Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Canggung


__ADS_3

Dini dan Andi masih berada di bangku mini market. Bercanda dan tertawa berdua, menceritakan banyak hal dan sesekali mengingat masa kecil mereka. Mereka seolah sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Raut bahagia terlihat jelas dari keduanya.


"Dulu kamu pernah ninggalin aku lama loh Din!" ucap Andi pada Dini.


"Kapan? Kemana?"


"Aku lupa tepatnya umur berapa, aku juga nggak tau kamu kemana, yang jelas selama beberapa hari kita nggak ketemu, ibu bilang kalau kamu diajak bu Ranti ke rumah saudara kamu," jelas Andi.


"Aku nggak inget, apa aku masih kecil banget ya?"


"Seingetku kita emang masih kecil, belum masuk TK malah, tapi dengan kecerdasan ku ini aku bisa inget semuanya hahaha....."


"Kamu lupa siapa yang selalu peringkat 1?"


"Itu karena aku ngalah sama kamu Din, aku takut kamu nangis kalau kamu peringkat 2 hehe...."


"Hmmmm, alesan!"


"Tapi beneran kamu nggak inget waktu itu? kamu biasanya nggak pernah mau diajak pergi jauh sama ibu kamu, waktu itu aja kamu sampe' nangis nangis gara gara aku nggak boleh ikut kamu, kamu nggak inget?"


Dini diam beberapa saat. Ia mencoba menggali ingatannya tentang kejadian itu namun tidak berhasil. Ia ingat bagaimana ia tidak bisa jauh dari Andi sewaktu kecil. Ia bahkan sampai menangis dari pagi sampai malam ketika Andi harus pergi ke rumah saudaranya.


Baginya sehari saja tanpa Andi hidupnya terasa kurang. Sedikit aneh jika Dini tidak mengingat hal yang Andi ceritakan, karena jika itu menyangkut perpisahannya dengan Andi, ia pasti akan mengingatnya karena ia sama sekali tidak bisa jauh dari Andi.


"Aku nggak inget apa apa Ndi,"jawab Dini yang akhirnya menyerah untuk berusaha mengingat kejadian itu.


"Coba inget inget deh Din, itu beberapa hari loh kita pisah, kamu tau kan sehari aja kita nggak ketemu kamu udah nangis dari pagi sampe' malem!"


"Iya aku tau aku nggak bisa jauh dari kamu tapi aku nggak inget kalau aku pernah diajak ibu ke rumah saudara, lagian siapa saudara ibu? ibu nggak pernah cerita sama aku!"


Entah kenapa Dini merasa ada sepotong memori yang telah hilang dari ingatannya. Ia merasa ada sesuatu yang janggal tapi ia tidak tau apa itu.


"Ya udah lupain aja, itu udah lama banget Din, wajar kalau kamu lupa!"


"Enggak Ndi, aku harusnya inget, aku......"


"Nggak usah di bahas lagi, nanti kamu tanyain ibu kamu aja!"


Dini mengangguk lalu menyeruput minuman di hadapannya.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Andi berdering, ada sebuah pesan masuk dari grup kelasnya. Sebuah video lucu tentang anak kecil yang bermain di bawah hujan yang tampak begitu deras.


Andipun memperlihatkan video yang membuatnya tertawa itu pada Dini. Baru beberapa detik melihat, Dini segera menampik ponsel yang Andi pegang di hadapannya, membuat ponsel itu hampir saja terlepas dari genggaman tangan Andi. Seketika wajah Dini terlihat pucat, ia terlihat panik.


"Din, kamu kenapa?"


Dini hanya menggeleng dengan pandangan kosong. Entah kenapa tiba tiba ia mengingat mimpi yang setiap malam menghantuinya. Kesakitan itu terasa bahkan sampai ia bangun dari tidurnya dan sekarang otaknya seakan memutar kembali semua kejadian itu dengan detail. Dini seolah tak bisa menguasai dirinya.


