Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Cinta dan Luka


__ADS_3

Mentari pagi memancarkan sinar hangatnya. Dimas menyibakkan selimut tebal miliknya, matanya mulai mengerjap siap melihat keindahan dunianya yang baru.


Ya, dunia baru. Ia bangun dari tempat tidurnya, melihat catatan yang selalu ia lihat selama berbulan bulan lamanya. Senyum tipis tergaris di bibirnya. Ia mengambil catatan itu dan membawanya keluar, memberikannya pada mamanya yang sedang sibuk memasak nasi goreng kesukaannya.


"Pagi ma," sapa Dimas lalu mengecup kening mamanya.


"Pagi juga sayang, kamu bawa apa itu?"


"Ini, mama buang aja, Dimas udah nggak butuh kertas itu!"


Mama menerima kertas yang disodorkan Dimas padanya.


"Kenapa di buang sayang? kamu kan........"


"Dimas udah nggak perlu itu, Dimas udah ingat ma, Dimas ingat apa yang terjadi sama Dimas tanpa Dimas putar semua video itu, Dimas nggak perlu baca note book itu lagi ma, Dimas ingat!"


"Dimas, kamu serius? kamu........" mata mama Dimas mulai berkaca kaca, ia tak sanggup melanjutkan kata katanya, ia sangat bersyukur anak semata wayangnya sudah mendapatkan ingatannya kembali.


"Tapi ma......."


"Tapi kenapa sayang?"


"Nggak papa," jawab Dimas tersenyum.


"Abis sarapan, kita ke dokter ya!"


Dimas mengangguk.


Setelah menyelesaikan sarapan, mandi dan berganti pakaian, Dimas dan mamanya segera pergi ke rumah sakit.


Setelah beberapa lama diperiksa, Dokter menjelaskan jika ingatan Dimas belum sepenuhnya kembali. Batas ingatannya di mulai ketika ia tersadar dari komanya di Singapura. Ia masih belum bisa mengingat masa lalunya sebelum ia mengalami kecelakaan. Setidaknya itu adalah sebuah kemajuan besar bagi Dimas.


Dimas tak perlu lagi menulis di note book miliknya. Ia mengingat kedua orangtuanya, Anita, Yoga dan pacarnya, Toni, pegawai pegawai kafenya dan yang terpenting ia selalu mengingat Dini.


Jantungnya masih berdebar setiap ia bersama Dini. Namun ia coba menepis rasa itu, ia sadar bagaimana perjuangan dan pengorbanan Anita padanya, ia tak akan membuat Anita bersedih apa lagi terluka. Ia akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Anita, seseorang yang selalu setia menemaninya bahkan ketika Anita punya pilihan untuk pergi, Anita tetap setia menunggunya, bersabar dan selalu mencurahkan cinta dan sayangnya untuk Dimas. Itulah yang dipikirkan Dimas saat itu.


Kabar gembira itu segera di ceritakan oleh mama Dimas pada suaminya, Pak Tama dan juga pada Anita.


Yoga, Sintia, Toni, Andi dan Dinipun akhirnya mengetahui hal itu. Semuanya bahagia, terkecuali Anita. Ia merasa semakin takut dan khawatir. Jika Dimas sudah mengingat masa lalunya, itu artinya ia harus siap untuk ditinggalkan oleh Dimas.


Sore itu, seperti biasa, Dini sibuk melayani para pelanggan kafe. Dimas tiba tiba datang menghampirinya.


"Andini, nanti malem kamu ada acara?" tanya Dimas.


"Maksud Bapak?"


"Saya mau ngundang kamu makan malam sama pacar kamu, itu kalau kamu nggak sibuk, anggap aja sebagai ganti makan malam kita yang berantakan kemarin!" jelas Dimas.


"Mmmm, maaf pak, saya nggak bisa!"


"Kenapa? apa kamu masih marah sama tunangan saya? saya minta maaf kalau kata katanya menyinggung kamu, saya......."


"Bukan, bukan karena itu, maaf pak, saya nggak bisa!" ucap Dini lalu melangkah pergi meninggalkan Dimas.


