
Setelah selesai berdiskusi dan bel pulang berbunyi, Andi dan Dini segera merapikan buku-bukunya dan segera pulang begitu juga teman-temannya yang lain.
Sedangkan Dimas masih duduk termenung di kursinya. Ia masih memikirkan hubungannya dengan Dini dan Andi. Ada sedikit rasa ragu di hatinya, apakah Dini akan memberinya jawaban yang diinginkannya atau malah mengecewakannya.
Namun ia segera menepis rasa ragu itu, ia sudah berjanji akan menunggu Dini, apapun jawaban Dini ia akan menerimanya.
Iapun tahu jika Andi tidak benar-benar melepaskan Dini untuknya. Bagaimanapun juga ia sadar bahwa dirinya adalah orang ketiga diantara Dini dan Andi meski mereka hanya bersahabat, nyatanya kedekatan mereka menumbuhkan benih-benih cinta di hati Andi.
"thanks Ndi, lo udah kasih gue kesempatan buat nunjukin keseriusan gue sama Andini," ucap Dimas dalam hati.
Di luar ke kelas, Dini baru sadar jika Dimas belum keluar dari kelas.
"Dimas belum keluar ya?" tanya Dini pada Andi.
"Belum kayaknya."
Biipp biiipp biiipp
Ponsel Dini berdering, ia segera membuka chat yang masuk.
"Aku masih nunggu kamu Andini, meski aku nggak tau kapan kamu akan kasih kepastian buat aku, yang aku tau perasaanku ke kamu nggak akan pernah berubah, apapun jawaban kamu, aku akan terima dan tolong jangan paksa aku buat hilangin perasaan ini kalau memang ternyata perasaan kita nggak sama." -isi voice chat dari Dimas-
Andi hanya diam menunggu Dini mendengarkan voice chat dari Dimas. Meski Andi tak mau mendengarnya, telinganya tetap menangkap dengan jelas apa yang Dimas katakan pada Dini melalui voice chatnya.
Mata Dini mulai berkaca-kaca, ia merasa bersalah pada Dimas. Ia merasa jahat karena sudah menggantungkan hubungannya dengan Dimas.
"aku minta maaf Dimas, aku nggak tau harus gimana, aku nggak mau kamu pergi, tapi aku juga nggak bisa nahan kamu buat nunggu aku," ucap Dini dalam hati.
"Bukuku ketinggalan Din, aku ke kelas bentar ya, kamu tunggu di sini!" ucap Andi berbohong pada Dini.
Dini mengangguk dan duduk di kursi depan kelas Anita.
Andi segera kembali ke kelas, berharap Dimas masih berada di sana.
"Nggak pulang Dim?" tanya Andi yang bersandar di pintu kelas.
"Lo ngapain ke sini?"
"Lo sendiri kenapa masih di sini?"
"Bukan urusan lo!" jawab Dimas sambil merapikan bukunya dan keluar dari kelas melewati Andi yang masih berdiri di pintu kelas.
"Lo marah sama gue?" tanya Andi yang melihat sikap dingin Dimas.
Dimas hanya menoleh, tak menjawab sepatahkatapun, lalu melanjutkan langkahnya pergi.
Andi segera menahannya.
"Lo kenapa sih?" tanya Andi heran melihat sikap Dimas yang tiba-tiba berubah.
"Gue mau pulang!"
"Kalau ada masalah selesaiin Dim, jangan kayak anak kecil gini!" ucap Andi menahan emosi.
__ADS_1
Dimaspun mengalah, ia duduk di kursi depan kelasnya disusul Andi yang duduk di sampingnya. Pandangannya kosong, seakan ada hal berat yang dipikirkannya.
"Lo sayang sama Andini?" tanya Dimas pada Andi.
"Kenapa lo tanya itu?"
"Sejak kapan Ndi?"
"Lo kenapa sih Dim, gue denger apa yang lo bilang ke Dini lewat voice chat tadi, kenapa? ada apa sama lo? apa perasaan lo udah berubah?"
"Gue sayang sama Andini lebih dari yang lo tau, tapi mungkin sayang gue nggak lebih besar daripada lo Ndi!"
"Kenapa lo bilang gitu?"
"Gue nggak tau Ndi, gue rasa lo lebih tau Andini daripada gue."
"Lo ragu sama perasaan lo?"