Tetes tetes hujan itu seperti menyakiti hati dan jiwanya membuat Dini tanpa sadar meneteskan air matanya.


Melihat hal itu Andi segera memasukkan kembali ponselnya dan mendekati Dini.


"Dini, kamu kenapa Din?" tanya Andi yang kini berdiri di sebelah Dini.


Dini segera menarik tubuh Andi dan memeluknya dengan erat. Ia menangis dan mencengkeram dengan kuat pakaian Andi membuat beberapa orang yang berada di sana menoleh ke arah Andi dan Dini. Andi tak peduli pada pandangan orang lain, ia memeluk Dini dengan erat. Ia merasa bersalah karena menunjukkan video itu pada Dini.


"Tenangin diri kamu Din, ada aku di sini," ucap Andi dengan mengusap punggung Dini.


Dini masih menangis dalam pelukan Andi. Ia bahkan tak peduli dimana ia saat itu, yang ia rasakan hanya sebuah ketakutan dan kesakitan yang begitu besar.


Untuk beberapa saat mereka masih saling memeluk dengan Andi yang masih berusaha menenangkan Dini. Setelah tangis Dini mereda, pelukan Andi perlahan membuatnya tenang dan nyaman.


Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya dengan perlahan.


"Aku minta maaf Din," ucap Andi dengan menghapus sisa air mata di pipi Dini.


Dini hanya mengangguk, ia masih sesenggukan meski sudah tidak lagi menangis.


"Kita pulang sekarang ya?"


Dini kembali menangguk. Mereka berdua pun meninggalkan mini market dan kembali ke kos.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, tangan Andi tak pernah lepas dari genggaman Dini. Masih tampak ketakutan dari raut wajah Dini, membuat Andi semakin merasa bersalah.


"aku harus hilangin fobia kamu Din, aku nggak bisa biarin kamu kayak gini terus," ucap Andi dalam hati.


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat kos. Andi mengantar Dini untuk naik ke lantai dua. Tepat saat akan menaiki tangga, Aletta keluar dari dapur.


"Kamu kenapa Din" tanya Aletta yang melihat Dini tampak begitu pucat.


"Nanti aku ceritain, aku anter Dini dulu," jawab Andi dengan mengusap rambut Aletta.


Aletta hanya mengangguk, membiarkan Andi dan Dini naik. Aletta lalu duduk di teras menunggu Andi.


Di kamar, Dini masih duduk dengan menyandarkan kepalanya di bahu Andi.


"Aku takut Ndi," ucap Dini dengan menggenggam tangan Andi.


"Nggak ada yang harus kamu takutin Din, ada aku di sini."


Dini semakin erat menggenggam tangan Andi. Ia tidak ingin Andi meninggalkannya.


"Apa ada sesuatu yang aku nggak tau? ceritain semuanya sama aku Din, jangan kamu pendam sendiri masalah kamu!"


"Beberapa hari ini aku selalu mimpi buruk, tiap malem mimpi itu dateng Ndi, mimpi itu bikin aku takut, aku bisa ngerasain dengan jelas semua ketakutan dan kesakitanku di mimpi itu, bahkan sampai aku bangunpun aku masih ngerasain semua itu," jawab Dini.


"Kamu bisa ceritain mimpi itu?"


Dini menatap Andi untuk beberapa saat. Andi tersenyum dan membawa Dini ke dalam pelukannya, berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Dini.


"Aku di sini Din, aku selalu disini buat kamu," ucap Andi dengan mengusap punggung Dini.


Perlahan Dini mulai menceritakan semua detail mimpi nya pada Andi. Entah kenapa hanya dengan menceritakan hal itu ia merasa sangat emosional, hatinya terasa perih dan sesak.


Andi masih memeluk Dini, mendengarkan dengan cermat cerita Dini tentang mimpinya. Tangannya tak pernah berhenti mengusap punggung Dini, sedangkan satu tangannya lagi menggenggam erat tangan Dini.


