
Dimas masih berada di dalam apartemen Anita. Rencana awalnya yang ingin mencari kamera tersembunyi malah menemukan hal lain yang menjadi tanda tanya besar di pikirannya.
Anita yang baru menyadari jika ponsel Ivan tertinggal hanya bisa diam. Ia memaksa otaknya untuk mencari alasan yang tepat agar Dimas tidak curiga.
"Itu punya ku," jawab Anita dengan berusaha merebut ponsel itu dari tangan Dimas, namun tangan Dimas lebih cepat untuk menghindarinya.
"Jujur sama aku Anita, ini punya siapa?" ucap Dimas mengulangi pertanyaannya.
"Kenapa kamu mau tau banget sih, aku pikir kamu udah nggak peduli sama aku, apa kamu mulai jatuh cinta sama aku?" tanya Anita berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku nggak peduli kalau kamu mau deket sama siapapun, aku cuma mau tau ini punya siapa?"
"Aku harus berangkat sekarang Dimas, terserah kamu mau anter aku apa enggak!" ucap Anita lalu keluar dari apartemennya untuk menghindari pertanyaan Dimas.
Ia hanya bisa pasrah jika Ivan akan kembali menghajarnya karena kelalaiannya itu.
Dimas lalu mengikuti Anita keluar dengan masih membawa ponsel V itu.
"Kenapa kamu nggak mau jawab Nit? kenapa kamu sembunyiin pemilik HP ini dari aku? apa yang sebenarnya kamu rencanain Anita?"
"Rencana aku cuma satu, menikah sama kamu!" ucap Anita dengan menatap ke dalam mata Dimas lalu melangkah pergi.
"Aku liat dia masuk apartemen kamu semalem!" ucap Dimas setengah berteriak karena Anita yang sudah semakin jauh di depan.
Mendengar ucapan Dimas, Anita menghentikan langkahnya.
"Dimas liat Ivan? jadi Dimas tau kalau Ivan ke sini? apa sebenarnya dia juga tau kalau HP itu punya Ivan? aku nggak boleh ceroboh lagi, aku harus pastiin dulu," batin Anita dalam hati.
Melihat Anita yang menghentikan langkahnya, memberikan waktu bagi Dimas untuk menyusulnya.
"Siapa laki laki itu Nit?" tanya Dimas yang sekarang sudah berada di samping Anita.
"Apa peduli kamu Dimas?"
"Aku nggak masalah kalau kamu sama dia, tapi lepasin aku, kita bisa jadi teman kayak dulu Anita, kamu bahagia sama pilihan kamu dan aku bahagia sama pilihan aku," jawab Dimas.
"Dan pilihan aku itu kamu," ucap Anita dengan senyum manisnya.
Dimas hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Anita. Ia lalu pergi meninggalkan Anita dengan masih membawa ponsel V yang ia temukan. Sikap Anita yang menyembunyikan siapa pemilik ponsel itu semakin membuatnya penasaran.
Baru saja Dimas pergi, Ivan datang. Ivan yang melihat Dimas keluar hanya diam tak menyapa, sedangkan Dimas tidak menyadari kedatangan Ivan.
"Kamu belum berangkat?" tanya Ivan yang melihat Anita hanya berdiri mematung di tempatnya.
"Dimas nggak anter kamu?" lanjut Ivan bertanya.
"Oh iya, HP ku kayaknya ketinggalan deh, coba kamu cek dong!" lanjut Ivan tanpa memberi waktu Anita untuk menjawab pertanyaannya.
"Ivan, aku minta maaf," ucap Anita dengan menundukkan kepalanya.
"Minta maaf? buat apa?" tanya Ivan tak mengerti.
Anita hanya diam, ia takut Ivan akan menamparnya di depan umum.
"Kita cari HP ku dulu di ruang tamu, abis ini aku anter kamu ke butik!" ucap Ivan dengan menarik tangan Anita, namun Anita masih diam di tempatnya.
"Ayo Anita, aku bener bener lupa naruh HP ku dimana, tadi bangun tidur udah nggak ada, barangkali masih ada di ruang tamu kamu kan?"
