
Setelah dari rumah sakit, Dimas memutuskan untuk mengajak Sintia dan Dini ke cafe. Ia ingin agar Sintia dan Dini memulai hubungan baik, mengingat bagaimana sikap Sintia pada Dini sebelum Yoga kecelakaan dulu.
Sintia dan Dinipun setuju untuk ke cafe bersama.
Di cafe, Toni yang melihat Dimas datang bersama Dini dan Sintia hanya bisa membatin.
"perang dunia lagi nggak nih?" batin Toni dalam hati.
"Aman Ton?" tanya Dimas pada Toni.
"Aman bos!"
Cafe tampak tidak terlalu penuh saat itu, namun di tangga lantai dua sudah terpasang papan bertuliskan "FULL" yang menandakan semua bangku di cafe belajar sudah penuh dengan pengunjung yang entah benar benar belajar atau hanya ingin berkumpul bersama teman temannya dengan mengatasnamakan "belajar" agar mendapat izin dari orang tua mereka.
Dini dan Sintia duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari meja pemesanan.
"Minum dulu, biar nggak tegang hehehe...." ucap Toni sambil menaruh 3 gelas minuman dan beberapa makanan ringan di meja Dini dan Sintia.
Dini dan Sintia hanya tersenyum canggung menanggapi Toni.
"Sayang, aku bantuin Toni dulu ya di belakang!" ucap Dimas pada Dini.
"Aku bantuin ya!"
"Nggak usah, kamu duduk aja di sini, temenin Sintia!"
"Oh, oke!"
Dimas sengaja membiarkan Dini dan Sintia duduk berdua untuk menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka.
Beberapa menit berlalu, Dini dan Sintia hanya duduk tanpa bersuara.
"Kak Dini marah ya sama Sintia?" tanya Sintia memulai percakapan.
"Eh, enggak kok," jawab Dini sedikit terkejut dengan pertanyaan Sintia yang tiba tiba.
"Sintia minta maaf ya kak soal waktu itu, Sintia......"
"Aku udah lupain kok!" ucap Dini memotong ucapan Sintia karena ia tidak ingin membahas hal yang membuatnya terluka lagi.
Mengingatnya saja sudah membuat hati Dini seperti terkoyak saat itu.
"Sintia minta maaf kak," ucap Sintia yang merasa bersalah.
"Nggak papa, Dimas udah cerita semua," balas Dini.
"Tapi Sintia juga harus jelasin semuanya sama kakak, biar nggak jadi beban buat Sintia."
"Ya udah, kamu jelasin apa yang mau kamu jelasin, aku dengerin," balas Dini yang terpaksa mendengarkan cerita Sintia yang akan membuat luka di hatinya kembali terasa sakit.
"Sintia udah lama suka sama kak Dimas, karena dari kecil kak Dimas yang selalu nemenin Sintia, jagain Sintia, Sintia ngerasa nyaman, Sintia pikir itu cinta, tapi semakin kak Dimas dewasa kak Dimas semakin jauhin Sintia, Sintia udah coba segala cara buat bikin kak Dimas suka sama Sintia tapi kak Dimas selalu anggap Sintia anak kecil, tapi sekarang Sintia sadar perasaan Sintia itu bukan cinta, tapi perasaan seorang adik yang merindukan kebersamaannya bersama kakak laki lakinya, sekarang Sintia tau hati Sintia buat siapa," jelas Sintia dengan senyum mengembang karena teringat Yoga.
"Kak Yoga?" tanya Dini.
Sintia mengangguk malu.
"Sintia bisa jadi temen kak Dini kan?"
"Bisa dong."
"Tapi kak Dini marah nggak kalau Sintia sama kak Dimas? tapi Sintia nggak akan peluk peluk lagi kok, Sintia juga nggak mau di peluk kak Dimas, Sintia nggak mau kak Yoga cemburu."
Dini terkekeh mendengar penjelasan Sintia yang begitu polos.
"Tapi di rumah sakit kemarin kamu mau di peluk Dimas!" balas Dini menggoda Sintia.
"Mmmm..... kalau itu.... mmm..... gimana jawabnya ya kak, kakak marah?"
"Hahaha enggak lah, tenang aja, aku kan udah tau semuanya sekarang."
"Jadi sekarang Sintia temen kak Dini ya?"
