
Dimas mengajak Sintia untuk berkeliling cafe agar Sintia tidak ikut Yoga ke sekolahnya. Ia merasa keberadaannya sekarang mulai terancam lagi dengan kembalinya Sintia di hidupnya.
"Kenapa Sintia nggak boleh ikut kak Yoga?" tanya Sintia pada Dimas.
"Kamu lebih pilih ikut Yoga apa ikut kakak?" balas Dimas bertanya.
"Ikut kakak dong!" jawab Sintia dengan senyum manjanya.
"Ya udah, di sini aja, kakak tunjukin semua sudut di cafe ini!"
Merekapun berkeliling ke setiap sudut cafe. Sintia tak henti-hentinya bertanya soal apapun pada Dimas, meski Dimas enggan menjawab, ia harus tetap menjawab kecuali jika Sintia menanyakan tentang hal pribadinya, itu akan membuatnya memutar otak untuk menjawabnya.
***********************************
Di sekolah, Yoga segera meminta izin pada Pak Tejo untuk mengambil mobil Dimas.
"Kamu siapa?" tanya Pak Tejo yang masih meragukan Yoga.
"Saya temannya Dimas Pak, beneran!"
"Apa buktinya?"
"Coba deh Bapak hubungi Dimas, soalnya saya nggak bawa HP."
"Alasan aja kamu!"
"Beneran Pak, ini saya bawa kunci mobilnya Dimas, saya......."
"Kak Yoga!" panggil Andi yang tiba-tiba datang.
"Eh Ndi, belum pulang?"
"Belum kak, kakak ngapain ke sini?"
"Disuruh Dimas ambil mobil, tapi Pak satpamnya nggak percaya," jawab Yoga sambil melirik kearah Pak Tejo.
"Kamu kenal Ndi?" tanya Pak Tejo pada Andi.
"Iya Pak, ini kak Yoga temannya Dimas," jelas Andi pada Pak Tejo.
"Oh, ya udah kalau gitu, silahkan."
"Makasih Pak," balas Yoga.
"Thanks Ndi, untung ada lo!" ucap Yoga pada Andi.
"Sama-sama kak, Dimas di cafe kak?"
"Iya, abis liburan katanya."
"Iya, tapi dia ngilang gitu aja, nggak bareng kita-kita baliknya."
Yoga hanya manggut-manggut mendengar ucapan Andi, kini ia mengerti kenapa Dimas bisa pulang bersama Sintia.
"Ya udah gue balik dulu ya, kapan kapan mampir ke cafe ya kalau ada waktu!" pamit Yoga pada Andi.
"Siap kak!" jawab Andi.
Dini yang dari tadi memperhatikan dari jauh kemudian menghampiri Andi.
"Siapa Ndi?"
"Itu tadi? kak Yoga, temannya Dimas," jawab Andi.
"Kamu kok bisa kenal?"
"Kemarin sempet ketemu waktu di cafe."
"Yang kamu pergi sendiri sama Dimas?"
Andi mengangguk lalu mengajak Dini untuk pulang.
********************************
Di cafe, Dimas dan Sintia duduk di sudut lantai dua cafe itu.
"Kakak ke kamar mandi bentar ya!" ucap Dimas pada Sintia.
Sintia mengangguk.
Tak lama setelah Dimas pergi ke kamar mandi, ponselnya yang tertinggal di meja berdering.
Sintia melihat ada nama Andini dengan emoticon hati berwarna merah sedang memanggil.
Sintia dengan cepat mengangkat panggilan Dini.
"Dimas, kamu di mana?" tanya Dini yang tidak mengerti jika Sintia yang menerima panggilannya.
"Ini siapa ya?" tanya Sintia.
"Maaf, ini bukannya nomornya Dimas ya?"
"Iya, kamu siapa?"
Dini segera mematikan panggilannya ketika mengetahui jika bukan Dimas yang memegang ponselnya.
Sintia menghapus riwayat panggilan dari Dini dan memblokir kontaknya, tak lupa ia juga menghapus chat room Dini.
Ia segera mengembalikan ponsel Dimas ke tempat semula.
"siapa Andini? pacar kak Dimas? apa dia lebih cantik daripada aku? apa dia lebih pinter?" tanya Sintia dalam hatinya.
