
Di luar sana, hujan sudah reda. Menyisakan hawa dingin yang masih menyelimuti malam. Andi masih berada di rumah sakit. Ia masih menemani Dini.
"Kening kamu kenapa Ndi?" tanya Dini yang baru menyadari luka di kening Andi.
"Oh ini, tadi nggak sengaja kepentok pintu hehe....." jawab Andi beralasan.
"Kok bisa, udah diobatin?"
"Gampang lah nanti, kamu tidur Din, udah malem," ucap Andi dengan membelai rambut Dini.
"Kamu pulang aja ya, besok pagi jemput aku," balas Dini.
"Iya, besok pagi aku jemput, sekarang kamu tidur, aku pulang kalau kamu udah tidur!"
Dini lalu merebahkan badannya, menutup matanya dan berusaha melupakan semua kejadian hari itu. Setelah memastikan Dini sudah benar benar tidur, Andi keluar dari ruangan Dini. Ia kembali ke kos.
Andi berjalan seorang diri menyusuri trotoar. Banyak hal yang menganggu pikirannya. Dini sudah mengetahui jika Dimas telah mengingat semua masa lalunya. Itu artinya cepat atau lambat ia akan kembali menjauh dari Dini. Ia sangat tau bagaiamana perasaan Dini pada Dimas. Kemarahan dan kekecewaan Dini saat ini hanyalah sementara, tak akan butuh waktu lama baginya untuk bisa memaafkan Dimas. Andi tersenyum kecut mengingat hubungan Dini dan Dimas. Bagaiamana mereka saling menyayangi dan mencintai, bagaimana mereka sering bertengkar dan salah paham, bagaimana mereka akhirnya kembali bersama, semua itu masih terekam jelas dalam ingatan Andi.
"sebesar apa cinta kamu buat Dimas Din? udah berapa kali dia nyakitin kamu tapi kamu selalu maafin dia, aku nggak akan menyalahkan kamu, aku tau bagaiamana rasanya mencintai seseorang dengan sangat dalam, sayangnya aku cuma mampu mencintai tanpa bisa memiliki," batin Andi dalam hati.
Sesampainya di tempat kos, Andi melihat Aletta dan Nico yang sedang duduk di teras. Mereka tampak sedang bersenda gurau. Andi merasa lega karena melihat Aletta yang kembali ceria.
"Lo tumben banget sih liat film romantis aja sampe' nangis, mata lo udah bengkak kayak di sengat lebah tau gak!"
"Gue pingin aja Nic, eh ternyata sedih banget filmnya," balas Aletta.
Aletta tidak bisa menyembunyikan matanya yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Itu kenapa ia beralasan pada Nico jika ia baru saja menonton film romantis yang membuatnya sedih hingga menangis.
Andi yang baru saja datang segera menghampiri Aletta dan Nico. Namun Aletta segera pergi begitu mengetahui kedatangan Andi.
"Gue naik dulu ya!" ucap Aletta pada Nico.
"Loh kemana Ta?" tanya Andi pada Aletta.
"Ngantuk," jawab Aletta tanpa menoleh ke arah Andi. Ia lalu segera naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.
"Dari mana lo?" tanya Nico pada Andi.
"Dari rumah sakit, Dini di rumah sakit," jawab Andi.
"Dini? kenapa?"
"Dia kehujanan tadi, kebetulan Aletta liat terus langsung dibawa ke rumah sakit," jelas Andi.
"Kayaknya lo harus ngajak dia ke psikiater deh Ndi, mau sampe' kapan Dini kayak gitu terus setiap kehujanan?"
Andi diam beberapa saat. Ia ingat ucapan Dimas dulu ketika Dokter Aziz menjelaskan keadaan Dini. Ia akan membawa Dini ke psikiater setelah ujian nasional selesai. Sayangnya, rencana hanyalah menjadi wacana. Jalan hidup tak bisa kita terka bagaimana kelanjutannya.
"Kalau lo mau, gue bisa cariin psikiater buat Dini," lanjut Nico.
"Thanks Nic, gue bakalan coba bicarain ini dulu sama Dini," balas Andi.
**
Di dalam kamar.