Hatinya kembali tergores mendengar Dimas menyebut Anita dengan sebutan "tunangan", suka atau tidak memang seperti itulah kenyataannya.


"kenapa rasanya masih sakit,"


Jauh di lubuk hatinya, ada sedikit harapan Dini untuk bisa kembali bersama Dimas. Meski logikanya menentang, hatinya tetap merindukan Dimas, merindukan cinta dan kasih sayang Dimas padanya.


Tak terasa air matanya menetes begitu saja, ia segera menghapusnya, ia harus tetap tegar, ia harus tetap kuat karena ia bukan lagi Dini yang lemah dan cengeng.

__ADS_1


"Andini, hot choco ya!" ucap Dimas pada Dini yang masih melamun, sisa air matanya masih tampak pada matanya yang sembab.


"Kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Dimas yang menyadari jika Dini sedang tidak baik baik saja saat itu.


"Enggak Pak, saya nggak papa," jawab Dini sambil melangkah memyiapkan pesanan Dimas.


Entah kenapa air matanya kini semakin tak terbendung, menetes begitu saja tanpa memberinya waktu untuk mengusapnya. Hatinya terasa sakit, perih karena luka lamanya yang kembali tergores.


Dimas mendekati Dini, menarik tangannya dan memeluknya. Entah karena nalurinya sebagai laki laki atau memang karena dorongan cinta di hatinya, Dimas memeluknya erat, berharap bisa menenangkan Dini yang masih menangis di pelukannya.


Sungguh pelukan penuh cinta yang menyakitkan bagi Dini. Ia kini lemah, ia tak mampu menolak. Luka di hatinya seperti terobati oleh pelukan Dimas, namun obat yang ia terima terasa perih, menyakitkan namun menyembuhkan.


Hingga tiba tiba seseorang menarik Dimas dengan paksa membuat Dimas melepaskan pelukannya pada Dini. Seseorang itu tanpa pikir panjang melayangkan tamparannya pada pipi Dini, meninggalkan bekas merah di pipinya.


"Dasar cewek murahan nggak tau malu!" ucap Anita dengan melayangkan tangannya bersiap untuk kembali menampar Dini namun di cegah oleh Dimas.


"Apa apaan kamu Nit? kamu......"


"Kamu yang apa apaan? kamu kenapa mau dipeluk dia? apa yang udah dia lakuin sampe' kamu lupa siapa dan apa status kamu sekarang, kamu tunangan aku Dimas, tapi kamu malah pelukan sama waiters murahan kamu ini!"


Dini yang tak bisa membela dirinya berlari begitu saja ke ruangan pegawai, ia melepas seragam kafe dan mengenakan bajunya lalu pergi meninggalkan kafe.


Ia sadar karena ia telah salah melakukan hal itu pada Dimas. Meski bukan dia yang mulai memeluk, tapi tak seharusnya ia membiarkan Dimas memeluknya. Ia berjalan di trotoar jalan dengan air mata yang tak bisa ia tahan. Hatinya terlalu sakit untuk ia sembunyikan. Luka di hatinya terlalu dalam untuk ia bisa tutupi.


Ia berjalan ke sembarang arah, sakit di hatinya mengacaukan pikirannya.


"maafin aku Dimas, maaf karena aku masih mencintai kamu, maaf karena aku nggak bisa lupain kamu, maaf karena cinta ini terlalu besar buat kamu, kalau aku bisa minta, aku ingin Tuhan hapus ingatan aku tentang kamu, tentang kita, tentang semua yang sudah terjadi diantara kita, jika aku bisa terlahir kembali, aku tak akan mau nengenalmu apalagi mencintaimu dengan segila ini!"


Di kafe, Anita dan Dimas masih bersitegang. Dimas tak bisa memberi alasan apapun yang bisa diterima Anita karena memang itu keinginannya sendiri untuk memeluk Dini.


