Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Bom Waktu Aktif


__ADS_3

Malam semakin pekat dengan gelap. Dini dan Dimas baru saja sampai di tempat kos. Seperti biasa, Dimas ikut turun bersama Dini untuk menyapa Andi yang tampak duduk di teras bersama Nico.


"Waaahhh, cantik banget Din, dari mana aja nih?" puji Nico sekaligus bertanya.


"Abis makan malem sama keluarga Dimas," jawab Dini lalu duduk di sebelah Andi.


"Ngerjain apa sih, serius banget?" tanya Dini pada Andi yang bahkan belum menoleh ke arahnya sama sekali sejak ia datang.


"Tugas Din, deadline nya besok," jawab Andi tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Gimana luka lo?" tanya Dimas pada Andi, membuat Andi dengan cepat bersiaga jika tiba tiba Dimas memukulnya lagi.


"Lo jangan rese' deh Dim, gue lagi serius nih!"


"Hahaha.... ya udah gue balik dulu kalau gitu!" balas Dimas.


"Mau langsung pulang?" tanya Dini pada Dimas.


"Iya sayang, kamu jangan tidur terlalu malem ya, aku pulang dulu," ucap Dimas sambil memeluk Dini dan mencium keningnya.


"Hati hati ya," balas Dini.


Dimas mengangguk lalu pergi meninggalkan Dini, Andi dan Nico.


"Gue masuk dulu deh, ngantuk banget," ucap Nico lalu masuk ke dalam kamarnya, membiarkan Dini dan Andi berdua di teras.


"Aletta mana Ndi?" tanya Dini.


"Udah tidur kayaknya, banyak kegiatan kampus katanya tadi," jawab Andi.


"Luka kamu gimana? udah baikan?"


Andi mengangguk.


"Iya, berkat pukulan pacar kamu tuh!"


"Aku seneng liat kalian berdua akrab."


"Kenapa?"


"Nggak tau, seneng aja," jawab Dini lalu duduk dengan bersandarkan punggung Andi.


"Ndi, aku bingung," ucap Dini dengan memandang hamparan bintang yang tersebar di kegelapan langit.


"Bingung kenapa Din?" tanya Andi dengan jari jari yang masih sibuk menari di atas keyboard laptop nya.


"Mama sama papanya Dimas mau aku cepet nikah sama Dimas," jawab Dini yang membuat Andi langsung menghentikan ketikannya.


"Bagus dong," jawab Andi dengan berusaha untuk tersenyum. Ia menekan kuat hatinya yang terasa sakit.


Seketika, pikirannya kacau. Ia tidak bisa melanjutkan mengerjakan tugasnya lagi. Ada setitik ketakutan dalam hatinya, takut jika ia akan benar benar kehilangan Dini. Namun ia berusaha menyadarkan hatinya bahwa kebahagiaan Dini adalah yang utama baginya.


"Aku belum siap Ndi, ada banyak hal yang bikin aku nggak siap!"


"Kamu pikirin baik baik Din, aku yakin Dimas yang terbaik buat kamu," ucap Andi.


"Iya, tapi apa takdir juga sependapat sama kamu?"


"Kita nggak pernah tau takdir kita seperti apa nantinya, kita cuma bisa jalanin apa yang menurut kita baik di hadapan kita sekarang," jawab Andi.


"Aku masuk kamar dulu ya Ndi, ngantuk!" ucap Dini lalu berdiri dari duduknya.


Andi hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah Dini pergi, Andi mencoba untuk kembali fokus pada tugasnya namun ternyata tidak bisa. Ucapan Dini membuatnya kehilangan fokus untuk belajar.


"menikah? itu artinya kamu miliknya sepenuhnya, apa aku siap kehilangan kamu? apa aku bisa lewati semua hariku tanpa kamu? aaarggghhh enggak, aku nggak bisa kayak gini, jangan egois Ndi, jangan!"


**


Di tempat lain Anita sedang berada di sebuah restoran bersama Ivan. Ivan memberikan sebuah tas mewah pada Anita.


"Kenapa tiba tiba kasih tas?" tanya Anita.