"dia lupa? itu artinya dia nggak tau kalau hp nya emang ketinggalan di rak buku? apa aku pura pura nggak tau aja biar dia nggak marah? iya, kayaknya emang harus gitu," batin Anita dalam hati.
"Anita, ayo!" ajak Ivan dengan kembali menarik tangan Anita.
"Eh, iya iya, ayo!"
Anita dan Ivan pun menuju ke apartemen Anita. Ivan mencari cari ponselnya di setiap sudut ruang tamu Anita namun tak menemukan apa yang ia cari.
"Kayaknya udah kamu bawa deh, aku juga nggak liat soalnya!" ucap Anita.
"apa iya? kenapa nggak aku cari lewat laptop aja, kan banyak cctv yang aku pasang di sini, hahaha bodoh banget sih lo Van," batin Ivan menertawakan kebodohannya sendiri.
Karena terlalu panik tak menemukan ponselnya, membuat Ivan tak bisa berpikir dengan jernih. Sebelum mendatangi Anita, ia sudah mencari ke setiap sudut kamarnya dan menanyakannya pada sang mama namun tak ada hasil. Tanpa pikir panjang ia pun segera mendatangi Anita karena tempat terakhir yang ia datangi sebelum pulang ke rumah adalah apartemen Anita. Meski ia tidak ingat jika ponselnya tertinggal di sana, ia tetap akan mengeceknya.
__ADS_1
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Anita berdering, panggilan dari mama Ivan.
"Mama kamu," ucap Anita sambil menunjukkan tampilan layar ponselnya pada Ivan.
"Angkat aja!" balas Ivan.
Anita lalu menggeser tanda panah hijau di layar ponselnya.
"Halo tante, maaf Anita agak telat."
"Nggak papa, Ivan lagi sama kamu nggak?"
"Iya tante, ini lagi sama Anita."
"Suruh dia buruan balik ya, sekalian sama kamu, bilangin kalau HP nya udah ketemu," ucap mama Ivan yang membuat Anita sedikit terkejut.
"HP Ivan ketemu? kok bisa? bukannya tadi di bawa Dimas?" batin Anita bertanya tanya.
"Halo Nit, kamu masih di sana?" tanya mama Ivan yang tak mendengar suara Anita.
"Eh iya tante, Anita bilang sama Ivan," jawab Anita lalu mematikan sambungan ponselnya.
"Kamu di suruh balik sama mama kamu, katanya HP kamu udah ketemu," ucap Anita pada Ivan dengan ragu.
"Udah ketemu? aku pikir di sini, aku cari cari di rumah nggak ada tadi!"
"Ayo berangkat, mama kamu udah nunggu!"
"Ayo!"
Anita dan Ivanpun berangkat ke butik. Sesampainya di butik, Ivan segera naik ke lantai dua. Butik milik mama Ivan adalah sebuah ruko dan mama Ivan tinggal di lantai dua ruko yang cukup besar itu.
Anita lalu mengerjakan pekerjaannya seperti biasa, menyapu, membersihkan kaca dan banyak lainnya.
"HP Ivan mana ma?" tanya Ivan setelah ia bertemu mamanya.
"Kok nggak tau! Anita bilang mama udah nemuin HP nya Ivan?"
"Iya, mama sengaja bohong biar kamu cepet pulang, karena mama tau kamu nggak akan pulang sampe' kamu nemuin HP kamu kan?"
"HP itu penting buat Ivan ma, Ivan....."
"Mama akan beliin yang baru buat kamu, mending kamu fokus cari kerja di perusahaan daripada keluyuran nggak jelas tiap hari!"
"Ma, kerjaan Ivan ada di HP itu ma, kalau HP nya hilang, kerjaan Ivan juga akan hilang ma, mama tolong ngerti dong ma!"
"Itu kenapa kamu harus kerja di perusahaan Ivan, bukan kerja nggak jelas kayak gitu!"
"Kan yang penting Ivan bisa penuhin kebutuhan Ivan sendiri ma, Ivan bisa....."