"Sekarang terserah kamu, kamu boleh kejar dia kalau kamu mau, asal kamu jangan pernah temuin aku lagi dan lupain semua yang udah kita lakuin sama sama, aku akan pergi tanpa harus maksa kamu untuk bertanggung jawab atas apa yang udah kamu lakuin sama aku!" ucap Anita memberi ancaman. Sejujurnya apa yang ia ucapkan sangat berisiko, karena jika Dimas memilih untuk mengejar Dini, maka ia akan benar benar kehilangan Dimas karena ulahnya sendiri. Namun ia juga ingin tegas pada Dimas, ia tak ingin jika diam diam Dimas masih menaruh rasa pada Dini.


"Aku minta maaf sayang, aku bener bener minta maaf!" ucap Dimas pada Anita.


"Aku selalu maafin kamu Dimas, walaupun kamu selau mengulanginya lagi, aku selalu maafin kamu, tapi sampe' kapan? sampe' kapan kamu terus terusan nyakitin aku kayak gini?"


Dimas hanya diam dengan masih memeluk Anita. Ia tak bisa memberi jawaban apapun. Dalam hati kecilnya ia sangat ingin mengejar Dini, namun logikanya berbicara lain. Dini adalah waiters yang baru dikenalnya dan Anita adalah tunangannya yang selalu setia padanya, akan sangat salah jika Dimas harus meninggalkan perempuan yang sudah mencintainya dengan tulus demi seorang perempuan yang baru di kenalnya.


Beberapa pegawai Dimas yang menyaksikan hal itu hanya berpura pura tidak mengetahuinya. Mereka dengan jelas melihat jika Dimas yang memeluk Dini, akan tidak adil jika Dini harus meninggalkan kafe karena hal itu. Terlebih, Dini sangatlah baik dan rajin, mereka akan sangat sedih jika Dini benar benar berhenti bekerja di kafe itu. Namun mereka tak bisa melakukan apapun, mereka hanya bisa berharap jika Dini baik baik saja saat itu.


Di ujung persimpangan jalan, Andi berjalan seorang diri dengan handsfree yang terpasang di telinganya. Lagu lama yang ia putar itu sangat menyentuh hatinya, ia ikut bersenandung lirih mengikuti irama musik dari lagu Derby Romeo yang berjudul Tuhan Tolong.


Tepat ketika lagu itu selesai, matanya menangkap seseorang yang sangat ia kenal, duduk di sudut persimpangan jalan sendirian. Ia segera berlari mendekati gadis itu. Jantungnya tiba tiba berdetak kencang, ia merasa jika gadis itu sedang tidak baik baik saja saat itu.


Andi berdiri tepat di depan gadis itu duduk.


"Andi," ucapnya dengan air mata yang masih menetes dari kedua sudut matanya yang sudah sangat sembab. Ia berdiri dan memeluk Andi erat.


"Kenapa rasanya masih sakit Ndi? kenapa aku nggak bisa hilangin perasaan ini? aku masih sayang sama dia Ndi, aku masih cinta, kenapa kenyataan ini begitu kejam Ndi? kenapa kita yang saling mencintai dan menyayangi harus dipaksa berpisah dengan cara seperti ini? kenapa?"


Derai air matanya membasahi pakaian yang dikenakan Andi. Cinta di hatinya belum hilang, luka yang dipendamnya ternyata tak bisa musnah meski waktu sudah menguburnya begitu dalam. Cinta dan luka itu seperti kekal di hatinya. Cinta yang melukainya dan luka yang dicintainya. Mereka seolah telah menemukan tempatnya di hati Dini.


Isak tangis Dini di pelukan Andi begitu memilukan. Andi semakin memeluknya erat meski secara bersamaan menyayat hatinya yang sudah lama terluka.


Entah cinta macam apa yang dimiliki Andi pada Dini. Hatinya sakit melihat Dini bersama laki laki lain, tapi ia lebih terluka melihat Dini yang menangis seperti ini di hadapannya.


Ia merasa gagal melindungi sahabat yang dicintainya itu, ia merasa gagal karena tak bisa membahagiakannya, tak bisa menyelamatkannya dari luka yang menyakiti hatinya.


"Andi, kenapa harus Dimas Ndi? kenapa bukan kamu? apa aku akan sesakit ini kalau kamu ninggalin aku? apa rasanya akan sama seperti ini Ndi?"


