Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Rencana Pertunangan


__ADS_3

Lanjutan Flashback di Singapura


Setelah menyelesaikan kegiatan belajarnya bersama guru privat pagi itu, Dimas segera menghubungi Anita.


"Dimana sayang?" tanya Dimas ketika Anita sudah menerima panggilan darinya.


"Masih di kampus, bentar lagi pulang, mau jemput?"


"Aku jemput sekarang ya, kamu kasih alamatnya!"


"Oke!"


Dimas masuk ke kamarnya, mengambil jaket berwarna navy favoritnya. Pandangannya tertuju pada hoodie yang juga berwarna navy yang berada di bawah jaketnya.


Ia mengambil hoodie itu dan memakainya, memasukkan kembali jaket yang sudah diambilnya.


"kamu abis sakit, jangan banyak kena angin!"


Kata kata itu tiba tiba saja terdengar di ruang bawah sadarnya. Ia mengingat potongan potongan kecil masa lalunya bersama seorang perempuan, perempuan yang ia pakaikan hoodie miliknya itu. Sayangnya, bayangan perempuan dalam memorinya itu tak begitu jelas, hanya samar samar mengenakan seragam yang sama dengan yang dipakainya.


Ia mencoba mengingatnya lebih jauh, tapi sakit di kepalanya membuatnya menyerah, ia berniat untuk menanyakan hal itu pada Anita.


"mungkin dia Anita," ucap Dimas dalam hati, walau sebenarnya ia ragu.


Dimas keluar dari apartemen dan segera menuju ke kampus Anita.


Setelah menjemput Anita, mereka makan siang di salah satu restoran Indonesia di Orchard Road.


"Anita, kamu punya foto kita waktu SMA?" tanya Dimas.


"Mmmm, punya," jawab Anita ragu, karena ia hanya memiliki 1 foto dirinya yang berdua dengan Dimas, selebihnya adalah foto ketika ia bersama Andi, Dimas dan Dini.


"Aku bisa liat?"


"Bisa dong, aku cari dulu ya!" jawab Anita sambil memotong foto bagian Andi dan Dini, beruntung kebanyakan foto yang dimilikinya adalah ketika ia berdiri di samping Dimas dan Andi, jadi ia hanya perlu menghilangkan Andi dan Dini yang berada di pinggir.


"Foto kita nggak banyak sih, soalnya aku baru ganti HP, jadi banyak yang hilang," ucap Anita beralasan.


"Nggak papa!"


Anitapun menunjukkan sebuah folder di HP nya dengan nama "My Future" pada Dimas.


Dimas membuka satu per satu foto dalam folder itu.


"Ini seragam sekolah kita ya!"


Anita mengangguk.


Ketika Dimas menggeser foto terakhir, ia melihat foto dirinya bersama Anita. Anita terlihat memakai pakaian rumah sakit dan terlihat selang infus di tangannya.


"Ini kamu lagi sakit?" tanya Dimas pada Anita.


"Iya, kamu nemenin aku di rumah sakit semalaman, pulang sekolah kamu selalu balik lagi ke rumah sakit, bawa banyak banget bunga sama buah, kamu bilang kamu nggak tau kesukaan aku apa, jadi kamu beli semuanya hahaha....." jelas Anita dengan tertawa terpingkal pingkal mengingat sikap Dimas dulu.


Dimas hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"jadi bener dia Anita," batin Dimas mengingat bayangan perempuan yang ia pakaikan hoodie miliknya.


"Abis ini mau ke mana?" tanya Dimas.


"Ke apartemen kamu aja ya!"


Dimas mengangguk. Ia menggandeng tangan Anita untuk kembali ke mobil dan menuju ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Anita segera merebahkan badannya di sofa panjang depan tv.


"Capek ya!" tanya Dimas dengan duduk di samping Anita.


Anita mengangguk dan memeluk Dimas. Dimas mengusap lembut rambut Anita dan mencium keningnya.


"aku udah dapetin kamu Dimas dan aku nggak akan biarin orang lain ambil kamu dari aku, termasuk Dini!" ucap Anita dalam hati.


Dimas melepaskan pelukan Anita dan mendorong tubuh Anita pelan, membuat Anita dalam posisi tidur di sofa.