"Apa kamu pikir itu cukup buat menjamin masa depan kamu? enggak Ivan, kamu ini laki laki, kamu harus bekerja dan punya pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarga kamu nanti!"
"Pekerjaan tetap nggak cuma di perusahaan besar ma, Ivan nggak mau cuma jadi pesuruh dan tameng perusahaan besar kayak papa, Ivan nggak mau mati sia sia cuma buat lindungi perusahaan yang bahkan nggak bisa bertanggung jawab sama pegawainya!" ucap Ivan yang mulai emosi.
"Jaga ucapan kamu Ivan, jangan sangkut pautkan meninggalnya papa kamu sama perusahaan, intinya mama mau kamu berhenti jadi freelancer dan kerja yang bener, kerja di perusahaan besar yang sesuai dengan bidang kamu!"
"Apa uang dari perusahaan itu yang bikin mama lupain papa? lupain semua kejadian yang sebenarnya, lupain semua hal buruk yang terjadi sama papa cuma karena mereka ngasih mama uang? iya?"
PLAAAAKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ivan.
"Ivan kecewa sama mama," ucap Ivan lalu meninggalkan kamar mamanya dengan menutup pintu keras keras.
"Ivan, tunggu!" panggil mama Ivan dengan berteriak, namun Ivan tetap pergi.
Di butik, Ivan menarik tangan Anita dan memaksanya keluar.
"Ikut aku!" ucap Ivan dengan suara dingin.
__ADS_1
"Kemana? ini masih jam kerja Ivan!"
Ivan lalu menatap Anita dengan tatapan tajam dam semakin erat mencengkeram tangan Anita, membuat Anita sedikit merasa sakit di pergelangan tangannya.
"Ivan, aku masih kerja," ucap Anita dengan pelan, berharap Ivan akan mengerti posisinya saat itu, namun Ivan tak bergeming.
Tak ada seorangpun yang boleh menolak keinginan Ivan. Anita lalu menoleh ke arah belakang, tepat saat itu mama Ivan baru saja turun dari tangga dan menganggukkan kepalanya pada Anita, sebagai isyarat jika Anita harus mengikuti kemauan Ivan.
Anita lalu mengikuti Ivan keluar dari butik dan masuk ke dalam mobil Ivan.
"Pasang seatbelt kamu yang kuat," ucap Ivan dengan memasangkan seatbelt Anita.
"Kita mau kemana?" tanya Anita yang mulai takut.
Raut wajah Ivan yang menegang karena menahan emosinya membuat Anita semakin takut. Ia takut Ivan akan melampiaskan amarahnya padanya.
"Jangan takut," ucap Ivan dengan menggenggam tangan Anita dan tersenyum.
Anita hanya mengangguk dan tersenyum canggung.
Ivan lalu menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan maksimal. Entah kemana Ivan akan membawa Anita pergi, Anita tak berani menanyakannya. Ia tau itu bukanlah saat yang tepat untuk banyak bertanya pada Ivan.
Beberapa kali Ivan mendadak menginjak remnya, membuat Anita tersentak ke arah dashboard beberapa kali. Namun ia hanya diam, ia tidak berani mengucapkan sepatahkata pun, apa lagi memprotes sikap Ivan.
Perlahan, Ivan mulai mengurangi kecepatan mobilnya dan memarkirkan mobilnya di sebrang pemakaman. Tanpa banyak berkata Ivan lalu melepaskan seatbelt Anita dan membukakan pintu agar Anita turun.
Ivan menggandeng tangan Anita untuk memasuki area pemakaman setelah membeli satu keranjang kecil bunga tabur yang dijual di depan makam.
Anita hanya diam dan mengikuti langkah Ivan tanpa banyak bertanya. Ia tau suasana hati Ivan sedang tidak baik baik saja saat itu. Meski tak terdengar dengan jelas, ia bisa mendengar pertengkaran yang terjadi antara Ivan dan mamanya di butik tadi.
