Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kehilangan Lagi


__ADS_3

Dimas yang berada di cafe merasa emosi begitu melihat foto yang Anita kirim padanya. Tanpa pikir panjang ia segera menuju ke tempat parkir cafe dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Kemana bos?" tanya Toni dengan mencegah Dimas untuk pergi seorang diri, pasalnya luka di tangannya belum benar benar sembuh.


"Penting Ton!" jawab Dimas yang terlihat emosi.


"Tangan lo belum sembuh bos, lo harus sama Pak Adi, lo masih belum boleh nyetir sendiri!"


"Persetan sama luka, minggir atau gue tabrak lo!" ucap Dimas yang sudah kehilangan kesabarannya.


Dimas benar benar menyalakan mesin mobilnya meski Toni berada di depannya.


"Bos, lo jangan........"


Tiiiiiinnnnn tiiiinnnnn tiiiinnnnn


Dimas membunyikan klakson mobilnya agar Toni segera menghindar, tapi Toni tak goyah. Ia tetap berdiri di depan mobil Dimas yang sudah siap menabraknya.


Dimaspun turun dari mobil dan mengangkat kerah baju Toni ke atas.


"Lo denger ya Ton, ini masalah pribadi gue dan gue nggak mau siapapun ikut campur, jadi stop bikin gue makin emosi, tugas lo di cafe jadi jangan pernah ninggalin cafe sebelum jam kerja lo selesai!" ucap Dimas penuh emosi.


"Sorry bos, tapi gue minta lo jaga diri baik baik, gue udah kehilangan Yoga beberapa hari ini, gue nggak mau....."


"Sorry Ton, tolong biarin gue pergi," ucap Dimas yang mulai melunak dan melepaskan tangannya dari kerah Toni.


"Hati hati bos," ucap Toni lalu kembali masuk ke cafe, membiarkan Dimas pergi entah kemana.


Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tau dimana lokasi yang dikirimkan Anita padanya. Ia ingat betul tempat itu. Tempat dimana ia melihat Andi dan Dini duduk berdua di sana.


Sesampainya di bawah bukit, Dimas segera naik dan mendapati Dini yang sedang bersandar manja di bahu Andi.


"Udah sehat Din?" tanya Dimas.


Dini dan Andi yang mendengar suara Dimas secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara di belakangnya.


"Dimas!" ucap Andi dan Dini bersamaan.


"Kompak banget ya kalian, bener bener SAHABAT SEJATI!" ucap Dimas sarkas dengan bertepuk tangan.


"Jangan salah paham Dimas, aku....."


"Jangan salah paham kamu bilang? Andini, baru beberapa jam yang lalu kamu bilang nggak enak badan sampe' kamu nyuruh aku pulang dari rumah kamu dan sekarang apa yang kamu lakuin sama sahabat kamu ini sama sekali nggak meyakinkan ucapan kamu tadi!"


"Dengerin gue dulu Dim, lo nggak bisa....."


"Dengerin apa lagi Ndi? capek gue denger alasan kalian, gue tau kalian udah deket dari kecil dan gue tau posisi gue yang selalu jadi kedua buat Andini tapi apa yang kalian lakuin ini sama sekali nggak bisa dibenarkan, terutama kamu Andini, aku kecewa sama aku!"


"Aku minta maaf Dimas, aku tau aku salah tapi aku sama sekali nggak pernah ngerasa menomorduakan kamu, justru sekarang aku lebih sering ngabisin waktu sama kamu daripada sama Andi, aku minta maaf, aku emang salah, tapi tolong jangan salahin Andi, dia nggak tau apa apa."


"Aku kecewa sama kamu," ucap Dimas pelan, penuh kekecewaan lalu pergi meninggalkan bukit.


Sebelum Dimas turun dari bukit, Dini baru menyadari jika luka Dimas kembali berdarah. Perban yang menutup lukanya terlihat basah karena darahnya.


"Dimas, luka kamu!" ucap Dini sambil menarik tangan Dimas.


"Peduli apa kamu sama aku?" balas Dimas yang masih emosi.


