Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Merelakan


__ADS_3

Andi masih berada di rumah sakit bersama mama Dimas. Ucapan mama Dimas memang benar, dengan tidak adanya Dimas, kesempatannya untuk memiliki Dini sepenuhnya lebih besar. Tapi ia tak goyah, baginya kebahagiaan Dini lebih penting daripada keegoisannya sendiri.


"Tante benar, tapi kebahagiaan Dini lebih penting buat saya, saya lebih tersiksa melihat Dini yang seperti ini daripada melihatnya bersama Dimas, setidaknya saya bisa melihat Dini bahagia walaupun bukan bersama saya," ucap Andi pada mama Dimas.


"Jangan munafik kamu Ndi, hal kayak gitu cuma ada di novel atau film romantis aja, kamu....."


"Maaf tante, nggak ada yang lebih tau tentang hati saya selain saya sendiri!"


"Oke lah, terserah kamu, saya akan urus biaya administrasinya dan kamu bisa bawa Dini pulang kalau dia udah bangun!"


"Terima kasih tante!"


Mama Dimas pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang.


"kenapa anak anak sekarang pada keras kepala sih, mana ada orang yang rela liat orang yang dicintainya bahagia sama orang lain, munafik sekali kamu Ndi!" gerutu mama Dimas dalam hati.


Tak lama setelah mama Dimas pergi, Dini sadar dari pingsannya. Andi yang menunggu di sebelahnya pun segera membantu Dini untuk duduk.


"Aku di rumah sakit ya Ndi?" tanya Dini setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Iya Din, tante Angel yang bawa kamu ke sini!"


"Tante Angel? tapi kenapa......"


"Tante Angel sebenernya baik Din, dia cuma nggak mau kamu deket sama Dimas," ucap Andi dengan hati hati, takut menyakiti perasaan Dini.


"Iya Ndi, kamu bener, tante Angel emang baik, baru kenal Anita aja udah dianggap kayak anak sendiri," balas Dini dengan tersenyum tipis.


"Kita pulang sekarang ya!"


Dini mengangguk.


Mereka pun pulang ke rumah masing masing.


Esok harinya, seperti biasa Dini berangkat ke sekolah bersama Andi. Sesampainya di sekolah, Dini menunggu Sintia di depan kelasnya.


****************


Yoga menjemput Sintia di rumah Dimas. Ia turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam rumah Dimas. Terlihat mama dan papa Dimas yang sudah siap untuk keluar dari rumah, sibuk dengan pekerjaannya masing masing.


"Pagi om, tante!" sapa Yoga.


"Jemput Sintia Ga?" tanya papa Dimas.


"Iya om, dia belum selesai ya?"


"Dia masih siap siap, telat bangun tadi!" jawab mama Dimas.


"Mama berangkat dulu ya pa, kasian Dimas sendirian!" ucap mama Dimas pada suaminya.


"Hati hati ma!" balas papa Dimas dengan mengecup kening istrinya.


Mama Dimaspun segera masuk ke mobilnya dan berangkat ke rumah sakit untuk menemani Dimas. Meskipun ada perawat dan dokter jaga yang menjaga Dimas, mama Dimas tetap berusaha untuk selalu menemani Dimas di rumah sakit. Ia tidak mau anak semata wayangnya itu merasa kesepian di sana.


"Ga, om nitip Sintia sama kamu ya, selama om sama tante di Singapura nanti, om percayakan Sintia sama kamu!" ucap papa Dimas pada Yoga.


"Siap om, om bisa percaya sama saya!"


"Makasih Ga, kalau gitu om berangkat dulu ya, dia ada di kamar, masuk aja!"


"Iya om, hati hati!"


Yoga pun masuk ke dalam setelah papa Dimas meninggalkan rumahnya. Ia menuju ke kamar Sintia yang tertutup dan mengetuk pintunya pelan.


"Bentar tante, bentar lagi selesai!" ucap Sintia dari dalam kamarnya, mengira jika yang mengetuk pintunya adalah mama Dimas.


Tak lama kemudian, Sintia membuka pintu kamarnya dan dengan cepat Yoga mendorong tubuh Sintia untuk kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kembali.


"Kakak!" pekik Sintia terkejut.


