Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kemalangan Anita


__ADS_3

Bulan masih tersenyum bersama titik bintang yang menerangi hamparan gelap langit malam. Tak ada yang tau jika di balik keindahan malam itu seseorang tengah berjuang menyelamatkan harga dirinya.


"Ivan aku mohon jangan kayak gini, aku akan kasih berapapun yang kamu mau tapi......"


PLAAAAKKK


Satu tamparan mendarat di pipi Anita, meninggalkan bekas kemerahan di pipinya.


"Aku nggak butuh uang kamu sayang, harus berapa kali aku bilang," ucap Ivan dengan mengusap bekas tamparannya di pipi Anita.


Anita mulai menangis, ia tidak menyangka akan berada di posisi seperti itu.


"Aku nggak akan nyakitin kamu kalau kamu nurut sama aku, aku akan bantuin kamu kapanpun kamu butuh aku dan sebagai balasannya kamu juga harus siap kapanpun aku butuh kamu," ucap Ivan dengan membelai rambut Anita yang tampak berantakan.


Anita hanya diam, ia tidak berani mengucapkan sepatahkatapun.


Ivan lalu beranjak dari ranjang Anita dan menarik tangan Anita agar duduk. Ivan lalu mengambil sisir dan menyisir rambut Anita.


"Kamu cantik banget sayang, apa lagi kalau kamu pake' baju yang baru aku beli buat kamu," ucap Ivan dengan masih menyisir rambut Anita.


Ivan lalu mengikat rambut Anita ke atas, memperlihatkan leher jenjang Anita yang tampak begitu menggoda bagi Ivan.


"Kamu tenang aja, aku nggak akan nyakitin kamu, aku nggak akan ngelakuin hal yang kamu takutkan itu sayang."


Bel apartemen Anita berbunyi, Ivan segera keluar dan membuka pintu. Ia menerima sebuah paket lalu melemparkannya ke arah Anita.


"Itu hadiah dari aku, buka dan pake'!" ucap Ivan lalu duduk di sofa ruang tamu.


Tanpa banyak bertanya Anita segera membuka paket itu dan begitu terkejut ketika ia mengetahui apa isi dari paket itu.


"Kamu mau aku pake' ini?" tanya Anita pada Ivan.


"Iya, kamu pasti tambah cantik kalau pake' itu!"


"Enggak, aku nggak mau!"


Ivan lalu berjalan ke arah Anita dengan raut wajah kesal.


"Kenapa kamu bikin aku marah sih? tinggal pake' aja apa susahnya? aku nggak minta kamu telanjang di depanku Anita, aku cuma minta kamu pake' lingerie ini!"


"Aku nggak mau Ivan, kalau kamu nggak mau bantuin aku nggak papa, aku......"


PLAAAKKK


Tamparan kembali mendarat di pipi Anita tepat di tempat pertama kali Ivan menamparnya.


"Apa kamu selalu egois kayak gini Nit? apa kamu nggak bisa menghargai orang lain dengan baik?" tanya Ivan yang sudah memuncak amarahnya.


Ivan lalu menarik rambut Anita dengan kasar dan mendorongnya, membuat Anita terjatuh membentur sudut meja. Anita memegang keningnya yang terasa perih, ia sudah menduga jika keningnya terluka.


Ivan segera mengangkat tubuh Anita dan mendudukkannya di ranjang. Ia lalu mengambil kotak P3K yang berada tak jauh dari ranjang Anita. Ia lalu membersihkan luka Anita dan mengobatinya.


"Aku udah bilang sama kamu, aku nggak akan nyakitin kamu, tapi kalau kamu keras kepala kayak gini aku jadi nggak punya pilihan lain, maafin aku," ucap Ivan dengan mengobati luka di kening Anita.


"Kenapa kamu jadi kayak gini?" tanya Anita dengan suara parau menahan sakit di kening dan pipinya.


"Kenapa? aku juga nggak tau sayang, aku cuma mau liat kamu pake' pakaian itu, aku nggak akan apa-apain kamu dan aku janji akan jaga 'masa depan' kamu," ucap Ivan dengan membelai rambut Anita.


"Tapi kenapa? kenapa......"


