
Mentari perlahan semakin menunduk di ujung barat. Sinar emasnya tertinggal melukiskan suasana senja yang indah. Indah bagi sepasang anak manusia yang duduk di tepi pantai dengan saling menggenggam. Tapi tidak untuk 3 orang yang berada di atas batu karang.
Andi duduk di antara Aletta dan Nico. Ia menoleh ke arah Aletta yang sedari tadi menundukkan wajahnya. Andi hanya tersenyum dan mengacak acak rambut Aletta.
"Aku seneng bisa duduk sama kamu lagi," ucap Andi pada Aletta, namun Aletta hanya diam.
Andi lalu beralih ke arah Nico.
"Jadi ini yang bikin lo tiap selesai kuliah langsung cabut dan balik malem?" tanya Andi pada Nico.
"Iya Ndi, sorry kalau apa yang gue lakuin ini salah, gue cuma mau nemenin Aletta, gue....."
"Thanks karena udah mau nemenin dia disaat gue nggak bisa nemenin dia," ucap Andi pada Nico.
Andi lalu berdiri dan menarik tangan Aletta.
"Aku minta maaf," ucap Aletta dengan masih menundukkan pandangannya. Ia tau apa yang dilakukannya salah karena diam diam ia mengajak teman laki lakinya untuk bertemu.
Andi lalu menarik Aletta ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Mereka saling diam dalam pelukan untuk beberapa saat.
Aletta lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
"Aku mau kita selesai," ucap Aletta dengan suara bergetar menahan tangis.
"Maksud kamu?" tanya Andi yang sebenarnya paham maksud dari ucapan Aletta, namun ia ingin memastikannya.
"Aku tau kamu nggak pernah cinta sama aku Ndi, aku....."
"Ta aku serius sama kamu, aku nggak pernah main main sama perasaan aku, apa gara gara ucapan ibu kemarin? aku minta maaf kalau ucapan ibu menyinggung perasaan kamu Ta," ucap Andi.
"Bukan karena itu Ndi, aku tau kamu serius, aku tau kamu nggak main main dan aku tau kalau pada kenyataannya aku nggak pernah ada di hati kamu," balas Aletta.
"Aku sayang sama kamu Ta," ucap Andi dengan menggenggam kedua tangan Aletta.
"Aku juga Ndi, perasaan aku bahkan lebih dalam dari yang kamu tau, tapi aku sadar sampe kapanpun aku nggak akan bisa gantiin posisi dia di hati kamu," balas Aletta dengan membawa pandangannya pada Dini yang sedang duduk dalam dekapan Dimas.
Andi diam beberapa saat. Ia tau hatinya masih milik Dini bahkan setelah ia memilih Aletta. Ia tau dalam hatinya hanya ada Dini dan tak akan pernah ada yang lain, setidaknya sampai saat itu.
Ia terlalu mencintai sahabatnya hingga tanpa sadar ia menyakiti gadis yang begitu mencintainya.
"Aletta, aku minta maaf," ucap Andi menyesal.
"Nggak ada yang harus dimaafin Ndi, makasih karena kamu, aku tau gimana rasanya di sayangi dengan tulus, aku tau kalau cinta yang aku takutkan itu ternyata indah walaupun cuma aku yang ngerasain itu," balas Aletta dengan memeluk Andi.
"Maafin aku Ta, maaf karena udah kasih harapan yang aku sendiri pun nggak yakin, maafin aku!"
"aku yang salah, aku yang terlalu berharap sama kamu, aku yang terlalu bepikir jauh tentang hubungan kita, aku yang dengan percaya dirinya berpikir kalau aku bisa gantiin Dini di hati kamu, aku yang dengan sendirinya masuk terlalu jauh dalam jurang yang tak ku tau kedalamannya, aku yang nggak tau diri Ndi, aku yang salah," ucap Aletta dalam hati, membuatnya dengan sekuat tenaga membendung tangisnya.
"Aku harap akan ada seseorang yang mencintai kamu dengan tulus Ta, seseorang yang nggak akan pernah mengecewakan kamu, seseorang yang selalu bisa bahagiain kamu, seseorang yang akan menjaga dan menjadi masa depan yang baik untuk kamu," ucap Andi dengan mencium kening Aletta.