Yoga hanya tersenyum dengan senyum nakalnya.


Yoga mendorong tubuh Sintia hingga ia terpojok di dinding. Yoga memegang kedua tangan Sintia, menahannya agar tidak memberontak.


"Kakak kok di sini, om sama tante udah berangkat?" tanya Sintia namun tak di hiraukan oleh Yoga.


"Kak, kakak......."


Cuupppp


Satu kecupan mendarat di bibir Sintia, seolah membungkam Sintia agar berhenti berbicara. Yoga masih membiarkan bibirnya menyatu dengan bibir Sintia, menunggu respon dari Sintia.


Sintia yang mengerti akan hal itu pun membalasnya, mereka memulai "acara" nya lagi pagi itu.


Biiipp biiippp biiippp


Ponsel Sintia yang berada di saku seragamnya berdering namun Sintia tak peduli. Yoga berniat untuk mengambil ponsel yang berada di saku bagian dada Sintia, namun tanpa sengaja tangannya menyentuh bantalan empuk yang membuat Sintia sedikit tersentak kaget dan melepaskan ciumannya.


"Maaf, kakak nggak sengaja!" ucap Yoga yang merasa bersalah.


Sintia segera keluar dari kamar dan melihat 2 panggilan tak terjawab dari Dini. Ia pun menghubungi Dini.


"Halo kak, ada apa?" tanya Sintia ketika Dini sudah menerima panggilannya.

__ADS_1


"Kamu belum berangkat? aku nunggu kamu di depan kelas!"


"Oh, iya kak ini udah mau berangkat!"


"Ya udah kalau gitu, aku tunggu ya!"


"Iya kak!"


Sintia pun mematikan panggilannya dan segera masuk ke mobil Yoga tanpa menunggu Yoga. Ia terlihat gelisah memikirkan apa yang akan ia katakan pada Dini ketika Dini menanyakan soal Dimas padanya.


"Kamu marah?" tanya Yoga pada Sintia.


Sintia masih diam, memikirkan Dini. Membuat Yoga mengira jika Sintia marah karena ketidaksengajaannya tadi.


"Kakak minta maaf Sin, kakak......"


"Kak, kalau kak Dini nanyain soal kak Dimas gimana?" tanya Sintia yang dari tadi mengabaikan Yoga.


"Jadi dari tadi kamu diem mikirin itu?" tanya Yoga meyakinkan.


"Iya, kak Dini nunggu Sintia di depan kelas, pasti mau nanyain soal kak Dimas kan?"


"Kamu ini bikin kakak takut aja, kakak pikir kamu marah!"


"Marah? marah kenapa?" tanya Sintia tak mengerti.


"Enggak, nggak papa, ya udah ayo berangkat!" balas Yoga yang langsung menyalakan mesin mobilnya bersiap mengantar Sintia berangkat ke sekolah.


Sintia hanya tersenyum kecil melihat tingkah Yoga. Ia sebenarnya tau apa maksud Yoga, tapi ia pura pura tak mengerti.


"Kakak suka?" tanya Sintia tiba tiba.


"Suka apa?" tanya Yoga tak mengerti.


"Ya yang tadi, kakak nakal ya sekarang!"


"Maaf Sin, kakak bener bener nggak sengaja!"


"Gimana kak?"


"Gimana apanya?"


"Suka nggak?"


"Kamu jangan bikin kakak nggak fokus nyetir dong!"


"Ini asli loh kak, tante Angel bilang kalau mama dulu juga punya pay......"


"Stop, nggak usah dijelasin lagi, kakak suka kok, suka!" ucap Yoga sambil menutup mulut Sintia dengan satu tangannya.


"Soal kak Dini gimana kak?" tanya Sintia yang mulai serius.


"Inget Sin, kamu udah janji sama tante Angel, sama kakak juga, kakak percaya sama kamu!"


"Hmmmm......"


Sintia menghembuskan napasnya kasar lalu segera turun dari mobil setelah mereka sampai di depan gerbang sekolah.


Sintia segera masuk dan menuju ke kelasnya. Sudah ada Dini yang menunggunya di sana.


"Hai kak!" sapa Sintia yang langsung duduk di sebelah Dini.


