Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Masalah yang Tertinggal


__ADS_3

Hari berganti, langit masih saja menyapa dengan kehangatannya. Entah kenapa hari itu terasa lebih hangat dari sebelumnya.


Di atas gundukan tanah yang masih basah, mama Ivan, Anita, papa dan mama Dimas sedang melantunkan do'anya untuk seseorang di bawah sana. Seseorang yang pergi dengan dendam yang masih tertanam pada dirinya.


"Kenapa kamu harus pergi sayang? kenapa kamu ninggalin mama sendirian?" tanya mama Ivan dengan terisak.


Anita hanya bisa mengusap bahu mama Ivan, berusaha menenangkan wanita yang kini hanya sebatang kara itu.


Semenjak meninggalnya Ivan di rumah sakit, mama Ivan tak berhenti menangis hingga matanya tampak bengkak karenanya. Ia bahkan pingsan, sadar dan pingsan lagi hingga beberapa kali. Kematian anak semata wayangnya itu adalah pukulan terbesar untuknya. Ia sudah tidak memiliki siapapun sekarang karena satu satunya miliknya telah pergi.


Sedangkan Anita, meski baru mengenal Ivan, hubungannya dengan Ivan sangat dekat. Meskipun tak jarang Ivan memperlakukannya dengan kasar, namun sikap manis Ivan meninggalkan kebahagiaan dalam diri Anita.


Hatinya terasa sakit begitu mengetahui Ivan telah pergi selamanya. Tak ada lagi sosok yang akan memeluknya dengan kasih sayang, tak ada lagi perhatian manis yang ia dapatkan. Ya, ia merasa kehilangan Ivan, meski berkali kali Ivan menyiksanya.


Pak Tama yang mendengar kabar meninggalnya Ivan, segera mengajak istrinya untuk berziarah ke makam Ivan bersama mama Ivan yang mengajak Anita. Mama Ivan memang sudah sangat dekat dengan Anita, ia sudah menganggap Anita seperti anaknya sendiri.


"Kita pulang ya tante," ucap Anita pada mama Ivan.


"Tante nggak mau pergi Anita, tante mau nemenin Ivan di sini," balas mama Ivan dengan memegangi nisan anak yang sangat di sayanginya itu.


Tak lama kemudian Dokter Dewi datang, ia segera memeluk mama Ivan dan Anita bergantian.


"Dewi turut berduka cita ya mbak, semoga Ivan di tempatkan di tempat yang baik, mbak harus sabar, ini pasti yang terbaik buat Ivan," ucap Dokter Dewi pada mama Ivan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh mama Ivan.


"Sar, kita pamit dulu ya, kalau butuh bantuan apapun jangan sungkan sungkan hubungin aku atau Angel," ucap Pak Tama pada Sartika, mama Ivan.


"Sebelumnya saya mohon maaf atas kesalahan Ivan sama keluarga kalian, saya....."


"Kita udah maafin semuanya sis, yang lalu jangan pernah diungkit lagi, semuanya sudah terjadi karena kehendakNya," ucap mama Dimas yang sengaja tidak ingin membahas masalah yang sudah terjadi antara keluarganya dengan Ivan.


"Terima kasih sis," balas mama Ivan yang di balas anggukan kepala dan senyum mama Dimas.


Papa dan mama Dimas lalu pergi meninggalkan pemakaman.


"Mama sedih Pa," ucap mama Dimas pada sang suami.


"Papa juga, tapi apa mau dikata, ini sudah takdir hidupnya," balas papa Dimas.


"Tapi kenapa ada Anita di sana pa? kenapa dia keliatan sedih? kenapa......."


"Sssttt.... bukan waktunya buat nanyain itu!"


Mama Dimas lalu diam. Mobil yang mereka tumpangi membawa mereka ke rumah sakit tempat Dini, Andi dan Dimas di rawat.


Sesampainya di rumah sakit, mama Dimas segera berlari ke arah ruangan anaknya yang juga ada Dini dan Andi di dalamnya.


"Dimaassss, kamu baik baik aja sayang?" tanya mama Dimas yang langsung memeluk Dimas yang sedang duduk di ranjang nya.


