
Matahari telah pulang meninggalkan singgasananya, meninggalkan semburat jingga yang terlukis indah di hamparan langit barat. Lampu warna warni mulai kompak nenerangi setiap sudut kota.
Sore itu, Dini masih berada di apartemen Dimas hingga seseorang datang dengan memencet bel, membuat Dimas melepaskan pelukan Dini darinya.
Dimas segera membuka pintu dan begitu kesal ketika melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Ia menyesal karena membukakan pintu untuknya, tapi apa mau dikata, itu sudah terjadi.
"Surprise!!" teriaknya sambil memeluk Dimas, namun Dimas segera melepaskan diri dari pelukannya.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dimas.
"Aku nggak disuruh masuk nih?" tanya Anita yang langsung masuk begitu saja.
Dimas hanya diam, ia mengacak acak kasar rambutnya karena kesal.
"Dini!"
"Anita!"
Mereka sama sama terkejut. Dini segera bangkit dari duduknya begitu mengetahui Anita datang.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Anita dengan raut wajah tidak suka.
"Aa..... aku..... aku....."
"Kamu tau kan Dimas tunangan aku? kamu ngapain masih deket deket sama dia?"
"Aku cuma......."
"Aku yang ngajak dia ke sini," ucap Dimas memberikan jawaban.
"Kenapa? kenapa kamu ngajak dia ke sini? kamu lupa sama janji kamu?"
"Persetan sama semua janji itu Nit, aku nggak peduli lagi!"
"Aku pulang dulu Dim," ucap Dini pelan lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu namun Anita mencegahnya.
"Kenapa kamu pergi Andini? apa kamu merasa bersalah sekarang? atau kamu emang cewek murahan yang bisa dengan mudahnya keluar masuk apartemen laki laki untuk dibayar?" tanya Anita merendahkan.
Dini hanya diam menahan emosi yang memuncak di dadanya.
"Jaga mulut kamu Nit, dia ke sini karena aku jadi jangan bawa dia dalam masalah kita!"
"Justru dia sumber masalah dari hubungan kita Dim!"
"Dasar cewek murahan!" lanjut Anita dengan melayangkan tangannya bersiap untuk menampar Dini namun dengan sigap Dini menahan tangan Anita.
"Jaga mulut dan tangan kamu Anita, aku diam bukan karena aku takut sama kamu, aku udah muak berurusan sama kamu, kalau aku mau aku bisa ceritain semuanya sama Dimas sekarang, SEMUANYA!" ucap Dini dengan menekankan kata "semuanya".
Anita semakin geram dengan ucapan Dini. Ia berusaha menarik tangannya dari cengkraman Dini, namun Dini menahannya dengan sangat erat.
"Jangan pernah berpikir tangan kamu yang menjijikkan ini bisa nyentuh wajahku Anita, aku nggak akan biarin itu!" lanjut Dini lalu menghempaskan tangan Anita dengan kasar kemudian berjalan keluar dari apartemen Dimas.
"Satu lagi, aku nggak yakin kalau Dimas cinta sama kamu," ucap Dini dengan senyum manisnya lalu benar benar pergi meninggalkan apartemen Dimas.
Dini berjalan dengan memegangi dadanya, ia merasa jantungnya akan melompat keluar saat itu juga. Ia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Selama ini ia hanya diam jika Anita ataupun Bela mengoloknya. Ia diam karena terlalu malas meladeni ucapan ucapan tak penting mereka, tapi hari ini ia berani bersuara. Ia tidak akan membiarkan Anita menginjak injak harga dirinya lagi. Jika Dimas mendekatinya, itu bukan salahnya, itu karena Dimas memang mencintainya. Mereka saling mencintai sebelum Anita menghacurkan semuanya dengan semua omong kosongnya. Jika suatu saat nanti Dimas menetapkan pilihan akhirnya pada Anita, Dini akan menyiapkan hatinya untuk itu. Ia tidak akan memikirkannya terlalu jauh, ia membiarkan dirinya sedikit egois kali ini.