"Aku juga berharap hal yang sama buat kamu Ndi," balas Aletta dengan melepaskan Andi dari pelukannya.
"Aku harap hubungan kita akan baik baik aja setelah ini," ucap Andi pada Aletta.
"Pasti," jawab Aletta dengan tersenyum, senyum yang mengandung sejuta kepedihan dan kesakitan.
"Jaga dia baik baik Nic, sorry karena gue nggak bisa jaga dia kayak yang lo minta," ucap Andi pada Nico.
"Ndi, gue......."
"Gue cabut dulu," ucap Andi lalu pergi.
Ia menuruni batu karang itu dengan membawa hatinya yang entah seperti apa rasanya. Ada rasa sedih, bersalah dan kecewa, kecewa pada dirinya sendiri yang sudah menyakiti gadisnya.
Melihat Andi yang turun seorang diri, Dini dan Dimas segera menghampiri Andi.
"Kenapa dia turun sendiri?" tanya Dini pada Dimas.
"Kayaknya nggak berakhir baik sayang," balas Dimas.
"Andi, tunggu!" panggil Dini setengah berteriak.
"Gimana Ndi?" tanya Dimas yang kini sudah berada di samping Andi, mereka berjalan ke arah stand minuman, tempat mereka melepas sepatu.
Andi hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Dimas.
"Kamu baik baik aja Ndi?" tanya Dini ketika mereka sudah duduk di kursi yang ada di stand minuman.
"Semuanya udah selesai Din," ucap Andi dengan menunduk dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Dini lalu memeluk Andi, berniat menenangkan Andi yang tampak bersedih.
__ADS_1
Dimas pun ikut memeluk Andi seperti yang Dini lakukan.
"Ada kita di sini Ndi, lo nggak perlu ngerasa sendirian," ucap Dimas pada Andi.
Andi lalu membuka kedua matanya dan merangkul dua sahabat di kanan dan kirinya.
"Kalian harus jaga hubungan kalian baik baik, saling terbuka dan jangan pernah biarin ego kalian yang menang," ucap Andi dengan menoleh ke arah Dini dan Dimas bergantian.
Dini dan Dimas kompak menangangguk. Mereka lalu pulang, meninggalkan pantai, meninggalkan langit yang mulai pekat.
Di atas batu karang, sepeninggalan Andi, Aletta duduk dan menumpahkan semua air mata yang ia tahan. Ia menunduk dengan menutup kedua matanya. Tangisnya pecah begitu Nico membawa Aletta ke dalam pelukannya. Seperti yang sudah sudah, ia menangis dalam pelukan Nico.
"sekarang semuanya berakhir, bener bener berakhir, nggak ada lagi harapan, nggak ada lagi cinta, ini yang aku harapkan setelah aku sadar takdir cintaku bukan bersamanya, setelah aku tau kalau aku nggak bisa memiliki hatinya,"
"Masa depan masih panjang Al, semunya belum berakhir, masih banyak yang harus lo perjuangkan dan gue akan selalu ada buat lo," ucap Nico berusaha menenangkan Aletta.
Aletta mengangguk, ia lalu melepaskan dirinya dari pelukan Nico dan menghapus air matanya.
"semangat Aletta, dunia belum berakhir cuma karena masalah cinta kamu yang berakhir, dunia masih indah walaupun tanpa ada seorangpun di hati kamu, semangat demi diri kamu sendiri, demi orang orang yang tulus mencintai kamu, demi orang orang yang selalu ada bersamamu kapanpun itu!"
"Gue minta maaf Nic," ucap Aletta pada Nico.
"Buat apa Al? lo nggak salah apa apa!"
"Maaf karena udah ngelibatin lo dalam masalah gue sama Andi, gue harap hubungan lo sama Andi tetep baik baik aja setelah ini."
"Lo tenang aja Al, gue tau gimana Andi, hubungan kita semua akan baik baik aja!"
**
Hari baru dengan suasana baru. Terik mentari yang biasanya selalu menyapa kini tak tampak hadir. Langit dipenuhi gumpalan awan yang siap menitikkan hujannya.
