
Tanpa pikir panjang, Dimas segera membuka tudung jaket seseorang di hadapannya. Ia pun tersentak kaget melihat rambut panjang seseorang di hadapannya, karena ia pikir seseorang berjaket merah itu adalah lelaki jika dilihat dari sepatu dan celana yang dipakainya.
Tak lama kemudian seseorang itu pun berbalik melihat ke arah Dimas, membuat Dimas semakin terkejut.
"Anita!"
Anita hanya diam, menahan sakit di kepalanya. Darah segar bercucuran dari pelipisnya, karena tendangan Dimas tadi membuatnya jatuh membentur sudut dinding di tempat parkir.
"Dimas," panggil Anita pelan lalu pingsan.
Dimas segera membawa Anita ke UKS, mencoba untuk menahan darah yang tidak berhenti keluar dari pelipisnya.
Di halaman sekolah, Pak Tejo yang tidak melihat Dimaspun menanyakannya pada Andi.
"Dimas belum balik Ndi?" tanya Pak Tejo pada Andi.
"Belum Pak."
Pak Tejo segera mencari Dimas ke kamar mandi karena sudah lama ia tidak kembali untuk melanjutkan membersihkan halaman.
Setelah mencari Dimas di setiap bilik kamar mandi, Pak Tejo tidak menemukan Dimas.
Pak Tejopun memutuskan untuk berkeliling mencari Dimas sambil mengunci semua pintu ruangan satu per satu.
Ketika hendak mengunci pintu UKS, Pak Tejo melihat Dimas di sana.
"Dimas, kamu ngapain di sini?" tanya Pak Tejo.
"Pak Tejo, tolongin Anita Pak!" ucap Dimas panik melihat pelipis Anita yang masih mengeluarkan darah segar.
"Anita kenapa ini? ada apa?"
"Panjang Pak ceritanya, sekarang tolong izinin saya saya anter Anita ke rumah sakit Pak!"
"Oke oke, ayo saya bantu!" jawab Pak Tejo sambil membantu Dimas membawa Anita ke mobil Dimas.
"Tolong sampe'in izin saya ke Bu Ana juga ya Pak!"
"Iya, siap."
Dimaspun keluar dari sekolah membawa Anita menuju rumah sakit terdekat.
Andi yang melihat mobil Dimas keluar, bertanya pada Pak Tejo.
"Dimas pulang Pak?"
"Iya, ada keperluan mendadak katanya," jawab Pak Tejo menutupi apa yang terjadi, karena Pak Tejo belum tau pasti apa yang sebenarnya terjadi pada Anita dan Dimas.
__ADS_1
"Kamu saya bantuin aja biar cepet selesai," lanjut Pak Tejo.
"Terimakasih Pak!"
Entah hal penting apa yang membuat Dimas harus segera pulang, Andi sudah tidak mau tau lagi.
Sesampainya Dimas di rumah sakit, sudah ada Dokter Dewi, saudara Anita yang kebetulan sedang bertugas hari itu.
Tanpa banyak bertanya Dokter Dewi membawa Anita ke ruang UGD.
Tak lama kemudian, Dokter Dewi keluar.
"Kamu Dimas kan?" tanya Dokter Dewi.
"Iya Dok, gimana keadaan Anita?"
"Darahnya sangat banyak yang keluar dan harus segera mendapat pendonor darah yang cocok."
"Apa di rumah sakit ini nggak ada persediaan darah yang cocok untuk Anita Dok?"
"Kebetulan baru saja habis Dimas, sekarang tim saya sedang berusaha mencari ke bank darah lain, tapi saran saya kamu hubungi papanya Anita untuk memberitahu kejadian ini, karena seinget saya papanya mempunyai golongan darah yang cocok untuk Anita, saya takut jika menunggu tim saya akan terlalu lama dan bisa membahayakan Anita."
Tanpa banyak bertanya lagi, Dimas segera. menghubungi Pak Sony, kepala sekolah sekaligus papa Anita.
"Saya Dimas Pak, temannya Anita, saya...."
"Saya sibuk, kamu chat saja ya!" jawab Pak Sony sebelum Dimas selesai menjelaskan apa yang sedang terjadi pada anak semata wayangnya.