**
Di apartemen Dimas.
Anita duduk dengan raut wajah kesal, sangat kesal hingga ia ingin menghancurkan semua barang yang ada di dekatnya. Jika saja tidak sedang berada di apartemen Dimas, ia pasti sudah meluapkan kekesalannya sedari tadi.
"Anita, aku mohon sama kamu hentikan semua ini!" ucap Dimas pelan, ia berjongkok di hadapan Anita.
Anita hanya diam. Ia sudah sejauh ini, ia tak akan mungkin melepaskan Dimas begitu saja.
"Aku yakin akan ada seseorang yang tulus sayang sama kamu, tapi bukan aku, aku mohon sama kamu," lanjut Dimas dengan menggenggam tangan Anita.
__ADS_1
Anita masih diam, matanya sudah penuh dengan air mata yang siap tumpah dan tentu saja akan ia menumpahkan semua air matanya di depan Dimas. Hanya itu yang membuat Dimas luluh.
"Kamu pikir ada cowok yang mau nerima aku apa adanya? mungkin sekarang ada, tapi kalau dia tau aku udah nggak virgin, apa dia akan tetap mau nerima aku? apa dia bisa memperistri perempuan yang udah nggak suci kayak aku?" tanya Anita dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Dimas menghembuskan napasnya pelan lalu duduk di samping Anita dan memeluknya.
"Maafin aku," ucap Dimas pelan.
"Kamu selalu minta maaf tapi kamu nggak pernah berubah Dimas!"
"Aku sayang sama Andini, aku cinta sama dia, aku nggak bisa bohong Anita, hati aku cuma buat dia, tolong jangan siksa aku sama rasa bersalah ini!"
Anita melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.
"Kamu pikir aku nggak tersiksa? aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu dari SMA, aku sampe' ikut kamu ke Singapura, aku jaga kamu, aku tunggu kamu, aku sabar hadapin kamu yang hilang ingatan dan sekarang aku masih harus liat kamu sama Dini, aku bahkan masih bertahan walaupun aku tau kamu nggak pernah cinta sama aku, aku juga tersiksa Dimas, rasa cinta ini nyiksa aku tapi aku nggak punya pilihan lain selain bertahan sama kamu, kamu harapan masa depan aku satu satunya," balas Anita.
"Aku nggak bisa ninggalin Andini Nit, aku minta maaf," ucap Dimas pelan.
"Kamu egois Dimas!"
"Ya, aku emang egois, cinta ini yang bikin aku egois!"
"Aku pergi dulu, kalau kamu masih mau di sini terserah kamu!" lanjut Dimas lalu keluar dari apartemennya meninggalkan Anita.
Anita sangat kesal dengan hal itu. Ia membanting lampu meja yang ada di sebelahnya hingga hancur tak berbentuk.
"Aku nggak akan nyerah Dimas, aku akan bikin kamu nggak bisa ninggalin aku, aku akan bikin kamu jadi milikku seutuhnya!" ucap Anita dengan melempar remot tv yang ada di hadapannya.
Meski begitu, ia tidak keluar dari apartemen Dimas. Dengan perginya Dimas, ia bisa leluasa melancarkan aksinya lagi. Ide gila sudah menguasai otaknya saat itu. Ia segera mengambil ponselnya, memesan beberapa hal yang ia perlukan untuk melancarkan ide gilanya. Ia yakin Dimas akan kembali ke apartemen ketika malam. Sebelum Dimas datang, kurir yang mengantar pesanan Anita datang. Anita segera menyiapkan semuanya sebelum Dimas datang. Meski sangat beresiko, ia yakin jika ia akan mendapatkan Dimas seutuhnya. Ia sudah tidak mempedulikan hal lainnya lagi, bahkan harga dirinya pun ia tak peduli. Ia hanya peduli pada keinginannya untuk mendapatkan Dimas dan ia akan melalukan apapun untuk itu.