Aletta masih belum memejamkan matanya. Tiba tiba ponselnya berdering, ada panggilan dari tante Rosa.
"Halo tante, ada apa?"
"Al, minggu depan tante dipindah tugaskan ke luar pulau, kalau kamu mau kamu bisa ikut tante ke sana, gimana?"
"Minggu depan tante?"
"Iya, emang mendadak, tapi tante akan ngurus kepindahan kamu kalau emang kamu mau ikut tante,"
"pindah? ke luar pulau?"
"Al, kamu masih di sana?" tanya tante Rosa yang tak mendengar suara Aletta.
"Iya tante, Aletta....."
"Tante nggak maksa kamu Al, kalau kamu mau tetap di sana nggak papa," ucap tante Rosa.
"Aletta pikirin dulu ya tante," balas Aletta.
"Iya Al, nanti kamu kabarin tante aja ya!"
"Iya tante."
Aletta meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya. Ia lalu merebahkan badannya di atas kasur.
"pindah? apa emang aku harus pergi? mungkin iya, nggak seharusnya aku punya perasaan kayak gini, sadar Al, Andi terlalu tinggi untuk bisa kamu gapai, bangun dari mimpi kamu Al, jangan sampai jatuh untuk kedua kalinya, diri kamu yang kotor itu nggak pantas buat siapapun, apa lagi Andi, dia pantas dapat yang jauh lebih baik dari kamu, pergi dan lupain semuanya, mulai hidup baru kamu di tempat baru, semangat Aletta, kamu pasti bisa,"
Aletta memejamkan matanya, bersiap untuk tidur.
**
Pagi datang membawa kehangatan mentari setelah semalam hujan turun tanpa ampun. Pagi pagi sekali Andi sudah mandi dan bersiap untuk menjemput Dini. Andi keluar dari kamarnya lalu memakai sepatunya. Sebelum ia pergi, ia melihat Aletta keluar dari dapur. Ia pun segera menghampiri Aletta untuk memastikan jika Aletta sudah baik baik saja.
Aletta yang menyadari Andi berjalan ke arahnya segera mempercepat langkahnya untuk naik ke lantai dua.
"Ta," panggil Andi yang melihat Aletta berlari kecil ke tangga.
Aletta tak menjawab, ia segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Andi yang melihat hal itu hanya bisa menghela napasnya. Ia lalu turun dan pergi ke rumah sakit untuk menjemput Dini.
"kamu menghindar dari aku Ta? kenapa?"
Sesampainya di rumah sakit, setelah mengurus administrasi, Andi dan Dini segera meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
"Kamu kuliah besok aja ya, istirahat dulu di kos!" ucap Andi pada Dini.
Dini mengangguk.
Sebelum kembali ke kos, Andi mengajak Dini untuk membeli bubur ayam kesukaan Dini.
"Kamu harus banyak makan, biar nggak gampang sakit!" ucap Andi sambil memberikan satu porsi bubur ayam untuk Dini.
"Aku nggak sakit Ndi, aku nggak perlu ke rumah sakit juga sebenernya," balas Dini.
"Aletta khawatir sama kamu, makanya dia bawa kamu ke rumah sakit."
"Iya aku tau."
Setelah menghabiskan satu porsi bubur ayam, Dini dan Andi segera berjalan ke kos. Sesampainya di kos, terlihat mobil Dimas yang terparkir di halaman.
"Aku nggak mau ketemu dia Ndi," ucap Dini datar.
"Bicarain baik baik dulu Din, kamu......"
"Aku butuh waktu," ucap Dini lalu berjalan cepat melewati Dimas.
"Andini," panggil Dimas dengan berlari ke arah Dini.
Dini tidak mempedulikan Dimas, ia berjalan seolah tak melihat dan mendengar panggilan Dimas. Melihat Dini mengabaikannya, Dimas menarik tangan Dini agar Dini menghentikan langkahnya.
"Kita harus selesaiin ini Andini, jangan......"
"Ya, hubungan kita udah selesai Dimas, jadi jangan ganggu aku lagi!" ucap Dini dengan menarik tangannya dari genggaman Dimas lalu berlari naik ke lantai dua.
