Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Anita Si Biang Masalah


__ADS_3

Pagi harinya, Aletta duduk di depan kamar Andi dengan 2 nasi pecel di hadapannya. Tak lama kemudian Andi keluar dengan masih mengenakan celana pendek dan kaos berlengan pendek, rambutnya masih terlihat berantakan dan tentu saja itu karena ia baru bangun tidur.


"Aletta, udah mau berangkat?" tanya Andi sambil melihat jam di dalam kamarnya yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.


"Belum, aku beli ini buat kamu," jawab Aletta sambil memberikan satu bungkus nasi pecel pada Andi.


"Hmmmm, nasi pecel ya? aku ambil sendok dulu!"


"Aku udah ambil dua," ucap Aletta sambil memamerkan dua sendok yang dipegangnya.


Andi lalu tersenyum dan duduk di depan Aletta.


"Aku pikir kamu marah sama aku," ucap Andi.


"Enggak, aku emang ngantuk semalem," balas Aletta berbohong.


Ia cemburu, tapi ia tidak akan membiarkan rasa itu berlama lama menguasai hatinya. Ia harus bisa menekan rasa yang membuatnya menjauh dari Andi. Baginya, alasannya untuk tetap berada di sini adalah Andi dan ia tidak akan membiarkan hubungannya dengan Andi menjadi berjarak hanya karena keegoisannya.


Mereka lalu menghabiskan nasi pecel di hadapan mereka.


"Kamu gemesin banget sih kalau bangun tidur, jadi pingin nonjok," ucap Aletta pada Andi.


"Kamu gemes sama aku tapi pingin nonjok, harusnya peluk atau cium gitu hehe.... " balas Andi terkekeh.


"Jangan harap!" balas Aletta lalu berdiri dan membuang sampahnya ke tempat sampah.


Andi lalu mengikuti Aletta yang berjalan ke dapur. Ketika Aletta hendak mengambil gelas, Andi tiba tiba memeluknya dari belakang. Aletta terdiam, jantungnya bergemuruh. Detaknya terasa begitu cepat.


"Emang aku nggak boleh peluk kamu?" tanya Andi dengan menaruh dagunya di bahu Aletta.


Aletta masih diam, degupan indah itu masih mengalun di dalam hatinya. Ia berusaha untuk segera tersadar dari keindahan fatamorgana yang ia rasakan.


Aletta lalu mencubit tangan Andi yang melingkar di pinggangnya, membuat Andi berteriak kesakitan dan melepaskan Aletta dari pelukannya.


"Kamu belum mandi Ndi, bau tau'!" ucap Aletta dengan menutup hidungnya.


Andi hanya tersenyum tipis, ia lalu menarik kedua tangan Aletta dan mendorongnya ke arah dinding. Ia menatap tajam ke dalam mata Aletta. Satu tangannya melepas ikat rambut Aletta dan satu tangannya masih menggenggam tangan Aletta. Mereka sangat dekat saat itu, membuat Aletta tak bisa lagi menguasai dirinya.


Andi merapikan rambut Aletta yang tergerai, ia memegang tengkuk Aletta dan menariknya membuat wajah Aletta semakin dekat dengannya. Wangi parfum Aletta seperti menghipnotisnya, membuatnya lupa pada niat awalnya yang hanya ingin mengerjai Aletta. Jantungnya berdebar tak beraturan, detaknya begitu cepat dan bahkan terdengar di telinganya.


Tiba tiba seseorang masuk ke dapur dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang di bawanya karena begitu terkejut melihat apa yang sedang di lakukan Andi dan Aletta di sana.


"Maaf, aku.... aku nggak tau," ucap Dini dengan mengambil gelas yang dijatuhkannya. Beruntung, gelas yang ia bawa adalah gelas plastik anti pecah.