"Terserah kalau kamu masih marah, tapi luka kamu....."


"Kenapa kamu mikirin luka di tangan ku tapi nggak mikirin luka di hati aku Andini? kamu udah bohong sama aku, kurang apa aku berusaha buat kamu Andini?"


"Dimas, aku bener bener minta maaf, aku harus gimana biar kamu maafin aku," balas Dini memohon dengan menggenggam tangan Dimas, namun Dimas melepasnya paksa membuat Dini tersentak dan jatuh terduduk di tanah.


Andi yang melihat hal itu segera mendekati Dini dan membantunya berdiri.


"Lo keterlaluan Dim!" ucap Andi dengan nada tinggi.


Ada sedikit rasa menyesal yang dirasakan Dimas ketika melihat Dini terjatuh karenanya. Namun mau menolong pun tak bisa, luka di tangannya terasa begitu sakit.


Dini berdiri dengan air mata berlinang. Air mata yang sudah sejak lama ia tahan.


"Terserah kalau kamu masih marah sama aku, aku udah minta maaf karena aku tau aku salah, mungkin dari sini aku tau keputusan apa yang harus aku ambil buat kejelasan hubungan kita, makasih karena udah bikin aku bahagia Dim, tapi kita emang nggak bisa sama sama, kita terlalu beda, aku sama kamu bahkan sejauh langit sama bumi, sekeras apapun kamu berusaha dan sekuat apapun aku sabar hadapin mama kamu, kita nggak akan bisa sama sama, makasih buat beberapa bulan ini," ucap Dini dengan air mata yang tak berhenti menetes lalu pergi meninggalkan Dimas dan Andi.


Dimas segera mengejar Dini dan menahannya untuk pergi.


"Andini, tunggu!"


"Apa lagi Dim? ini kan yang kamu mau? aku tau cepat atau lambat kamu akan capek sama semua ketidakjelasan ini, aku juga, kalau aja aku nggak jatuh cinta sama kamu mungkin rasanya nggak akan sesakit ini liat kamu peluk Anita di depan mata aku, aku diem bukan berarti aku nggak tau kalau kamu pelukan sama Anita waktu di cafe, aku tau dan Andi juga tau itu!"

__ADS_1


"Kamu liat? tapi kenapa......."


"Aku berusaha ngerti hubungan kamu sama Anita gimana, aku berusaha hilangin rasa cemburu aku walaupun susah, nggak cuma kamu yang berjuang Dimas, aku juga!"


"Aku minta maaf," ucap Dimas pelan.


"Dan sekarang mama kamu lebih deket sama Anita daripada aku, kamu liat sendiri gimana sikap mama kamu ke aku, beda sama sikapnya ke Anita, apa kamu pikir aku nggak cemburu? aku cemburu Dimas, aku sakit hati, aku mau nyerah sama semua ini, tapi kamu yakinin aku buat bertahan, aku tahan Dimas, buat kamu, buat hubungan kita, tapi sekarang apa? aku ngerasa semuanya sia sia, usaha kamu, usaha aku, percuma!" ucap Dini dengan berlari meninggalkan Dimas.


"Bego lo Dim!" ucap Andi lalu pergi mengejar Dini.


Kini hanya ada Dimas di bukit itu. Tak terasa air matanya mulai luruh bersamaan dengan penyesalan yang ia rasakan. Ia menyesal karena sudah kehilangan kendali atas emosinya dan kini ia harus benar benar kehilangan Dini.


Darah yang masih keluar membasahi perbannya sudah tak dihiraukan lagi, luka di hatinya lebih menyakitkan baginya. Luka karena kecewa pada kebohongan Dini dan luka karena kecewa pada dirinya sendiri yang membuatnya harus kehilangan Dini.


Ia terduduk di tanah seperti kehilangan seluruh tenaganya. Air matanya dibiarkan jatuh membasahi pipinya.


Di sisi lain, Anita yang melihat Dini dan Andi turun dari bukit segera menyusul Dimas ke atas karena sudah beberapa menit menunggu Dimas tak kunjung turun dari bukit.


