Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Detik, menit, jam dan hari berlalu begitu saja. Matahari terbit dan tenggelam sesuai perintahNya. Terkadang mendung memaksa matahari untuk cepat menyudahi kehangatannya pada bumi. Rintik hujan yang membasahi bumi seperti titik titik rasa dalam hati yang sulit untuk di raba. Rintik yang perlahan menjadi guyuran hujan yang membuat genangan air, seperti rintik rindu yang perlahan menjadi derasnya nestapa yang menyayat hati.


Gemerlap bintang terlihat menemani kegelapan malam di atas sana. Meski ia sangat jauh, keindahannya tetap terpancar dan tak akan pudar. Meski terkadang tak nampak, tapi ia masih di sana, bersembunyi di balik gelapnya awan bersama temaram bulan.


Cinta, andai cinta bisa berjalan sesuai dengan keinginan, andai cinta bisa memilih kepada siapa ia akan berlabuh, andai cinta tak akan datang jika pada akhirnya tak bisa bersama. Nyatanya, cinta tak bisa seperti itu. Ia tertanam kuat dalam hati tanpa permisi. Mengisi setiap sudut hati dengan kata kata mesra bak puisi. Memberikan kebahagiaan juga kepedihan hati. Menguatkan diri namun juga melemahkan hingga ingin mati. Cinta tak akan rumit jika hanya ada dua orang yang saling mencintai. Saling bergandengan tangan menyusuri jalan masa depan yang tak bertepi. Menabur bunga bunga cinta dalam setiap kenangan yang dilewati. Saling memeluk dan menguatkan diri. Berdua selamanya sampai akhir hayat menanti.


**


Pagi itu, matahari bersinar terang menghangatkan bumi. Ia seperti sedang balas dendam pada hujan yang semalam turun tanpa ampun.


Dini menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke kampus. Sebelum berangkat, ia mengambil 1 bungkus mie instan di meja kamarnya lalu segera ke dapur. Belum sampai ia masuk dapur, bau mie instan rasa soto sudah menusuk hidungnya, membuat perutnya bergenderang ingin segera diisi.


"Hmmmm, baunya bikin laper," ucap Dini ketika melihat Andi sedang mengaduk aduk mie dalam mangkuk.


"Kamu mau? aku bikinin ya?"


"Ini aku udah bawa sendiri," jawab Dini lalu segera mengambil panci, mengisinya dengan air dan menaruhnya di atas kompor yang sudah menyala.


Tiba tiba Andi menarik tangan Dini dan menatapnya tajam. Ia memegang kedua pipi Dini dan mengarahkan pandangan Dini padanya.


"Apa sih Ndi?"


"Mata kamu bengkak, abis nangis ya?" tanya Andi.


"Enggak," jawab Dini sambil berusaha menarik tangan Andi dari pipinya namun tak bisa.


"Kamu nggak bisa bohong Din!"


"Iya aku abis nangis," ucap Dini jujur.


"Dimas lagi?"


"Apa aku selalu nangis gara gara Dimas?"


Melihat air yang sudah mendidih, Andi melepaskan pipi Dini dari tangannya. Dini lalu memasukkan mie nya ke dalam air mendidih itu.


"90 persen alasan kamu nangis itu karena Dimas," jawab Andi.


"10 persen nya?"


"10 persennya lain lain, karena liat film yang sedih mungkin," jawab Andi.


"Berarti ini masuk yang 10 persen kalau gitu," balas Andi.


"Gara gara film?"


"Iya, kamu tau drama korea yang lagi rame sekarang? yang ceweknya cantik gara gara make up, cowok yang dia suka udah nyatain cintanya tadi, lega banget rasanya," jelas Dini.


"Harusnya kamu seneng dong, kok malah nangis?"


"Ya aku nangis terharu lah, kamu harus nonton itu Ndi, recomended!"


"Aku mana pernah liat gituan Din!"


"Kamu harus liat Ndi, biar kamu bisa romantis kayak cowok cowok di drama korea itu!"


"Emang aku nggak romantis?"


Dini menggeleng cepat sambil mengaduk mie dalam panci setelah memasukkan telor.


Andi lalu mendekat dan memeluk Dini dari belakang.