"Dianter kak Yoga?" tanya Dini basa basi.


"Iya kak, kakak tumben ke sini, ada apa kak?" tanya Sintia.


"Soal Dimas, kamu udah tau dia pindah ke mana?"


"Mmmm, maaf kak, Sintia nggak tau apa apa, tante Angel juga nggak ngasih tau Sintia, di rumah juga nggak pernah keliatan kak Dimas!" jawab Sintia berbohong.


"Kalau kamu ketemu Dimas, sampe'in ke Dimas ya kalau aku nunggu dia!"


"Iya kak, nanti Sintia sampe'in!"


"Makasih Sin, aku ke kelas dulu ya!"


"Iya kak!"


Dinipun berjalan ke kelasnya.


"Gimana Din?" tanya Andi pada Dini.


Dini hanya menggeleng lemah lalu duduk di sebelah Andi.


"Kayaknya dia emang menghindar dari semua orang Din!"


"Kenapa? aku minta dia pergi dari aku, tapi kenapa dia pergi dari semua orang?" tanya Dini dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Itu pilihan dia sendiri Din, kamu nggak bisa maksa apa yang harus dia pilih!"


Dini menatap langit langit kelasnya, menahan air mata yang sudah siap tumpah.


"Fokus sama belajar kamu Din, fokus sama masa depan kamu!"

__ADS_1


Dini hanya diam, tak menghiraukan Andi.


Setelah bel pulang berbunyi, Dini dan Andi segera keluar meninggalkan kelas.


Di depan rumah Dini sudah ada mama Dimas yang berdiri di sebelah mobilnya. Dini dan Andipun segera menghampiri mama Dimas.


"Tante nyari saya?" tanya Dini pada mama Dimas.


"Saya cuma mau ingetin kamu, Dimas udah pergi ninggalin kamu, dia udah bahagia sama keputusannya itu, jadi berhenti berusaha buat nyari dia, oke?"


"Tapi tante, saya cuma mau tau dia........"


"Kamu tau kan siapa saya, saya bisa dengan mudah bikin kamu nggak akan diterima di semua universitas di sini bahkan di luar kota sekalipun, tolong jangan paksa saya jadi orang jahat Din, saya cuma mau kamu biarin Dimas pergi dan jangan pernah cari dia lagi, saya yakin hidup kamu juga akan lebih baik tanpa Dimas, sekarang kamu bisa pilih, kamu pilih ketemu Dimas dan kubur dalam dalam impian kamu, atau kamu lupain Dimas dan lanjutin impian yang akan jadi masa depan kamu!"


Dini diam beberapa saat, air matanya kembali memenuhi kedua sudut matanya. Baginya 2 hal itu bukanlah pilihan karena Dimas adalah bagian dari masa depan yang diimpikannya.


Namun ia sadar, ia tak bisa egois. Ibunya masih menunggunya dengan bekerja keras setiap hari, demi masa depan yang selalu diimpikan ibunya.


"Saya akan berhenti cari Dimas!" ucap Dini pelan namun penuh penekanan di setiap katanya.


"Bagus, saya yakin itu pilihan yang terbaik buat kamu!" ucap mama Dimas penuh kemenangan.


"Saya permisi!" ucap Dini lalu pergi meninggalkan mama Dimas lalu masuk ke rumahnya.


Air matanya segera tumpah begitu ia masuk ke dalam rumahnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini sudah meluap dengan sakit yang menyayat hatinya.


"Din, buka pintunya Din!" ucap Andi dari luar pintu rumah Dini.


"Aku baik baik aja Ndi, kamu pulang aja!" ucap Dini dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.


"Tapi Din...."


"Tolong kamu pulang Ndi!"


"Oke, aku pulang!"


Andipun pulang dengan berbagai macam perasaan. Hatinya ikut merasakan sakit yang Dini rasakan. Baginya ini bukanlah kesempatan untuk merebut hati Dini, tapi ini adalah waktu dimana persahabatannya di uji. Ia harus bisa membuat Dini kembali ceria tanpa harus memaksanya melupakan Dimas.


Dini menangis di kamarnya hingga malam. Buku pelajarannya sama sekali tak tersentuh olehnya. Pikirannya benar benar kacau saat itu.