Tanpa Dini sadar, air matanya menetes jatuh membasahi tangan Andi. Menyadari hal itu Andi merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata Dini.


"Tenangin diri kamu Din, nggak akan ada hal buruk yang terjadi selama ada aku di sini," ucap Andi berusaha menenangkan Dini.


Dini hanya melihat video hujan dan itu sudah membuatnya begitu emosional.


"Din, kamu yakin nggak mau ketemu psikolog?"


Dini menggeleng dalam pelukan Andi. Ia sudah seperti anak kecil yang sedang manja pada ayahnya saat itu.


"Kenapa? anggap psikolog itu temen kamu, kamu bisa cerita apa aja dan...."


"Aku nggak mau Ndi, aku nggak mungkin cerita masalah aku sama orang asing, kamu tau itu!" ucap Dini kesal dengan melepaskan dirinya dari pelukan Andi.


"Iya iya, aku tau, aku minta maaf," balas Andi dengan menarik tangan Dini namun Dini menolak.


"Kamu sama aja kayak Dimas!"


"Jangan disamain dong Din, aku sama Dimas kayak gini buat kebaikan kamu," balas Andi.


"Aku nggak butuh psikolog Ndi, kenapa kalian nggak bisa ngertiin aku sih!"


Andi menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Andi lalu menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Dini dan memeluknya. Meski awalnya Dini meronta dan menolak, Andi tetap memeluk Dini hingga akhirnya Dini menyerah dan membiarkan Andi memeluknya.


"Din, aku sayang banget sama kamu, kamu nggak tau seberapa khawatirnya aku sama kamu waktu tiba tiba hujan, aku cuma kepikiran kamu Din, apa kamu baik baik aja, apa kamu lagi sendiri, apa kamu takut, apa kamu sedih, aku pingin selalu di deket kamu tapi aku nggak bisa, aku pingin pastiin kamu selalu baik baik aja dan cara yang aku tau cuma ini, hilangin fobia kamu dengan bantuan psikolog," ucap Andi dengan penuh penekanan pada setiap kata katanya.


"Tapi aku nggak mau cerita masalah aku sama orang lain Ndi," balas Dini dengan suara pelan.


"Aku nggak akan maksa kamu, tapi kamu harus janji buat selalu cerita sama aku, apapun itu!"


Dini mengangguk.


"Iya, aku janji, tapi kamu jangan marah lagi!"


"Aku nggak marah, kapan aku marah?"


"Barusan kamu marah!"


"Enggak, aku cuma mau kamu tau seberapa sayangnya aku sama kamu Din!"

__ADS_1


"Aku tau dan kamu juga harusnya tau seberapa sayangnya aku sama kamu!"


Andi tersenyum dan mengusap rambut Dini.


"Ndi, apa kamu inget dari kapan aku fobia hujan?" tanya Dini.


Andi menggeleng.


"Setauku dari kita kecil kamu nggak suka main hujan hujan dan......"


"tunggu, nggak suka bukan berarti takut kan? iya, Dini dulu bukan takut sama hujan, dia cuma nggak suka main hujan, tapi tiba tiba dia jadi gelisah dan ketakutan tiap hujan turun sejak..... sejak dia keluar dari rumah sakit, iya sejak dia pergi ke rumah saudara ibunya dan berakhir di rumah sakit, setelah itu dia mulai takut dan pingsan tiap kehujanan," batin Andi mengingat ingat kejadian masa kecilnya dulu.


"Dan apa Ndi?" tanya Dini penasaran karena Andi menggantungkan ucapannya.


"Enggak, bukan apa apa, kamu tidur aja, udah malem!"


Dini melepaskan dirinya dari pelukan Andi lalu berdiri.


"Kamu mau nyamperin Aletta?" tanya Dini.


