Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kembali Bangkit


__ADS_3

Andi masih berada di depan kamar kosnya, menunggu Dini atau setidaknya Nico yang menghubunginya.


Di tempat lain, Nico meminta body guard nya untuk melacak posisi mobil Dika. Ya, Nico memiliki 2 orang body guard yang dipekerjakan oleh orangtuanya untuknya. Dulu dia sering bersama mereka, tapi setelah ia kuliah ia lebih suka sendirian dan hanya memanggil mereka jika ada keperluan mendesak seperti saat ini.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah mengetahui dimana posisi mobil Dika saat itu. Nico dan 2 orang body guard nya segera meluncur ke sana. Nico sedikit ragu, karena arah yang akan mereka tuju adalah kantor polisi di daerah pinggiran kota.


Sesampainya di sana, keraguan Nico terjawab. Polisi menjelaskan apa yang terjadi pada Dika tanpa memberi tahu identitas Dini, Dimas dan Yoga.


Meski polisi itu tidak memberi tahu identitas Dini, ia yakin jika perempuan yang dimaksud oleh polisi adalah Dini, namun ia tidak tau siapa 2 orang laki laki lain yang di maksud oleh polisi. Itu tidak penting pikirnya, sekarang ia harus bisa menemukan Dini karena polisi tidak memberi tahu keberadaan Dini sekarang.


Lagi lagi, tak sampai 30 menit para body guardnya sudah bisa menemukan keberadaan Dini, mereka segera menuju ke tempat itu, sebuah rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Nico mendapati Dini yang masih berada di ruang ICU, kondisinya sangat memprihatinkan, banyak luka di tubuhnya dan Dokter juga menjelaskan jika ia sempat kritis dan hampir tak terlolong karena kehabisan banyak darah.


Ia pun memutuskan untuk memindahkan Dini ke rumah sakit ibu kota agar Andi bisa dengan mudah menjenguknya. Beruntung, pihak rumah sakit tidak mempersulit niatnya itu.


Jam 9 malam, Dini sudah berada di rumah sakit ibu kota. Meski Dini masih belum sadar, tapi keadaannya sudah membaik, ia sudah melewati masa kritisnya. Setelah memastikan jika Dini sudah aman, Nico meninggalkan 2 body guardnya untuk menjaga Dini. Nico berpesan pada mereka untuk melarang siapapun menjenguk Dini kecuali dirinya sendiri dan Andi.


Nico pun kembali ke tempat kosnya dengan lega. Ia melihat Andi yang masih duduk di depan kamarnya dengan masih memakai tas ranselnya, itu berarti Andi belum beranjak sama sekali dari posisi duduknya.


"andai lo tau seberapa besar cinta Andi buat lo Din, apa lo masih Tetep berharap sama masa lalu lo?"


Nico berjalan ke arah Andi dengan senyum mengembang.


"Gimana Nic?" tanya Andi sudah tak sabar.


"Gue udah ketemu Dini, dia aman sekarang!"


"Kenapa lo nggak ajak dia pulang?" tanya Andi yang mulai memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang terjadi.


Setelah membaca buku catatan Dika, bukan tidak mungkin jika Dika akan melukai Dini, mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Bela dan Anita yang ia jelaskan dalam buku catatannya.


"Mmmmm, Dini di rumah sakit, tapi tenang aja dia baik baik aja, dia......"


"Gue harus ke sana!" ucap Andi lalu beranjak dari duduknya tapi Nico menahannya.


"Besok aja Ndi, besok lo......"


"Kenapa harus besok Nic, gue mau liat keadaan Dini sekarang, apa yang udah Dika lakuin sampe' Dini di rumah sakit sekarang, gue takut Nic, gue...... "


"Tenang Ndi, Dini baik baik aja!"


"Gimana gue bisa tenang, lo tau sendiri gimana Dika yang sebenarnya kan?"


"Iya gue tau, gue akan jelasin semuanya, lo tenang dulu, dengerin gue!"


Andi pun kembali duduk.


"Dini sekarang di rumah sakit, gue udah minta body guard gue buat jagain dia dan ngelarang siapapun buat jenguk dia, kecuali gue sama lo dan soal Dika, lo nggak perlu khawatir lagi soal itu, dia udah pergi buat selamanya, nggak akan ada lagi Dika si psikopat yang akan ganggu Dini!" ucap Nico menjelaskan.


