
Langit malam itu tampak sendu. Tak ada titik titik bintang yang menyebarkan keindahan langit gelap. Hanya ada bulan yang menyembunyikan sinarnya di balik awan. Langit seperti sedang bersedih malam itu. Hanya tampak kegelapan dan sedikit cahaya samar dari bulan yang menemani hati yang sedang patah itu.
Jalanan kota masih tampak ramai, kendaraan masih lalu lalang, banyak kedai makanan dan jejeran pertokoan yang masih buka.
Di tepi jalanan yang ramai itu, seseorang berjalan dengan membawa hatinya yang tengah patah, hatinya yang terasa perih dan pedih. Ia dengan pandainya menyimpan semua lukanya sendiri. Menutup rasa perihnya dengan senyum yang tersungging dari bibir manisnya.
Ia masih kuat, ia masih menggenggam cintanya dengan erat, meski ia tau hatinya masih terjerat oleh luka yang semakin menyayat.
Biiipp Biiipp Biiipp
Ponselnya berdering, ia segera mengambil ponsel dari saku celananya. Nama gadis yang dicintainya terlihat di layar ponselnya.
"Halo, ada apa Din?"
"Kamu di mana? masih di rumah sakit?"
"Di jalan, kenapa?"
"Aku minta Dimas buat tidur di kamar kamu nggak papa ya? malam ini aja!"
"Kenapa?"
"Dia nggak bisa balik ke aparetemennya, ada masalah di sana!"
"Oh, oke!"
"Makasih Ndi, kamu emang terbaik!"
"Kamu dimana sekarang?"
"Di depan kamar kamu, kamu nggak nemenin Aletta?"
"Enggak, dia minta aku pulang!"
"Kamu nggak papa kan tidur sama Dimas nanti?"
"Nggak papa, daripada dia tidur sama kamu!"
"Hehe... iya bener!"
"Kamu udah makan Din?"
"Udah kok, tadi sama Dimas."
"Ya udah kalau gitu, bye!"
"Bye!"
Andi tersenyum tipis lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Tak sampai 10 menit ia sudah sampai di depan kosnya. Ia melihat Dini dan Dimas yang sedang bercengkerama di depan kamarnya. Andi menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ia sudah siap dengan tikaman tajam yang menusuk hatinya. Ia lalu berjalan menghampiri Dini dan Dimas.
"Dari tadi Dim?" tanya Andi berbasa basi.
"Lumayan, malem ini gue nebeng tidur ya!"
"Ada masalah apa di apartemen lo?"
"Ada ular berbisa, iiiihhh ngeri banget," ucap Dini menjawab pertanyaan Andi.
"Ular? di apartemen? kok bisa?" tanya Andi tak percaya.
"Ntar gue jelasin," jawab Dimas.
"Aku naik dulu ya, udah ngantuk," ucap Dini.
"Iya."
"Iya," jawab Dimas dan Andi kompak.
Dini pergi meninggalkan dua laki laki yang mencintainya itu. Dua laki laki yang punya tempatnya masing masing dalam hatinya. Dua laki laki yang tak bisa ia pilih salah satunya.
"Masuk Dim, ngantuk gue!" ucap Andi lalu masuk ke kamarnya.
Dimas mengikuti Andi masuk meski ia masih belum mengantuk. Andi pergi ke kamar mandi untuk mandi sebelum ia merebahkan badannya.
Ketika ia selesai mandi, ia melihat Dimas yang sudah berbaring di tempat tidurnya.
"Minggir lo, gue sebelah tembok!" ucap Andi dengan melempar guling ke arah Dimas.
"Enak aja, kan gue duluan yang nempatin!" balas Dimas yang tak mau pindah.
"Sebelum lo tidur di situ, gue udah duluan di situ, lo lupa ini kamar siapa?"
"Tapi kan malam ini gue duluan Ndi!"
"Dasar tamu nggak sopan, minggir!" ucap Andi dengan menarik kaki Dimas secara paksa.
"Eh eh, tuan rumah harus sopan dong sama tamunya!"
"Justru tamu yang harus sopan, dasar tamu nggak beradab!"
"Tuan rumah nggak bermoral!"
"Tamu nggak ada akhlak!"