Sintia segera turun begitu mengetahui jika Yoga sudah kembali dengan mobil Dimas.
"Ayo anter pulang kak!" ucap Sintia sambil menarik tangan Dimas yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kakak ambil HP dulu!"
"Nggak usah, ini udah Sintia bawa, ada di tas."
Dimas dan Sintiapun segera keluar dari cafe.
"Thanks Ga!" ucap Dimas pada Yoga.
Yoga hanya mengangguk dan segera masuk ke cafe setelah memberikan kunci mobilnya pada Dimas.
Sudah 2 jam Dimas menempuh perjalanan bersama Sintia. Jika tidak macet, seharusnya mereka sudah sampai di tujuan.
"HP kakak mana Sin?" pinta Dimas pada Sintia.
Sintiapun membuka tasnya dan mengacak acak isi tasnya, berpura pura mencari ponsel Dimas.
__ADS_1
"Jangan bilang nggak ada!" ucap Dimas yang melihat Sintia mengacak acak tasnya.
"Maaf kak, kayaknya ketinggalan deh, padahal Sintia yakin udah dimasukin tas."
Dimas hanya bisa mendengus kesal. Ia semakin gelisah karena belum menghubungi Dini sama sekali sejak mereka pulang dari pantai.
"Maaf ya kak!"
Dimas hanya diam, tak menjawab. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Sintia.
Ia hanya berharap agar cepat sampai di rumah Sintia dan segera kembali ke cafe untuk menghubungi Dini.
Sesampainya di rumah Sintia, Dimas tidak turun dari mobilnya, ia segera pulang kembali ke cafenya.
"Nggak mampir dulu kak, ketemu kakek!"
Dimas tak menjawab, ia menutup kaca mobilnya dan segera meninggalkan rumah Sintia.
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia ingin segera sampai di cafe untuk menghubungi Dini.
Sesampainya di cafe, ia segera naik ke lantai dua dan mendapati ponselnya yang masih tersambung dengan charger.
Ia pun segera mencari nama Dini di kontak ponselnya, namun tidak ada, ia memeriksa chat room dan riwayat panggilan juga tidak ada.
Dimas begitu kesal hingga ia melempar ponselnya dengan sembarangan dan hampir mengenai Yoga yang baru saja naik ke lantai dua.
"Ada apa Dim, udah bosan sama HP lo?"
Dimas tak menjawab, ia membiarkan ponselnya yang tergeletak di lantai dan pergi meninggalkan Yoga yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada temannya itu.
Yogapun mengambil ponsel Dimas dan menyimpannya. Ia melihat Dimas yang begitu emosi, membuatnya hanya diam membiarkan Dimas pergi begitu saja.
Dimas segera menuju ke rumah Dini.
*******************************
Di rumah Dini, Andi sudah menunggu Dini untuk pergi ke bukit berdua.
"Ayo!" ajak Dini yang sudah keluar dari rumahnya.
Merekapun berjalan berdua ke bukit.
Seperti biasa, di sana mereka duduk berdua. Dini menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Ndi, kamu pernah liat Dimas sama cewek?" tanya Dini pada Andi.
"Dia kan sering sama cewek cewek Din!"
"Maksud aku yang dekat sama dia."
"Mmmmmmm, Anita?"
"Selain Anita?"
"Nggak tau Din, dia temen ceweknya banyak sih!" jawab Andi berbohong. Ia sebenarnya tau jika Dimas dekat dengan Sintia, tapi ia terpaksa berbohong dan membiarkan Dimas sendiri yang menjelaskannya pada Dini.
"Emang kenapa Din?" tanya Andi.
"Nggak papa."
"Kalau ada apa-apa cerita Din, aku masih sahabat kamu kan?"
Andi hanya tersenyum tipis sambil menyandarkan kepala Dini kembali ke bahunya.
"Makasih ya Ndi, kamu selalu ada buat aku, aku cuma bisa berharap hubungan kita akan selalu baik-baik aja kayak gini, sampai kapanpun," ucap Dini penuh harap.
Andi hanya diam, ucapan Dini membuatnya kembali tersadar jika selamanya ia hanya akan menjadi sahabat Dini, tak akan pernah lebih dari itu.
