
Mentari masih menyebarkan kehangatannya, menebarkan bias cahaya yang menyilaukan mata. Yoga masih duduk di hadapan seorang laki laki yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Gimana? bisa?" tanya Yoga yang sudah tidak sabar.
"Kalau buka password doang gampang Ga, tenang aja!" jawabnya.
Tak lama kemudian laki laki itu memberikan ponsel dengan tulisan V di softcasenya itu pada Yoga. Tak menunggu lama, Yoga segera membuka ponsel itu dan mengecek isinya. Ia mendapati sebuah akun dengan nama Mr. V di ponsel itu.
"Lo bisa pindahin data data di sini ke HP lain nggak?" tanya Yoga pada temannya itu. Ia yakin jika Ivan menyadari ponselnya hilang, ia pasti bisa menghapus data dalam ponsel itu tanpa harus memegang ponselnya.
"Kalau itu butuh waktu lama Ga, kenapa lo nggak minta tolong Ivan aja sih, dia kan jago kayak gini ini!"
"Iya sih, nanggung kalau harus cari Ivan dulu, gue kan udah di sini, please lah bantuin gue, ntar gue kasih. voucher makan minum gratis deh di kafe!"
"Hahaha, serius?"
"Iya, tapi benerin dulu nih!"
"Paling gampang kalau di pindah ke HP baru yang belum ada isinya Ga, biar cepet," ucap teman Yoga.
"Lo jualan HP kan? gue beli satu deh terserah lo yang mana, yang penting bisa cepet selesai!"
"Pindah ke sini aja ya, gimana?" tanya teman Yoga dengan menunjukkan sebuah ponsel keluaran terbaru.
"Terserah lo aja, buruan!" jawab Yoga tanpa menanyakan harga ponsel itu terlebih dahulu.
Teman Yoga ini adalah pemilik sebuah konter HP yang tidak terlalu besar di daerahnya. Selain berjualan ponsel dan paket data, teman Yoga juga membuka jasa servis HP di konter miliknya. Dia adalah lulusan Fakultas Teknik jurusan Teknik Informatika, sama seperti Ivan. Ia dan Ivan sama sama mahasiswa unggulan di jurusannya. Bedanya, Ivan menggunakan kelebihannya itu di jalan yang salah, sedangkan teman Yoga ini lebih memilih untuk memulai usaha kecilnya yang sesuai dengan bidang keahliannya.
"Kalau customer sultan gini emang paling the best deh, anti rewel rewel klub hahaha....."
"Emang itu berapa harga HP nya?" tanya Yoga.
"Buat lo gue kasih diskon 20% jadi 11 juta aja, oke nggak?"
"Oke, gue bayar nyicil ya hahaha...."
"Sialan lo!"
Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya proses transfer data itu selesai. Semua foto, video dan file yang berada dalam ponsel Ivan sudah berpindah ke ponsel baru.
"Beres, lo bisa cek sendiri!" ucap teman Yoga lalu memberikan kedua ponsel di tangannya pada Yoga.
"Satu lagi, lo bisa nggak bikin HP ini nggak bisa diakses sama siapapun selain gue!"
"Gampang lah Ga, tinggal kasih password atau sidik jari lo aja beres kan?"
"Kalau itu gue juga bisa, maksud gue biar nggak ada yang bisa akses walaupun dari jarak jauh."
"Mmmm, gue coba dulu deh," balas teman Yoga.
Menit menit berlalu, namun teman Yoga masih belum menyelesaikan permintaannya.
"Ini HP siapa sih Ga? bukan punya lo?" tanya teman Yoga, karena meski ia dari tadi berkutat pada ponsel itu, ia sama sekali tidak membuka atau membaca informasi apapun yang ada di ponsel itu.
Prinsipnya adalah membantu mereka yang bermasalah dengan HP nya, bukan mencari tau apa isi dari HP nya. Jadi, ia hanya mengerjakan pekerjaannya tanpa ada rasa ingin tau tentang apa yang ada dalam HP milik customer nya.