"Aaawww aaawwww, sakit ma, sakiiitt," pekik Dimas kesakitan karena sang mama yang memeluknya dan menekan luka di lengan tangannya.


"Maaf sayang, maaf, mama nggak sengaja, yang mana yang luka?"


Pak Tama yang menghampiri Dimas lalu memukul pelan lengan tangan Dimas yang terluka, membuat Dimas kembali memekik kesakitan.


"Nih, luka tembak!" ucap Pak Tama.


"Papa nih, anak lagi sakit malah dipukul lukanya!" balas mama Dimas dengan memukul perut suaminya.


"Ini bukan cuma luka tembak Pa, pisau juga!" sahut Dimas.


"Iya iya, terserah kamu aja, gimana keadaan kamu Din?"


"Baik Pa," jawab Dini dengan senyum manisnya.


"Kamu Ndi?"


"Baik juga om, maunya pulang sekarang tapi nggak dibolehin sama Dimas!"


"Yeeee, tukang ngadu!" seloroh Dimas.


"Nggak papa kamu di sini aja dulu," ucap mama Dimas pada Andi.


"Lain kali kamu jangan ikut ikutan ide nya Dimas ya Ndi, udah disuruh nunggu malah nggak sabar, gini akibatnya!" ucap papa Dimas.


"Kalau Dimas nggak segera masuk, Ivan pasti udah ngelakuin hal buruk sama Andini Pa!" balas Dimas membela dirinya.


"Soal Ivan, dia meninggal semalam karena luka tembak di jantungnya," ucap papa Dimas yang sukses membuat Dini, Andi dan Dimas tercengang tak percaya.


"Papa serius?" tanya Dimas meyakinkan.


"Buat apa papa main main Dim, dia meninggal di rumah sakit ini juga!"


"Papa tau siapa yang nembak Ivan kemarin?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Ya, polisi udah berhasil tangkap pelakunya, dia ternyata kakak dari perempuan yang udah jadi korban kekerasan dan video tak senonoh yang Ivan bagikan di grup pribadi nya!"


"Kekerasan dan video tak senonoh?"


"Iya Dimas, selama ini Ivan cari cewek cewek yang mau jadi model video tak senonoh yang ia kirimkan ke 'pelanggannya', kadang mereka ngelakuin itu dengan suka suka, kadang Ivan yang maksa mereka, tak jarang Ivan melakukan tindakan kekerasan buat maksa mereka, walaupun kayak gitu Ivan tetep ngasih hasil dari video itu sama mereka," jelas papa Dimas.


"Apa Anita juga terlibat om?" tanya Andi yang membuat Dini, Dimas dan mamanya menoleh cepat ke arah Andi.


"Iya, Anita salah satu model video itu dan karena keahliannya Ivan ngelakuin semua itu dengan sangat hati hati dan jauh dari mata polisi, tapi kalian tenang aja, semua yang terlibat dalam masalah video itu sudah ditangkap oleh polisi, terkecuali mereka yang dipaksa oleh Ivan dan keberatan jika dimintai keterangan."


"Gimana sama Anita om?"


"Anita baik baik aja, dia salah satu yang dipaksa sama Ivan!"


"Lo tau dari mana Ndi kalau Anita juga terlibat?" tanya Dimas pada Andi.


"Gue pernah liat Ivan sama Anita berantem di pinggir jalan, gue juga pernah liat Ivan masuk apartemen Anita dan gue pernah liat wajah Anita lebam karena bekas tamparan," jawab Andi.


"Bukannya bokapnya juga sering ngelakuin itu?" tanya Dimas.


"Iya, tapi pak Sony bahkan nggak tau tempat tinggal Anita jadi nggak mungkin pak sony yang ngelakuin itu!"


"Andi bener, Ivan yang ngelakuin itu!" sahut papa Dimas.


"Besok kalian udah boleh pulang, Dini sama Dimas, kalian ikut kita pulang ke rumah selama cuti kuliah!" lanjut papa Dimas.


"Cuti lagi? Dimas sama Andini udah sering cuti pa, kapan kita wisudanya kalau cuti terus, iya kan sayang?"


"Bener Pa, Dini baik baik aja kok, Dini bisa kuliah besok!" jawab Dini.