"Jangan banyak tanya Anita, aku nggak suka, aku akan lakuin apapun yang kamu mau, aku akan bantuin kamu pisahin Dimas sama Dini, aku akan bantuin kamu dapetin Dimas tapi turuti kemauan aku juga, bisa?"


Anita diam beberapa saat. Ia benar benar tidak mengerti situasi saat itu, ia tidak mengerti apa yang Ivan mau sebenarnya. Tapi sejauh ini ia tau jika Ivan memang bisa diandalkan untuk membantunya. Tak ada siapapun yang dapat membantunya selain Ivan.


"Apa kamu nggak percaya sama aku? ayolah Anita, aku nggak akan melewati batas, aku cuma mau liat kamu pake' pakaian itu, apa sih susahnya? kalau aku emang jahat aku pasti udah ngelakuin 'itu' dari kemarin, tapi itu nggak mungkin karena tujuanku bukan itu, sekali lagi aku cuma mau liat kamu pake' pakaian itu, ngerti?"


Anita mengangguk pelan. Ia merasa tak punya pilihan lain. Ivan akan selalu membantunya dan ia harus mengikuti semua kemauan Ivan, cukup adil bagi Anita selama ia masih tetap bisa menjaga "mahkotanya" sebagai seorang gadis.


"Bagus, anak pintar," ucap Ivan lalu mencium kening Anita dan pergi meninggalkan Anita.


"Besok pagi aku izinin ke mama kalau kamu sakit, jadi nggak usah kerja dulu!" ucap Ivan sebelum meninggalkan apartemen Anita.


Anita hanya mengangguk dan membiarkan Ivan keluar dari apartemennya.


Anita merebahkan dirinya di ranjang. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia masih tidak menyangka atas apa yang baru saja terjadi.


"apa yang aku lakuin ini bener? iya, aku nggak punya pilihan lain, toh aku cuma harus pake' lingerie di depan Ivan dan itu sama sekali nggak bikin aku rugi kan? setelah aku berhasil pisahin Dini sama Dimas, aku akan tarik Dimas ke pelukanku dan aku akan pergi jauh dari Ivan, dia bener bener cowok gila!"


Anita lalu beranjak dari ranjangnya. Ia memandangi wajahnya di depan cermin. Terlihat memar di pipi kirinya, luka di keningnya dan pergelangan tangannya juga tampak memerah karena Ivan yang menggenggam tangannya dengan sangat kuat.


"oke Anita, sekarang waktunya tidur, lupain apa yang terjadi hari ini, anggap semua ini cuma mimpi buruk dan lupakan!" ucap Anita mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Anita lalu mengambil lingerie yang tergeletak di lantai dan menyimpannya.


**


Di tempat lain. Dimas masih berada di teras kos bersama Andi. Sedangkan Dini dan Aletta sudah lebih dulu masuk ke kamar mereka masing masing.


"Ndi, gue tidur di kamar lo ya!" ucap Dimas pada Andi.


"Kenapa? nggak ah, pulang sana!"

__ADS_1


"Ayo lah Ndi, please!" ucap Dimas merengek seperti anak kecil.


"Malam ini aja ya?"


"Iya, boleh kan?"


"Oke!"


"Tapi gue minta tolong dulu sama lo, tolong ambil laptop gue di apartemen dong hehe....."


"Lo nyusahin orang banget tau nggak!" ucap Andi lalu beranjak dari teras dan masuk ke kamarnya.


"Gue harus ngerjain laporan kafe Ndi, file nya ada di laptop, gue nggak bisa ngerjain kalau nggak ada laptop!" ucap Dimas dengan mengikuti Andi masuk ke kamar.


"Bodo amat!" balas Andi tak peduli.


"Ayo lah Ndi please........"


5 menit, 10 menit Andi mengabaikan Dimas, tapi Dimas seolah tak gentar, ia masih saja terus memohon pada Andi, membuat Andi pada akhirnya menyerah.


"Oke, mana kunci mobil lo, gue males jalan kaki!" ucap Andi membuat Dimas tersenyum penuh kemenangan.


"Ini kunci mobil, ini kunci apartemen, semua orang kenal gue kok, lo bisa tanya sama siapa aja di sana hehe....."


"Narsis lo emang!" balas Andi lalu keluar dari kamarnya.