"Bukan, emang kenapa? nggak bisa?"
"Kayaknya HP ini udah di privat sama yang punya, jadi udah di connect in sama HP lain atau perangkat lain sebelumnya, intinya gue cuma bisa nge privat kalau belum pernah di privat sebelumnya, kalau udah pernah di privat kayak gini gue harus tau password privat nya dulu buat ganti yang password privat yang baru buat lo!"
"Dan lo nggak bisa cari tau password privat sebelumnya?" tanya Yoga yang dibalas gelengan kepala oleh temannya.
"Cari password privat ini nggak sama kayak password HP biasa, lebih rumit dan gue masih nggak paham gimana caranya, jadi gue saranin lo minta tolong Ivan aja, kayaknya dia lebih tau daripada gue!"
"gimana mungkin gue minta tolong Ivan, ini aja HP nya Ivan, hahaha...." balas Yoga dalam hati.
__ADS_1
"Sorry Ga, kemampuan gue belum bisa ngalahin Ivan hahaha...."
"Nggak papa, kejujuran dalam bisnis itu lebih penting daripada sekedar kemampuan, keahlian bisa diasah, tapi kejujuran itu dari hati," ucap Yoga yang hanya ditanggapi dengan anggukan kepala oleh temannya.
"Jadi udah selesai nih?" tanya Yoga meyakinkan.
"Pindah datanya sih udah 100% selesai, cuma gue nggak bisa ngerjain yang lo minta tadi!"
"Nggak papa, thanks ya, gue transfer uangnya sekarang!"
"Siap bos, jangan salah ya hahaha....."
Yoga hanya terkekeh lalu mentransfer jauh lebih banyak dari harga yang temannya sebutkan.
"Ga, lo nggak salah ketik? ini kelebihan Ga!" ucap teman Yoga yang menyadari saldo masuknya lebih dari yang ia minta dari Yoga.
"Nggak papa, gue suka kerja sama lo, gue balik dulu ya!"
"Thanks Ga!"
Yoga hanya menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan konter HP temannya.
"kenapa gue dulu nggak minta tolong dia aja sih, kenapa malah minta tolong Ivan, aaarrgghhh nama baik emang sangat berpengaruh yaa, Ivan lebih dikenal baik dan pinter walaupun sebenernya dia sakit jiwa!" batin Yoga menyesali keputusannya dulu.
**
Di tempat lain, Ivan yang sedang mengakses ponselnya melalui laptop begitu terkejut melihat semua data datanya kosong tak bersisa. Tanpa pikir panjang ia segera menonaktifkan akun akun miliknya sebelum seseorang yang menemukan ponselnya menyalahgunakan akun miliknya.
Ivan lalu melihat rekaman CCTV di apartemen Anita. Ia memulainya ketika ia memasuki apartemen Anita dan memberi Anita pakaian sexy yang sengaja di belinya. Tak ada yang janggal sampai ia melihat dirinya yang memberikan ponselnya pada Anita, setelah Anita selesai melakukan apa yang ia mau, Anita tampak menaruh ponselnya di atas rak buku. Ivan lalu menghentikan rekaman video itu.
"Itu dia, di rak buku, tapi harusnya aku tadi liat waktu nyari di sana, tapi kenapa nggak ada? apa Anita yang bawa HP ku? apa dia bohong sama aku? aku harap enggak, aku mohon jangan bohong sama aku Anita, jangan bikin aku marah dan kasar sama kamu!"
Ivan lalu melanjutkan melihat rekaman video itu. Sampai pagi ponsel miliknya masih berada di atas rak buku dan sepertinya Anitapun lupa akan hal itu.