"Ndi, kamu nggak dengerin aku?" tanya Dini yang merasa diabaikan oleh Andi.
"Dengerin lah Din, harapan kamu, harapan aku juga," jawab Andi dengan membelai rambut Dini.
"Ndi, aku mau tanya tapi kamu harus langsung jawab ya!"
"Tanya apa?"
"Janji dulu langsung jawab, jangan balik tanya!"
"Iya, aku janji, kamu tanya apa?"
"Kenapa tiba-tiba kamu baikan sama Dimas?"
"Mmmmmmm, kenapa ya?"
"Iiiiihhh, jawab dong Ndi!"
"Hahaha, kamu mau tau banget?"
"Kamu mau biarin aku mati penasaran?"
"Huusshh, jangan ngomong gitu!" balas Andi sambil menjitak kepala Dini.
"Aduuuhh, tinggal jawab aja susah banget sih Ndi!"
"Kenapa kamu penasaran banget sih?"
"Ya penasaran aja, kamu dari dulu kayak benci banget sama Dimas, eh tiba-tiba aja bisa baikan, akrab banget lagi, lagian nggak cuma aku yang penasaran, anak anak yang lain juga!"
"Kamu nggak inget gimana dulu kamu gampang banget bikin Dimas babak belur?" lanjut Dini.
"Itu kan dulu Din, sekarang semuanya udah berubah, kan kamu sendiri yang bilang kalau Dimas bukan Dimas yang dulu lagi, dia udah berubah lebih baik dan nyesel sama apa yang udah terjadi, ya kan?"
"Iya sih, tapi kamu dulu kan nggak percaya, kok tiba-tiba percaya?"
"Aku percaya semua orang punya masa lalunya masing-masing, entah baik atau buruk, yang penting gimana dia menjalani hidupnya yang sekarang dan aku liat Dimas bener bener buktiin kalau dia emang serius sama kamu," jelas Andi panjang.
"Jadi?"
"Jadi, aku bisa apa selain percaya sama dia, tapi sekali aja dia nyakitin kamu, aku nggak akan biarin dia hadir lagi di hidup kamu."
"Makasih ya Ndi, Anita pasti beruntung banget punya kamu," ucap Dini sambil memeluk Andi.
"Kok jadi Anita sih Din?" protes Andi sambil melepaskan pelukan Dini.
"Kamu nggak suka sama dia?" tanya Dini.
"Aku sukanya kamu hehehe......" jawab Andi terkekeh.
"Iiiiihhh, serius dong!" balas Dini sambil mencubit pinggang Andi.
"Aduuuhh, sakit Din!" ucap Andi sambil menggosok gosok pinggangnya yang di cubit Dini.
__ADS_1
"Aku tau Anita dari dulu suka sama kamu, aku biarin aja dia deketin kamu."
"Kenapa kamu biarin?"
"Ya karena dia sempurna buat kamu, dia cantik, ramah, pinter, baik lagi."
"Jadi?"
"Jadi, apa yang bikin kamu nggak suka sama dia?"
"Din, suka sama seseorang itu nggak bisa ditentuin dari gimana sifat ataupun sikap orang lain, itu murni dari hati."
Dini mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ndi, kamu yakin Dimas serius sama aku?"
"Kenapa kamu tanya gitu? kamu ragu?"
"Nggak tau Ndi, kamu tau kan aku sama Dimas kayak langit sama bumi, kehidupan dia sama kehidupan aku jauh berbeda Ndi."
"Jalanin aja dulu Din, jangan mikir jauh jauh!"
"Aku udah mikir jauh banget Ndi hehehe....." balas Dini terkekeh.
"Kamu mikir apa Din? jangan bilang kamu udah mikirin.........."
"Jangan mesum!" ucap Dini sambil kembali mencubit pinggang Andi.
"Aduuuuhh, sakit loh Din, siapa juga yang mesum, kan kamu yang mikir aneh aneh!"
"Siapa juga yang mikir aneh aneh, kan aku cuma bilang mikir jauh, bukan mikir aneh aneh, kamu keseringan main sama Dimas jadi geser gini!"
"Emang kamu mikirin apa?"
