Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Api Cemburu


__ADS_3

Setelah mengobati luka Dimas, Toni segera turun meninggalkan Dimas.


Sedangkan Dimas masih terdiam di tempatnya dengan tangan yang dibalut perban.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun Dini belum menghubunginya sama sekali sejak pulang dari cafenya.


"Bos, lo nggak pulang?" tanya Toni yang kembali naik ke lantai dua setelah menutup cafe.


Dimas hanya diam seolah tak mendengarkan Toni. Tonipun mengerti dan segera membereskan semua yang berantakan di lantai dua.


"Ton!" panggil Dimas pelan.


"Iya bos, kenapa?"


"Apa menurut lo ada persahabatan cewek sama cowok tanpa melibatkan perasaan?"


"Mmmm, perasaan apa bos maksudnya?"


"Cinta mungkin!"


"Kalau menurut gue ya ada aja, mereka yang nggak melibatkan cinta perasaannya sebatas sayang dan perhatian sebagai sahabat, walau mungkin banyak orang yang menilainya berbeda, tapi hati orang siapa yang tau kan bos!"


"Gimana kalau ternyata mereka diam diam saling cinta?"


"Itu juga sering terjadi sih bos, tapi beberapa mungkin nggak akan berhasil sama cinta itu, emang kenapa sih bos?"


"Gue bingung Ton!"


"Lo suka sama sahabat lo bos?"


"Bukan gue, tapi Andi!"


"Terus masalahnya?" tanya Toni tak mengerti.


"Andini sahabatnya Andi Ton, mereka udah deket dari kecil."


"Jadi Andi suka sama kak Dini gitu?"


Dimas mengangguk.


"Pantesan!" ucap Toni keceplosan.


"Pantesan apa Ton?"


"Eh bukan apa apa bos, gue lanjut beres beres dulu ya!"


"Apa Ton? apa yang lo tau?"


"Mmmmmmm..... pantesan Andi kayak deket sama kak Dini, kayak aja sih bos, tapi gue nggak tau apa apa," jawab Toni berbohong.


Dimas menghembuskan napasnya kasar.


"Tapi bos, lo sendiri gimana sama Anita?"


"Maksud lo?"


"Sorry ya bos, bukannya gue mau ikut campur, tapi gue tadi liat lo pelukan sama Anita, setau gue Anita kan deket sama Andi dan lo sama kak Dini, tapi kenapa........"


"Gue nggak ada apa apa sama Anita, lo tau kan gimana perjuangan gue buat bisa dapetin Andini, jadi nggak mungkin gue khianatin dia."


"Tapi apa yang lo lakuin itu salah bos, sekali lagi sorry, gue cuma nggak mau apa yang lo lakuin jadi masalah lagi buat lo, sorry bos kalau gue lancang," ucap Toni berhati hati, takut Dimas akan tersinggung.


"Gue cemburu Ton, walaupun gue tau Dini nggak suka sama Andi, tapi kebersamaan mereka bikin gue iri, bikin gue cemburu, gue takut Dini akan ngerasain hal yang sama kayak Andi, gue takut......"


"Bos, kenapa lo terlalu takut sama hal hal yang belum pasti terjadi? kita nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya nanti, bahkan lo sendiri nggak akan tau apa perasaan lo akan tetap buat kak Dini atau malah buat Anita, jadi mending lo fokus sama apa yang udah ada di depan mata daripada terlalu mikirin hal hal yang malah bikin lo kehilangan apa yang udah lo miliki sekarang!"


Dimas diam sesaat memikirkan kata kata Toni.


"Atau mungkin gue udah salah dari awal Ton? apa harusnya gue nggak datang lagi di hidup Andini? apa gue......"


"Setelah semua yang udah lo lakuin, lo mau nyerah gini aja? lo mau balik lagi di kehidupan lo yang penuh siksa batin karena mikirin kak Dini? mungkin emang sebaiknya kak Dini dapat cowok yang lebih pantas buat dia bos dan kayaknya bukan lo!" balas Toni yang mulai berani.


"Apa maksud lo ngomong kayak gitu?"