Dini mengangguk dan tersenyum.
"Peluk boleh?" tanya Sintia dengan merentangkan kedua tangannya.
"Boleh," jawab Dini tersenyum.
Sintia segera bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Dini.
"Kamu ini suka dipeluk ya?"
"Iya kak, orangtua Sintia udah meninggal dari Sintia masih kecil, jadi nggak ada yang peluk Sintia kecuali keluarga kak Dimas."
"Maaf, aku nggak bermaksud......."
"Nggak papa, Sintia nggak sedih kok, Sintia yakin mereka udah bahagia di sana."
Toni yang melihat Sintia dan Dini berpelukan segera memanggil Dimas untuk melihat kejadian langka itu.
"Akhirnya, masalah gue selesai juga Ton!" ucap Dimas pada Toni.
"Kak Dini baik banget ya bos."
"Iya dong, pilihan gue nggak pernah salah kan?"
Toni hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar kepercayaan diri bosnya itu.
Merekapun kembali sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
"Kak Dini tau nggak kalau kak Dimas dulu playboy?" tanya Sintia pada Dini.
"Enggak, emang iya ya?"
"Iya kak, kak Dimas suka gonta ganti pacar, biasanya sebulan sekali ganti, kak Dini itung aja, satu tahun udah berapa tuh mantannya kak Dimas!"
"Sebulan sekali?" pekik Dini tak percaya.
"Iya kak, paling lama mungkin 2 bulan, tapi itu jarang banget, seringnya cuma 1 bulan, terus ganti lagi!"
"Langsung dapet baru lagi?"
"Iya, kak Dimas yang sebegitu perfect siapa coba yang mau nolak, yang ada malah kak Dimas tinggal pilih pilih aja yang mana yang menarik hehehe..... "
"emang Dimas sempurna sih, cakep, pinter, baik, romantis, kaya juga, cewek mana yang nggak mau sama dia, tapi kenapa dia pilih aku? atau jangan jangan masih ada beberapa lagi selain aku?" batin Dini bertanya tanya.
"Tapi kak Dimas setia loh kak, kak Dimas nggak pernah selingkuh walaupun sering ganti pacar, semuanya diputusin baik baik, udah putus baru kak Dimas punya pacar lagi, kak Dimas juga baik banget sama mereka," jelas Sintia yang seolah tau isi pikiran Dini.
"Kamu yakin sama semua yang kamu bilang itu?"
"Yakin dong kak, Sintia itu udah mata matai kak Dimas dari lama hehehe...."
"Serius?"
"Tapi dulu aja, Sintia cuma pingin tau cewek kayak apa yang kak Dimas suka, kalau kak Dini nggak percaya tanya aja sama om Tama, om Tama itu diem diem juga perhatiin anaknya loh!"
"Emang mantan Dimas dulu gimana?"
__ADS_1
"Cantik cantik, pinter juga, nggak ada yang biasa aja, semuanya cantik, pinter!"
Dini mengangguk anggukan kepalanya mendengar penjelasan Sintia.
Tak lama kemudian Dimas datang menghampiri Dini dan Sintia.
"Udah akrab nih?"
"Udah dong, kak Dini kan baik," jawab Sintia.
"Kamu bilang tuh sama mama, biar mama tau kalau Andini baik!" ucap Sintia pada Dimas.
"Maksudnya?" tanya Sintia tak mengerti.
"Nggak usah di dengerin," ucap Dini pada Sintia.
"Kak, Sintia pulang sama Pak Adi dulu boleh ya?"
"Boleh, pulang aja biar nggak ganggu kakak hahaha....."
"Emang kakak mau ngapain?"
"Rahasia dong, anak kecil nggak boleh tau!"
"Sintia bilangin om Tama ya?"
"Bilangin aja hahaha...."
"Kita juga mau pulang kok abis ini!" ucap Dini pada Sintia.
"Hmmmm, terserah kakak aja, Sintia mau cepet cepet pulang, abis itu video call kak Yoga deh, bye!"
Dini dan Dimas hanya saling pandang melihat sikap Sintia. Dimas lega karena Sintia sekarang sudah kembali ceria.
"Pulang sekolah besok bisa ikut ke rumah sakit?" tanya Dimas pada Dini.
"Bisa, jenguk kak Yoga?"
