Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Baik Baik Saja


__ADS_3

Flashback sebelum Anita datang ke rumah sakit


Di salah satu ruangan di rumah sakit.


Dimas duduk di ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangannya. Di sana ada Dini, Andi, Aletta dan Nico. Mereka merasa lega karena Dimas baik baik saja.


"Lo bikin kita semua khawatir Dim," ucap Andi pada Dimas.


"Iya sorry, gue juga nggak nyangka kalau sampe' drop kayak gini," balas Dimas.


"Apa ini ada hubungannya sama masalah di kafe?" tanya Dini.


Dimas diam mendengar pertanyaan Dini. Ia menoleh ke arah Andi semacam memberinya kode agar membiarkan dirinya berdua dengan Dini. Ia akan menjelaskan semua masalahnya sedetail mungkin pada Dini, namun tidak pada teman temannya yang lain.


"Kita balik dulu aja gimana? biar Dini aja yang jagain Dimas," ucap Andi pada Aletta dan Nico.


"Gue emang udah pingin balik dari tadi, nggak kuat gue jadi jomblo mengenaskan di sini," balas Nico.


"Cepet sembuh ya Dim, kita balik dulu ya Din!" ucap Aleetta pada Dimas dan Dini sebelum keluar dari ruangan Dimas.


Kini hanya ada Dini yang menemani Dimas di sana.


"Apa kamu nggak mau mereka tau?" tanya Dini pada Dimas.


"Aku cuma mau cerita masalah ini sama kamu, aku bahkan nggak cerita sama Yoga ataupun yang lainnya, jadi cuma kamu yang tau," jawab Dimas.


"Kenapa kamu jadi serius banget sih, aku jadi takut."


"Sayang, kamu percaya kan sama aku? kamu tau aku sayang dan cinta banget kan sama kamu?" tanya Dimas dengan menggengam kedua tangan Dini.


"Iya, aku tau dan aku percaya sama kamu," jawab Dini penuh keyakinan.


"Aku akan ceritain semua yang udah terjadi kafe, kamu dengerin baik baik ya!"


Dini mengangguk. Dimas lalu menceritakan semua kejadian yang terjadi di kafe sedetail mungkin. Ia juga menjelaskan apa saja yang ia, Yoga dan Toni lakukan untuk mencari tau siapa dalang di balik semua itu.


"Jadi itu yang bikin kamu sibuk banget?"


Dimas mengangguk.


"Maafin aku sayang, aku cuma pingin semuanya cepet selesai dan tanpa aku sadar aku jadi mengabaikan kamu."


"Kamu sibuk banget tapi masih sempet ketemu Anita," balas Dini dengan memanyunkan bibirnya.


"Kamu tau dari mana soal itu?"


Dini lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan menunjukkan pada Dimas sebuah video yang membuatnya kecewa dan bersedih.


Dimas memperhatikan video yang Dini tunjukkan. Ada sesuatu yang janggal dari video singkat itu. Dalam video itu dirinya tampak begitu bahagia ketika Anita memeluknya, sangat berbeda dengan yang sebenarnya terjadi malam itu.


"Apa kamu mau bilang kalau ini bukan kamu?" tanya Dini.


"Enggak, itu emang aku, tapi kejadiannya nggak kayak gitu, itu......"


"Editan?"


"Iya, aku mana mungkin sebahagia itu dipeluk Anita, yang ada aku malah kesel!"


"Yakin?"


"Iya sayang, aku...."


"Bukannya dulu kamu yang sering peluk dia duluan?"


"Kenapa jadi bahas yang dulu dulu sih, iya aku salah, aku minta maaf."


"Terus kamu ngapain ketemu Anita? katanya kamu sibuk banget."


Dimaspun menjelaskan tentang yang sebenarnya terjadi. Hal yang ia simpan dari semua orang ia jelaskan secara detail pada Dini.


"Kamu yakin Anita yang ngelakuin semua itu?" tanya Dini meyakinkan.


"Awalnya aku juga ragu sayang, tapi waktu aku ketemu dia, dia malah nawarin kesepakatan sama aku."


"Kesepakatan apa?"


"Dia bakalan minta 7 orang itu buat bikin permintaan maaf dan klarifikasi kalau semua itu cuma salah paham asalkan aku turutin kemauan dia," jawab Dimas.