Dini lalu kembali naik ke lantai dua, sedangkan Andi dan Aletta segera berdiri berjauhan ketika melihat Dini datang. Aletta lalu merebut ikat rambut yang masih Andi bawa dan berlari ke luar dari dapur ke arah teras. Andi lalu mengikuti Aletta ke arah teras, namun belum sampai Aletta duduk, Aletta kembali ke arah dapur dan memberikan gelas yang masih ia bawa pada Andi.


Andi hanya tersenyum tipis lalu mengembalikan gelas itu ke dapur.


"Aku mandi dulu ya!" ucap Andi dengan mengacak acak pelan rambut Aletta.


Aletta hanya mengangguk lalu kembali mengikat rambutnya ke atas seperti biasanya.


Tak lama kemudian seorang gadis cantik datang menghampiri Aletta.


"Kamarnya Dini dimana ya?" tanyanya pada Aletta.


"Lo......." Aletta mencoba menggali ingatannya. Gadis di hadapannya tampak tidak asing di matanya meski ia tak mengenalnya.


"Oh, lo yang kemarin sama Andi ya? lo pacarnya? serius?"

__ADS_1


"Emang kenapa? ada masalah?"


"Nggak ada, cuma siap siap aja buat sakit hati, Andi nggak akan mudah lupain cinta pertamanya, apa lo tau siapa cinta pertamanya, dia....."


"Anita, kamu cari siapa?" tanya Dini yang tiba tiba datang.


"Waahh, kebetulan banget, aku cari kamu Din," jawab Anita.


"Kamu tau dari mana aku tinggal di sini?"


"Nggak penting aku tau dari mana, apa Andi juga di sini?"


"Jangan banyak basa basi Nit, kamu mau apa ke sini?"


"Din, kamu ini pura pura nggak tau apa emang bego sih?"


"Ikut aku!" ajak Dini dengan menarik tangan Anita menjauhi tempat kosnya.


Ia tidak ingin ada yang mendengar percakapannya dengan Anita, ia tidak ingin ada kesalahpahaman seperti yang terjadi pada Cika dulu.


"Kenapa kamu ngajak ke sini sih?" tanya Anita dengan menarik tangannya dari genggaman Dini.


"Aku nggak mau kamu bikin masalah di tempat kos ku!"


"Munafik kamu Din, justru kamu yang selalu bikin masalah, dimana mana kamu yang bikin masalah, apa kamu nggak inget apa yang bikin Dimas kecelakaan sampe' hilang ingatan?"


"Aku inget dan aku nggak akan lakuin kesalahan itu lagi, buat aku apa yang terjadi dulu udah cukup aku jadiin pelajaran dan harusnya kamu juga belajar dari itu, belajar relain Dimas dan jangan pernah berharap lagi sama dia!"


Anita menggeleng. Ia tersenyum sinis mendengar ucapan Dini.


"Kamu bener bener egois ya Din, di satu sisi kamu berjuang buat Dimas, di sisi lain kamu pertahanin Andi buat selalu ada di samping kamu, apa kamu pikir mereka akan baik baik aja dengan itu? apa menurut kamu Dimas nggak cemburu? apa menurut kamu selama ini Andi cuma anggap kamu sebagai sahabat?"


"Andi udah sama Aletta sekarang dan Dimas tau gimana hubungan aku sama Andi, sedeket apa aku sama Andi dan dia nggak pernah mempermasalahkan itu, kita....."


"Jaga ucapan kamu Anita, kamu nggak tau apa apa soal Andi, jadi simpan semua omong kosong kamu itu!"


"Kamu yang nggak tau apa apa soal Andi, apa kamu tau selama ini dia nyimpen perasaannya buat kamu? apa kamu tau dia anggap kamu lebih dari sahabat? apa kamu tau gimana dia berusaha lupain kamu dengan cara deket sama aku? apa kamu tau alasan dia deket sama aku cuma biar dia bisa lupain kamu, biar semua cinta di hatinya hilang, biar dia sadar kalau sampe' kapanpun kamu cuma anggap dia sahabat, apa kamu tau semua itu Din?"