"Anggap ini sebagai bentuk permintaan maaf ku," jawab Ivan.


"Aku nggak ngerti sama kamu, sekarang kamu baik banget sama aku, besok pagi kamu bisa tiba tiba berubah gitu aja, aku salah apa sih sama kamu?"


"Nggak ada yang salah sama kamu Anita, aku minta maaf," jawab Ivan dengan menarik tangan Anita ke dalam genggamannya, namun Anita menolak.


Tiba tiba Ivan melihat seseorang yang ia kenal memasuki restoran itu. Seseorang itu tampak mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Ikut aku!" ajak Ivan dengan menarik tangan Anita.


"Kemana?"

__ADS_1


"Udah ikut aja, buruan!"


Karena tidak ingin terjadi keributan, Anita menurut saja ketika Ivan menarik tangannya. Ivan mengajak Anita untuk keluar dari restoran dan menghentikan taksi yang baru saja melewati mereka.


"Kenapa kita naik taksi? mobil kamu gimana?" tanya Anita yang tidak mengerti dengan sikap Ivan.


"Gampang, bisa aku ambil nanti," jawab Ivan dengan berkali kali melihat ke arah belakang.


"Kamu kenapa sih? kamu menghindar dari seseorang?" tanya Anita yang melihat Ivan tampak panik.


Ivan tak menjawab, ia segera menonaktifkan ponselnya, mengambil sim card nya dan merusaknya lalu membuangnya.


"Ivan, kamu kenapa sih?"


"Nggak papa, aku cuma...."


"Kamu dikejar orang?"


"Aku anter kamu ke apartemen, lain kali kita makan malam lagi, oke?"


"Ivan jawab pertanyaanku, kamu kenapa? ada apa?"


"Nggak ada apa apa sayang," jawab Ivan yang masih berbohong pada Anita.


Sesampainya di apartemen Anita, Ivan memastikan Anita masuk terlebih dahulu.


"Anita dengerin aku baik baik ya dan jangan banyak tanya, kalau ada yang mencet bel, kamu pastiin dulu kalau kamu kenal sama orangnya, kalau kamu nggak kenal kamu nggak perlu buka, ngerti?"


"Kenapa aku....."


"Nit, jangan banyak tanya, lakuin aja apa yang aku minta, jangan bukain pintu buat orang yang enggak kamu kenal oke?"


"Oke," jawab Anita menyerah. Sampai kapan pun ia bertanya, ia tak akan mendapatkan jawaban apapun dari Ivan.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya, jangan lupa kunci pintu!"


Anita mengangguk, membiarkan Ivan pergi lalu mengunci pintunya.


Setelah Ivan pergi, Anita menyalakan televisi dan menonton acara favoritnya. Ketika ia akan minum, ia baru menyadari jika kulkasnya kosong.


Anitapun keluar dari apartemen untuk membeli minum dan beberapa makanan ringan di mini market. Setelah selesai membeli minum dan makanan ringan, Anita segera kembali ke apartemennya. Ia memilih jalan yang berbeda dengan ketika ia berangkat. Ia sengaja melakukan hal itu untuk mencari suasana baru baginya.


Tepat di sudut kegelapan, ia melihat mobil yang ia kenal. Ia pun segera menghampiri mobil itu.


"Ivan, kamu kenapa?" tanya Anita yang melihat wajah Ivan penuh dengan luka lebam dan keningnya yang berdarah.


"Aku dari mini market, kamu kenapa? abis berantem?"


"Biasa, cowok," jawab Ivan yang masih menyembunyikan sesuatu dari Anita.


"Ayo ke apartemen, aku obatin luka kamu!"


Ivan menurut, dengan menggunakan mobilnya, ia mengantar Anita ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Anita segera membersihkan dan mengobati luka Ivan dengan telaten.


"Kamu jujur deh sama aku, kamu lagi ada masalah sama orang?" tanya Anita yang masih penasaran.


"Enggak kok, cuma salah paham aja," jawab Ivan.


"Sikap kamu aneh dari tadi, kamu....."


"ANITA STOP!" ucap Ivan dengan nada tinggi.