"Apa yang dia mau?"


"Menurut kamu?"


"Dia mau kamu jauhin aku?"


Dimas mengangguk pelan.


"Aku nggak nyangka Anita bisa ngelakuin hal sejauh itu sama kamu, dia bener bener udah terobsesi sama kamu!"


"Aku bingung harus gimana sekarang, aku sama Yoga mulai kafe itu dari nol, kita jatuh bangun berdua dan kamu juga tau kan gimana aku berusaha buat pertahanin kafe itu waktu Yoga di rumah sakit, kafe itu udah kayak rumah kedua buat aku, Yoga sama Toni, aku nggak mungkin biarin kafe itu hancur gitu aja cuma karena masalah pribadiku, rasanya itu nggak adil buat Yoga sama Toni," jelas Dimas.


"Iya aku ngerti, aku juga nggak akan maksa kamu buat bertahan sama aku, masa depan kita masih panjang buat gapai cita cita kita Dimas, jadi jangan kamu sia siain apa yang udah kamu gapai sama kak Yoga dan Toni sekarang," balas Dini.


"Apa aku harus lanjutin kasus ini ke jalur hukum?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Apa yang dilakuin Anita emang udah merugikan kafe dan itu udah termasuk tindakan kriminal, tapi apa kamu yakin kamu akan laporin dia? apa setelah dia di penjara sikapnya akan berubah? enggak Dimas, yang dia butuhin sebenernya bukan kamu, tapi cinta, kasih sayang dan perhatian, kamu tanpa sadar udah kasih dia semua itu dan itu yang bikin dia nggak mau jauh dari kamu," jelas Dini.


"Aku cuma anggap dia temen, dia sendiri yang salah mengartikan sikapku," balas Dimas membela diri.


"Aku nggak bermaksud belain Anita atau kamu, tapi kamu tau sendiri kan kalau masalah hati nggak bisa dipaksa, nggak bisa kita atur semau kita sendiri, sikap kamu bikin dia jatuh cinta sama kamu, apa kamu beneran tega biarin dia di penjara?"


Dimas menggeleng pelan. Meski Anita sudah termasuk dalam kategori "jahat" dalam kamus hidup Dimas, namun ia tidak akan tega membiarkan Anita mendekam di penjara.


"Tapi aku nggak mungkin ninggalin kamu demi Anita, aku nggak bisa."


"Kamu bukan ninggalin aku demi Anita, tapi demi masa depan kamu, kak Yoga sama Toni, demi kebaikan bersama, bukan demi Anita."


"Tapi apa kamu baik baik aja? apa keputusan itu juga baik buat kamu? enggak kan?"


Dini lalu menggenggam tangan Dimas dan tersenyum.


"Aku cinta sama kamu seperti kamu cinta sama aku, itu udah cukup buat kita, kita nggak pernah tau kemana jalan takdir membawa kita pergi, tapi aku yakin dua orang yang saling mencintai akan dipersatukan di akhir cerita," ucap Dini dengan menatap mata Dimas.


"Apa yang harus aku lakuin sekarang?"


"Kamu tau apa yang harus kamu lakuin Dimas, aku akan pura pura nggak tau apa apa," jawab Dini.


"Kamu nggak akan ninggalin aku kan?"


"Nggak ada alasan buat aku ninggalin kamu Dimas," jawab Dini yang membuat Dimas lebih tenang.


"Makasih sayang," balas Dimas dengan mencium kening Dini.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dini berdering, panggilan masuk dari Andi.


"Halo Ndi, ada apa?"


"Kamu masih sama Dimas Din?"


"Iya, kenapa?"


"Kasih HP kamu ke dia ya, aku mau ngomong sama dia!"


"Oh oke," balas Dini lalu memberikan ponselnya pada Dimas.


"Halo Ndi, ada....."


"Anita di sini Dim, gue liat dia turun dari taksi di depan rumah sakit , kayaknya dia tau kalau lo di sini!"


"Dia tau dari mana?"


"Mana gue tau, siap siap aja lo hahaha.... bye!"


"Ada apa Dim?"


"Anita ke sini," jawab Dimas tak bersemangat.


"Sekarang?"