"apa ini keputusan yang tepat Dim? apa emang ini yang kamu mau?"


Dini menangis hingga ia tertidur.


******************


Kehangatan mentari mulai terasa menyelimuti minggu pagi ini. Dini keluar dari rumahnya dan menuju ke bukit. Andi yang melihat Dini berjalan seorang diri segera mengikutinya.


"Nggak ngajak ngajak!" protes Andi yang kini sudah berjalan di sebelah Dini.


Dini hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Andi.


Mereka berdua duduk di bukit seperti biasa. Dini menyandarkan kepalanya di bahu Andi.


"Kamu baik baik aja Din?" tanya Andi.


"Aku baik baik aja Ndi, aku sekarang tau apa yang harus aku lakuin!"


"Apa?"


Dini berdiri dari duduknya dan berteriak kencang.


"AKU PASTI BAHAGIA!" teriak Dini dengan sekuat tenaganya, melepaskan semua perasaan sedih yang membelenggu hatinya beberapa hari ini.


Andi tersenyum dan ikut berdiri lalu memeluk Dini.


"Kamu pasti bahagia Din, aku selalu di sini buat kamu kapan pun kamu butuh aku!"


"Makasih Ndi!"


Dini melepas pelukan Andi darinya. Matanya memandang luas ke sekelilingnya. Ia tersenyum bahagia, ia sadar bukanlah Dimas yang membuatnya bahagia, tapi dirinya sendiri.


Ya, bahagia yang sesungguhnya memang kita sendiri yang menciptakan, bukan orang lain.


***************


Ujian nasional tiba. Dini mengerjakan semua soal soalnya dengan penuh percaya diri. Hatinya sudah baik baik saja saat ini, bahkan mungkin lebih baik. Ia hanya perlu fokus pada tujuannya dan melupakan hal hal yang menyakitkan untuknya, meski tak dapat dipungkiri jika rasa sakit itu masih ada, ia berusaha untuk mengabaikannya.


Di sisi lain, kedua orangtua Dimas membulatkan tekad mereka untuk membawa Dimas ke Singapura dengan harapan agar Dimas segera sadar dan memulai hidupnya dengan ingatan yang baru.


Ketika hasil ujian nasional keluar, Dini mendapat peringkat pertama di sekolahnya dan yang kedua sudah pasti Andi. Dini dan Andi mendaftar di Universitas yang sama namun berbeda fakultas.


Dini berada di fakultas Bisnis dan Manajemen sedangkan Andi berada di fakultas Seni Rupa dan Desain. Mereka berdua mendapatkan beasiswa penuh dari kampus sehingga bebas biaya semester dan mendapat biaya hidup per bulannya.


Sedangkan Anita memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Singapura.


*************


Satu tahun berlalu, Dini kini sudah menjelma menjadi seorang gadis yang ceria dan memiliki banyak teman. Begitu juga dengan Andi yang kini menjadi lebih hangat pada teman temannya.


Mereka menata ulang jalan hidup mereka dengan baik. Menjadikan masa lalu yang pahit sebagai pemanis hidup mereka. Dinipun sudah beberapa kali terlihat dekat dengan beberapa laki laki di kampusnya. Dengan kecantikan alami yang dimilikinya serta kecerdasan yang tidak diragukan lagi, membuat laki laki yang melihatnya akan dengan mudah jatuh hati padanya.


Sikap Dini yang ceria membuat siapapun nyaman ketika bersamanya. Hal itu membuatnya sering berganti ganti pacar, karena selama mereka berpacaran Dini tak pernah mau disentuh sedikitpun oleh mereka. Dini hanya menjadikan mereka "status pacar" yang bisa Dini manfaatkan untuk sekedar mengantar jemputnya atau membelikannya beberapa barang keperluannya.

__ADS_1


Terdengar sedikit jahat memang, tapi seperti itulah Dini sekarang. Dia sudah tak mengenal cinta. Baginya cintanya sudah hilang bersama hilangnya Dimas dari hidupnya.


Sedangkan Andi, ia masih menyimpan perasaannya pada Dini jauh di lubuk hatinya. Memendamnya dalam dalam membiarkan waktu yang akan memaksa untuk mengutarakannya.


__ADS_2