"Apa maksud kamu romantis yang kayak gini?" tanya Andi dengan berbisik.


Suaranya terdengar sangat lembut dan menggoda, membuat Dini seketika blank.


Tiba tiba Nico datang dan terlonjak kaget melihat Andi yang sedang memeluk Dini mesra.


"Sorry sorry, gue nggak liat," ucap Nico lalu menutup mata dengan kedua tangannya.


Dini dan Andipun tak kalah terkejutnya, Andi segera melepaskan pelukannya pada Dini. Mereka bertiga menjadi kikuk di dalam dapur.


Tanpa Dini sadar, gelembung gelembung dari telur yang dimasukkan Dini ke panci sudah meluber keluar dari panci. Ia segera mematikan kompor karena panik.


Sedangkan Andi, ia mendapati mie instan buatannya sudah membesar dan kuahnya yang sudah tak nampak. Dini dan Andi lalu tertawa melihat kekacauan yang sudah mereka berdua lakukan.


Mereka lalu keluar dari dapur dan menikmati sarapan mereka di depan kamar Andi.


"Lo balik dari kapan Nic?" tanya Andi pada Nico yang sekarang duduk bersama mereka.


"Barusan, gimana keadaan Aletta?"


"Baik, dia udah bisa kuliah hari ini," jawab Andi.


"Syukurlah kalau gitu," balas Nico.


"Aku pikir kamu cuti kuliah Nic, beberapa hari aku nggak pernah liat kamu," ucap Dini.


"Enggak kok, cuma lagi ngurusin hal penting aja hehe...."

__ADS_1


"Apa yang lebih penting dari kuliah Nic?" tanya Andi.


"Rahasia dong, sesuatu kalau udah bersifat rahasia berarti penting kan?"


"Terserah lo aja deh, gimana keadaan nyokap lo?"


"Udah sehat kok, udah sibuk lagi jadi udah nggak butuh gue haha....."


Andi dan Dini hanya saling pandang mendengar jawaban Nico. Tak lama kemudian Aletta datang menghampiri Andi, Dini dan Nico.


Ia berlari kecil dengan tas ransel di punggungnya. Ia mengenakan celana jeans, kaos berwarna putih polos dengan kemeja yang dibiarkan terbuka kancingnya. Senyum ceria tampak di wajah cantiknya. Mendung sudah pergi, matahari kembali bersinar cerah di wajahnya.


"Pagi guys, lagi gosip ya?" sapa Aletta.


"Iya, lagi gosipin kamu," jawab Andi.


"Iiissshh, selain dingin kamu juga tukang gosip ya sekarang!"


"Dari dulu, kamu aja yang baru tau haha...."


Nico diam sejenak, memperhatikan obrolan Aletta dan Andi.


"aku kamu?"


"Eh bentar bentar, kok kalian jadi aku kamu panggilnya?ada apa nih? apa ada sesuatu yang terjadi selama gue pergi? apa ada yang nggak jomblo lagi sekarang?" tanya Nico dengan bergantian menunjuk Aletta dan Andi.


"Apaan sih Nic, udah kayak akun akun gosip aja lo!" balas Aletta.


"Haha.... gimana luka lo? udah bener bener sembuh?"


"Udah dong, lo kemana aja sih, temennya sakit tapi nggak pernah jenguk!"


"Sorry Al, ada yang harus gue urus!"


"Apa?"


"Rahasia," jawab Andi sebelum Nico sempat menjawab.


"Kamu tau Ndi?"


"Enggak, dia cuma bilang rahasia," jawab Andi.


"Kalau kamu tau Din?" tanya Aletta pada Dini.


Dini hanya mengangkat kedua bahunya tanpa bersuara.


"Emang sepenting itu ya sampe' nggak ada yang boleh tau?"


"Kamu ada kelas pagi Ndi?" tanya Aletta pada Andi.


"Jam 9, kamu udah sarapan?"


"Udah kok," jawab Aletta.


"Din, kamu......"


"Aku duluan ya," ucap Dini lalu beranjak pergi sebelum mendengarkan ucapan Aletta.


Aletta tersenyum, membiarkan Dini pergi.


