Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Di Pasar Malam


__ADS_3

Malam itu semuanya tampak baik baik saja. Dimas meninggalkan Dini di pasar malam bersama Andi dan Aletta. Di sana, Dini menghabiskan banyak waktunya untuk bermain bersama Andi dan Aletta. Meski terlihat bahagia tanpa beban, nyatanya Dini masih menyimpan luka di hatinya. Bagaimanapun juga ia tak bisa begitu saja merelakan laki laki yang dicintainya pergi bersama perempuan lain.


Namun ia tidak akan egois, ia tidak akan memikirkan dirinya sendiri. Baik dirinya maupun Dimas punya kehidupan mereka masing masing, mereka masih memiliki mimpi yang harus mereka capai.


Pada akhirnya nanti, Dini hanya bisa menyerahkan semuanya pada takdir yang sudah tertulis. Entah bersama Dimas atau tidak, ia berusaha menerimanya meski jauh dalam hatinya ia sangat mengharapkan Dimas yang akan menjadi pelabuhan terkahir hatinya.


Malam itu, Dini, Andi dan Aletta masih berada di pasar malam. Andi pergi mencari kamar mandi, sedangkan Dini dan Aletta sedang sibuk menghabiskan mie ayam di hadapan mereka.


"Kamu sering ke sini sama Andi?" tanya Dini pada Aletta.


"Lumayan, kadang kita ke sini dari siang, dari masih sepi banget sampe' jadi rame banget," jawab Aletta.


"Abis ini aku pulang duluan ya, aku nggak mau ganggu kamu sama Andi di sini," ucap Dini.


"Kamu nggak ganggu Din, kita pulang bareng aja, aku juga udah mau pulang kok!"


"Dimas kemana sih? akhir akhir ini dia sering tiba tiba ngilang gitu," lanjut Aletta bertanya.


"Sibuk sama kafenya," jawab Dini berbohong.


"Dimas emang husband material banget ya hehe, udah cakep, anak orang kaya, pinter, punya bisnis sendiri, keren banget emang," ucap Aletta.


"Al, kenapa kamu bilang gitu? kamu......."


"Haha.... enggak Din, enggak, aku nggak akan rebut Dimas kok tenang aja haha.... lagian di mataku Andi tetep yang terbaik, Dimas nggak ada apa apanya dibanding Andi hehe...."


"Ada apa nih? ngomongin aku ya?" tanya Andi yang tiba tiba datang dengan mengalungkan tangannya di leher Aletta.


"Kamu mau bunuh aku Ndi?" balas Aletta dengan menarik tangan Andi yang melingkar di lehernya.


"Darah istri yang durhaka sama suami halal buat dibunuh haha...."


"Oh, jadi kamu bunuh aku biar bisa sama Dini aja? kayak gini nih cara kamu nyingkirin aku? harusnya kamu nggak pilih aku kalau emang kamu nggak cinta sama aku," balas Aletta membuat Andi dan Dini hanya diam saling pandang.


"Ta, aku cuma....."


"Kenapa wajah kamu serius banget sih, hahaha...." ucap Aletta dengan memukul lengan Andi. Ia hanya bercanda tapi raut wajah Andi dan Dini seketika berubah mendengar pertanyaan iseng nya itu.


"Ayo pulang!" ucap Andi lalu menarik tangan Aletta dengan dingin.


Dini lalu mengikuti Aletta dan Andi keluar dari area pasar malam.


"Kita pulang naik apa? kamu udah pesen taksi?" tanya Aletta.


Andi hanya diam, ia mengacuhkan Aletta.


"kamu bunuh aku biar bisa sama Dini aja? kayak gini nih cara kamu nyingkirin aku? harusnya kamu nggak pilih aku kalau emang kamu nggak cinta sama aku," batin Andi menirukan pertanyaan Aletta beberapa waktu yang lalu.


"nggak lucu," batin Andi seolah menjawab candaan Aletta yang dinilainya tidak lucu.


"Kenapa ke halte? kamu nggak ngajak aku naik bis kan?" tanya Aletta yang mulai panik.


Andi hanya diam dengan pandangan mematikan. Ia kembali menjadi manusia kutub yang dingin dan menjengkelkan bagi Aletta.