"Ya udah oke, gue nyerah, silakan lo tidur di sana, gue tidur di kamar Andini aja," ucap Dimas lalu berdiri namun segera di cegah oleh Andi.
"Belum pernah dihajar manusia kutub lo?" ucap Andi dengan menarik tangan Dimas yang hendak keluar dari kamarnya.
"Hahaha.... oke oke lo tidur di samping tembok, gue di sini!" balas Dimas yang akhirnya menyerah.
Andi mengunci pintu kamarnya lalu merebahkan badannya di ranjang bersama Dimas. Dimas memiringkan badannya menghadap ke arah Andi, ia menatap Andi yang sudah menutup matanya.
__ADS_1
"Lo ngapain sih?" tanya Andi tanpa membuka matanya.
"Haha... kok lo tau sih?"
"Jangan mesum lo ya, gue masih normal!" ucap Andi dengan memukul Dimas menggunakan guling.
"Gue juga normal kali Ndi."
"Terus ngapain lo liatin gue?"
"Kenapa lo masih bertahan sih Ndi?"
Andi membuka matanya begitu mendengar pertanyaan Dimas. Ia tau kemana arah pertanyaan Dimas.
"Maksud lo?"
"Kalian udah sama sama dari kecil, jadi sekarang giliran gue yang sama dia!"
Andi tersenyum tipis mendengar ucapan Dimas.
"Terus Anita lo kemanain?"
"Buat lo aja haha....."
"Ogah!" balas Andi cepat.
"Kenapa? apa karena Aletta?"
"Kok jadi bawa bawa Aletta?"
"Lo nggak suka sama dia?"
"Suka, gue suka temenan sama dia, sama kayak gue suka temenan sama Nico," jawab Andi.
"Serius Ndi, dia kayaknya baik kok, dia cocok sama lo!"
"Iya gue tau dia baik, setidaknya dia nggak munafik kayak tunangan lo hehe....."
"Nggak usah bahas dia, gue kesini sengaja kabur dari dia!"
"Kabur kenapa? dia ke apartemen lo?"
Dimas mengangguk cepat.
"Masalahnya?"
"Masalahnya dia sekarang di apartemen gue cuma pake lingerie Ndi!"
"Haahh, serius? gila lo Dim!"
"Kok gue yang gila sih, dia lah!"
"Ya lo sama dia sama aja, sama sama gila!"
"Kalian udah.........."
"Enggak, gue nggak mungkin ngelakuin itu Ndi, makanya gue kabur, gue masih normal gue nggak mau terpengaruh sama dia!"
Andi diam beberapa saat. Matanya menatap langit langit kamarnya. Ia memikirkan Anita, perempuan yang sudah mencuri first kiss nya.
"kenapa kamu harus ngelakuin hal sejauh itu Anita? apa sebegitu pentingnya Dimas buat kamu? apa sebegitu rendahnya harga diri kamu? kenapa kamu jadi kayak gini Anita? kenapa?"
"Lo sama Aletta gimana?" tanya Dimas membuyarkan lamunan Andi.
"Apanya yang gimana?"
"Gue liat kalian deket."
"Deket sebagai temen, nggak lebih."
"Kalau dia suka sama lo gimana?"
"Nggak mungkin lah Dim."
"Nggak ada yang nggak mungkin Ndi, gue liat lo kemarin khawatir banget waktu di rumah sakit, atau jangan jangan......"
"Jangan jangan apa? nggak usah sok tau deh!"
"Lo diem diem suka ya sama dia?"
"Gue emang suka sama dia, tapi sebagai temen, kan gue udah kasih tau tadi."
Dimas menghembuskan napasnya pelan. Kali ini ia yang memandang langit langit kamar Andi.
"Lo kenapa nggak nyerah aja sih Ndi?"
"Maksud lo?"
"Gue janji akan bikin Dini bahagia, lo nggak perlu khawatir soal itu dan lo juga harus bahagia, lo harus temuin seseorang buat gantiin Dini di hati lo!"
"Lo nggak bisa maksa gue Dim, sama halnya kayak gue yang nggak bisa maksa lo buat jauhin Dini walaupun gue tau lo berkali kali nyakitin dia!"
"Tapi Dini sahabat lo Ndi!"