Ia begitu terkejut melihat Dimas yang tampak kacau, terlebih melihat perban di tangannya yang sudah menjadi merah karena darah.


"Dimas, kamu kenapa Dim?"


"Kenapa kamu nyuruh aku ke sini Nit?" tanya Dimas pelan dengan mengusap air matanya.


"Aaa... aakkuuu... aku... ayo kita ke rumah sakit dulu, luka kamu harus diobati!" ucap Anita mengalihkan pertanyaan Dimas dan menuntunnya untuk turun dari bukit.


Dimas hanya diam dan mengikuti Anita turun.


"Mana kunci mobil kamu?"


Dimas merogoh kantong celananya dan memberikan kunci mobilnya pada Anita.


"Kamu kenapa nggak sama supir sih Dim?" tanya Anita.


Dimas hanya diam, pandangannya kosong, tak sepatahkatapun keluar sampai mereka tiba di rumah sakit.


Anita segera menghubungi mama Dimas begitu mereka sampai di rumah sakit.


"Ma, ini Anita, maaf Anita ganggu mama!"


"Enggak ganggu kok sayang, ada apa?"


"Ya ampun kok bisa? dia abis ngapain Nit?"


"Anita juga kurang tau ma, tapi Dimas nyetir sendiri buat ketemu Dini, dia....."


Dimas yang sudah selesai diperiksa dan diobati segera keluar dari ruangan dan mengambil paksa ponsel Anita lalu mematikan panggilannya.


"Apa apaan kamu Nit!" ucap Dimas dengan nada tinggi.


"Aku cuma mau ngabarin mama kamu aja kok!"


"Jangan kamu kira aku nggak denger ya, kamu tau apa yang kamu bilang ke mama nggak cuma berdampak sama Dini, tapi juga sama Pak Adi, bisa nggak sih kamu mikirin orang lain dulu sebelum mikirin diri kamu sendiri?"


"Maaf Dim, aku......"


"Kamu pulang aja, aku nunggu Pak Adi!" ucap Dimas memotong ucapan Anita dan mengembalikan ponselnya.


"Aku bawa mobil kamu ya?"


"Nggak usah!" jawab Dimas dengan merebut kunci mobilnya yang dipegang oleh Anita lalu pergi meninggalkan Anita.


"bilang makasih aja apa susahnya sih!" batin Anita kesal lalu segera pulang dengan taxi.


Setelah beberapa menit menunggu, Pak Adipun sampai di rumah sakit.


"Mas Dimas kenapa nggak hubungin saya aja kalau mau keluar?" tanya Pak Adi.


"Maaf Pak, Dimas buru buru."


"Tangannya gimana mas? katanya ibu makin parah," tanya Pak Adi yang terlihat khawatir.


"Nggak papa kok Pak."


"Maafin saya ya mas, harusnya saya nggak ninggalin mas di cafe," ucap Pak Adi yang terlihat menyesal.


"Bukan salah Pak Adi kok, justru saya yang minta maaf udah ngrepotin Pak Adi."


"Sudah tugas saya mas, saya juga udah siap kalau bakal diomelin bapak sama ibu."

__ADS_1


"Tenang aja Pak, nanti saya jelasin ke mama papa."


"Makasih mas."


Dimas mengangguk dan tersenyum tipis.


Sesampainya di rumah, Dimas segera masuk ke kamarnya dan keluar dari kamar ketika mama dan papanya pulang.


"Dimas, kamu kenapa sih nyetir sendiri, mama kan udah bilang kamu harus sama Pak Adi!" ucap mama Dimas yang tampak khawatir dengan keadaan anak satu satunya itu.


"Emang Pak Adi nggak nemenin kamu?" tanya Pak Tama.


"Dimas nggak papa kok ma, pa, Dimas sengaja minta Pak Adi ninggalin Dimas di cafe, jadi tolong jangan salahin Pak Adi ya pa, ma!"


"Kamu ngapain sih ketemu cewek kampung itu sampe' luka kamu makin parah kayak gini!"


"Dia masa depan Dimas ma, tolong mama jangan bersikap buruk sama dia," jawab Dimas.