"Maksud lo, Dika........"


Nico mengangguk.


"Iya, polisi bilang dia jatuhin dirinya sendiri dari lantai 3 dan meninggal saat itu juga karena tubuhnya menancap pada besi berkarat bekas tiang lampu taman, hiii ngeri," lanjut Nico dengan bergidik ngeri membayangkan kejadian itu.


"Itu balasan yang setimpal buat dia!"


Nico mengangguk lagi.


"Thanks ya Nic, gue nggak tau gimana caranya balas kebaikan lo!"


"Lo mau balas kebaikan gue?"


"Iya, kalau gue bisa gue pasti lakuin apa yang lo minta dari gue!"


"Kalau gitu, bawain gue masakan nyokap lo tiap lo pulang ke rumah, hahaha.... gimana?"


"Serius?"


"Iya serius, itu kalau lo nggak keberatan, lagian gue juga tulus bantuin lo, gue nggak pamrih tenang aja!"


"Gue pasti minta ibu buat masak yang banyak buat gue bawa ke sini Nic!"


Mereka pun tertawa berdua. Andi lega jika akhirnya Dini baik baik saja. Meski ia belum bisa melihat keadaan Dini saat itu, setidaknya Nico sudah memberi tahunya jika Dini baik baik saja dan aman di rumah sakit bersama para body guardnya.

__ADS_1


Malam itu, Andi tak bisa tertidur dengan nyenyak. Bayangan kengerian yang dilakukan Dika masih terbayang di ingatannya. Ia takut jika Dini akan mengalami hal yang sama seperti mama dan pacar Dika sebelumnya.


*********


Di rumah Dimas,


Dimas masih terbaring di atas tempat tidurnya, matanya tak ingin terpejam sedikitpun. Ia mengunci pintu kamarnya rapat rapat, ia tidak ingin bertemu siapapun saat itu.


Hatinya kini terasa mati. Semua cinta yang dimilikinya telah pergi. Ia melangkah turun dari tempat tidurnya, membuka pintu kamarnya dan berjalan ke arah dapur. Ia mengambil pisau dan.....


"Kakak, mau ngapain?" tanya Sintia yang baru saja keluar kamar untuk mengambil minum.


Dimas hanya diam dengan pisau yang masih ada di tangannya.


"Mau buah? sini Sintia kupasin!" ucap Sintia sambil merebut pisau dari tangan Dimas, lalu mengambil apel dari dalam kulkas dan duduk di meja dapur dengan mengupas apel, lalu memberikannya pada Dimas.


Dimas hanya diam, dia duduk di kursi depan Sintia dan menerima apel dari tangan Sintia lalu memakannya. Beberapa menit berlalu, Dimas hanya diam dengan masih mengunyah potongan apel dari Sintia.


Sintia sudah tidak tahan dengan keheningan itu, iapun mencoba untuk mencairkan suasana.


"Kak, kakak inget nggak dulu Sintia bucin banget sama kakak, Sintia sampe' minta pindah sekolah biar bisa deket sama kakak, eh sekarang ternyata malah Sintia bucin sama kak Yoga," ucap Sintia pada Dimas.


Dimas ingat, ia sangat ingat bagaimana kejadian waktu Dini memergokinya yang sedang berdua dengan Sintia di kafe, Dini begitu marah dan kecewa saat itu namun akhirnya ia berhasil membuat Dini kembali melunak. Ia tersenyum kecil mengingat betapa mereka dulu sering bertengkar dan berakhir dengan bersama lagi.


Namun kali ini berbeda, ia merasa akan sangat sulit untuknya bisa kembali lagi bersama Dini.


"Kak, kakak itu orang paling beruntung di dunia, tau kenapa?"


Dimas menggeleng pelan.


"Kakak punya Sintia yang selalu sayang sama kakak, tapi maaf ya kak cinta Sintia cuma buat kak Yoga hehehe....."


Dimas tersenyum tipis mendengar ucapan Sintia. Ia ingat bagaimana terpuruknya Sintia ketika Yoga koma di rumah sakit. Sintia yang selalu ceria tiba tiba menjadi sangat berbeda, Sintia menjadi sangat pendiam dan bahkan sudah lupa cara untuk tersenyum.