Dimas yang hendak mengejar Dini dicegah oleh Andi.
"Kasih dia waktu Dim," ucap Andi.
"Sampe' kapan Ndi? gue nggak mau lama lama kayak gini," balas Dimas.
Andi menarik tangan Dimas dan memaksanya duduk. Ia lalu pergi ke dapur dan kembali dengan membawa satu gelas air untuk Dimas.
"Minum dulu," ucap Andi dengan memberikan gelas yang berisi air pada Dimas.
Dimas menerima gelas dari Andi dan meminumnya hingga habis tak bersisa.
"Lo nggak ada kelas pagi?" tanya Andi pada Dimas.
"Sejam lagi, gue nunggu Andini di sini dari tadi, gue tau lo pasti jemput dia."
"Kenapa nggak lo jemput aja?"
"Gimana gue mau jemput Ndi, dia aja nggak mau ketemu gue!"
"Lo sadar nggak sih Dim, kesalahan lo dari dulu sama aja, kalau nggak bikin salah paham, lo sembunyiin sesuatu dari Dini, apa lo nggak bisa lebih terbuka sama Dini?"
"Lo harus belajar buat lebih terbuka sama dia Dim, bicarain baik baik dan cari jalan keluarnya, apa yang lo pikirin belum tentu sama sama apa yang dipikirin Dini, please Dim berhenti bikin Dini sedih, Dini nggak akan sesedih ini kalau dia nggak bener bener cinta sama lo!"
Dimas menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia ingin segera menyudahi drama percintaannya itu. Ia ingin segera membuat cerita cintanya berakhir dengan happy ending. Ia sudah muak dengan alur yang seolah mempermainkan jalan cintanya.
"Lo harus pilih salah satu Dim, tinggalin Anita dan kejar Dini atau tinggalin Dini dan lo bertahan sama Anita!"
"Gue pasti pilih Dini Ndi, tapi........."
"Tapi apa Dim? lo aja masih ragu sama jawaban lo sendiri, kalau lo emang nggak bisa ninggalin Anita, tinggalin Dini sekarang sebelum dia lebih terluka lagi!"
"Gue nggak bisa Ndi, nggak segampang itu!"
"Apa yang bikin lo nggak bisa ninggalin Anita?"
"Gue....... gue akan cari tau kebenarannya, kasih gue waktu Ndi, setelah gue tau yang sebenarnya gue akan ambil keputusan!"
"Gue nggak ngerti maksud lo!"
"Gue nggak tau apa gue bisa ninggalin Anita atau enggak, tapi gue akan cari tau, kalau emang gue bisa pergi dari Anita, gue akan bener bener jauhin dia dan nggak akan lepasin Dini lagi, tapi kalau gue emang nggak bisa ninggalin Anita, gue yang akan pergi, gue yakinin lo kalau lo sama Dini nggak akan pernah liat gue lagi!"
"Terserah lo lah, hidup lo terlalu rumit!"
Dimas bersandar pada dinding dan memejamkan matanya. Ia harus segera mencari tau apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Anita.
Tak lama kemudian, Aletta turun dari lantai dua, bersiap untuk berangkat ke kampus. Andi segera menghampiri Aletta begitu melihat Aletta.
"Tunggu Ta!"
Aletta masih berjalan, tak menghiraukan Andi. Hingga Andi berhasil menarik tangan Aletta.
"Aletta!" panggil Andi dengan suara tegas penuh penekanan.
"Aku buru buru Ndi," ucap Aletta dengan menarik tangannya dari genggaman Andi lalu segera pergi.
Andi hanya bisa membiarkan Aletta pergi meski ia masih ingin menahannya. Ia hanya ingin memastikan keadaan Aletta, tapi entah kenapa Aletta seolah menghindar darinya. Ia lalu kembali duduk di samping Dimas.
"Kenapa Ndi?" tanya Dimas yang dari tadi memperhatikan Andi dan Aletta.
"Nggak tau, dia kayak menghindar dari gue," jawab Andi.
"Aletta?"
Andi mengangguk tak bersemangat.
"Lo ada salah apa sama dia?"
"Salah apa? nggak ada, gue......"