"Kamu nggak akan tau jawabannya Din, karena aku nggak akan pernah ninggalin kamu," jawab Andi dengan membelai rambut Dini.

__ADS_1


"Andai aku bisa mencintai kamu seperti aku mencintai Dimas, mungkin aku nggak akan sesakit ini, aku........"


Andi melepas pelukannya pada Dini. Ia memegang kedua pipi Dini dan menatapnya dalam dalam.


"Aku sayang sama kamu Din, aku cinta sama kamu lebih dari yang kamu tau dan aku nggak akan pernah ninggalin kamu, sejauh apapun kamu pergi, aku akan selalu ada di belakang kamu, lindungin kamu, aku sahabat kamu yang bisa kamu andalkan Din, kapanpun kamu butuh aku, aku akan selalu ada buat kamu!" ucap Andi lalu mencium kening Dini.


"Kita pulang ya!" ajak Andi pada Dini.


Dini mengangguk.


Andi mengenggam tangan Dini begitu erat, seolah takut akan kehilangan Dini.


Tanpa mereka sadar, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi. Sepasang mata yang memandang dengan senyum yang sulit diartikan.


**************


Malam masih saja terlihat bahagia, bintang yang bertaburan dan bulan yang menunjukkan senyum manisnya menghiasai hamparan gelap malam itu.


Dini duduk di balkon depan kamarnya, memandang samar ke arah bulan dan bintang. Matanya masih sembab, air matanya masih menggenang di pelupuk matanya dan sesekali menetes begitu saja.


Terlihat berpuluh puluh panggilan dan pesan di ponselnya, namun ia tak menghiraukan. Hati dan pikirannya benar benar dipenuhi oleh kesakitan saat itu.


Di sisi lain, Dimas dan Anita sedang menghabiskan malam dengan menonton film dari laptop. Mereka berada di kamar Anita.


"Sayang, aku boleh minta sesuatu?" tanya Anita pada Dimas.


"Kamu mau apa? tas? sepatu? perhiasan?"


"Enggak, aku nggak minta itu!"


"Lalu?"


"Aku minta kamu jaga hati kamu buat aku, bisa?"


Dimas tersenyum, tak menjawab apapun.


"Kalau kamu pergi, hidup aku sia sia Dimas, kamu udah ambil milikku yang paling berharga, aku udah nggak punya apa apa lagi buat aku pertahanin, kalau kamu pergi aku........"


"Aku nggak akan pergi," ucap Dimas sambil mencium kening Anita yang duduk bersandar di sampingnya.


"Apa aku bisa percaya sama kamu setelah apa yang aku liat tadi?"


"Aku minta maaf sayang, aku nggak akan ngelakuin itu lagi!"


Anita mendekatkan wajahnya ke arah Dimas dan mencium pipinya. Bibirnya bergeser ke arah bibir Dimas, ia mengecupnya pelan. Namun Dimas segera mendorong tubuh Anita.


"Udah malem, aku harus pulang!"


"Kamu nggak mau tidur di sini?"


"Aku harus pulang sayang, kamu tidur ya, love you!"


Dimas keluar dari kamar Anita dan segera masuk ke mobilnya lalu meninggalkan rumah Anita.


Logikanya berkata jika pilihannya sudah tepat, apa yang ia lakukan sudah benar. Tapi entah kenapa hatinya terasa sakit, ada sesuatu yang menyakitkan di hatinya.


Ia kembali mengingat Dini yang menangis di hadapannya. Tangisnya seperti belati yang mengoyak hati dan perasaannya. Ada sebuah dorongan yang membuatnya memeluk Dini begitu saja.


"kenapa semuanya terasa aneh, kamu kenapa Andini? kenapa tangisan kamu begitu memilukan, maaf karena aku nggak bisa berbuat apa apa untuk kamu, mungkin dengan kepergian kamu dari kafe, itu akan lebih baik buat semuanya, buat aku, buat Anita dan juga buat kamu sendiri!"


Dimas mencoba membenarkan logikanya, meski hatinya menolak. Ia seperti buta, tak tau mana yang harus ia lihat dengan benar, apakah logikanya yang benar, ataukah hatinya yang benar?

__ADS_1


__ADS_2