"kamu marah sama aku Din? kenapa? apa karena Andi? aku bener bener nggak ngerti hubungan seperti apa yang kalian miliki sebenernya," batin Aletta dalam hati.


"Jangan ngelamun aja," ucap Andi dengan menyenggol lengan Aletta.


Aletta hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Andi.


"aku nggak mau ada masalah di sini, apa lagi antara aku sama kamu Din, aku harus pastiin gimana hubungan kalian sebenernya, aku nggak mau ada salah paham,"


Setelah mereka semua selesai bersiap siap, Andi, Aletta dan Nico segera berangkat ke kampus. Sedangkan Dini menunggu kedatangan Dimas.


"Nic, lo tumben tumbenan sih main rahasia kayak gini, ada apa sih?" tanya Aletta penasaran.


"Nggak ada apa apa Al, tenang aja, semuanya aman!"


"Hmmmm, nggak jelas lo, ya udah gue duluan ya!"


Andi dan Nico mengangguk kompak.


"Nic, gue masih penasaran, lo kemana aja dari kemarin, biasanya lo yang paling semangat jenguk Aletta, kenapa kemarin malah ngilang gitu aja?"


"Gue bakalan cerita, tapi lo janji ya jangan ceritain ini sama siapa siapa, terutama Aletta."


"Apa ada hubungannya sama Aletta?"


Nico mengangguk cepat.


"Sebenarnya gue dari kemarin nyari orang yang udah lukain Aletta, nggak butuh waktu lama buat tau siapa orangnya, tapi gue nggak mau dia cuma dapat hukuman ringan karena perbuatannya, gue sama body guard gue nyari tau seluk beluk tentang orang itu, masa lalunya dan lain lain, hasilnya orang itu ternyata mantan narapidana yang pernah masuk penjara karena ketauan ngerampok rumah, dan yang polisi nggak tau, dia ternyata nggak cuma rampok dan jambret, dia udah beberapa kali bunuh korbannya dan itu yang sekarang bikin dia membusuk di penjara," jelas Nico panjang.


"Gila, niat banget lo!"

__ADS_1


"Gue nggak akan biarin siapapun nyakitin orang orang terdekat gue Ndi, termasuk Aletta!"


"Jadi orang itu sekarang?"


"Dia dapat hukuman penjara seumur hidup," jawab Nico dengan senyum penuh kepuasan.


"Keren!!" ucap Andi sambil bertepuk tangan kecil.


"Thanks ya lo udah jagain Aletta," ucap Nico sambil menepuk pundak Andi.


"Santai aja Nic, kita semua sahabat, jadi emang harus saling menjaga!"


Nico mengangguk pelan.


**


Di tempat lain, Dini dan Dimas sudah berada dalam mobil.


"Dimas, ada yang mau aku tanyain sama kamu!" ucap Dini pada Dimas.


"Apa?" tanya Dimas tanpa menoleh ke arah Dini, ia fokus pada jalan raya di hadapannya.


"Kamu pernah bilang kalau hubungan kamu sama Anita itu sebuah kesalahan kan? emang kesalahan apa yang udah kamu perbuat sampe' kamu harus mau tunangan sama dia?"


Ckkiiiiittttt


Dimas menginjak rem nya tiba tiba, membuat Dini tersentak ke depan. Beruntung, jalanan masih lengang saat itu, hingga tidak menyebabkan hal hal yang buruk.


Dini menoleh ke arah Dimas, namun Dimas mengalihkan pandangannya, ia tidak berani menatap gadis yang dicintainya saat itu. Pertanyaan Dini membuatnya merasa menjadi laki laki paling berdosa. Ia sudah mengambil keperawanan Anita, tapi ia mencinta Dini. Begitulah yang ia pikirkan selama ini.


"Maaf Andini," ucap Dimas pelan, lalu kembali melajukan mobilnya.


Dini hanya tersenyum tipis, ia tak melanjutkan pertanyaannya, ia akan mencari tau nya sendiri. Meski nanti kenyataan itu menyakiti hatinya, ia siap. Ia tidak ingin tanda tanya itu semakin membesar dalam pikirannya.


"Kamu marah?" tanya Dimas dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.