__ADS_1
Andi menghentikan ucapannya. Ia mengingat kejadian semalam.
"apa dia marah karena ucapanku semalem? atau dia marah karena aku hajar mantannya?" batin Andi bertanya tanya.
"Lo suka sama dia?" tanya Dimas membuyarkan lamunan Andi.
Andi mengangguk pelan.
"Akhirnya lo normal lagi Ndi," ucap Dimas dengan menepuk nepuk punggung Andi.
"Maksud lo?"
"Gue takut aja lo udah nggak lurus gara gara ditinggal Anita haha....."
"Rese' lo ya, Anita buat lo aja kalau lo mau!"
"Gue hibahin buat lo!"
"Anak orang dihibahin, nggak berperikemanusiaan lo!"
"Hahaha....."
Mereka berdua pun tertawa.
"Jadi lo udah lepasin Dini?" tanya Dimas serius.
Andi menggeleng.
"Lo bilang suka sama Aletta!"
"Gue suka sama dia, tapi bukan suka yang kayak lo maksud, buat gue nggak ada yang bisa gantiin Dini, gue terlalu......."
"Stop, gue nggak mau denger lagi!"
"Haha.... tenang aja Dim, asal lo bisa bikin dia bahagia, gue nggak akan halangin kalian!"
"Kenapa?"
"Gue juga nggak tau, gue cuma mau Dini bahagia, walaupun gue juga takut kalau dia ninggalin gue nantinya," jawab Andi dengan tersenyum getir.
"Gue pastiin kalian tetep bisa jadi sahabat, lo, gue sama Dini, kita akan tetep sama sama!" ucap Dimas penuh keyakinan.
"Romantis banget sih lo, sini peluk!"
"Diiihh, ogah!" balas Dimas yang langsung berdiri.
"Hahaha......."
"Gue berangkat dulu deh, bahaya lama lama di sini!"
"Ya udah sana pergi, kuliah yang bener jangan pacaran mulu!"
"Petuah emak emak itu, lo nggak bareng gue?"
"Ntar aja gue!"
"Gue duluan ya!"
Andi mengangguk. Dimas lalu meninggalkan Andi dan berangkat ke kampus.
Tanpa sengaja Nico mendengar percakapan Andi dan Dimas, ketika Andi hendak ke dapur, Nico segera menarik tangan Andi dan membawanya ke dalam kamarnya.
"Lo bikin kaget aja Nic!"
"Gue mau ngomong sama lo!" ucap Nico serius.
"Ada apa? kenapa serius banget sih, lo kayak....."
"Nggak usah banyak basa basi Ndi, lo suka sama Aletta?"
Andi diam beberapa saat sebelum menjawab. Nico tampak sangat serius dengan pertanyaannya. Tidak seperti biasanya, tatapan Nico begitu tajam seakan menahan emosi di dadanya.
"Lo kenapa sih Nic?"
"Jawab aja Ndi!"
"Gue suka temenan sama Aletta, sama kayak lo!" jawab Andi.
"Tapi kenapa lo cium dia waktu itu, nggak ada temen yang ciuman Ndi!" ucap Nico yang mulai tampak emosi.
"ciuman? Nico liat?"
"Gue.... gue nggak ngerti maksud lo!"
BRAAAKKK
Nico menggebrak meja belajarnya dengan tatapan membunuh. Membuat Andi sedikit bergidik, pasalnya ia tak pernah melihat Nico semarah itu.
"Lo tau siapa gue kan Ndi? jaga sikap lo kalau lo masih sayang sama masa depan lo!"
"Lo ngancam gue?"
"Bagus kalau lo anggap ini ancaman, gue cuma nggak suka ada cowok yang mainin Aletta, apa lagi itu lo, orang yang udah gue anggap sahabat deket gue!"
"Nic, tolong jangan salah paham, gue....."
"Inget Ndi, nggak butuh waktu lama buat gue bikin lo dikeluarin dari kampus, jadi jangan pernah main main sama gue!"
Nico lalu keluar dari kamarnya dan membiarkan Andi yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Ia bukan takut pada ancaman Nico, ia hanya tidak menyangka jika Nico akan melakukan hal itu padanya.
__ADS_1