"Omong kosong apa lagi ini Nit? aku tau kamu bilang kayak gini biar aku lepasin Dimas buat kamu kan? jangan harap, buang jauh jauh angan angan kamu buat dapetin Dimas, karena sampe' kapanpun aku nggak akan biarin dia pergi dari hidupku dan satu hal yang harus kamu tau aku sama Andi lebih dari yang kamu tau, kita nggak cuma sebatas kata 'sahabat', kita lebih dari itu," ucap Dini lalu melangkah pergi dan dengan sengaja menabrak Anita.


Anita hanya diam di tempatnya. Ia benar benar kesal saat itu. Ia sama sekali tidak menyangka jika Dini berani melawan ucapannya. Bahkan Dini terlihat tidak terpengaruh sama sekali oleh ucapan Anita dan itu membuat Anita semakin geram.


Dini lalu kembali ke kosnya untuk mengambil tas. Sebelum naik ke lantai dua, Andi memanggilnya. Dini menoleh ke arah Andi yang berlari ke arahnya.


"Kamu abis ketemu Anita? kamu nggak papa? dia bilang apa? apa dia nyakitin kamu? apa dia......"


"Aku nggak papa Ndi, aku mau ambil tas dulu!"


Dini lalu naik ke atas dan diikuti oleh Andi.


"Dia bilang apa Din? kamu nggak dengerin omongannya kan? kamu tau kalau semua yang dia bilang bohong kan?"


"Nggak semua yang dia bilang bohong Ndi, kamu tenang aja, aku nggak akan mudah terpengaruh sama ucapannya," jawab Dini lalu membuka pintu kamarnya.


Andi menunggu di depan dan melihat Aletta keluar dari kamar. Aletta melambai dan di balas dengan lambaian tangan oleh Andi. Beberapa waktu lalu setelah Dini dan Anita meninggalkan kos, Aletta memberi tahu Andi jika Anita datang. Andi segera mencari Dini dan Anita namun ia tak berhasil menemukan mereka.


Andi khawatir jika Anita masih mempunyai niat yang buruk untuk menghancurkan hubungan Dini dan Dimas. Bagaimanapun juga Andi tidak ingin melihat Dini bersedih, Andi tau bagaimana kesedihan Dini ketika Dimas pergi darinya dan Andi tak ingin hal itu terulang lagi.


Aletta lalu memberi isyarat pada Andi jika ia menunggu Andi di bawah, Andi hanya mengangguk dan memberikan ibu jarinya sebagai tanda setuju.

__ADS_1


Ketika Aletta menunggu di teras, Anita kembali datang menghampiri Aletta.


"Lo ngapain lagi ke sini?" tanya Aletta tak bersahabat, meskipun ia belum mengenal Anita, ia cukup tau jika gadis cantik di depannya bukanlah gadis baik baik.


"Gue cuma mau ingetin aja, jaga hati lo baik baik, jangan sampe' jatuh cinta sama Andi karena sampe' kapanpun lo nggak akan pernah bisa dapetin hatinya!"


"Nggak usah sok tau deh, kayak dukun aja!"


"Lo berapa lama sih kenal Andi? sebulan? dua bulan? orang bego juga tau kalau Andi suka sama Dini, jadi jangan berharap lebih walaupun lo sekarang jadi pacar Andi, lo itu cuma pelampiasan buat Andi!"


"Lo ada masalah apa sih? lo kesepian? atau cinta lo bertepuk sebelah tangan? ngapain juga lo ngurusin hidup gue, ribet banget deh!"


"Lo nggak tau siapa gue ya kayaknya, apa Andi nggak pernah cerita soal gue? hmmmm.... kayaknya dia beneran nggak ada perasaan apa apa deh sama lo, buktinya dia nggak cerita apa apa sama lo!"


"Siapapun lo, nggak penting buat gue," ucap Aletta lalu melangkah pergi.


"Apa lo tau siapa first kiss nya?" tanya Anita setengah berteriak, membuat Aletta menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


"Bukan, bukan Dini kok tenang aja!" lanjut Anita sambil berjalan menghampiri Aletta.