Andi duduk di teras dengan memperhatikan langit yang tampak bersedih dan tak bersemangat, seperti apa yang dirasakannya saat itu.
Bagaimanapun juga, banyak hal indah yang sudah ia lalui bersama Aletta. Terlepas dari perasaannya yang sesungguhnya, ia benar benar tidak ingin menyakiti dan mengecewakan Aletta. Namun pada kenyataannya, sikapnya menyakiti Aletta, sikapnya membuat Aletta menyerah padanya.
Ia tak bisa menyalahkan siapapun meski sebenarnya ada sedikit kekecewaan dalam dirinya. Ia berusaha mengerti kenapa Aletta lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Nico daripada meluruskan masalah yang sedang terjadi.
Tak lama kemudian Nico datang dan duduk di samping Andi.
"Soal kemarin gue minta maaf Ndi," ucap Nico pada Andi.
"Apa aja yang dia ceritain Nic?"
"Sorry karena gue nggak bisa jaga kepercayaan lo, gue akan terima apapun yang akan lo lakuin sama gue!"
"Gue cuma minta hubungan kita baik baik aja Ndi, lo, gue sama Aletta, gue nggak mau ada masalah lagi!"
"Pasti Nic," jawab Andi dengan menepuk pundak Nico.
Tak lama kemudian Dini datang dan duduk di samping Andi. Ia memperhatikan raut wajah Andi dengan sangat dekat.
"Apaan sih Din, jauh jauh sana!" ucap Andi dengan menempelkan telapak tangannya di wajah Dini dan mendorongnya.
"Cuma mau mastiin aja kalau kamu nggak galau!" jawab Dini dengan meraih tangan Andi dari wajahnya dan menggenggamnya.
"Aku baik baik aja Din, emangnya kamu, ratu galau hahaha...." balas Andi dengan menarik tangannya dari genggaman Dini.
"Mana ada ratu galau, nyebelin!"
Tak lama kemudian sebuah mobil datang, Dimas keluar dari mobilnya dan segera menghampiri Andi, Dini dan Nico.
"Pagi sayang," sapa Dimas pada Dini dan mencium keningnya seperti biasa.
"Kalian ini bisa nggak sih kalau nggak romantis di depan umum, ada yang berduka nih!" ucap Nico pada Dimas dan Nico.
"Hahaha.... sorry sorry, kebiasaan, kalian berdua kok nggak berantem sih?" balas Dimas.
"Kayak anak kecil aja berantem segala!"
"Tapi Andi kalau sama Dimas berantem mulu, iya kan?? sahut Dini dengan menoleh ke arah Dimas dan Andi bergantian.
Andi dan Dimas lalu saling pandang dengan isi pikiran yang sama.
"gimana nggak berantem orang jatuh cinta sama cewek yang sama,"
"Itu karena Andi......."
"Udah udah, ayo berangkat!" ucap Andi yang sengaja memotong ucapan Nico.
"Aletta mana? masih galau?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Hai guys, sorry ya gue duluan!" ucap Aletta yang baru saja turun dari lantai dua dan berlari ke luar karena seseorang sudah menunggunya di sebrang jalan.
"Laaaahh, tuh anak udah barbar aja!" ucap Dimas yang melihat Aletta berlari dengan mengikat rambutnya.
Andi hanya tersenyum melihat Aletta yang tampak baik baik saja.
"syukurlah kalau kamu baik baik aja," ucap Andi dalam hati.
Lain halnya dengan Andi dan Dimas yang memperhatikan Aletta, Nico malah memperhatikan seseorang yang sedang menjemput Aletta. Seseorang yang jika dilihat dari jenis sepeda motor, helm dan pakaiannya sudah sangat jelas jika dia adalah seorang laki laki.
"siapa cowok itu? temen kampus? satu fakultas sama Aletta? atau temen komunitas? aku harus cari tau, tapi..... arrgghh sial, aku nggak sempet liat plat nomornya!"
Setelah Aletta pergi, Dini, Andi, Dimas dan Nico pun berangkat menggunakan mobil Dimas.