Dimas mendekatinya, mendekatkan bibirnya bersiap untuk mencium Anita yang kini hanya terdiam memejamkan matanya.


Tiba tiba bayangan perempuan yang selalu menganggu pikirannya muncul dalam ingatan singkatnya. Ia segera berdiri dan menjauh dari Anita.


Anita yang melihat Dimas menjauhinya merasa kesal. Ia kembali duduk dengan raut wajah kesalnya.


Dimas yang menyadari hal itupun segera mendekati Anita dan kembali duduk di sampingnya.


"Maafin aku ya," ucap Dimas pelan.


Anita hanya diam, tak sepatahkatapun ia ucapkan.


"Aku minta maaf kalau aku kurang ajar, aku nggak bermaksud buat........."


Cuuuppp


Anita mencium pipi Dimas tiba tiba, membuat Dimas menghentikan kata katanya.


"Kamu nggak marah?" tanya Dimas pada Anita.


"Enggak, lanjutin aja!" jawab Anita dengan senyum manis menggoda.


Dimas tersenyum tipis lalu mencium kening Anita.

__ADS_1


"Aku anter kamu pulang ya!" ucap Dimas membuat Anita kembali kesal.


"Kenapa pulang? kamu nggak mau......."


"Apa kita dulu sering ngelakuin itu?"


"Hampir setiap hari," jawab Anita berbohong.


"Hah, setiap hari?"


Anita mengangguk.


Dimas menepuk jidatnya sendiri, merasa malu atas sikapnya pada Anita.


"Oh iya, ada yang mau aku tanyain sama kamu!"


"Apa?"


"Kita pertama kali ketemu dimana?"


"Di sekolah, jadi dulu itu kamu siswa pindahan dari luar kota, kita satu sekolah waktu kelas XI," jelas Anita.


"kelas XI? tapi di note book mama bilang kita kenal dari kecil, mama bohong? atau Anita yang bohong? kenapa? buat apa?" batin Dimas bertanya tanya.


Ya, setiap malam, Dimas akan menulis apapun yang terjadi hari itu pada note book miliknya dan membacanya esok hari agar ia tak melupakan hal penting yang terjadi hari itu. Tak jarang ia menyimpan foto dan video orang orang yang baru dikenalnya, seperti guru privat yang selalu datang ke apartemennya setiap hari.


****************


Malam itu, Dimas menghampiri papanya sedang sibuk dengan laptop kerjanya.


"Mama belum pulang pa?" tanya Dimas.


"Belum, masih ada acara sama teman teman kantor, ada apa?"


"Ada yang mau Dimas tanyain pa!"


"Tanya apa?"


"Dimas mohon papa jujur ya!"


Pak Tama mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Dimas.


"Papa selalu jujur sama kamu Dim, emang kamu mau tanya apa?"


"Dimas kenal sama Anita kapan pa?"


"Ya waktu SMA lah, kelas XI, emang kenapa?"


Dimas menggeleng pelan, rasa kecewanya tergambar dengan jelas di wajahnya.


"Kenapa mama bohongin Dimas pa?"


"Maksud kamu? bohong soal apa?"


"Mama bilang, Dimas kenal Anita dari kecil, tapi Anita sendiri bilang kita kenal waktu SMA dan papa juga bilang hal yang sama sama Anita!"


Pak Tama menghembuskan napasnya pelan. Ia tidak ingin Dimas membenci mamanya sendiri.


"Dimas, mama kamu nggak bohong, kamu emang lebih sering cerita sama papa, jadi mungkin mama nggak tau kalau kalian kenal waktu SMA!" jelas Pak Tama beralasan.


"Tapi......"


"Dim, mama sama papa itu sayang sama kamu, kamu tau betapa hancurnya mama kamu waktu liat kamu koma berbulan bulan di rumah sakit, mama sama papa merasa gagal jadi orangtua yang baik buat kamu, kita cuma bisa berusaha dan berdo'a buat kesembuhan kamu, mama sama papa sayang sama kamu, cuma itu yang bisa mama sama papa kasih buat kamu, kasih sayang keluarga!"


"Kamu bisa cerita apa aja sama papa, tanya apa aja sama papa!" lanjut Pak Tama.