Ia lalu menuju ke apartemen Dimas menggunakan mobil Dimas. Tak butuh waktu lama untuknya sampai di tempat tujuan. Ia segera bertanya pada resepsionis dan tentu saja sang resepsionis sangat hafal di mana anak dari pengusaha terkenal itu tinggal.


Ketika baru saja keluar dari lift, Andi berpapasan dengan Ivan. Mereka hanya saling melihat dan tak menyapa.


"itu bukannya cowok yang sama Anita kemarin? apa dia tinggal di sini juga?" tanya Andi dalam hati.


Ia lalu bergegas masuk ke apartemen Dimas dan mengambil laptop lalu segera keluar dan kembali ke kos. Ketika baru saja memarkirkan mobil Dimas di halaman kos, Andi melihat Nico yang baru saja datang.


"Dari mana Nic?" tanya Andi pada Nico.


"Dari rumah, nyokap sakit lagi," jawab Nico.


"Oh, moga cepet sembuh ya, salam buat nyokap lo!"


"Thanks Ndi, Dimas di sini?" tanya Nico yang melihat mobil Dimas.


"Iya, dia tidur di kamar gue!" jawab Andi.


Nico hanya mengangguk anggukan kepalanya lalu masuk ke kamarnya. Begitu juga Andi yang segera masuk ke kamarnya.


"Nih, buruan tidur biar nggak nyusahin gue mulu lo!" ucap Andi sambil memberikan laptop milik Dimas.


"Terserah, gue mau ngerjain tugas, jangan ganggu!"


"Siap komandan!"


Mereka lalu sibuk dengan tugas masing masing. Andi sibuk mengerjakan tugasnya dan Dimas sibuk mengerjakan pekerjaan kafenya.


"Dim, lo kenal sama tetangga apartemen lo?" tanya Andi pada Dimas. Ia ingat jika Dimas memanggil laki laki yang bersama Anita itu "Ivan" dan itu artinya Dimas mengenalnya.


"Siapa? Anita?"


"Emang Anita tinggal di sana juga?"


"Iya, masih satu lantai sama gue!"


"Kalau cowok yang sama Anita kemarin, lo kenal?"


"Kenapa? lo cemburu?"


"Enggaklah, ngapain juga cemburu!"


"Dia temennya Yoga, namanya Ivan, gue juga baru tau kemarin kalau dia kenal sama Anita."


Andi lalu mengangguk anggukan kepalanya. Ia lalu mengambil kesimpulan jika Ivan berada di apartemen tadi untuk menemui Anita.


Setelah menyelesaikan tugas kampusnya, Andi segera bersiap untuk tidur, sedangkan Dimas masih sibuk dengan pekerjaannya.


**


Malam telah pergi berganti dengan sinar matahari yang menerangi. Dimas sudah duduk di depan kamar Dini pagi pagi sekali. Ia sengaja ingin mengejutkan Dini di sana.


Dimas membawa 2 porsi bubur ayam kesukaan Dini dan dengan sabar Dimas menunggu Dini keluar. Tak lama kemudian, dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah bantalnya Dini membuka pintu kamarnya.


"Selamat pagi sayang," sapa Dimas dengan senyum manisnya.


Dini mengucek matanya untuk memperjelas pengelihatannya. Hari masih sangat pagi, matahari bahkan belum terasa panas dan Dimas sudah ada di depan matanya.


"Dimas, kamu......."


Dimas lalu memeluk Dini dan mengecup keningnya.


"Aku dari tadi di sini, kamu nggak keluar keluar!" ucap Dimas lalu masuk begitu saja ke dalam kamar Dini.


"Aku belum mandi Dimas, kamu keluar dulu!"

__ADS_1


"Belum mandi aja udah cantik gini," ucap Dimas menggoda.


"Tapi aku bau!"


Dimas lalu mendekat dan menyibakkan rambut Dini yang tergerai, memperlihatkan leher jenjang Dini dengan sempurna. Dimas lalu mendekatkan wajahnya namun segera di dorong oleh Dini.


"Kamu jangan modus!" ucap Dini lalu menjauh dari Dimas.


"Aku mau buktiin kamu beneran bau apa enggak hehe...."


"Eh bentar, kamu pake' baju Andi? kamu nggak pulang?"