"Papa udah atur semuanya sama dosen kalian, kamu juga Ndi, kamu lebih baik pulang ke rumah selama cuti, kalian udah lewatin hari yang berat kemarin, kasih waktu buat diri kalian lupain kejadian buruk kemarin," ucap papa Dimas.


"Saya juga cuti om?" tanya Andi.


"Iya, kalau kamu mau kamu bisa ikut kita pulang juga!" jawab papa Dimas.


"Hehe... makasih om, saya pulang ke rumah aja kalau gitu!"


"Aku ikut kamu aja Ndi!" sahut Dini.


"Kenapa sayang? kamu bisa tinggal di rumah mama papa sementara, nggak akan lama, sampe' luka kalian bener bener sembuh," ucap mama Dimas yang langsung menghampiri Dini.


"Sekalian latihan jadi keluarga besar hehe..." sahut papa Dimas.


Dimas hanya menoleh ke arah Dini raut wajah datar. Ia tak menyangka di depan kedua orangtuanya Dini lebih memilih tinggal bersama Andi daripada bersamanya.


"Terserah Andini aja ma," jawab Dimas dengan mengalihkan pandangannya dari Dini.


"Kamu sama Dimas aja Din, ibu sama ayah lagi keluar kota, nggak mungkin kan aku tinggal berdua aja sama kamu di rumah?" sahut Andi yang mengerti kekesalan Dimas.


"Tapi Ndi....."


"Aku juga mau ngabisin waktu sama Aletta," ucap Andi berbohong, jika sudah seperti itu Dini pasti mundur.


"Ya udah ma, Dini ikut mama sama papa," ucap Dini pada mama dan papa Dimas.


**


Waktu berjalan dengan cepat. Aletta dan Nico berada di rumah sakit tempat Dini, Andi dan Dimas dirawat.


"Kenapa nggak ada yang ngasih tau gue sih kalau kalian di sini?" tanya Nico yang kesal karena baru mengetahui jika para teman baiknya sedang berada di rumah sakit.


"Sorry Nic," Balas Andi.


Aletta hanya berdiri diam di samping Andi. Ia sedih karena dua hal, karena melihat Andi terbaring di rumah sakit dan karena Andi meninggalkannya begitu saja demi sahabat yang dicintainya.


"Aku baik baik aja Ta," ucap Andi pada Aletta.


"Kamu emang harus selalu baik baik aja!"


"karena ada dua perempuan yang harus kamu jaga," lanjut Aletta dalam hati.


"Lo bisa anter gue pulang ke rumah Nic?" tanya Andi pada Nico.


"Bisa, kebetulan gue bawa mobil!"


"Kamu juga ikut aku pulang ya Ta!"


Aletta mengangguk.


Tak lama kemudian mama dan papa Dimas datang. Setelah mengurus semua biaya administrasi, Dini dan Dimas segera pulang bersama mama papa Dimas setelah mengambil beberapa barang barang Dini di kos, sedangkan Andi pulang bersama Nico dan Aletta.


**

__ADS_1


Di rumah Dimas, sudah ada Yoga dan Sintia yang menunggu. Sintia sudah berbaikan dengan Yoga setelah kekesalannya kemarin.


"Kakaaakk!" seru Sintia ketika melihat Dimas turun dari mobil.


Sintia yang hendak memeluk Dimas segera dicegah oleh papa Dimas.


"Jaga sikap kamu!" ucap papa Dimas dingin.


Sintia hanya mengangguk lalu membantu membawa masuk barang barang Dini.


"Kak Dini berapa lama di sini?" tanya Sintia pada Dini.


"Aku juga nggak tau Sin," jawab Dini.


Setelah selesai membereskan barang barang. Papa Dimas mengajak Yoga dan Dimas masuk ke ruang kerja.


"Ada apa Ga?" tanya Dimas pada Yoga, karena jika sudah masuk ke ruang kerja papanya, pasti ada hal penting yang akan disampaikan sang papa.


Mereka lalu duduk di sofa panjang, sedangkan papa Dimas duduk di sofa lain.


"Papa mau bicarain tentang kafe kamu Dim!" ucap papa Dimas.


"Ada apa sama kafe pa? bukannya masalahnya udah selesai?"


