah, Dinda memanggil Andi.


"Andi!" panggil Dinda yang melihat Andi sudah hampir keluar gerbang.


"Kenapa?" tanya Andi.


"Ikut aku ke ruang OSIS bentar ya, aku bingung banget ini," ucap Dinda yang terlihat panik.


"Kan udah aku jelasin semua, katanya tadi udah paham."


"Iya Ndi, sorry, bentar aja kok, Dini juga pasti nggak keberatan."


Dini tersenyum ke arah Andi.


"Kamu tunggu bentar nggak papa ya Din!"


"Nggak papa kok, aku tunggu disini."


"Tuh, Dini nggak keberatan."


"Aku tinggal bentar ya Din, tungguin disini ya!"


"Andinya aku pinjem bentar ya Din," ucap Dinda pada Dini yang disusul anggukan kepala Dini.


Dini duduk di kursi panjang di bawah pohon dekat gerbang sekolahnya. Tiba-tiba Anita datang dan duduk di sebelah Dini.


"Andi mana?" tanya Anita.


"Dipanggil Dinda tadi."


"Kamu nunggu dia?"


"Iya, kamu nggak rapat?"


"Belum mulai, Dinda masih bingung sama materinya deh kayaknya."


"Terus kamu kesini ngapain?"


"Mau tanya sesuatu sama kamu."


"Mau tanya apa?"


"Mmmmm, Din, apa salah kalau aku suka sama Andi?"


"Kenapa kamu tanya aku?"


"Aku takut kamu cemburu kalau aku deket sama Andi."


"Kalau aku cemburu apa kamu bakal jauhin dia?"

__ADS_1


__ADS_2