"Kakak juga punya kak Yoga yang selalu dukung kakak, ada kak Toni yang tulus sama kakak, Sintia, kak Yoga sama kak Toni udah kayak keluarga buat kakak, kita keluarga tanpa ikatan darah dan yang paling penting, kakak punya tante Angel dan om Tama yang selalu sayang sama kakak, mereka orangtua yang baik, sangat baik, Sintia iri sama kakak," ucap Sintia mulai sedih, ia menundukkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Dimas.


"Kakak punya orangtua lengkap yang sayang banget sama kakak, kakak selalu jadi yang utama buat mereka, walaupun mereka sibuk, mereka tetep curahin kasih sayangnya buat kakak, beda sama Sintia dan kak Yoga, orangtua kak Yoga selalu sibuk dan nggak pernah ada waktu untuk kak Yoga, bagi mereka pekerjaan adalah yang utama, kalau Sintia......"


"Sintia bahkan nggak bisa liat mama sama papa lagi, Sintia cuma bisa liat foto mereka, tiap malem Sintia cuma bisa berharap akan bisa peluk mama sama papa walaupun cuma dalam mimpi, Sintia tumbuh dan besar tanpa mama dan papa, Sintia nggak bisa cerita apa apa sama mama atau papa, Sintia selalu pendam sendiri apa yang Sintia rasain, Sintia........"


Air matanya menetes, Sintia menduduk dengan masih memegang apel dan pisau di tangannya. Ia merindukan mama dan papanya. Hatinya terasa sakit jika mengingat hal mengerikan yang sudah ia alami bersama kedua orangtuanya, hal mengerikan yang membuatnya harus kehilangan sandaran hidupnya.


Dimas berdiri dari duduknya, mengambil apel dan pisau dari tangan Sintia dan meletakkannya di meja lalu memeluk Sintia dengan erat.


Sintia semakin terisak dalam pelukan Dimas, membuat Dimas merasakan kesedihan yang Sintia rasakan.


"Kamu udah punya keluarga Sin, kakak, mama dan papa, kita keluarga kamu," ucap Dimas pelan dengan mengusap lembut rambut Sintia.


Sintia masih menangis dalam pelukan Dimas. Dimas membiarkannya menumpahkan semua kesedihannya. Ia harap ini yang terakhir kalinya Sintia bersedih, nyatanya kehilangan orangtua memang sangat menyakitkan.


Dimas merasa bersalah karena sudah mengikuti emosinya tadi. Ia akan meminta maaf pada mama dan papanya. Ia ingat, mereka adalah orang tua yang terbaik baginya, mereka sangat percaya pada Dimas, mereka selalu mencurahkan semua kasih dan sayangnya pada Dimas, bahkan seluruh hidup mereka pun akan mereka berikan pada anak semata wayang mereka.


Dimas melepaskan pelukannya ketika Sintia sudah lebih tenang.


"Jangan sedih lagi oke?"


Sintia mengangguk dengan senyum mengembang.


"Kakak mau apel lagi?"


"Udah malem, kamu tidur aja!"


"Kakak?"


"Kakak juga mau tidur!"


"Ya udah, Sintia duluan ya kak!"


Dimas mengangguk lalu meninggalkan dapur dan kembali ke dalam kamarnya.


Ia tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Dini masih ada di sini, ia akan kembali memperjuangkan Dini. Ia akan berusaha lebih keras mulai sekarang, ia akan bermain cantik dan membuat Anita pelan pelan melepaskannya.


Esok paginya.

__ADS_1


Dimas keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Mama dan papa Dimas yang baru keluar dari kamar begitu terkejut melihat Dimas yang sudah duduk di meja makan dengan senyum yang mengembang.


"Ma, pa, Dimas minta maaf soal kemarin, Dimas....."


"Sayang, kamu nggak perlu minta maaf, mama sama papa yang harusnya minta maaf, maaf karena kita belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu," ucap mama Dimas dengan duduk di sebelah Dimas dan menggenggam tangannya.


"Enggak ma, mama sama papa orangtua yang terbaik buat Dimas, Dimas sayang kalian," ucap Dimas diikuti pelukan dari mama dan papa pada Dimas.