"Lebih tepatnya jemput Yoga, dia udah bisa pulang besok!"
"Orangtuanya?"
"Om Rudi sama tante Nindi udah balik ke luar negri, ngurus bisnis."
"Secepat itu? kak Yoga kan......."
"Sssssttttttt, biar aja, itu masalah keluarga mereka," ucap Dimas memotong perkataan Dini dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Dini.
Dinipun menggigit jari telunjuk Dimas saat itu juga membuat Dimas menjerit kesakitan.
"Aaaaaaaaaaaa......" teriak Dimas membuat beberapa pengunjung cafe menoleh ke arahnya.
"Sakit Andini," ucap Dimas sambil mengibaskan tangannya berusaha mengurangi rasa sakit karena gigitan Dini.
"Buat cowok playboy digigit aja nggak cukup!" balas Dini.
"Playboy? siapa? aku?"
"Siapa lagi? ya masak Toni!"
"Sintia cerita apa aja sama kamu?"
"Semuanya, nggak cuma Sintia, mamanya kak Yoga tadi kan juga bilang, palingan sebulan lagi ganti," balas Dini dengan memanyunkan bibirnya.
"Hahaha, kamu cemburu?"
"Itu kan dulu sayang, sekarang kan aku cuma sama kamu," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini di atas meja.
"Siapa tau di belakang aku kamu......."
"Apa aku cowok yang kayak gitu?"
"Aku kan nggak tau Dim, mana ada cewek yang nggak mau sama kamu, kalau kamu bosan sama aku kamu tinggal pilih cewek cewek yang udah antri di belakang aku."
"Tapi aku maunya sama kamu, gimana dong?"
"Maunya sama aku kok sebulan sekali ganti pacar!"
"Ya ampun sayang, itu dulu sebelum aku punya kamu, sekarang aku kan udah punya kamu, aku udah nggak butuh yang lain lagi."
"Bener?"
"Kamu mau bukti apa dari aku?"
Dini menggeleng pelan dengan bibirnya yang masih manyun, membuat Dimas gemas dan ingin melahap bibir mungil itu.
"Jangan manyun gitu dong, senyum!"
"Kalau dibandingin sama semua mantan kamu, pasti aku nggak ada apa apanya, iya kan?"
"Kebalik, justru mereka semua nggak ada apa apanya dibanding kamu, kamu udah jadi pemilik hati aku Andini, kamu masa depan aku, sedangkan mereka cuma tempat bersinggah buat aku."
Dini hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Dimas.
"Jangan senyum kayak gitu, aku dari tadi udah nahan buat gigit bibir kamu!" ucap Dimas dengan menatap tajam mata Dini.
Dini terdiam seketika dan segera melepaskan tangannya dari genggaman Dimas lalu menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Hahaha, kenapa?" tanya Dimas dengan tertawa melihat tingkah Dini.
Dini menggeleng dengan masih menutup mulutnya.
"Kamu takut? tapi suka kan?"
"Kamu udah biasa kayak gitu ya!"
"Itu pertanyaan apa tuduhan sih? kok kayak tuduhan gitu."
"Dua duanya!"
"Hahaha, enggaklah sayang, kamu pikir aku cowok kayak gitu?"
"Mantan kamu aja banyak, kalau dikumpulin satu cafe ini nggak akan muat!"
"Kamu yang pertama," ucap Dimas pelan dengan senyum nakalnya.
"Nggak percaya!"
"Beneran, mantan aku emang banyak, tapi aku cuma jalan aja sama mereka, jalan, makan, nonton, pegang tangan aja jarang, itu kenapa mereka mau mau aja putus karena mereka ngerasa kalau aku nggak serius sama mereka."
"Beneran?"
"Aku harus gimana biar kamu percaya, mau aku praktekin lagi biar kamu tau kalau aku masih pemula hehehe......"
"Dasar modus!"
"Tapi suka kan?"
__ADS_1
"Apaan sih Dim, udah ah ayo pulang!"
"Jangan cemberut lagi dong, aku gigit nih bibirnya!"
Dinipun berlari keluar dari cafe, meninggalkan Dimas.
Dimas hanya tertawa puas melihat Dini yang salah tingkah seperti itu.
"Ton, gue balik dulu ya!" pamit Dimas pada Toni.
"Hati hati bos!"