Dimas mengangguk pelan.


Meski ia marah dan kecewa pada mamanya, ia tak akan menulisnya di note book, ia akan melupakannya. Mama dan papanya adalah bagian penting dari memorinya, ia tak ingin mengotori memorinya dengan kekecewaan yang ia rasakan saat itu.


"Pa, Dimas dulu romantis ya!"


"Iya, kamu tau, mantan mantan kamu kalau dikumpulin bisa menuhin Orchard Road loh hehehe..." balas Pak Tama terkekeh.


"Dimas playboy pa?"


"Mmmm, bukan playboy sih, cuma sering ganti ganti pacar aja, nggak pernah bisa pacaran lama!"


"Cantik cantik pa? hehehe...." tanya Dimas terkekeh. Ia merasa lebih nyaman bertanya banyak hal pada papanya.


"Cantik cantik semua dan hebatnya lagi, mereka semua juara kelas, bahkan ada yang langganan juara olimpiade juga, hebat emang anak papa ini!" jawab Pak Tama dengan menepuk nepuk pundak Dimas.


Dimas hanya terkekeh mendengar penjelasan papanya.


"Anita termasuk dari mereka itu pa?"


"Mmmm, kalau itu papa nggak tau, yang papa tau cuma mantan kamu sebelum kamu pindah!"


"Dimas dulu sering antar jemput Anita ya pa?"


"Kalau soal Anita, papa nggak tau banyak Dim, kamu nggak pernah cerita soal dia sama papa."


"Dimas ngerasa aneh aja pa, Dimas ngerasa ada sesuatu yang nggak bener!"


"Soal Anita?"


Dimas mengangguk.

__ADS_1


"Kamu emang hilang ingatan Dim, tapi perasaan kamu nggak akan pernah hilang, cinta di hati kamu akan tetap ada walaupun ingatan kamu udah nggak ada!"


"Itu dia pa, Dimas sama sekali nggak ingat bahkan nggak pernah ada rasa apapun sama Anita, dia kayak orang asing buat Dimas, nggak ada sedikitpun rasa yang bikin Dimas nyaman sama dia, Dimas udah berusaha jadi Dimas yang dulu buat dia, Dimas berusaha romantis, berusaha selalu ada buat dia, tapi tetep aja, semuanya terasa palsu!"


"Cinta itu dari hati Dim, nggak bisa dipaksain, sekeras apapun kamu coba, kalau emang rasa itu nggak ada ya tetap nggak akan ada!"


"Tapi beberapa hari ini Dimas selalu diganggu sama bayangan cewek yang......."


"Hantu?" tanya Pak Tama cepat.


"Bukan pa," jawab Dimas dengan memutar kedua bola matanya.


"Hahaha, terus?"


Dimaspun menceritakan tentang potongan ingatan masa lalunya ketika ia mengenakan hoodie navy nya. Seorang perempuan yang wajahnya masih samar samar di ingatannya, perempuan yang membuat jantungnya selalu berdegup kencang jika mengingatnya, meski ia belum bisa mengingat wajahnya.


"Nggak tau kenapa, tiap ingatan itu muncul, detak jantung Dimas jadi nggak beraturan, rasanya kayak abis lari maraton pa, tapi Dimas nggak pernah ngerasain itu waktu sama Anita, padahal cewek itu kan Anita, aneh banget kan pa?"


"Kamu tau dari mana kalau itu Anita, kamu aja nggak ingat wajahnya!"


"Dimas tadi liat foto foto Dimas sama Anita, di salah satu foto itu ada foto waktu Dimas nemenin Anita di rumah sakit dan di ingatan Dimas, Dimas bilang 'kamu abis sakit, jangan banyak kena angin!' jadi itu pasti Anita, waktu dia pulang dari rumah sakit!"


"Kamu yakin?"


Dimas menoleh cepat ke arah papanya. Pertanyaan papanya kembali menumbuhkan keraguan di hatinya.


"Jangan terlalu dipikirin, mending pikirin bisnis kamu!"


"Bisnis?"


"Iya, kafe kamu!"


"Kafe? kafe Dimas?"


"Oh iya papa lupa, kamu nggak inget ya! hahaha......"


Dimas meninju lengan papanya pelan, kesal dengan ledekan papanya.