"Aku tidur sama Andi semalem, biar bisa ketemu kamu pagi pagi," jawab Dimas.


Dini hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Mereka lalu menghabiskan bubur ayam yang Dimas beli. Setelah selesai sarapan, Dini memaksa Dimas untuk menunggunya di teras karena ia akan mandi dan bersiap siap. Dimas mengalah dan menunggu Dini di teras.


Tak lama setelah menunggu, Aletta datang. Dengan gaya tomboi nya, ia berjalan dengan bersenandung ria.


"Lagi happy Al?" tanya Dimas pada Aletta.


"Iya dong, hidup cuma sekali jadi harus di bikin happy," jawab Aletta.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dini, Dimas, Andi dan Aletta berangkat ke kampus dengan berjalan kaki bersama. Sedangkan Nico kembali pulang ke rumahnya untuk menemani mamanya.


Dalam perjalanan ke kampus, Dini dan Dimas berjalan dengan bergandengan tangan. Sedangkan Andi dan Aletta yang berada di belakang hanya bisa saling berbisik membicarakan Dini dan Dimas.


"Mereka emang selalu romantis gitu ya?" tanya Aletta dengan berbisik.


"Begitulah, Dini emang suka hal hal yang romantis dan Dimas emang cowok yang romantis," jawab Andi.


"Cocok deh kalau gitu," balas Aletta.


"Kenapa? kamu mau aku jadi romantis juga kayak dia?" tanya Andi.


"Aku suka kamu yang apa adanya, aku nggak mau kamu jadi orang lain," jawab Aletta.


Andi lalu merangkul bahu Aletta dan mencubit hidungnya.


"Aku emang nggak bisa romantis kayak Dimas hehe..."


"Nggak papa, aku suka!" balas Aletta dengan senyum manisnya.


Sesampainya di kampus, mereka berpisah kecuali Dini dan Dimas yang memang berada di fakultas yang sama.


Dini segera menghampiri Cika begitu ia melihat Cika yang sedang duduk seorang diri.


"Ini waktunya girls time, kamu duluan aja!" ucap Dini pada Dimas.


"Oke, bye sayang!" balas Dimas dengan berjalan terlebih dahulu sambil melambaikan tangannya.


Dini hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan Dimas.


"Kalian makin deket ya kayaknya," ucap Cika pada Dini.


"Do'ain aja biar nggak ada masalah lagi Cik," balas Dini.


Mereka lalu berjalan masuk ke kelas mereka.


**


Matahari sudah semakin tinggi, membuatnya semakin terik. Dini dan Dimas sudah berjalan pulang ke kos. Sedangkan Aletta masih menunggu Andi.


10 menit menunggu, Andi keluar dari kelas terakhirnya hari itu.


"Dini sama Dimas udah pulang duluan," ucap Aletta pada Andi yang baru saja keluar.


"Sekarang kita mau kemana?"


"Anterin aku ke mini market bentar ya!"


"Oke, ayo!"


Andi dan Aletta pun berjalan ke mini market. Sesampainya di mini market, Aletta segera masuk sedangkan Andi menunggu Aletta di bangku depan mini market.


Ketika sedang menunggu, ia melihat seseorang yang ia kenal sedang berjalan dengan mengenakan topi dan menunduk. Meski tak begitu jelas terlihat, tapi Andi melihat ada memar di pipinya.


Andi lalu berlari mengejarnya dan menarik tangannya.


"Anita!"


"Andi, kamu ngapain di sini?" tanya Anita masih dengan menunduk.


Andi lalu melepas topi yang Anita kenakan dan melihat dengan jelas memar di pipi Anita dan luka di keningnya.


"Kamu kenapa Nit?" tanya Andi.


"Aku.... aku nggak papa," jawab Anita lalu mengambil topi yang Andi pegang dan melangkah pergi namun Andi menahannya. Andi memegang pergelangan tangan Anita yang masih memerah membuat Anita sedikit merintih kesakitan.


Andi lalu melepaskan tangannya dan menarik satu tangan Anita yang lain agar Anita tidak pergi.


"Ada apa Nit? kamu kenapa? siapa yang ngelakuin ini?"

__ADS_1


Anita hanya diam dan masih menunduk. Ia tidak mungkin menceritakan pada Andi tentang apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2