"Justru karena dia sahabat gue, gue akan terus ada di belakangnya, kalau suatu saat nanti lo ninggalin dia, gue akan datang dan meluk dia, cuma itu yang bisa gue lakuin, gue nggak berharap lebih sama perasaan gue, buat gue yang paling penting kebahagiaan Dini," jelas Andi.
Dimas hanya diam mendengarkan ucapan Andi. Ia tidak mengerti cinta seperti apa yang Andi miliki untuk Dini, cinta sebesar apa yang Andi simpan untuk Dini.
**
Hari masih sangat pagi, hawa dingin masih terasa menyelimuti. Dimas keluar dari kamar Andi, meninggalkan Andi yang masih terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Dimas berjalan menaiki tangga untuk menemui Dini. Perlahan ia mengetuk pintu kamar Dini. Tak lama kemudian pintu terbuka, Dini mengeluarkan kepalanya dari balik pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya pagi pagi buta.
"Dimas!"
Dini sedikit terkejut melihat Dimas yang berdiri di depan pintunya dengan senyum manis yang tergaris di bibirnya. Dini segera menutup pintunya kembali untuk sekedar menyisir rambutnya dan memastikan wajahnya sudah terlihat segar sebelum bertemu Dimas.
Dini kemudian membuka pintunya lagi, memamerkan senyum manisnya pada Dimas. Dimas tersenyum dan mendorong pintu kamar Dini lalu masuk dan menutup kembali pintunya.
"Aku harus balik ke apartemen buat ambil buku buku ku," ucap Dimas pelan.
Dini hanya mengangguk mendengar ucapan Dimas. Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Dini lalu menariknya ke dalam dekapannya.
"Aku jemput kamu ya nanti," ucap Dimas dengan berbisik.
Dini mengangguk pelan. Bisikan Dimas selalu meninggalkan debar debar asmara dalam dirinya. Membuatnya seperti terhipnotis hingga ia tak mampu bernapas dengan baik, deru napasnya menggebu, detak jantungnya berdegup dengan kencang.
Perlahan, satu kecupan mesra mendarat di bibir Dini membuat Dini semakin menarik Dimas ke dalam pelukannya.
Dimas segera menyudahi aksinya, sebelum matahari semakin naik dan membangunkan semua orang.
"Lanjut nanti ya, aku balik dulu!" ucap Dimas dengan mengedipkan satu matanya, membuat Dini menahan senyumnya karena malu.
Setelah Dimas keluar dari kamarnya, Dini segera mandi dan menyiapkan buku yang akan ia bawa ke kampus. Setelah semua beres, ia segera keluar untuk membeli sarapan, satu porsi bubur ayam untuknya dan satu porsi nasi pecel untuk Andi.
Setelah mendapatkan menu sarapan yang ia cari, Dini segera menghampiri Andi. Ia mengetuk pintu kamar Andi dan tak lama kemudian, pintu terbuka, Andi sudah selesai bersiap siap untuk berangkat ke kampus.
"Nasi pecel," ucap Dini dengan memamerkan satu bungkus nasi pecel yang baru saja ia beli.
"Good!" balas Andi sambil menempelkan jempolnya di kening Dini.
Merekapun menikmati sarapan mereka di depan kamar Andi.
"Dimas tadi ke kamar kamu?" tanya Andi yang membuat Dini sedikit terkejut.
"kok dia tau?" pikir Dini.
"Aku bangun dia udah nggak ada, balik pagi pagi banget kayaknya," lanjut Andi.
"Iya, dia kan harus siap siap buat ke kampus juga," balas Dini.
"Kamu kemarin ketemu Nico nggak?"
"Iya, dia bilang mau pulang ke rumah, makanya dia minta kamu nemenin Aletta, aku pikir kamu nggak balik ke kos."
"Itu dia uniknya Aletta, dia nggak suka dimanja, nggak kayak kebanyakan cewek yang malah minta dimanja sama cowoknya, Aletta beda dari kebanyakan cewek," jelas Andi.
"Emang kamu cowoknya?" tanya Dini asal.
"Enggak gitu maksud ku, dia......."
"Kamu jatuh cinta sama dia?" tanya Dini yang sengaja memotong ucapan Andi.