"Enggak Ndi, gue sayang sama Andini, apapun akan gue lakuin buat bikin Andini bahagia, tapi apa bisa? apa dia bakalan bahagia sama gue?"
"Jalanin dulu, nanti lo pasti tau jawabannya, gue udah percayain Dini sama lo Dim, gue percaya sama lo!"
************
Dini duduk di tempat duduknya dengan gelisah. Ia tidak tahu apa yang Andi lakukan di kelasnya, karena jika hanya mengambil buku tidak akan selama ini.
"apa dia nyamperin Dimas? buat apa?" batin Dini bertanya tanya.
Tak lama kemudian Anita keluar dari kelasnya dan melihat Dini yang sedang duduk di depan kelasnya.
"Nunggu Andi, bukunya ketinggalan katanya."
"Oh, aku temenin ya!"
Dini mengangguk.
"Kamu sama Dimas gimana Din?"
"Apanya yang gimana?"
"Ya hubungan kalian, gimana kelanjutannya?"
Dini hanya tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa dia belum ungkapin perasaannya sama kamu?"
"Kamu tau kan Din, kalau dia suka sama kamu?"
"Apa kamu nolak dia?" tanya Anita penasaran, karena Dini hanya diam tak menjawab satupun pertanyaan yang ia lontarkan.
Tiba-tiba,
"Hai sayang!" panggil Dimas dari jauh sambil melambaikan tangan ke arah Dini.
__ADS_1
Dini hanya tersenyum sedangkan Anita membalas lambaian tangan Dimas dengan senyum termanisnya membuat Dini sedikit heran dengan sikap Anita.
"Mau langsung pulang?" tanya Dimas pada Dini.
Dini mengangguk.
"Eh, gimana kalau kita jalan dulu, mau kan Ndi?" tanya Anita pada Andi.
"Boleh," jawab Andi menyetujui ajakan Anita.
"Kamu mau kan?" tanya Dimas pada Dini.
Dini mengangguk.
"Kalau gitu pake' mobil kamu aja ya Dim," ucap Anita pada Dimas.
"Oke, lets go!"
Mereka berempatpun segera memasuki mobil Dimas. Dimas di depan bersama Dini, Anita dan Andi berada di bangku belakang.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Ke mall aja!" jawab Anita cepat, sebelum Dini sempat menjawab.
"Aku nggak nanya kamu Nit!" balas Dimas kesal.
"Hehehe, iya sorry, aku terlalu semangat ini," ucap Anita beralasan.
"Kamu mau kan Din?" tanya Anita pada Dini.
"Aku ikut aja, terserah kalian," jawab Dini pasrah.
"Mau nonton?" tanya Dimas pada Dini.
"Boleh, kebetulan ada film bagus yang mau aku liat," jawab Anita yang lagi-lagi menjawab pertanyaan Dimas untuk Dini.
"Aku nanya Dini Nit!" ucap Dimas yang sudah sangat kesal dengan sikap Anita.
"Nggak papa Dim, kan dia juga yang ngajak jalan," ucap Dini berusaha menenangkan Dimas yang terlihat kesal.
Dimas hanya diam, menahan kekesalannya pada Anita.
"Lagian kamu tanya Dini terus, di sini kan ada aku sama Andi juga!" gerutu Anita.
Dimas hanya diam, begitu juga Dini dan Andi.
Sesampainya di mall, mereka segera berjalan ke arah bioskop. Setelah membeli tiket, beberapa makanan ringan dan minuman, mereka segera menunggu di depan ruangan tempat film yang mereka tonton akan ditayangkan.
Tak lama kemudian mereka masuk dan duduk berjejer dengan urutan Dini, Dimas, Anita dan Andi.
Mereka sepakat untuk melihat film horor yang direkomendasikan oleh Anita, walaupun sebenarnya Anita sangat takut melihatnya. Alhasil, selama film diputar Anita lebih banyak menutup mata, menyembunyikan kepalanya dibalik lengan Dimas yang dipegangnya erat-erat.
Dimas berkali-kali melepaskan tangan Anita yang memegang lengannya sangat erat, ia tidak mau jika sikap Anita membuat Dini cemburu.
__ADS_1
Sedangkan Dini hanya diam melihat sikap Anita yang terlihat tidak biasa dan Andi hanya fokus memperhatikan adegan demi adegan film yang ditontonnya.