"Lo nyari apa Dim? CCTV? apa Dini udah ngasih tau lo foto foto yang gue kirim? apa lo pikir gue bodoh karena akhirnya lo tau kalau ada CCTV di sana? gue cuma mau liat seberapa bodohnya lo Dim, Dimas Radhitnya Aditama, lo ternyata nggak sepinter yang gue kira hahaha..."
Tiba tiba Ivan menghentikan tawanya ketika Dimas mengambil ponselnya. Tampak Dimas dan Anita sedang bersitegang setelah Anita keluar dari kamarnya. Anita lalu pergi meninggalkan Dimas dan Ivan melihat Dimas melepas sim card miliknya dari ponselnya.
Ivan lalu menggebrak mejanya dengan keras, membuat lampu belajar di meja itu terjatuh dan pecah.
"Dimas? dia bawa HP ku? jadi waktu aku ketemu dia di lobby, dia bawa HP ku? dan Anita? dia bohong sama aku? berani berangnya kamu Anita, mau cari mati kamu?"
"AAAAARRRGGGHHHH!!!" teriak Ivan dengan menghancurkan barang barang di sekitarnya. Emosinya benar benar sudah tak terkendali lagi, beruntung ia tidak sampai merusak laptop miliknya.
"Dimas yang ambil HP ku dan aku kehilangan semua data data di HP ku, apa itu artinya Dimas udah bisa buka HP ku? apa itu artinya semua rencanaku gagal? apa itu artinya aku nggak bisa balas dendam? aaarrgghhh sialan kamu Anita, aku nggak akan kasih maaf lagi buat kamu!" ucap Ivan dengan emosi yang sudah membara dalam dirinya.
Ia lalu segera keluar dari kamarnya, menuju ke apartemen Anita.
**
Di tempat lain, Yoga sudah meminta Dimas untuk datang ke kafe. Tepat jam 3 sore Dimas sudah sampai di sana.
"Gimana Ga? bisa?" tanya Dimas yang sudah tidak sabar menunggu hasilnya.
Yoga lalu meletakkan 2 ponsel di atas meja dan memberikan keduanya pada Dimas.
"Ini punya siapa?" tanya Dimas dengan menunjuk ponsel baru di hadapannya.
"Data data yang ada di HP ini udah gue pindah ke HP baru ini, karena gue yakin nggak akan lama lagi akun akun di HP V ini pasti lenyap!"
Dimas lalu mengambil ponsel dengan tulisan huruf V di bagian belakang softcase nya. Ia membukanya dengan mudah karena sudah tidak menggunakan password lagi.
2 hingga 3 menit Dimas berkutat dengan ponsel itu namun ia tak menemukan apapun. Ponsel itu kosong seperti telah di kembalikan pada pengaturan awal.
"Kosong Ga, nggak ada apa apanya!" ucap Dimas pada Yoga.
__ADS_1
"Tuh kan, udah gue duga, kalau lo mau tau isinya, ada di HP ini!" balas Yoga dengan menunjuk ponsel baru.
Tanpa banyak bertanya Dimas lalu membuka ponsel itu.
"Lo bisa buka folder folder di sana, ada banyak banget dan yang lo harus tau, ada folder nama perusahaan bokap lo di sana!"
"Perusahaan bokap? emang ini HP siapa sih?"
Yoga lalu merebut ponsel itu dari tangan Dimas dan membuka sebuah folder yang berisi persyaratan untuk melamar pekerjaan, di sana ada daftar riwayat hidup, foto KTP, KK dan lain sebagainya. Yoga juga menunjukkan sebuah folder yang berisi catatan dari WPS office. Catatan itu seperti sebuah buku diari sang pemilik dan selalu ada huruf V di setiap akhir dari halamannya.
"Ntar lo baca sendiri isinya, yang jelas sekarang lo tau kan siapa pemilik HP V ini?"
"Ivan?" tanya Dimas.
"Iya, ada semua identitas Ivan di situ, kurang jelas apa lagi Dim?"