"Mikirin nanti waktu aku nikah sama dia, ada pesta mewah, dekorasi mewah, gaun mewah, banyak makanan enak, banyak......."
Pletaakk!!
Andi kembali menjitak kepala Dini, membuat Dini mengaduh kesakitan.
"Ngayal terus!"
"Anita juga pasti ngayal kayak gitu Ndi!"
"Sama Dimas?"
"Kok sama Dimas sih, sama kamu lah!"
"Hahaha, aku mana mungkin bisa bikin pesta mewah Din."
"Makanya, rencanain masa depan dari sekarang itu penting loh Ndi, meskipun bukan kita yang nentuin hasil akhirnya, seenggaknya kita udah berusaha buat mencapainya."
"Uulluuu uuuluuuuu, pinter banget sih bu guru Dini," ucap Andi sambil mengusap kepala Dini.
******************************
Dimas yang sudah berada di rumah Dini segera turun dari mobilnya dan memanggil manggil Dini, namun tak ada jawaban. 5 menit, 10 menit hingga 15 menit ia menunggu, tak ada jawaban dari dalam.
Ia melirik jam tangannya.
"masih jam 7, nggak mungkin Andini tidur, tapi dia kemana? apa belum pulang? tapi sekolah udah sepi banget, bodoh banget sih Dim kenapa nggak hafalin nomor Andini dari kemarin kemarin" batin Dimas merasa kesal pada dirinya sendiri.
Dimas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Andi. Berkali kali ia coba memanggil kontak yang bernama Andi itu namun nihil, tak ada jawaban sama sekali, bahkan chatnya pun tidak dibaca oleh Andi.
"Aaaaarrggggg, siaaallll!"
Dimas memutuskan untuk pergi ke rumah Andi, berharap ada Dini di sana atau setidaknya ia bisa menanyakan keberadaan Dini pada Andi.
Dengan terpaksa ia harus menelan kekecewaan lagi karena rumah Andi terlihat kosong tak berpenghuni.
Tiba-tiba ponselnya berdering, karena terlalu semangat dan mengira Andi yang menghubunginya, ia segera menjawab panggilan itu tanpa melihat nama di layar ponselnya.
"Halo kak!"
"aaarrrgghhh, kenapa Sintia lagi sih, sial banget sih hari ini!" batin Dimas merutuki nasibnya.
"Ada apa Sin? kakak sibuk, jangan hubungi kakak dulu ya, bye!" balas Dimas yang langsung mematikan panggilan Sintia.
Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, ia segera menjawabnya tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Ada apa lagi sih?" tanya Dimas yang mengira jika yang menghubunginya adalah Sintia.
"Ada apa gimana?" tanya Anita tak mengerti karena baru saja ia menghubungi Dimas, ia malah mendengar Dimas yang terdengar kesal.
Dimaspun melihat ke layar ponselnya, tertulis nama Anita di sana.
"Eh, sorry Nit!"
"Ada apa sih Dim, kamu marah sama aku?"
"Enggak Nit, sorry, aku pikir tadi.........." Dimas menghentikan ucapannya karena ia tidak ingin ada orang lain yang tau tentang Sintia.
"Tadi apa? siapa?"
"Bukan siapa-siapa kok, kamu lagi sama Andi nggak?"
"Enggak, kenapa?"
"Aku di rumah Andi sekarang, tapi rumahnya sepi kayak nggak ada orang."
"Ngapain kamu ke rumah Andi?"
"Mau nyari Andini, Andini juga nggak ada di rumah kayaknya."
"Aku tau mereka di mana, kamu tunggu, aku ke sana sekarang," balas Anita yang langsung mematikan panggilannya.
Anita bergegas memesan taxi untuk pergi ke rumah Andi.
Tak berapa lama kemudian Anita sampai di rumah Andi. Di lihatnya mobil Dimas terparkir di halaman rumah Andi yang gelap, pertanda tak ada orang di dalamnya.
"Ayo, ikut aku!" ajak Anita.
"Kemana?"
"Ikut aja, aku tau dimana Andi sama Dini," jawab Anita penuh keyakinan.
"Kamu yakin?"
"Seratus persen yakin, ikut aja jangan banyak tanya!"
Dimaspun mengikuti Anita yang berjalan ke arah bukit.
__ADS_1