Menyadari keadaan yang tampak tegang, Dini memilih untuk menjauh dari Andi dan Aletta. Ia tidak ingin keberadaannya di sana malah menambah masalah mereka berdua.


"Kalian duluan aja, bentar lagi Dimas jemput aku kok!" ucap Dini pada Andi dan Aletta.


"Kamu mau nunggu Dimas sendirian?" tanya Andi membuat Aletta seketika membulatkan matanya tak percaya.


Dari tadi Andi hanya diam dan mengabaikannya, namun tidak pada Dini. Andi masih menjadi sosok yang manis untuk Dini, membuat Aletta iri. Iri? entah iri atau cemburu yang sedang Aletta rasakan saat itu.


"Dia udah di jalan kok, bentar lagi nyampe', kamu sama Aletta duluan aja!"


"Mana mungkin aku biarin kamu di sini sendiri Din," balas Andi lalu duduk di samping Dini, sedangkan Aletta masih berdiri di pinggir jalan dengan kesal.


"kamu sengaja bikin aku cemburu Ndi? oke kalau itu mau kamu toh aku emang nggak berhak buat cemburu," batin Aletta dalam hati.


Tak lama kemudian sebuah bus berhenti di depan halte. Tanpa pikir panjang Aletta segera menaiki bus di hadapannya, membiarkan Andi berdua dengan Dini.


Andi yang dari tadi membuang muka dari Aletta tak menyadari jika Aletta sudah menaiki bus yang baru saja berhenti. Sedangkan Dini yang sibuk dengan ponselnya juga tak menyadari kepergian Aletta.


"dia beneran biarin aku naik sendiri? haha.. harusnya aku tau, Dini emang lebih penting dari semuanya, apa lagi aku yang cuma butiran debu di matanya," batin Aletta dalam hati.


"duh, kenapa jadi pingin nangis gini sih, kenapa rasanya sakit, aaarggghhh enggak, nggak boleh nangis," batin Aletta menguatkan dirinya sendiri.


Bus sudah berjalan meninggalkan halte. Aletta masih berdiri karena tak ada tempat duduk yang kosong. Hatinya terasa sakit namun ia berusaha untuk menguatkan hatinya.


Tiba tiba bus berhenti, membuat tubuh Aletta terdorong ke depan dan menabrak seorang laki laki hingga ponsel yang dibawanya jatuh.


"Sorry sorry, gue nggak sengaja!" ucap Aletta sambil memberikan ponsel laki laki itu yang baru saja diambilnya dari bawah.


"Pertama kali naik bis?" tanya laki laki itu.


"Iya, eh enggak, ke dua kali hehe...."


Laki laki itu lalu tersenyum dan menarik tangan Aletta untuk memegang sandaran kursi.


"Pegang kuat kuat," ucap laki laki itu tanpa melepaskan tangannya dari tangan Aletta.

__ADS_1


Tiba tiba sebuah tangan menarik kasar tangan laki laki itu.


"Singkirin tangan lo!" ucap si pemilik tangan yang tiba tiba datang.


"Andi!" ucap Aletta yang begitu terkejut melihat kedatangan Andi.


Bus kembali mengerem dengan tiba tiba, Andi segera bergeser dan pasang badan untuk Aletta agar Aletta tak terjatuh ke arah laki laki itu. Andi menangkap tubuh Aletta yang terdorong ke arahnya dan memeluknya beberapa saat.


Aletta hanya diam, ia hanya bisa merasakan getaran hebat di dadanya. Jantungnya seolah mengajaknya melompat karena kegirangan. Ia tak menyangka jika Andi akan datang. Benar benar di luar dugaannya.


Andi lalu menggandeng tangan Aletta untuk maju ke dekat pak supir dan meminta si supir untuk menghentikan busnya.


"Maaf pak, kita salah naik bus," ucap Andi pada si supir.


Supir pun menghentikan busnya hanya untuk menurunkan Andi dan Aletta. Dengan raut wajah yang tampak dingin, Andi masih menggandeng tangan Aletta menyusuri trotoar malam itu.


Aletta masih diam, ia menikmati debaran indah dalam hatinya. Senyum manis tak bisa ia tahan untuk tidak terlihat dari bibirnya.