Andi lalu berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Dini, membuat Dini mundur beberapa langkah hingga ia terpojok ke dinding.


Mata mereka saling menatap, jutaan rasa yang tak bisa terungkap terpancar dari sorot mata Andi yang tak mampu dibaca oleh Dini.


Mereka berdiri dengan jarak yang sangat dekat. Degup jantung keduanya mulai berdetak dengan cepat. Mereka saling menatap di tengah kegugupan dan detak jantung yang mulai tak terkendali.


"Kamu cemburu?" tanya Andi dengan masih menatap ke dalam mata Dini.


Entah mendapat dorongan dari mana, Dini mengangguk begitu saja membuat Andi sedikit terkejut.


"Enggak, bukan gitu, maksudku.... aku... nggak gitu...." Dini segera tersadar dari situasi yang terasa aneh baginya saat itu. Ia lalu mendorong tubuh Andi agar menjauh darinya.


"Kamu cemburu?" tanya Andi mengulang pertanyaannya.


Dini menggeleng cepat dan mendorong tubuh Andi agar keluar dari kamarnya.


"Enggak Ndi, enggak, sana keluar!"


Andi hanya terkekeh melihat sikap Dini. Ia tidak segera keluar dari kamar Dini. Melihat Dini yang tampak salah tingkah membuatnya semakin menggemaskan di mata Andi.


"Keluar Ndi, Aletta nunggu kamu!" ucap Dini dengan masih mendorong tubuh Andi.


Andi dengan cepat menarik kedua tangan Dini dan menggenggamnya, membuat Dini tak bisa mencegah dirinya yang terjungkal ke depan, membuatnya terjatuh menindih tubuh Andi.


Dini menjatuhkan kepalanya tepat di dada Andi, membuatnya bisa mendengar dengan jelas degup jantung Andi. Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam.


Andi masih memegang kedua tangan Dini. Ia hanya bisa menatap langit langit tanpa bergerak sedikitpun. Jantungnya sudah tampak tidak normal lagi. Detaknya begitu cepat dan tak terkendali.


"aku tau cinta ini indah Din, aku tau cinta ini selalu ada di sini sampai kapanpun dan aku tau aku nggak akan bisa ungkapin ini sama kamu," ucap Andi dalam hati.


Dini masih diam di posisinya. Mendengarkan dengan jelas degup jantung yang semakin berdetak dengan cepat.


"kalau suatu saat aku pergi, apa kamu akan tahan aku seperti kamu tahan Aletta? atau kamu biarin aku pergi karena kamu udah punya Aletta? aku nggak tau apa yang aku rasain sekarang, yang aku tau aku selalu nyaman dan tenang tiap sama kamu, aku nggak mau egois, tapi hatiku selalu egois, hati ku milih Dimas tanpa mau kamu pergi," batin Dini dalam hati.


Andi lalu melepaskan kedua tangan Dini dengan perlahan. Menyadari hal itu, Dini segera berdiri, begitu juga Andi.


"Kamu... kamu nggak papa?" tanya Andi yang tiba tiba merasa canggung.


Dini mengangguk.


"Aku nggak papa," jawab Dini dengan tersenyum canggung.


Perasaan dalam hati mereka meninggalkan kecanggungan yang tak mereka inginkan. Entah perasaan seorang sahabat atau seorang yang saling mencintai.


"Mmmm... aku masuk dulu," ucap Dini.


Andi mengangguk. Ia lalu mendekat dan mencium kening Dini.


"Aku turun dulu," ucap Andi.


Dini mengangguk. Andi lalu melangkah pergi dengan sesekali menoleh ke belakang. Di sana Dini masih berdiri di depan pintu kamarnya melihat Andi yang semakin jauh.


Tanpa mereka tau, sepasang mata menyaksikan kejadian itu. Saat dimana Andi menggenggam tangan Dini dan mereka terjatuh hingga Andi mencium kening Dini lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2