"Sorry bos, jangan cuma gara gara lo cemburu lo jadi hilang akal kayak gini! lo nyesel karena udah balik lagi dan mulai hubungan yang baru sama kak Dini? enggak kan? jadi jangan pernah punya pikiran kayak gitu, itu sama aja lo nyesel sama apa yang udah terjadi antara lo sama kak Dini, lo nggak nyesel kan?"


"Sama sekali enggak Ton," jawab Dimas pelan.


"Andi mungkin suka sama kak Dini, tapi belum tentu kak Dini suka sama dia kan? udahlah bos, jangan sibuk sama pikiran negatif yang malah ngerusak hubungan lo sendiri, gue tau lo sayang banget sama kak Dini."


"Tapi dia lebih milih Andi daripada gue!"


"Mungkin dia marah karena liat lo pelukan sama Anita? apapun alasan lo buat peluk Anita sama sekali nggak bisa dianggap bener bos!"


"Dia liat?"


"Gue nggak tau, tapi mungkin aja kan?"


"Tapi dia nggak marah, sebelumnya dia pernah liat gue pelukan sama Anita dan dia marah banget, kalau tadi dia liat gue pelukan sama Anita lagi pasti dia marah kan, tapi dia tadi nggak marah kok!"


Toni menepuk jidatnya mendengar ucapan bosnya yang polos.


"Itu bisa jadi 2 alasan bos, pertama, dia liat lo peluk Anita tapi nggak marah karena dia tau lo lagi banyak pikiran jadi dia nggak mau nambahin beban pikiran lo, atau yang kedua dia liat lo peluk Anita tapi dia nggak marah karena dia udah capek sama sikap lo yang suka peluk peluk cewek hehehe....."


"Apaan sih Ton, lo kira gue cowok gampangan?" balas Dimas kesal.


"Coba deh lo itung berapa cewek yang udah lo peluk, berapa mantan pacar lo? lupa kan? udah banyak banget bos, kumpulin di GBK juga penuh hahaha....."


"Itu kan dulu Ton, sekarang gue udah nggak gitu lagi!"


"Karena?"


"Karena gue cuma mau peluk Andini," jawab Dimas tersenyum.

__ADS_1


"Lo lupa tadi siapa yang lo peluk?" tanya Toni dengan senyum liciknya.


"Gue khilaf," jawab Dimas beralasan.


"Khilaf sekali aja bos, kalau berkali kali itu doyan, hahahaha......"


"Rese' lo!" balas Dimas dengan melempar keripik singkong di hadapannya ke arah Toni.


"Tapi thanks ya Ton, lo udah dengerin gue dan sorry kalau gue tadi kasar sama lo!" lanjut Dimas.


"Santai aja bos, gue kenal banget gimana lo, jadi gue anggap emosi lo cuma bercanda aja, bang Yoga juga sering bilang gitu kok hehehe....."


"Bilang apa?"


"Gini 'Ton, kalau Dimas marah sama lo jangan dimasukin ke hati ya, bentar lagi juga baik lagi, anaknya emang gitu kalau marah, serem, tapi cuma bentar doang'," jelas Toni meniru ucapan Yoga.


"Hahaha.... sekali lagi thanks ya Ton!"


"Santai aja bos, lo pulang aja sekarang, gue mau lanjut beres beres dulu."


"Gue bantuin lo dulu!"


"Jangan bos, tangan lo masih luka itu, jangan buat banyak gerak dulu!"


"Luka kecil," balas Dimas sambil memungut gelas dan nampan yang sudah dijatuhkannya.


Toni hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Dimas.


Dimas memang sangat keras kepala, apa yang ia inginkan harus bisa ia dapatkan tak peduli apa pun itu, namun dibalik keras kepalanya itu ia adalah seorang yang penyayang dan penuh perhatian.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Dimas bersiap untuk pulang.


"Lo bisa nyetir bos?" tanya Toni khawatir mengingat tangan Dimas yang terluka cukup parah.


"Kayaknya nggak bisa deh Ton, gue pesen taxi aja, mobil gue tinggal!"


"Oh, oke bos!"


Tak berapa lama kemudian taxi yang dipesan Dimas datang, Dimas segera pergi meninggalkan cafe.