"Apa? kamu mau nampar aku lagi? nih tampar!" balas Anita dengan menepuk nepuk pipinya sendiri.


"Nggak di rumah nggak di sini aku selalu dapet tamparan dari laki laki, kamu sama papa sama aja!" lanjut Anita lalu berdiri masuk ke kamarnya dan meninggalkan Ivan.


Ivan diam beberapa saat untuk mencerna dengan baik ucapan Anita. Ia ingat pertemuannya dengan Dokter Dewi beberapa hari yang lalu. Ucapan Dokter Dewi mengisyaratkan seolah papa Anita yang telah melakukan kekerasan pada Anita dan ucapan Anita baru saja seolah menguatkan isyarat itu.


Ivan lalu masuk ke kamar Anita dan menghampiri Anita yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Ivan lalu mengambil sisir yang dipegang Anita dan menyisir rambut Anita.


"Apa papa kamu sering kayak gitu?" tanya Ivan pada Anita.


Anita hanya diam, matanya menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong. Hatinya terasa sakit mengingat bagaimana sikap sang papa padanya.


Ia merindukan mamanya, ia merindukan kehangatan kasih sayang keluarga, ia merindukan mama dan papa yang begitu menyayanginya seperti dulu.


Tak terasa air matanya menetes. Ivan yang melihat hal itu dengan pelan memutar kursi Anita agar menghadap ke arahnya.


"Aku minta maaf," ucap Ivan dengan menghapus air mata Anita. Entah mendapat dorongan dari mana, ia menarik Anita ke dalam pelukannya.


Anita terisak dalam pelukan Ivan, hatinya terasa perih. Rasa rindu itu menyiksanya, sangat menyiksanya. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada merindukan seseorang yang bahkan tak akan pernah kita lihat lagi seumur hidup kita.


Ivan lalu melepaskan Anita dari pelukannya dan berjongkok di depan Anita.


"Aku harus gimana biar kamu nggak sedih lagi?" tanya Ivan dengan menghapus air mata Anita.

__ADS_1


Anita hanya menggeleng tanpa suara.


"Apa kamu mau Dimas ke sini?"


"Emang bisa?"


"Kamu yang bilang sama aku kalau dia mudah luluh sama air mata kamu, iya kan?"


Anita mengangguk cepat. Ia lalu segera mencari ponselnya untuk menghubungi Dimas.


Hanya butuh satu kali panggilan Dimas langsung menerima panggilan Anita.


"Kamu dimana?" tanya Anita dengan suara serak karena menangis.


"Di jalan, kamu kenapa?"


"Aku kangen sama mama, aku pingin ketemu mama," jawab Anita dengan terisak.


"Aku ke apartemen kamu sekarang, tunggu aku!" balas Dimas lalu mematikan sambungan ponselnya.


Mengetahui Dimas yang akan segera datang, Ivan lalu bersiap untuk keluar dari apartemen Anita.


"Aku pulang dulu ya, kalau ada apa apa hubungin aku!" ucap Ivan sebelum ia membuka pintu.


Dengan cepat Anita menarik tangan Ivan dan mencium pipinya.


"Makasih," ucap Anita membuat Ivan seakan membeku seketika.


Ivan sudah dekat dengan banyak perempuan sebelumnya. Tak hanya menjadi partner kerjanya, Ivan bahkan sudah sering berhubungan layaknya seorang suami istri pada banyak perempuan yang dekat dengannya. Namun entah kenapa, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari Anita.


Sejak pertama ia mengenal Anita, ia ingin berada dekat dengannya. Meski niatnya tak seratus persen baik, tapi ia sangat menjaga dirinya untuk tidak melakukan hal yang terlalu jauh pada Anita. Ada sisi lain dari dirinya yang ingin melindungi Anita.


"Sana pergi!" ucap Anita dengan mendorong tubuh Ivan, membuat Ivan segera tersadar dari lamunannya.


Ivan keluar dari apartemen Anita, namun ia masih berada di tempat parkir. Ia mengambil laptopnya dan mulai menjalankan aksinya.