Andi lalu melepas tangan Aletta ketika mereka sampai di sebuah mini market.


"Tunggu di sini dan jangan kemana mana!" ucap Andi datar namun penuh penekanan.


Aletta hanya tersenyum dan mengangguk patuh. Jika dulu ia sangat membenci sikap dingin Andi, saat itu ia malah sangat menyukainya. Ia tau di balik sikapnya yang terkesan cuek dan tidak peduli itu ia menyimpan perhatian dan kekhawatiran dalam dirinya.


Tak lama kemudian Andi keluar dari mini market dengan membawa sebotol minuman jahe dan memberikannya pada Aletta.


"Aku nggak suka," ucap Aletta.


"Minum Ta, biar kamu nggak mual!"


"Aku nggak mual kok, kamu khawatir ya sama aku?"


"Minum atau aku pergi!"


"Tapi aku nggak suka minuman kayak gitu Ndi, aku juga nggak mual kok, bis nya baru jalan tadi, jadi aku belum sampe' mual," jelas Aletta.


Tak lama kemudian sebuah taksi berhenti di depan mini market. Andi lalu menarik tangan Aletta untuk masuk ke dalam taksi.


Selama perjalanan pulang tak ada percakapan sama sekali antara Andi dan Aletta. Andi masih kesal pada ucapan Aletta beberapa waktu yang lalu, sedangkan Aletta masih sibuk menikmati debar debar asmara dalam hatinya.


Tak lupa Andi menanyakan keberadaan Dini karena sebenarnya ia juga berat meninggalkan Dini berada di halte sendirian. Ia hanya bisa berharap Dimas akan segera datang karena ia tidak tau jika Dini berbohong padanya. Dini bahkan tidak tau apakah Dimas akan kembali menemuinya atau tidak.


Beberapa waktu lalu ketika Aletta baru saja menaiki bus, Dini dan Andi baru menyadari jika Aletta menghilang tiba tiba bersama bus yang mulai meninggalkan halte.


Tanpa pikir panjang Andi segera mengejar bus itu dengan ojek pangkalan yang ada di dekat halte. Ia sengaja memberhentikan bus itu dengan tiba tiba. Sejujurnya meski ia mengajak Aletta dan Dini pergi ke halte, ia tidak akan pulang menggunakan bus karena ia tau bagaimana tersiksanya Aletta ketika ia menaiki bus dan ia tak mau itu terjadi lagi.


**


Di apartemen Anita, ia sedang bersama Dimas saat itu.


"Dimas, kapan kamu mau ajak aku ketemu mama papa kamu?" tanya Anita.


"Buat apa?"


"Ya buat kasih tau mereka kalau kamu sekarang sama aku, bukan sama Dini."


"Mereka sibuk Nit."


"Kalau gitu kapan kita liburan?"


"Aku sibuk Anita, kamu tau kan gimana keadaan kafe, aku masih harus sering balik ke kafe buat bantuin Toni sama Tiara."


"Kan ada kak Yoga!"


"Yoga juga punya kesibukan lain Anita, tolong kamu ngertiin aku."


"Tapi aku....."


Biiiipp Biiippp Biiippp


Ponsel Anita berdering, membuat Anita menghentikan ucapannya dan mengambil ponselnya di meja.


Panggilan masuk dari Ivan. Anita mengabaikannya namun kemudian Ivan mengirim sebuah pesan.


Udah berani nggak angkat telfonku?


Anita hanya mendengus kesal lalu masuk ke kamarnya untuk menghubungi Ivan.


"Aku ke kamar bentar ya!" ucap Anita pada Dimas.


Dimas hanya mengangguk.


Anita lalu menghubungi Ivan dengan suara yang sangat pelan, ia takut jika Dimas akan mendengarnya.


"Kenapa kamu bisik bisik?" tanya Ivan dari ujung sambungan ponsel.


"Aku lagi sama Dimas di apartemen," jawab Anita.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau udah pulang? aku kan bisa anter kamu!"

__ADS_1


"Kamu nggak perlu anterin aku lagi, udah ada Dimas yang bisa anter jemput aku!"


"Oke terserah kamu, aku cuma mau minta bayaranku sekarang!"


"Berapa? aku transfer sekarang!"