"Gue pulang dulu ya Ton, titip cafe!"


"Siap bos, hati hati di jalan!" balas Toni.


Sesampainya di rumah, sudah ada mamanya yang menunggu kepulangannya Dimas.


"Mobil kamu mana?" tanya Angel, mama Dimas.


"Di cafe ma," jawab Dimas sambil merebahkan badannya di sofa ruang tamu.


"Kok di cafe? eh itu tangan kamu kenapa?"


"Nggak papa, luka kecil."


"Paaaa, sini Paaaa," teriak mama Dimas memanggil papanya, Tama.


"Nih liat tangan anak kita, sampe' diperban kayak gini," ucap mama Dimas dengan menarik tangan Dimas yang diperban untuk ditunjukkan pada papanya.


"Aaaaaaaaaaaa, sakit maaa," teriak Dimas.


"Kamu kenapa Dim? udah ke rumah sakit?" tanya Pak Tama yang terlihat khawatir.


"Nggak perlu ke rumah sakit ma, pa, ini cuma luka kecil, Toni aja yang berlebihan sampe' diperban kayak gini."


"Besok mama anter ke rumah sakit ya, kamu izin dulu nggak sekolah!"


"Maaa, Dimas nggak papa, Dimas sehat masak harus nggak sekolah sih!"


"Ya udah papa panggil Dokter Aziz aja buat ke sini, kalau emang kamu dibolehin sekolah ya kamu sekolah, kalau nggak boleh ya nggak boleh!" ucap Pak Tama sambil memencet mencet ponselnya mencari nama Dokter Aziz.


"Pa, ini udah tengah malem lo, masak papa mau minta Dokter Aziz ke sini? Dimas baik baik aja kok!"


"Udah, ikutin aja apa kata papa," ucap Angel menenangkan Dimas.


Tak berapa lama kemudian Dokter Aziz datang.


"Dimas ada di kamarnya Dok, masuk aja!" ucap Pak Tama mempersilakan Dokter Aziz untuk masuk ke kamar Dimas.


Dokter Aziz pun masuk ke kamar Dimas.


"Kamu kenapa Dim?" tanya Dokter Aziz pada Dimas.


Mereka memang sudah sangat akrab, karena Dokter Aziz adalah Dokter keluarga Dimas dari Dimas masih kecil.


"Nggak papa Dok, mama sama papa aja yang berlebihan, maaf ya Dok malem malem gini ganggu."


"Hahaha santai aja Dim, ini emang tugas saya!"


"Ini kenapa bisa luka kayak gini Dim?"


"Mmmm..... nggak papa hehehe......"


"Saya nggak akan cerita apa apa sama Pak Tama dan Bu Angel, tenang aja!"


"Kena kaca Dok."


"Berantem sama pacar ya?"


"Kok tau? eh enggak, maksudnya....."


"Hahaha.... saya juga pernah muda Dim, emosi itu wajar, cemburu itu wajar tapi yang penting jangan sampe' ganggu akal sehat kita, jangan sampe' menyakiti diri kita sendiri apa lagi orang lain," jelas Dokter Aziz yang seolah tau isi pikiran Dimas.


"Iya Dok."

__ADS_1


"Ya udah, saya balik dulu ya, cepet sembuh, jangan mukul kaca lagi!"


"Hehehe, iya Dok, terimakasih."


Dokter Azizpun keluar dari kamar Dimas dan menjelaskan pada orangtua Dimas jika Dimas baik baik saja dan bisa sekolah besok.


**********************


Esok harinya ketika sarapan, Pak Tama meminta Dimas untuk berangkat ke sekolah bersama Pak Adi, supir keluarga Dimas.


"Kamu ke sekolah sama Pak Adi ya, biar mama yang jemput Sintia, bisa kan ma?"


"Bisa pa," jawab Bu Angel.


"Papa gimana?" tanya Dimas.


"Papa kan bisa nyetir sendiri, lagian papa nggak ada perjalan jauh hari ini," jawab Pak Tama.


"Dimas naik taxi aja pa."


"Dimas!"