Tak lama kemudian Dimas datang dan masuk ke dalam apartemen Anita. Melihat Dimas datang, Anita segera menghambur ke dalam pelukan Dimas. Ia menangis dalam pelukan Dimas. Tak ada cara lain bagi Dimas selain membalas pelukan Anita dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Anita.


Dimas lalu membawa Anita duduk di sofa. Ia memberikan satu botol minuman coklat pada Anita.


"Kamu mau tinggal di sini sampe' kapan Anita? kamu nggak mau pulang?"


Anita menggeleng.


"Nggak ada alasan buat aku balik ke sana Dimas, aku tetep nggak bisa balikin mama, aku tetep nggak bisa ketemu mama," jawab Anita dengan terisak.


"Mama kamu udah tenang di surga Nit, aku yakin mama kamu pasti sedih kalau liat kamu kayak gini, kamu harus bahagia, kamu harus lanjutin hidup kamu dengan baik, demi mama kamu," ucap Dimas dengan menarik Anita ke dalam pelukannya.


Dimas tau apa yang ia lakukan saat itu bisa menyakiti Dini, tapi ia tidak tega jika harus membiarkan Anita bersedih karena merindukan mamanya.


Selama ini Dimas tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mereka selalu menyayangi Dimas dan memberikan semua yang terbaik untuk Dimas, membuat Dimas tumbuh menjadi sosok yang sangat penyayang dan peduli pada orang lain.


Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Anita yang sudah kehilangan mamanya selamanya. Papa yang menjadi satu satunya sosok orangtua baginya malah memperlakukannya dengan kasar. Sikap keras kepala dari keduanya membuat pertengkaran sering terjadi dan berakhir dengan tamparan yang selalu Anita dapatkan.


Di sisi lain, Ivan sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia lalu mengirim sebuah video dan foto pada nomor yang sudah di hafalnya dengan baik, karena ia harus mengirimnya menggunakan nomor yang berbeda dari sebelumnya.


Kini ia hanya tinggal menunggu bom waktu yang mulai menghitung mundur dan siap untuk meledak, memporak porandakan semua hati dan cinta yang diagung agungkan oleh mereka yang saling mencintai.


Ivan tersenyum puas lalu menutup laptopnya dan meninggalkan area parkir.


**


Di tempat lain, Dini yang hendak memejamkan matanya kembali terbangun karena mendengar sebuah pesan masuk dari ponselnya. Karena sudah sangat mengantuk, Dini tidak memperhatikan siapa pengirim pesan itu, ia langsung membukanya begitu saja dan begitu terkejut melihat sebuah video yang ia putar di ponselnya.


Sebuah video kemesraan seorang laki laki yang dicintainya dengan gadis yang pernah menjadi temannya.


Sangat jelas terlihat dalam video itu jika Dimas tak menunjukkan sikap ketidaksukaannya pada Anita. Dimas justru terlihat sangat peduli pada Anita dan tentu saja itu membuat Dini meradang.


Ia sengaja tidak menghapus video dah foto yang ia lihat agar ia bisa menunjukkannya pada Dimas. Ia butuh penjelasan, ia akan mendengarkan apapun yang akan Dimas jelaskan padanya.


Meski hatinya begitu sakit, ia berusaha untuk tetap percaya pada Dimas.


**


Jauh di tempat lain, Yoga sedang berada di sebuah tempat kos kecil. Setelah lelah dengan semua aktivitasnya beberapa hari itu ia segera menghubungi seseorang.


"Halo om, Yoga udah tau siapa pelaku sebenernya," ucap Yoga ketika seseorang sudah menerima panggilannya.


"Siapa Ga?"


"Dia biasa dipanggil Mr V, Yoga udah kirim identitas lengkapnya lewat email om, tapi Yoga masih belum tau apa motifnya yang sebenernya," jelas Yoga.


"Kerja bagus, kalau kamu udah selesai, om siapkan tiket untuk kamu pulang!"


"Terima kasih banyak om, Yoga udah siap pulang besok pagi!"

__ADS_1


Setelah mematikan sambungan ponselnya, Yoga segera terlelap, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis mungil yang sangat dirindukannya.


__ADS_2