Dimas kembali menghubungi Pak Sony lagi.
"Pak, Anita sedang butuh Bapak sekarang!" ucap Dimas tanpa basa basi.
"Bawa saja ke rumah sakit X, di sana ada saudaranya yang bisa menanganinya."
Tuuuttt.... tuuuuutttt.... tuuuuutttt....
Sambungan terputus.
Dimas putus asa, Pak Sony sama sekali tidak mempedulikan keselamatan putrinya. Entah kesibukan apa yang membuat Pak Sony mengabaikan Anita saat ini.
"Gimana Dimas? keadaan Anita kritis sekarang!" ucap Dokter Dewi.
"Pak Sony nggak mau tau Dok, saya udah ceritain semuanya tapi beliau hanya menyuruh saya ke rumah sakit ini agar Dokter Dewi yang menanganinya."
"Sudah saya duga, sekarang mau tidak mau kita harus menunggu tim saya mendapatkan darah yang cocok untuk Anita.
"Golongan darah saya O Dok, apa bisa saya mendonorkan darah saya buat Anita?"
__ADS_1
"Bisa Dimas, ikut saya ke lab untuk memastikannya lagi."
Dimaspun mengikuti Dokter Dewi untuk memastikan bisa tidaknya dia mendonorkan darahnya untuk Anita.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dokter Dewi memberi tahu Dimas jika dia bisa mendonorkan darahnya untuk Anita.
"Kamu yakin Dimas?"
"Saya yakin Dok," jawab Dimas penuh keyakinan.
Dokter Dewipun mulai menyiapkan semua keperluan untuk transfusi darah.
Melihat Anita yang terbaring lemah di sampingnya, membuat Dimas merasa bersalah. Anita yang selama ini terlihat ceria kini terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Dimas mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang ancaman yang Anita lakukan pada Dini, terlebih melihat sikap Pak Sony pada Anita membuat Dimas sangat iba.
Entah apa yang membuat seorang berpendidikan seperti Pak Sony tega membiarkan anaknya kandungnya bertaruh nyawa sendiri di rumah sakit.
"kamu emang pinter bohong Anita, kamu selalu pura-pura bahagia meski hati kamu terluka," batin Dimas.
Setelah selesai melakukan transfusi darah, Dimas menunggu Anita di depan ruangannya.
"Kamu belum pulang Dimas?"
"Belum, gimana keadaan Anita sekarang Dok?"
"Keadaannya udah membaik, dia tidur sekarang, tapi dia belum tau kalau kamu masih ada di sini."
Dimas mengangguk.
"Terimakasih ya Dimas, kamu udah bantuin Anita."
"Saya hanya melakukan apa yang saya bisa Dok."
"Panggil saya 'mbak' aja kayak Anita, biar lebih akrab."
Dimas hanya mengangguk dan tersenyum, meski ia merasa sungkan jika harus memanggil 'mbak'.
"Kepala sekolah kamu itu emang keterlaluan Dimas!"
"Maksudnya?"
"Kenapa saya minta kamu yang menghubungi Pak Sony? karena jika saya menghubunginya sudah pasti tidak akan ada jawaban, dia begitu membenci saya karena saya gagal menyelamatkan nyawa kakak saya, mama Anita, bahkan ketika saya menghubunginya karena mendapati Anita yang nyaris meninggal karena berniat bunuh diri, Pak Sony tak menghiraukan sama sekali."
"Anita mau bunuh diri?" tanya Dimas tak percaya.
"Iya Dimas, satu bulan setelah mamanya meninggal, Anita meminta untuk tinggal bersama saya karena sudah sangat muak dengan sikap papanya yang suka berkencan dengan wanita-wanita muda, hingga pada akhirnya dia menyerah karena lelah selalu berpura-pura bahagia di depan banyak orang, dia nekat meminum racun serangga, beruntung saya masih bisa menyelamatkannya saat itu, meski ia sempat kritis beberapa hari."
__ADS_1
"Kenapa Anita sekarang tinggal sama Pak Sony lagi Dok?"
"Nggak ada pilihan Dimas, Pak Sony mengancam akan mencabut semua fasilitas yang diberikan pada Anita dan tidak akan memenuhi kebutuhan hidupnya jika dia tidak kembali ke rumahnya."