**
Di tempat lain, Dini menunggu Andi di depan kamarnya. Ia berdiri di balkon sejak satu jam yang lalu, namun tak ada tanda tanda Andi datang. Andi bahkan tak menghubunginya sama sekali sejak ia keluar dari rumah sakit bersama Dimas.
Sedikit senyum tampak tergaris di bibir Dini ketika ia melihat Nico berjalan ke halaman kos, karena jika Nico pulang, Andi pasti pulang. Namun ternyata ia salah, ia hanya melihat Nico seorang diri, tanpa ada Andi bersamanya.
Dini segera turun dan menghampiri Nico untuk menanyakan keberadaan Andi.
"Iya, lo pasti mau nanyain Andi ya?"
"Hehe, tau aja, dia kemana sih tumben nggak sama kamu!"
"Dia masih di rumah sakit nemenin Aletta," jawab Nico.
Seketika senyum Dini luntur, entah kenapa ada sedikit rasa kecewa di hatinya.
"Gue harus pulang ke rumah, jadi nggak bisa nemenin Aletta, makanya gue minta Andi buat nemenin Aletta," jelas Nico.
Dini mengangguk anggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan.
"Lo nggak papa kan kalau Andi sama Aletta? atau jangan jangan lo cemburu?" goda Nico, ia menyadari raut wajah Dini yang berubah.
"Enggak lah, Aletta kan juga temennya Andi," jawab Dini berusaha menyembunyikan perasaannya yang terasa tidak nyaman. Perasaan yang membuat hatinya terasa terhimpit.
"Gue naik dulu ya!" lanjut Dini lalu segera kembali ke kamarnya.
Nico hanya tersenyum kecil.
"kenapa cerita kalian rumit banget sih, Andi suka sama Dini, Dini suka sama Dimas, Dimas suka sama Dini dan kayaknya Dini juga suka sama Andi, tapi dia belum sadar aja sama perasaannya, kenapa cinta selalu rumit sih, ngeselin,"
**
Di rumah sakit, Andi sedang mengupas buah untuk Aletta.
"Lo kalau mau pulang nggak papa kok!" ucap Aletta pada Andi.
"Lo ngusir gue?"
__ADS_1
"Ya nggak gitu, gue nggak enak aja jadi ngrepotin lo!"
"Santai aja lah Ta, kayak sama siapa aja!" balas Andi sambil menyuapkan satu potong apel pada Aletta.
"Gue bisa sendiri," ucap Aletta yang berniat untuk menerima potongan apel dari tangan Andi, tapi baru saja ia hendak menggerakkan tangannya, ia sudah merintih kesakitan karena memang seharusnya ia tidak membiarkan lengan kanannya bergerak untuk beberapa waktu sampai benar benar sembuh.
"Aaawww!!" pekik Aletta.
"Jangan gerakin tangan lo dulu Ta, dokter kan udah jelasin tadi!"
Aletta hanya tersenyum menanggapi ucapan Andi. Sesungguhnya ia merasakan sakit yang teramat sangat di lengan tangan kanannya.
"Ta, lo nggak papa?" tanya Andi yang melihat raut wajah Aletta yang menegang.
Aletta sudah berusaha menyembunyikan sakit yang ia rasakan, namun luka itu benar benar membuatnya merasa kesakitan.
"Nggak papa, gue nggak papa," jawab Aletta masih dengan senyumnya.
Ia merasa ada sesuatu yang mengalir dari lukanya, ia merasa perbannya basah.
"Luka lo berdarah lagi Ta!" ucap Andi yang melihat perban di lengan Aletta sudah berubah warna menjadi merah.
"Iya hehe..." balas Aletta.
Andi segera memencet tombol merah di samping ranjang Aletta dan tak lama kemudian Dokter segera datang untuk memeriksa keadaan Aletta.
Andi menunggu di luar ruangan dengan sangat cemas.