"Kamu itu punya kafe Dim, sekarang yang kelola kafe kamu Yoga, dia anak teman baik papa, kamu deket banget sama dia walaupun usia dia lebih tua beberapa tahun dari kamu, kamu juga punya 1 pegawai, namanya Toni, walaupun dia bukan anak yang berpendidikan tinggi, tapi dia pekerja keras, kamu selalu banggain dia di depan semua orang, kamu, Yoga, Toni udah kayak 1 keluarga di kafe itu dan sekarang papa denger Yoga udah buka cabang baru loh!"


"Dimas jadi pingin balik ke Indonesia pa," ucap Dimas dengan senyum mengembang.


"Kamu selesaiin dulu belajar kamu, tahun depan kita balik ke Indonesia!"


Dimas mengangguk penuh semangat.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, mama Dimas pulang dari acara kantornya.


Setelah membersihkan badan, mama Dimas segera merebahkan badannya di kasur, di samping suaminya.


"Ma, tahun depan kita balik ke Indonesia!" ucap Pak Tama tanpa basa basi.


"Hah! tahun depan? 2 bulan lagi?" tanya mama Dimas meyakinkan.


"Iya, kamu inget kan kata kata Dokter Richard, Dimas emang sebaiknya kita bawa pulang ke Indonesia, biar dia ketemu sama orang orang di masa lalunya, Dimas....."


"Enggak pa, mama nggak mau!"


"Kenapa? karena Dini? ayolah ma, jangan egois, kita bawa Dimas ke sini demi kesembuhan Dimas, bukan buat ngurung dia disini, pikirin kesembuhan Dimas ma, soal Dini atau Anita biar Dimas sendiri yang nentuin, kita bukan orang tua yang suka ngatur kehidupan pribadi Dimas kan ma!"


"Tapi mama nggak mau Dimas dimanfaatin sama Dini pa!"


"Kita pulang demi kesembuhan Dimas ma, bukan buat Dini atau Anita, fokus sama tujuan kita ma!"


***************


Tinggal 2 bulan waktu Dimas di Singapura. Mama dan papanya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Meskipun mamanya ragu, tapi akhirnya ia menerima keputusan suaminya itu.


"Ma, gimana kalau Dimas ketemu Dini lagi?" protes Anita begitu mendengar kabar bahwa Dimas akan kembali tinggal di Indonesia.


"Dia udah lupa Nit, mama yakin kalaupun mereka bertemu, Dimas nggak akan inget sama Dini!"


"Anita mohon jangan balik ma, Anita nggak mau kehilangan Dimas, Anita....."


"Mama nggak bisa nolak kemauan papa Dimas Nit, mama janji mama nggak akan biarin Dimas sama Dini lagi, kamu tenang aja!"


Anita memutar otaknya cepat, ia harus mencari cara agar Dimas tak bisa meninggalkannya lagi, bahkan ketika ia bertemu Dini.


"Anita mau tunangan sama Dimas ma, secepatnya!" ucap Anita yakin.


"Kamu yakin? apa nggak terlalu terburu buru?"


"Anita yakin ma, Anita harus tunangan sama Dimas sebelum Dimas kembali ke Indonesia ma, itu satu satunya cara biar Dimas nggak ninggalin Anita!"


"Tapi papa kamu gimana Nit? mama kan juga harus ketemu papa kamu dulu, mama harus......."


"Papa pasti setuju kok ma, mama kan udah kenal papa juga, yang penting Anita udah jadi tunangan Dimas aja ma, masalah lainnya kita atur nanti, Anita mohon ma!"


"Tapi Nit....."


"Anita sayang sama Dimas ma, Anita yang nemenin Dimas selama Dimas koma, Anita ikut kemana pun Dimas pergi, Anita selalu sabar sama sikap Dimas yang dingin dan selalu lupa sama Anita, Anita nggak mau Dimas ninggalin Anita ma, apa kurang pengorbanan Anita selama ini?"


"Enggak sayang, bukan itu maksud mama, nanti mama akan bicarain ini sama Dimas, kamu tenang ya!"


"Yakinin Dimas buat mau tunangan sama Anita ya ma!"


"Iya sayang!"

__ADS_1


__ADS_2