"Iya, sama kamu hehe..." jawab Andi dengan terkekeh.
Sejujurnya ia tidak sedang bercanda saat itu. Ia benar benar jatuh cinta pada sahabat nya itu, entah sejak kapan ia pun tak tau. Rasa yang tak ia harapkan itu hadir begitu saja, memaksa masuk dan memenuhi setiap sudut hatinya. Rasa yang ia tau tak akan pernah terungkapkan, rasa yang yang akan selamanya ia pendam, rasa yang membahagiakan namun juga menghancurkan, rasa yang memberinya bahagia dan luka, rasa yang membuatnya bertahan meski entah sampai kapan. Ia hanya bisa menyimpan dalam dalam sebuah rasa dalam persahabatan, sebuah rasa yang enggan untuk kehilangan, sebuah rasa yang menyakitkan namun membuatnya tetap bertahan, sebuah rasa indah dan sakit yang ia rasakan bersamaan. Entah sampai kapan rasa itu tetap tersimpan dalam sudut gelap hatinya yang tak akan terbuka untuk perempuan lain selain Dini.
"Tapi aku jatuh cintanya sama Dimas, gimana dong?" balas Dini.
"Tapi Dimas tunangannya Anita, gimana dong?" balas Andi yang tak mau kalah.
"Hmmmm, iya juga sih," jawab Dini tak bersemangat.
"Udah lupain aja, janur kuning belum melengkung, tenang aja!" ucap Andi dengan menepuk nepuk pundak Dini lalu pergi ke dapur.
**
Di apartemen Dimas.
Dimas masih ragu, apakah ia harus kembali ke apartemennya saat itu juga atau tidak. Jika ia kembali ia takut Anita masih menunggunya di sana. Tapi jika dia tidak kembali, ia tak mungkin pergi ke kampus tanpa membawa tugasnya yang sudah susah payah ia kerjakan semalam.
Perlahan Dimas membuka pintu yang masih tak terkunci. Ia berjalan masuk seolah tak peduli jika Anita masih ada di tempat tidurnya dengan hanya mengenakan lingerie.
Samar samar terdengar gemericik air dari kamar mandinya. Dimas segera mengambil tas ranselnya, dompet, ponsel dan juga kunci mobil. Ia tidak mandi ataupun berganti pakaian. Ia ingin cepat keluar dari apartemennya sebelum bertemu Anita. Rasanya aparetemen itu seperti neraka baginya.
Belum sempat Dimas keluar, Anita sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Dimas melihatnya, melihat dengan jelas belahan yang ada di hadapannya dengan kulit putih mulus yang terpampang nyata tanpa cela.
"Dari mana aja kamu?" tanya Anita dengan berjalan mendekati Dimas.
Dimas segera sadar dari pandangan nakalnya, ia berjalan mundur hingga ia terpojok di sudut ruangan.
"Apa aku terlalu menggoda buat kamu sampe kamu menghindar dari aku?" tanya Anita yang kini berada tepat di depan Dimas.
Dimas memandang Anita lekat lekat. Ia tidak akan goyah.
"Berhenti ngelakuin hal gila kayak gini Anita, aku tau kamu lebih baik dari ini!"
"Salah Dimas, justru aku bisa lebih gila dari ini!" balas Anita.
"Sadar Anita, sadar, apa yang kamu lakuin ini sudah melewati batas!"
"Batas apa yang kamu maksud Dimas? kamu lupa sama apa yang udah kamu lakuin sama aku? apa menurut kamu itu nggak melewati batas?"
"Aku nggak mungkin ngelakuin itu kalau aku sadar!"
"Semuanya udah terjadi dan kamu nggak bisa kembaliin semuanya seperti awal lagi Dimas!"
"Aku mau ke kampus Nit, tolong biarin aku pergi," ucap Dimas pelan, ia sudah malas untuk berdebat dengan Anita.
Anita hanya tersenyum kecil, ia semakin mendekat ke arah Dimas dan mendaratkan kecupannya di bibir Dimas.
❤Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan❤
__ADS_1
NB : Episode 153 & 154 diketik sebelum puasa Ramadhan, jadi mohon maaf jika ada beberapa part yang mengganggu 🙏🙏
Jangan lupa like dan komen, terima kasih 😉