Sesampainya di kampus, Nico segera mencari Aletta ke fakultas Sastra.
"Lo mau kemana sih, buru buru banget!" tanya Andi pada Nico.
"Ada yang mau gue cek!" jawab Nico lalu segera meninggalkan Andi.
"Ndi, ntar malem pesta di kos lo ya!" ucap Dimas pada Andi.
"Pesta apaan?"
"Bikin barbeque aja, ntar gue yang siapin semuanya, lo tinggal bilang anak anak aja biar bisa gabung!"
"Lo serius?"
"Serius lah!"
"Sip deh, ntar gue kasih tau anak anak!"
Merekapun berpencar, pergi ke ruangan masing masing.
Ketika jam pulang tiba, Dini, Dimas dan Andi masih harus mengejar ketertinggalannya sampai jam sudah menunjukkan pukul 6 sore menjelang malam.
Dini dan Dimas segera keluar dari kampus untuk membeli persiapan pesta mereka. Mereka membeli berbagai macam daging, sosis, beberapa sayur, jagung dan buah buahan juga minuman. Setelah semuanya siap, mereka segera membawa ke tempat kos.
Di sana semua penghuni kos sudah menunggu kedatangan Dimas dan Dini, mereka segera membantu Dini dan Dimas membawa barang belanjaan dan mulai membagi tugas.
Hampir semua dari penghuni kos sudah berkumpul dan sibuk dengan tugas masing masing terkecuali Nico dan Aletta yang masih belum tampak.
"Nico sama Aletta mana?" tanya Dimas pada Andi.
"Nggak tau, dari tadi dihubungi nggak bisa," jawab Andi.
"Dua duanya?" tanya Dini.
"Jangan jangan........."
"Aletta kan emang sibuk Dim, dari kemarin juga dia pulang malem tiap hari," ucap Andi memotong ucapan Dimas.
"Itu kan cuma alasan dia buat menghindar dari lo, buktinya mereka berduaan di pantai," balas Dimas.
"Iya sih, hehe...."
"Udah deh Ndi, terima kenyataan aja kalau lo emang diselingkuhi hahaha...."
"Sialan lo, Aletta sama Nico nggak kayak gitu!"
"Lo putus sama Aletta Ndi?" tanya salah seorang temannya yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Pantesan nggak pernah liat kalian berduaan lagi, tapi masak sih Aletta selingkuh sama Nico?"
"Nggak tau diri banget tuh Aletta, masak udah dapet pangeran charming gini masih diselingkuhi juga!" sahut teman perempuan Dini.
"Bener banget, padahal cantik juga enggak!" sahut yang lainnya.
"Guys, please stop guys, Aletta nggak kayak gitu, gue cuma bercanda aja tadi, sorry ya!" ucap Dimas.
"Jadi yang bener gimana nih, tenang aja Ndi kita pasti belain lo kok!"
"Dimas cuma bercanda kok, walaupun udah putus tapi gue sama Aletta baik baik aja, sama Nico juga, please guys jangan bikin gosip aneh aneh ya, kita semua udah kayak keluarga di sini, jadi harus selalu saling support, oke?"
"Iya sih, tapi temen lo tuh yang nyebar berita nggak bener!" balas teman Andi dengan menunjuk Dimas.
"Dia cuma bercanda kok, maaf ya!" balas Dini dengan memeluk Dimas dan memamerkan senyum manisnya.
"Untung ada Dini, kalau enggak udah jadi korban pohon gede itu lo!" ucap teman Andi dengan menunjuk pohon besar yang biasa menjadi tempat "eksekusi".
"Ampun guys," balas Dimas dengan menangkupkan kedua tangannya di dada dan menundukkan kepalanya membuat semua yang berada di sana tertawa karena sikap Dimas.
__ADS_1
Tak lama kemudian Nico dan Aletta datang. Mereka di sambut oleh semuanya tanpa membicarakan masalah yang sudah terjadi diantara mereka berdua dan Andi. Mereka menikmati malam itu dengan canda tawa. Meski tak ada bulan dan bintang yang menghiasi, kebahagiaan yang terpancar dari mereka semua sudah cukup menjadikan malam menjadi indah.