"Gue dulu sama kayak lo, gue berusaha deketin Andi dan nggak pernah berhasil, lo tau kan kalau Andi bukan cowok yang gampang di deketin, dia terlalu dingin sampai akhirnya gue susun rencana biar dia mau nerima gue, gue jadiin Dini alasan buat dia deketin gue, satu satunya alasan yang bikin dia nerima cewek di dekatnya cuma satu, buat lupain Dini, inget itu!"


"Oh ya satu lagi, gue udah dapet first kiss nya Andi loh, jadi lo jangan berharap lagi ya hahaha......" lanjut Anita lalu pergi meninggalkan Aletta.


Aletta masih diam di tempatnya. Hatinya terasa panas, perih dan sesak terasa menghimpit dadanya. Ia tau jika Andi belum sepenuhnya menerimanya. Ia tau bagaimana Andi berusaha menyembunyikan perasaannya pada Dini. Ia tau jika ia belum mendapat tempat di hati Andi. Tapi mendengar ucapan Anita membuat hatinya begitu sakit. Matanya terasa perih, membuatnya ingin menangis. Ia berusaha menahan air matanya, ia bukanlah gadis yang cengeng, tapi untuk saat itu air matanya akhirnya tumpah.


Aletta segera menghapus air matanya dan berusaha melupakan kata kata Anita.


"sedeket apa kamu sama cewek itu Ndi, sejauh apa hubungan kalian? apa dia masih ada di hati kamu? aku bahkan nggak tau apa apa soal dia, dia yang udah dapet first kiss dari kamu, dia yang ternyata lebih berarti buat kamu dari pada aku, aaarrrggghhhh.... kenapa rasanya perih, aku tau aku bukan siapa siapa, harusnya aku nggak sedih, harusnya aku......"


"Aletta, kamu kenapa?" tanya Andi yang baru saja turun dari lantai dua bersama Dini.


Aletta segera menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum.


"Kamu nggak papa Al?" tanya Dini yang melihat mata Aletta merah karena menangis.


"Nggak papa kok, aku duluan ya!" ucap Aletta lalu melangkah pergi, namun Andi menahannya.


"Kamu kenapa Ta?" tanya Andi.


Aletta hanya diam dan menunduk.


Dini yang menyadari posisinya saat itu segera pergi meninggalkan Andi dan Aletta.


Andi lalu menarik tangan Aletta dan diajaknya ke lantai dua untuk menghindari teman temannya.


"Ta, jangan diem aja, jawab aku!" ucap Andi dengan memegang kedua bahu Aletta.


Aletta masih diam, ia menunduk menyembunyikan tangisnya. Ia bahkan sangat cengeng hari itu. Ucapan Anita seperti terngiang ngiang di kepalanya, menyakiti seluruh hati dan jiwanya.


"Ta, aku minta maaf kalau apa yang aku lakuin salah, tapi aku mohon jangan diem aja," ucap Andi memohon.


"Apa aku penting buat kamu Ndi?"


"Kenapa tiba tiba kamu nanya kayak gitu?"


"Lupain aja, kamu bahkan nggak bisa jawab pertanyaanku," ucap Aletta dengan menghapus air matanya dengan kasar.


Andi lalu memeluk Aletta dengan erat, sangat erat karena ia tau Aletta pasti akan memberontak.

__ADS_1


"Aku minta maaf kalau aku salah, maaf kalau aku masih nyakitin kamu, maaf kalau aku masih belum bisa ngertiin kamu, maafin aku Ta, maafin aku," ucap Andi dengan memeluk Aletta erat.


"apa yang sebenarnya kamu rasain Ndi? apa pernah kamu mencintai aku sedikit aja? apa pernah aku ada di hati kamu sebentar aja? apa pernah kamu anggap aku seseorang yang berharga di hidup kamu? aku tau jawaban dari semua pertanyaanku itu akan menyakitkan karena aku bahkan nggak lebih penting dari cewek itu, kita bahkan nggak sedeket waktu kamu sama cewek itu,"


__ADS_2