Sintia yang melihat itu dari ujung ruang makan hanya bisa tersenyum tipis.


"kakak beruntung,"


Dimas yang menyadari kehadiran Sintia segera memanggil Sintia. Sintia pun melangkah ke arah keluarga bahagia itu dan disambut pelukan hangat oleh semuanya. Sintia merasa sangat bahagia, ia benar benar merasakan hangatnya keluarga di rumah itu.


Setelah drama pagi selesai, mereka segera melajutkan sarapan.


"Ma, pa, Dimas mau kuliah," ucap Dimas membuat mama dan papanya sedikit terkejut lalu tersenyum.


"Kamu mau kuliah dimana sayang?"


"Di universitas X ma, Dimas mau ke sana nanti, liat liat kampusnya dulu, papa bisa bantu siapin berkas pendaftarannya?"


"Pasti, papa akan siapin semuanya, besok pasti beres!"


"Makasih pa!"


"Kakak kenapa kuliah di sana? di sini kan ada kampus juga, itu terlalu jauh tau'!"


"Ada yang harus kakak perjuangan di sana," jawab Dimas setengah berbisik, namun mama dan papanya masih bisa mendengar dengan jelas.


Mereka hanya saling memandang mendengar jawaban Dimas.


Setelah sarapan selesai, mereka memulai kesibukan masing masing. Mama dan papa Dimas berangkat ke kantor, Sintia berangkat sekolah dan Dimas berangkat kampus.


Dimas menghubungi Yoga, memintanya untuk menemaninya namun Yoga tidak bisa, dia masih sibuk dengan skripsinya.


Baru saja ia sampai di kampus, ada panggilan dari Anita. Dengan malas ia menerima panggilan itu.


"Halo, ada apa Nit?"


"Kamu di mana, bisa jemput aku?"


"Maaf Nit, aku nggak bisa, ada hal penting yang harus aku lakuin!"


"Apa aku nggak lebih penting buat kamu?"


"ya, kamu sama sekali nggak penting buat aku," jawab Dimas dalam hati.


"Share lokasi kamu, aku akan ke sana!" lanjut Anita lalu menutup panggilannya.


Dimas mengabaikannya lalu mematikan ponselnya. Ia tidak ingin terganggu dengan makhluk seperti Anita.


Di sisi lain, Anita yang sedang bersiap siap dikagetkan dengan suara yang sangat ia kenal. Suara papanya dengan seorang wanita. Ia pun keluar dari kamarnya, berusaha untuk mengabaikan papanya.


"Anita, kamu pulang? libur?" tanya Pak Sonny yang melihat Anita keluar dari kamarnya.


"Anita udah nggak balik ke sana!" jawab Anita enteng.


"Anita berhenti kuliah," lanjut Anita.


"Kenapa? bukannya kita udah bikin kesepakatan? papa juga udah kasih semua yang kamu mau buat bisa hidup layak di sana!"


"Anita bosen, Anita nggak suka tinggal di sana, Anita......"


PLAAAAKKKK


Satu tamparan keras mendarat di pipi Anita. Anita meringis memegangi pipinya yang terasa sakit.


"Anak nggak tau diuntung kamu, kamu pikir kamu bisa seenaknya sendiri? kamu sudah dewasa Anita, jangan bertingkah seperti anak kecil, pikirkan masa depan kamu, jangan mengejar sesuatu yang belum pasti jadi milik kamu!"


"Emang kenapa kalau Anita pulang pa? apa papa takut Anita akan ganggu hubungan kalian yang menjijikkan itu?"


Pak Sonny yang mendengar itu segera memuncak amarahnya. Ia menyeret paksa Anita dan memasukkannya ke dalam kamar mandi, mendorongnya dengan kasar hingga Anita terjerembab ke lantai.


Pak Sonny melepas ikat pinggangnya dan tanpa ampun melayangkan pecutannya pada Anita. Anita hanya bisa berteriak kesakitan menerima luapan emosi papanya. Meski begitu, Anita tidak merasa bersalah atas apa yang sudah di lakukannya. Baginya harapan kebahagiaannya hanya bersama Dimas, ia rela melakukan apapun untuk bisa bersama Dimas.

__ADS_1


__ADS_2