Dimaspun menyusul Dini yang sudah lebih dulu keluar.
"Pak Adi belum balik ya?" tanya Dimas pada Dini.
"Mau naik bis nggak?"
"Sekarang?"
"Iya, mau nggak?"
"Ayo, siapa takut!"
Dimas dan Dinipun menuju ke halte bus yang berada di sebrang cafe.
Tak lama kemudian, bus yang hendak dinaiki pun tiba. Dimas dan Dini segera bersiap untuk naik.
"Tunggu, rame banget sayang!" ucap Dimas dengan menahan tangan Dini.
"Ya emang gini Dim, ayo naik!"
"Tunggu sepi aja ya!" balas Dimas dengan masih menahan tangan Dini agar tidak menaiki bus yang terlihat penuh sesak itu.
"Naik nggak?" tanya kondektur bus.
"Nggak dulu bang, sorry!" jawab Dimas.
"Loh, kok nggak jadi sih, tuh kan jadi ditinggal!"
"Penuh sayang, abis ini kan ada lagi yang lewat barangkali nggak sepenuh itu!"
"Iya ada yang lewat, tapi jurusan lain, bukan ke rumah ku!"
"Ya kita tunggu yang ke rumah kamu!"
"Ya itu tadi Dim, gimana sih!" balas Dini kesal.
"Itu tadi penuh Andini, kamu mau duduk dimana? mending nunggu yang baru!"
"Nggak gitu caranya Diimaaaaassss, iiihhh nyebelin banget sih!"
"Nyebelin sebelah mananya sih, kamu liat kan tadi ada yang berdiri!"
"Tau' ah!"
"Jangan marah lagi dong!"
Dini hanya diam dengan bibir mengerucut karena kesal.
"Kamu lagi dapet ya!"
"Maksud kamu?"
"Kamu hari ini sensitif banget, biasanya kalau lagi sensitif gini lagi ada tamu bulanan, iya kan?"
"Pengalaman kamu banyak juga ya, oh iya, mantan kamu kan banyak, sebulan sekali ganti," balas Dini dengan tersenyum sinis.
"Tuh kan, mulai lagi!"
"Bener kan?"
"Aku tau dari mama, tiap mama ada tamu bulanan bawaanya marah marah mulu, ngomel mulu kayak kamu sekarang hehehe!"
Dini memukul lengan Dimas dengan kencang membuat Dimas mengaduh kesakitan.
"Dimas, aku mau tanya sesuatu deh sama kamu!"
"Tanya apa?"
"Kamu lebih deket sama siapa, mama atau papa kamu?"
"Mmmm, dua duanya deket, kenapa tiba tiba tanyain itu?"
"Nggak papa, tapi biasanya kan ada yang lebih condong ke salah satu."
"Aku deket sama mama papa sih, kayaknya hehehe!"
"Kok kayaknya, kamu suka curhat masalah pribadi kamu sama siapa?"
"Dua duanya, aku selalu curhat sama mama papa, soal apapun!"
"Barangkali ada hal hal yang kamu cerita ke om Tama tapi nggak cerita ke tante Angel, atau sebaliknya!"
"Mmmm, iya sih, ada."
"Tuh kan, jadi?"
"Aku lebih deket sama papa, aku ceritain semuanya ke papa."
"Semuanya?"
"Iya, semuanya, kenapa sih?"
"Om Tama kemarin bilang kalau kamu udah cerita semuanya sama om Tama, emang kamu cerita apa aja?"
"Banyak sayang, termasuk soal hubungan kamu sama mama."
"Selain itu?"
"Mmmm, apa lagi ya?"
"Kamu nggak cerita soal itu kan?" tanya Dini dengan menaikkan bola matanya, seolah memberikan gambaran isi pikirannya.
"Hehehe, soal itu yaa," jawab Dimas terkekeh.
"Jangan bilang kalau kamu........"
"Tenang aja, papa dukung kita kok!"
"Tetep aja Dim, mau ditaruh dimana muka ku kalau ketemu om Tama?"
"Taruh di sini aja, mau ditaruh mana lagi," jawab Dimas tanpa merasa bersalah.
"Diiiiimaaaassssss!!"
"Hahaha ya gimana lagi dong hahaha....."
__ADS_1
Merekapun tertawa bersama di halte sampai Pak Adi datang menjemput mereka.