"Masa depan apa? kayak tau aja siapa masa depan kamu nanti, mama nggak mau ya kalau kamu punya istri yang bukan dari kalangan kita!"


"Mama ngomong apa sih! sana mandi dulu!" balas Pak Tama.


"Papa juga harus mandi, ayo mandi bareng!" ajak mama Dimas.


"Ayooooo!" balas Pak Tama penuh semangat.


"Mama papa apaan sih!" gerutu Dimas kesal.


Setelah selesai makan malam, Dimas melanjutkan belajar di kamarnya.


Tooookkk toookk toookkkk


"Papa boleh masuk Dim?" tanya Pak Tama dibarengi dengan ketukan pintu.


"Masuk aja pa!" jawab Dimas dengan masih fokus pada buku belajarnya.


"Lagi sibuk ya?" tanya Pak Tama yang sudah duduk di ranjang Dimas.


"Enggak, cuma baca baca materi pelajaran tadi siang," jawab Dimas dengan mata yang masih tertuju pada bukunya.


"Kamu belum cerita sama papa soal cewek itu," ucap Pak Tama yang membuat Dimas segera menoleh ke arahnya.


"Andini?"


"Papa nggak tau namanya."


"Namanya Andini pa," ucap Dimas sambil menutup bukunya dan duduk di sebelah Pak Tama.


"Temen sekolah?"


"Iya, sebenernya Dimas kenal dia dari SD, tapi dulu Dimas suka gangguin dia, dia yang bikin mama sama papa harus pindahin Dimas dari SD itu," ucap Dimas mengawali ceritanya.


"Dia yang kamu bikin pingsan itu?"


"Dimas nggak tau pa kalau dia bakalan pingsan, Dimas cuma ngunciin dia di lapangan," jawab Dimas membela diri.


"Anak orang kamu bikin pingsan Dim, papa dulu juga nakal tapi nggak sampe bikin anak orang pingsan!"


"Ya kan Dimas masih kecil pa, sejak saat itu Dimas kepikiran dia terus, apa lagi Dimas nggak pernah tau kabarnya, sampe' Dimas kelas 1 SMA baru Dimas bisa liat dia lagi, Dimas seneng banget waktu pertama kali liat dia lagi, Dimas bener bener nyesel sama apa yang terjadi dulu."


"Oh, jadi itu yang bikin kamu mau balik lagi ke sini?"


"Hehehe, iya Pa!" jawab Dimas terkekeh.


"Lanjut lanjut!"


"Dia yang udah bikin Dimas banyak berubah pa, walaupun dulu Dimas sering gonta ganti pacar, tapi Dimas nggak pernah ada niat mau mainin mereka, Dimas cuma berusaha lupain Andini dengan cara itu, tapi nggak bisa dan sekarang Dimas udah ketemu dia, walaupun awalnya susah deketin dia, tapi Dimas nggak nyerah, Dimas selalu berusaha buat dapat maaf dari dia dan nggak tau sejak kapan Dimas ngerasa jatuh cinta sama dia, Dimas cuma mau dia yang jadi masa depan Dimas."


"Kenapa kamu bisa seyakin itu? dia juga punya perasaan yang sama?"


"Nggak tau kenapa Dimas yakin kalau dia yang terbaik buat Dimas, tapi Dimas udah bikin kesalahan fatal pa," ucap Dimas dengan wajah sendu.


"Kesalahan fatal apa? jangan bilang kamu udah......"


"Enggak pa, enggak, Dimas nggak kayak gitu, Dimas bener bener cinta sama dia, nggak mungkin Dimas ngerusak dia," jawab Dimas yang mengerti maksud papanya.


"Terus?"


"Dimas udah ngecewain dia, Dimas udah nyakitin dia, selama ini Dimas pikir cuma Dimas yang berusaha, ternyata Dimas salah, dia juga udah banyak berusaha tanpa Dimas tau, sekarang Dimas udah kehilangan dia untuk kedua kali pa, sikap mama sama dia juga jadi alasan kuat buat dia ninggalin Dimas," jelas Dimas dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


__ADS_2