"Masalahnya nggak segampang itu Dim, apa yang terjadi sama kafe kamu kemarin berpengaruh besar sama perusahaan, banyak klien papa mundur dan papa terpaksa tutup anak cabang perusahaan di kota kecil yang belum maksimal pengelolaannya!"


"Terus gimana sama nasib pegawai papa?"


"Papa nggak punya cara lain Dimas, papa harus tutup beberapa anak cabang perusahaan selagi papa masih bisa kasih hak mereka dengan baik untuk yang terakhir kalinya!"


"Lalu soal kafe?"


"Papa mau kamu tutup semua kafe kamu dan fokus kuliah!"


"Nggak mungkin pa, Dimas nggak mungkin ngelakuin hal itu, iya kan Ga?"


"Sorry Dim, kali ini gue setuju sama om, kafe udah punya nama yang buruk di masyarakat Dim, pasti nggak gampang buat lanjutin kafe lagi," jawab Yoga.


"Kita bisa mulai semuanya dari awal Ga, kita udah pernah jatuh bangun di kafe, apa segampang itu lo mau tutup kafe?"


"Kafe kita udah nggak punya kredibilitas yang baik di mata masyarakat Dim, salah atau enggaknya kafe karena masalah kemarin tetap berpengaruh buruk sama penilaian orang terhadap kafe kita, gimanapun juga kesalahan yang dilakuin Tari sama anak anak yang lain itu karena kurangnya keamanan di kafe!"


"Perusahaan papa sedang kacau Dimas, papa butuh investor buat balik lagi ke tangan papa, tapi melihat keadaan kafe kamu sekarang, mereka nggak akan mudah turun tangan buat bantuin papa, tolong kamu mengerti!"


"Dimas akan berusaha buat balikin nama baik kafe pa, dan lo Ga, kalau lo mau mundur dari kafe, silakan, gue nggak akan halangin lo!"


"Dimas minta maaf Pa," ucap Dimas lalu meninggalkan ruang kerja papanya.


"Maaf om, Yoga nggak bisa bantu apa apa, semua keputusan ada di tangan Dimas," ucap Yoga pada papa Dimas.


"Kamu udah lakuin yang terbaik Ga, om yakin dengan kegigihannya Dimas akan sukses nantinya!"


"Kalau gitu Yoga permisi om," ucap Yoga diikuti anggukan kepala papa Dimas.


Di luar, Dini yang melihat Dimas duduk termenung di tepi kolam ikan segera menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Dini.


Dimas menghadapkan badannya ke arah Dini dan menggenggam kedua tangannya.


"Sayang, kalau aku udah nggak punya apa apa, apa kamu masih mau nemenin aku?" tanya Dimas dengan menatap mata Dini.


"Aku akan selalu sama kamu, gimanapun keadaan kamu Dimas!" jawab Dini bersungguh sungguh.


"Walaupun ada banyak laki laki yang lebih baik daripada aku yang deketin kamu?"


"Hati aku udah memilih kamu," jawab Dini.


Dimas lalu melepaskan genggaman tangannya dan memeluk Dini.


"Makasih sayang," ucap Dimas dengan masih memeluk Dini.


"PAPAA!!" teriak mama Dimas yang membuat Dimas segera melepaskan pelukannya pada Dini.


Dimas segera berlari ke arah sumber suara sang mama untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dimas melihat sang papa yang tergeletak di lantai dengan mama Dimas yang tampak sedang menghubungi seseorang.


Tanpa banyak bertanya Dimas dibantu dengan Yoga membawa papa ke kamar dan membaringkannya di ranjang.


"Papa kenapa ma?" tanya Dimas pada mamanya.


"Mama juga nggak tau Dim, tiba tiba papa kamu jatuh waktu keluar dari ruang kerjanya," jawab sang mama dengan terisak.


"Mama udah hubungin Dokter Aziz?"

__ADS_1


Mama Dimas hanya mengangguk dengan berusaha membangunkan suaminya menggunakan minyak kayu putih.


"apa aku egois? apa aku harus ikutin permintaan papa buat tutup semua kafe? apa semuanya akan berakhir baik kalau aku tutup kafe?" batin Dimas bertanya tanya.


__ADS_2