"Bisa jadi ini punya orang lain yang emang kebetulan nyimpen data Ivan kan?"
"Gue nggak bisa ngomong apa apa, lo bisa cek sendiri isinya!"
"Walaupun udah pindah HP, lo bisa liat kapan file dan folder itu dibuat biar lo makin yakin kalau semua data itu asli!"
"File pertama di folder perusahaan papa ini udah 10 tahun yang lalu Ga!" ucap Dimas yang kini fokus dengan ponsel di tangannya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Dimas sambil menunjukkan sebuah foto lambang dari perusahaan papanya yang terbakar. Tak berhenti sampai di situ keterkejutan Dimas dan Yoga, di bawahnya ada foto papa, mama dan dirinya yang di silang menggunakan tinta merah dan banyak kata kata makian di dalamnya.
"Ini orang punya masalah apa sih sama keluarga gue?" tanya Dimas yang masih tidak mengetahui siapa pemilik ponsel V itu.
"Udah Dim, tujuan lo bukan itu, lo cuma mau tau siapa pemilik HP itu kan?"
"Iya sih, tapi....."
"Fokus cari tau pemiliknya dulu, baru lo cari tau yang lain, fokus Dim, fokus!" ucap Yoga mengingatkan.
Tujuan utama Dimas memang mencari tau siapa pemilik ponsel V itu, namun melihat apa yang ada dalam folder dengan nama perusahaan papanya membuatnya penasaran apa yang sebenernya diingkan pemilik ponsel itu.
Dimas lalu mendapati folder yang dengan nama "Best memories", Dimas lalu membukanya dan menemukan banyak foto seseorang yang sangat ia kenal, Ivan dan Anita. Entah kenapa semua foto itu tampak di foto dengan gaya candid.
Di dalam nya juga terdapat beberapa file yang berisi catatan tentang kedekatan si pemilik ponsel dengan gadis bernama Anita.
"Ivan? ini HP nya Ivan?" tanya Dimas meyakinkan.
"Lo udah percaya kan sekarang?"
"Gue nggak tau kalau hubungan mereka sedeket itu, gue emang bodoh banget, gue nggak sadar kalau selama ini mereka mainin gue!"
"Sekarang lo harus lebih hati hati aja Dim, ini nggak cuma menyangkut masalah pribadi lo, tapi juga perusahaan dan keluarga lo!"
"Iya, gue inget kata kata papa kemarin, gue nggak boleh liat sesuatu hanya dari satu sudut pandang, gue harus lebih buka mata gue Ga!"
"Bagus, sekarang apa yang mau lo lakuin?"
"Gue mau liat semua isi HP ini, setelah gue pelajari semuanya, gue baru bisa pastiin apa yang harus gue lakuin, buat saat ini gue cuma harus pura pura nggak tau apa apa dan satu lagi, jangan bilang papa soal ini!"
"Lo yakin?"
"Gue yakin, gue cuma tau dia benci sama keluarga gue, tapi gue masih belum liat dia ngelakuin hal buruk sama keluarga gue, jadi gue nggak mau gegabah, gue nggak mau mancing emosinya!"
"Oke kalau itu mau lo, gue cuma bisa bantuin lo Dim dan gue harap lo nggak ragu buat minta tolong bokap lo kalau lo emang udah ngerasa nggak sanggup!"
"Pasti Ga, gimanapun juga gue masih harus banyak belajar dari mama papa sama lo!"
Yoga mengangguk. Dimas lalu membawa 2 ponsel itu dan memasukkannya ke dalam tas lalu meninggalkan kafe.
Untuk beberapa hari ke depan Dimas akan lebih sibuk dan mungkin akan sedikit mengurangi waktunya bersama Dini. Ia harap Dini akan mengerti dan tidak akan terjadi masalah diantara mereka berdua. Ia harus fokus pada masalah besar yang harus ia hadapi sebelum masalah itu semakin melebar.
__ADS_1