Ivan lalu berjongkok di sebelah sebuah makam dan menaburkan bunga di atasnya. Ia hanya diam dengan memandang nanar ke arah batu nisan. Hatinya terasa begitu sakit. Ada penyesalan yang sangat dalam di hatinya, penyesalan yang tak akan bisa ia tebus, penyesalan yang membawanya seolah hidup dalam neraka dunia. Perlahan matanya memerah dan tetes air mata mulai keluar dari kedua sudut matanya yang langsung dihapus olehnya.
Melihat hal itu, Anita menjadi terenyuh. Ia menggenggam tangan Ivan, berusaha menguatkan Ivan yang tampak sangat terpuruk. Nama laki laki yang tertulis di batu nisan itu membuat Anita berpikir jika itu adalah makam papa Ivan.
Berkali kali Ivan menghapus air matanya sendiri. Kepergian papanya menyisakan penyesalan yang sangat mendalam di hidupnya. Meninggalkan luka yang tumbuh menjadi dendam yang bersemayam dalam dirinya.
Setelah menghabiskan beberapa waktunya di sana, Ivan menarik tangan Anita untuk berdiri dan kembali ke mobil. Ivan masih tampak kacau, matanya merah, suasana hatinya belum benar benar stabil.
"Apa aku aja yang bawa mobil?" tanya Anita dengan memberanikan dirinya.
Ivan menoleh ke arah Anita dan tersenyum. Ia lalu membelai rambut Anita dengan tatapan yang sulit di artikan. Anita melihat tatapan lembut dan penuh kasih sayang yang terpancar dari kedua mata Ivan.
"Kita ke apartemen kamu ya!" ucap Ivan.
"Iya, terserah kamu aja," balas Anita.
Ivan lalu melajukan mobilnya ke arah apartemen Anita. Emosi dalam dirinya membuatnya lupa pada ponselnya yang hilang. Ponsel yang seharusnya tidak boleh jauh darinya apa lagi jatuh ke tangan seseorang yang bisa menghancurkan semua rencananya.
Sesampainya di apartemen Anita, Ivan lalu duduk di sofa ruang tamu dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Pikirannya benar benar kacau saat itu. Ia sangat menyayangi mamanya, terlebih setelah kepergian papanya. Namun sikap sang mama membuatnya kecewa. Tapi di balik kekecewaannya, ada rasa bersalah dalam dirinya karena meninggalkan mamanya begitu saja.
Ketika Ivan sedang merasa kacau seperti itu, ia selalu mendatangi makam papanya seorang diri. Hari itu adalah hari pertamanya mengajak seseorang untuk menemaninya pergi ke makam sang papa.
"Minum dulu," ucap Anita sambil memberikan satu botol air mineral pada Ivan.
Ivan lalu menerimanya dan meminumnya. Sedangkan Anita hanya diam di tempatnya berdiri. Ivan lalu menepuk nepuk sofa, meminta Anita untuk duduk di sebelahnya.
"Kenapa kamu diem aja?" tanya Ivan pada Anita.
"Aku takut," jawab Anita singkat.
"Maaf karena bawa kamu pergi gitu aja dari butik," ucap Ivan dengan menggenggam tangan Anita.
"Nggak papa," balas Anita yang masih enggan untuk banyak berkata karena takut jika sewaktu waktu emosi Ivan akan kembali meledak.
"Kamu nggak mau tanya sesuatu?" tanya Ivan yang dibalas gelengan kepala oleh Anita.
"Aku sebelumnya nggak pernah berantem sama mama, aku sayang banget sama mama, aku selalu berusaha buat banggain mama dengan caraku sendiri dan sekarang aku tau kalau apa yang mama minta nggak sesuai sama apa yang aku mau," ucap Ivan menjelaskan.
"Apa yang aku lakuin ini salah Anita? apa aku salah karena memilih jalan yang berbeda dengan yang di harapkan mama?" lanjut Ivan bertanya.
Anita hanya diam, ia takut salah menjawab pertanyaan Ivan, mengingat hubungannya dengan papa nya sendiri pun tidak berjalan dengan baik.
__ADS_1
"Aku nggak mau jatuh ke lubang yang sama kayak papa Anita, aku nggak mau hidupku sia sia karena harus kerja di bawah tekanan perusahaan besar kayak papa dulu!" ucap Ivan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Anita.