"Iya oke, Dimas sama Pak Adi," balas Dimas pasrah melihat papanya yang mulai serius.


"Dimas, mau sampe' kapan kamu bertahan sama cafe kamu itu? papa lihat cafe kamu makin hari makin sepi," tanya Pak Tama.


"Dimas nggak akan berhenti berusaha pa, Dimas yakin Dimas bisa bikin cafe bangkit lagi, Dimas juga nggak mau ngecewain Yoga kalau dia liat cafenya hancur," jelas Dimas.


"Kamu yakin nggak butuh bantuan papa?"


"Dimas yakin pa, Dimas udah rencanain konsep baru dan tinggal direalisasi aja!"


"Karyawan kamu gimana? apa dia nggak kabur liat keadaan cafe kayak gini?"


"Enggak dong, dia kan setia sama Dimas," jawab Dimas penuh percaya diri.


"Ya udah, yang penting kamu tetep jaga kesehatan dan sekolah nomor 1 ya!"


"Iya pa, papa tenang aja, Dimas masih fokus sekolah kok!"


"Kalau sampai nilai kamu anjlok, papa nggak akan segan segan tutup paksa cafe kamu," ucap Pak Tama memberi peringatan.


"Itu nggak akan terjadi pa, Dimas yakin," balas Dimas penuh keyakinan.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Dimas segera berangkat ke sekolah bersama Pak Adi.


"Pak, jemput temen saya dulu ya!" pinta Dimas pada Pak Adi.


"Siap mas!" jawab Pak Adi.


Setelah sampai di depan rumah Dini, Dimas segera turun dari mobil papanya. Ia mengetuk pintu rumah Dini dan tak lama kemudian Dini keluar.


"Dimas, kamu ngapain?"


"Jemput kamu lah, aku udah bilang Andi kok!"


"Itu mobil kamu?" tanya Dini yang melihat mobil Dimas berbeda dari biasanya.


"Itu mobil papa, kita berangkat sama Pak Adi nggak papa kan?"


"Pak Adi siapa?"


"Supir papa, mobil ku masih di cafe."


"Oh, iya nggak papa, ayo!" jawab Dini sambil menggandeng tangan Dimas yang terluka.


"Aaaaaaaaaaaa....." teriak Dimas karena lukanya dipegang oleh Dini.


"Eh, maaf, tangan kamu kenapa Dim?" tanya Dini yang baru menyadari tangan Dimas yang diperban.


"Nggak papa kok, luka kecil, ayo berangkat."


"Eh, tapi itu....."


"Sssssttttttt, jangan banyak tanya, aku nggak papa," ucap Dimas sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Dini.


Dinipun diam dan pasrah mengikuti Dimas masuk ke mobilnya.


Dimas dan Dini segera turun dari mobil ketika mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.


"Nanti kabarin ya mas kalau mau pulang!" pinta Pak Adi pada Dimas.


"Dimas pulang sendiri aja Pak, Pak Adi nggak usah jemput Dimas," balas Dimas menolak.


"Tapi Bapak udah perintah saya buat nganterin mas Dimas kemana aja, saya takut dimarahin Bapak mas."


"Ya udah deh, nanti Dimas kabarin Pak Adi."


Dimas dan Dini pun masuk ke sekolah dan segera menuju ke kelas mereka.


"Kemarin kamu dari mana aja?" tanya Dimas pada Dini.


"Nggak dari mana mana kok, kenapa?"


"Kamu nggak ada kabar sama sekali!"


"Maaf Dim, pulang dari cafe aku belajar sampe' ketiduran, ini tangan kamu kenapa sih?"


"Nggak papa kok, kamu khawatirin Andi aja," balas Dimas dengan tersenyum kecut.


"Kok Andi?"


"Iya, kamu lebih pilih pulang sama dia daripada sama aku," jawab Dimas kesal.

__ADS_1


"Ya ampun Dimas, kamu kan harus bantuin Toni di cafe, kami cemburu?"


"Iya, aku cemburu liat kamu sama Andi, tiap aku liat kalian bercanda, ketawa aku nggak suka, aku cemburu!" balas Dimas dengan menatap tajam mata Dini.


__ADS_2