Dimas mengangguk.


"Ya udah nggak papa, sekalian biar dia makin yakin kalau kamu emang turutin semua ucapannya."


"Tapi aku nggak mau nyakitin kamu Andini, aku....."


"Aku nggak papa Dimas, aku baik baik aja, asal kamu janji bisa jaga hati kamu baik baik buat aku!"


"Pasti, aku pasti jaga hati aku buat kamu, walaupun aku harus ikutin kemauannya, hati aku tetep buat kamu, sampai kapanpun."


"Oke, lakuin aja apa yang dia mau, biar dia nggak curiga, aku jago acting kok, tenang aja hehe...."


Dimas hanya tersenyum tipis. Tak lama kemudian Anita datang dan memeluk Dimas. Meski Dini sudah menyiapkan hatinya untuk itu, tetap saja ia masih merasakan sesak di dadanya, perih dan meninggalkan luka di hatinya.


Flashback off


**


Hari mulai berganti. Yoga dan Toni sudah membereskan keadaan kafe yang berantakan. 7 orang yang merusak kafe sudah membuat klarifikasi dan permintaan maaf seperti yang Anita janjikan. Akun sosial media kafe telah kembali normal. Semua mulai tampak normal meski jumlah pengunjung kafe tampak menurun.


Itu bukan masalah besar, Yoga dan Dimas sudah menyiapkan gebrakan besar untuk kembali meramaikan kafe mereka. Mereka membuat sebuah gagasan baru yang mereka beri nama Paket Cinta. Paket Cinta diperuntukkan bagi siapapun yang ingin menyatakan cintanya, melamar kekasihnya atau hal hal manis lainnya. Yoga dan Dimas akan menyiapkan dekorasi yang sesuai dengan keinginan si pemesan paket cinta. Tak lupa mereka memajang foto pasangan paket cinta itu di tempat khusus yang bisa dilihat oleh semua orang.


Hampir 1 bulan Dimas harus pulang pergi dari apartemen ke kafe. Ia harus membantu Toni mengurus kafe untuk sementara waktu karena Yoga juga tidak bisa meninggalkan kafe cabang dalam waktu yang lama.


Entah sudah berapa kali Yoga dan Toni bertanya pada Dimas tentang caranya menyelesaikan masalah kafe, Dimas tak pernah sekalipun memberikan jawaban yang memuaskan mereka.


"Lupain aja, yang penting sekarang kita harus bangkit buat lebih baik lagi, entah dari segi pelayanan, keamanan dan semuanya," ucap Dimas memberikan jawaban yang begitu klise.


Meski Toni dan Yoga akhirnya sudah tidak pernah menanyakannya lagi, Yoga masih tetap mencari jawaban yang bisa menjawab semua pertanyaannya.


**


Tentang Dimas dan Dini, mereka masih berhubungan baik. Mereka masih tetap romantis seperti sebelumnya, hanya saja hal itu mereka sembunyikan dari Anita. Tak jarang ketika sedang berdua dengan Dini, Anita tiba tiba menghubungi Dimas dan meminta Dimas untuk datang padanya.


Malam itu, Andi dan Aletta berencana untuk pergi ke pasar malam, mereka juga mengajak Dimas dan Dini. Merekapun berangkat menggunakan mobil Dimas.


Sesampainya di pasar malam, mereka segera berjalan ke area permainan.

__ADS_1


Andi mengalungkan tangan kanannya di pundak Aletta, sedangkan Aletta memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie yang dipakainya.


Di belakang mereka, Dimas dan Dini berjalan dengan bergandengan tangan seperti biasa. Sungguh 2 pasangan manusia yang sangat berbeda.


"Kita naik itu yuk!" ajak Dini dengan menunjuk sebuah bianglala.


Andi dan Aletta lalu saling pandang. Andi tau jika Aletta pasti akan menolaknya.


"Kalian aja deh, aku mau muter muter dulu," balas Aletta beralasan.


"Lo nggak takut naik bianglala kan Al?" tanya Dimas dengan nada mengejek.


"Nggak usah di dengerin Ta, kita jalan sendiri aja," balas Andi lalu berjalan dengan Aletta, menjauh dari Dimas dan Dini.