Dini menggeleng pelan. Ia tidak marah, tapi ia kecewa. Dari dulu Dimas selalu menyembunyikan banyak hal darinya. Dini tau jika Dimas melakukan itu untuk menjaga perasaan Dini. Tapi Dini tidak menyukainya, baginya kejujuran itu lebih penting, ia lebih baik kecewa sekarang daripada harus menerima hal yang menyakiti hatinya setelah ia dibuat bahagia oleh kebohongan. Tapi Dimas tak pernah mengerti, ia masih saja seperti dulu.


Dini dan Dimas berjalan berdampingan. Tak banyak obrolan di antara mereka berdua. Dini masih kecewa, membuatnya seakan enggan untuk berbicara. Sedangkan Dimas, ia masih merasa bersalah karena keadaan yang sangat rumit itu. Ia merasa bersalah pada Anita karena perbuatannya ketika mabuk, ia juga merasa bersalah pada Dini karena belum bisa mengatakan yang sejujurnya pada Dini. Ia tidak ingin menyakiti Dini dengan fakta yang akan menghancurkan hatinya.


"Nanti aku anter pulang ya!" ucap Dimas pada Dini.


"Nggak perlu, aku ada acara sama Cika," balas Dini berbohong.


"Acara apa?" tanya Dimas.


"Cika! tunggu!" teriak Dini memanggil Cika, ia sengaja mengabaikan pertanyaan Dimas.


Dini berlari menghampiri Cika, Dimas yang merasa diabaikan segera mengejar Dini. Ia ingin tau apakah Dini benar benar ada acara dengan Cika atau tidak.


"Kalian nanti ada acara apa sih?" tanya Dimas.


"Acara apa?" tanya Cika pada Dini.


Dini menggenggam erat tangan Cika, seolah memberinya kode.


"Yang semalem kita bahas, masak kamu lupa sih!" balas Dini.


"Aduh Din, kenapa kamu remas tangan sih, sakit tau'!" balas Cika yang tidak paham pada kode Dini.


"Hehe, sorry, aku cuma......"


"Aku tau kamu bohong Andini, nanti aku anter kamu pulang, titik," ucap Dimas lalu pergi begitu saja.


"Aku nggak mau Dimas!" balas Dini setengah berteriak lalu mengejar Dimas, meninggalkan Cika.


Cika yang tidak mengerti pada apa yang baru saja terjadi hanya bisa berdiri mematung melihat Dini yang mengejar Dimas.


"Aku semalem bahas apa ya sama Dini?" Cika segera mengambil ponselnya dan membuka chat room Dini. Hanya ada percakapan singkat tentang tugas yang harus dikumpulkan.


"Nggak ada apa apa, kenapa juga Dini pegang tanganku kenceng banget kayak orang lagi nahan buang air besar hehe...."


Cika lalu berjalan, sesaat kemudian ia menyadari sesuatu. Ia menepuk jidatnya sendiri saat itu juga.


"Ada acara? yang dibahas semalem? genggaman tangan yang kenceng? bohong? uppsss, sorry Din, temen kamu ini emang nggak peka sama kode kode kayak gitu hehe...."


Dini yang berhasil mengejar Dimas segera menarik tangannya, membuat Dimas reflek memutar badannya menghadap Dini.


"Apa? kamu mau bohong apa lagi Andini sayang?" tanya Dimas genit.


Dini segera menutup mulut Dimas menggunakan tangannya. Dimas memegang tangan Dini yang menutup mulutnya, menariknya sedikit lalu menciumnya.


Dini segera menarik tangganya yang baru saja dicium oleh Dimas.


"Ini kampus Dimas!" ucap Dini dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, takut jika seseorang memperhatikan mereka.


"Kalau nggak di kampus nggak papa dong!"


"Iiissshh, kamu!" balas Dini dengan memukul pelan lengan Dimas dan berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Aku mau jujur sesuatu sama kamu," ucap Dimas ketika mereka sudah berjalan berdampingan.


Dini menghentikan langkahnya. Ia menatap Dimas dalam dalam. Ia sudah lama menantikan kejujuran Dimas. Ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi antara Dimas dan Anita. Ia sudah menyiapkan hatinya jika apa yang Dimas ucapkan itu akan menyakiti hatinya, setidaknya Dimas sudah jujur padanya.


__ADS_2