"Jangan pura pura lupa Nit, kamu udah janji sama aku!"


Anita diam beberapa saat. Ya, ia ingat apa yang dimaksud "bayaran" oleh Ivan.


"Tapi aku lagi sama Dimas, aku...."


"Aku nggak mau tau, aku mau ambil bayaranku sekarang, aku kesana sekarang!"


"Tapi....."


Tuuuuuttttt. Panggilan terputus. Anita lalu mencoba berpikir keras bagaimana membuat Dimas meninggalkan apartemennya tanpa Dimas curiga.


Anita lalu keluar dari kamarnya dan melihat Dimas sedang membaca majalah fashion.


"Dimas, mbak Dewi mau dateng," ucap Anita mencoba membuat Dimas pergi.


"Terus kenapa?"


"Sebenernya mbak Dewi minta aku jauhin kamu dan aku bilang sama mbak Dewi kalau aku udah lupain kamu, jadi kalau mbak Dewi liat kamu di sini dia pasti marah banget sama aku," jelas Anita.


"Jadi kamu mau aku pergi?"


Anita mengangguk pelan.


"Oke, aku pergi sekarang!" ucap Dimas santai tanpa beban. Ia sangat senang karena ia tidak harus berlama lama dengan Anita.


Anita lalu berlari mencegah Dimas yang hendak membuka pintu.


"Kenapa kamu buru buru sih? kamu mau kemana?" tanya Anita dengan menghadang Dimas.


"Kamu bilang aku harus pergi kan? ya aku pergi, aku nggak mau ada keributan kalau Dokter Dewi liat kamu di sini sama aku!"


"Iya sih, tapi kamu nggak mau peluk aku?"


Dimas lalu tersenyum kecil dan memeluk Anita.


"Aku pergi dulu ya, jaga diri kamu baik baik," ucap Dimas lalu meninggalkan apartemen Anita.


"kamu udah sama aku sekarang, tapi kenapa rasanya hampa, kenapa rasanya seperti kamu nggak nyata buat aku, apa karena belum ada cinta di hati kamu? sabar Anita, lama lama Dimas akan sadar betapa besar cinta kamu buat dia dan dia akan membalas cinta kamu sebesar kamu mencintainya."


Tak sampai 30 menit setelah kepergian Dimas, Ivan datang dengan membawa 2 paper bag untuk Anita.


"Apa ini?" tanya Anita.


"Buka aja."


Anita lalu membukanya dan melihat pakaian yang super mini di dalamnya.


"Ini punya siapa? kenapa kecil banget?"


"Itu punya kamu, aku mau kamu pake' itu sekarang."


"Se... sekarang?"


"Iya, aku mau ambil bayaranku sayang," ucap Ivan dengan membelai rambut Anita.


"Tapi... aku....."


"Kamu udah janji Anita, aku udah bikin kamu dapetin Dimas sekarang, apa kamu lupa itu?"


"Aku cuma harus pake' ini kan? kamu nggak akan...."


"Tenang sayang, aku bukan cowok kayak gitu, kamu cukup pakai pakaian itu dan lakuin pekerjaan rumah yang sering kamu lakuin!"


"Pekerjaan rumah?"


"Iya, yang gampang gampang aja, misalnya nyapu, bersih bersih meja, cuci piring atau lainnya," jelas Ivan.


"Kenapa aku harus ngelakuin itu? kenapa....."


Mendengar Anita yang tidak segera menuruti kemauannya, Ivan menjadi geram. Ia lalu menjambak rambut Anita dengan kuat membuat Anita menghentikan ucapannya dan merintih kesakitan.


"Kamu tau kan kalau aku nggak suka kamu banyak tanya, jadi lakuin aja apa yang aku mau, ngerti?"


Anita mengangguk pelan dengan memegangi rambutnya yang ditarik oleh Ivan.


Baru saja Anita mengenakan pakaian yang Ivan bawa, bel apartemennya berbunyi. Ivan lalu segera melihatnya dari lubang kecil yang ada di pintu.


"Dimas, kenapa dia kesini lagi?" tanya Ivan pada Anita.


"Hah, Dimas? kamu yakin?"


Anita lalu ikut mengintip ke lubang pintu dan melihat Dimas yang sedang berdiri di hadapan pintu apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2