"Emang kenapa sih kalau aku takut ketinggian? apa itu memalukan?" tanya Aletta berbisik pada Andi.


"Enggaklah, apa kita naik itu aja?" tanya Andi dengan menunjuk komidi putar di hadapannya.


"Ayooooo!" balas Aletta bersemangat.


Aletta lalu melepaskan tangan Andi dari pundaknya dan berlari ke antrian komidi putar. Andi hanya tersenyum kecil melihat tingkah Aletta.


Dini dan Dimas yang masih mengikuti Andi dan Aletta hanya saling pandang seolah tak percaya pada apa yang mereka lihat. Seorang Aletta yang terlihat begitu tomboi menaiki komidi putar, membuat Dimas menggeleng keheranan.


"Ini romantis tau!" ucap Andi pada Dimas dan Dini lalu berlari mengikuti Aletta.


"Temen kamu baik baik aja sayang?" tanya Dimas pada Dini.


"Aku nggak kenal dia siapa," jawab Dini lalu menoleh ke arah Dimas, mereka saling pandang lalu tertawa bersama.


"Sejak kapan Andi jadi cowok romantis?" tanya Dimas pada Dini.


"Nggak tau, kayak bukan Andi yang aku kenal," balas Dini dengan pandangan menyelidik.


"Kalian nggak mau ikut?" tanya Aletta pada Dimas dan Dini yang masih berdiri di luar antrian.


Dini dan Dimas lalu berjalan ke arah antrian, namun tiba tiba Dimas menghentikan langkahnya. Ada panggilan masuk dari ponselnya yang tak bisa ia tolak.


"Halo, ada apa?" tanya Dimas datar.


"Kamu dimana? berisik banget!"


"Aku di...... di kafe," jawab Dimas berbohong.


"Jangan bohong Dimas, itu suaranya berisik banget, kamu nggak mungkin di kafe!"


"Emang lagi ada acara di kafe, kamu telfon aku kenapa? mau jemput lagi?"


"Iya, aku tunggu di butik sekarang, aku capek banget kerja dari pagi sampe' malem!"


"Ya udah tunggu, aku kesana sekarang!"


Klik, sambungan terputus. Dimas tidak ingin berlama lama membiarkan Dini menunggunya.


"Kamu mau pergi?"


Dimas mengangguk.


"Ya udah pergi aja," ucap Dini lalu masuk ke dalam antrian komidi putar.


Dimas menarik tangan Dini dan memeluknya. Ia tak peduli meskipun itu adalah tempat umum.


"Maafin aku sayang," ucap Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan mencium keningnya.


"Aku sayang sama kamu," ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Dini.


Beberapa pasang mata memandang ke arah Dini dan Dimas, tidak terkecuali Andi dan Aletta. Andi lalu menghampiri Dini yang masih berdiri memandangi Dimas yang semakin jauh pergi.


"Dimas kemana?" tanya Andi.


Dini hanya menggeleng lalu menarik tangan Andi untuk kembali ke dalam antrian.


"Kamu baik baik aja Din?" tanya Andi.


"Iya, kita seneng seneng malam ini," jawab Dini.


Mereka lalu menaiki banyak wahana permainan di sana, tentu saja terkecuali yang berhubungan dengan ketinggian.


Andi lalu membeli 2 arum manis dan memberikannya pada Aletta dan Dini.


"Duh, udah kayak punya dua istri aja aku," ucap Andi sambil mengalungkan tangannya di pundak Dini dan Aletta. Ia berdiri di antara Dini dan Aletta saat itu.


"Emang kamu mau dimadu Al?" tanya Dini pada Aletta.


"Sebelum aku dimadu, udah ku racun suamiku hahaha...."


"Kamu yakin akan racunin suami kamu yang tampan ini?" balas Andi.


"Apa gunanya tampan kalau mata keranjang, bener nggak Al?" sahut Dini.


"Bener banget, suami kayak gitu darahnya halal buat dibunuh!"


"Hahahaha......." Dini dan Aletta tertawa bersama. Sedangkan Andi perlahan melepas kedua tangannya dari 2 gadis di sampingnya dan beringsut mundur lalu berlari pergi.

__ADS_1


Dini dan Aletta lalu berlari mengejar Andi.


__ADS_2