"aku nggak tau kenapa kamu bisa sekuat ini Ta, aku nggak tau seberapa kelam masa lalu kamu, yang aku tau ada kesedihan yang selalu kamu coba sembunyiin dari semua orang, kamu hebat Ta, kamu layak dapat seseorang yang terbaik untuk masa depan kamu,"
Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan Aletta. Dokter menjelaskan jika Aletta baik baik saja, tapi ia harus benar benar mengistirahatkan tangan kanannya untuk tidak bergerak, karena jika tidak itu bisa membuat lukanya semakin parah dan menyebabkan infeksi.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter, Andi segera masuk ke ruangan Aletta.
"Lo nggak papa?" tanya Andi.
"Nggak papa, gue baik baik aja!" jawab Aletta santai.
"Ta, tolong kali ini aja lo jangan bantah omongan Dokter, lo harus bener bener berhenti gerakin tangan kanan lo sementara waktu atau lo nggak akan bisa gerakin tangan kanan lo selamanya!"
"Lo khawatir banget ya sama gue?"
"Ta, gue serius, lo bisa serius nggak sih?"
Aletta tersenyum kecil melihat Andi yang mengkhawatirkannya.
"Gue nggak mau lo kenapa napa Ta," ucap Andi dengan menggenggam tangan Aletta.
Aletta terdiam, ia ingin menarik tangannya namun tak bisa karena Andi menggenggam tangan kanannnya. Ia sudah diperingatkan oleh Dokter untuk berhenti menggerakkan tangan kanannya sampai benar benar sembuh. Ia memang keras kepala, tapi mengingat sakit yang teramat sangat yang baru saja ia rasakan, ia memilih untuk mengikuti ucapan Dokter.
"Gue mohon sama lo, jangan bahayain diri lo lagi," ucap Andi dengan menatap tajam mata Aletta.
Aletta diam. Ia merasakan butir butir salju yang menyejukkan hatinya. Tetes hujan seperti membasahi ladang hatinya yang tandus, membuat bunga bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Detak jantungnya seperti berirama menyanyikan lagu cinta yang romantis. Genggaman tangan Andi membuat hatinya merasakan keindahan cinta yang sudah lama hilang. Keindahan cinta yang selama ini telah karam kini kembali berlayar menuju samudra kebahagiaan.
Aletta segera tersadar dari fatamorgana keindahan di hatinya. Ia berusaha menampik semua rasa indah itu. Ia tak ingin jatuh untuk kedua kalinya. Ia juga merasa jika dirinya tak pantas untuk laki laki sebaik Andi.
"Oke gue nurut," ucap Aletta dengan senyum di bibirnya.
Andi tersenyum dan melepas tangan Aletta dari genggamannya lalu mengusap pelan rambut Aletta.
Tanpa Andi dan Aletta tau, Dini yang berada di luar ruangan Aletta melihat kejadian itu. Ia tersenyum tipis lalu membalikkan badannya untuk pergi. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia meninggalkan rumah sakit dengan sejuta tanya di hatinya.
"ada apa sama hatiku?"
Dini berjalan pelan menyusui trotoar jalan raya. Ia masih membawa buah yang akan ia berikan pada Aletta.
**
__ADS_1
Di jalan raya yang padat, Dimas masih berkutat dengan kemacetan yang tak pernah tau waktu. Setelah meninggalkan Aletta di apartemennya, ia pergi mencari buku untuk mengerjakan tugasnya. Ia menghabiskan waktunya di perpustakaan kota sampai larut malam. Setelah puas berkutat dengan buku dan tugas kuliahnya, ia segera kembali ke apartemennya. Ia berharap Anita sudah pergi dari sana. Kemacetan jalan raya saat itu lebih baik baginya daripada harus bertemu dengan Anita lagi.
Dimas mengernyitkan dahinya begitu ia menyadari jika pintu apartemennya tidak terkunci. Ia segera masuk dan mendapati beberapa barang miliknya pecah dan berhamburan di lantai. Tapi ia tak peduli, karena terlalu penat, ia segera melepas pakaiannya dan mandi. Ia tidak menyadari bahaya yang sedang mengancamnya saat itu. Ia tidak menyadari jika ada "ular berbisa" yang siap menerkamnya saat itu juga.