
Temaram bulan bersembunyi di balik awan. Cahayanya seperti enggan untuk menyinari kegelapan malam. Di bawah guyuran air hangat Dimas membasuh seluruh badannya, menghilangkan penat yang sudah mendera seluruh badan dan pikirannya. Tidak hanya tentang Dini dan Anita, ia juga memikirkan kuliahnya, memikirkan kafenya yang kembali ia percayakan pada Yoga.
Setelah selesai menghabiskan beberapa menit di dalam kamar mandi, Dimas keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Anita yang sedang terbaring di tempat tidurnya. Dengan rambut terurai dan hanya mengenakan lingerie tipis, Anita berbaring menunggu kedatangan Dimas.
Dimas masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Untuk beberapa saat matanya menatap Anita tanpa berkedip, bahkan ponsel di tangannya sampai terjatuh. Namun ia segera menguasai dirinya. Ia segera mengambil pakaiannya dan kembali ke kamar mandi. Jantungnya berdetak cepat. Ia tak pernah melihat hal itu sebelumnya. Jangankan untuk melihat, membayangkannya saja ia tak pernah. Ia benar benar tidak habis pikir dengan apa yang Anita lakukan.
Setelah mengenakan pakaiannya, dengan rambut yang masih basah dan berantakan, Dimas segera kembali ke tempat tidurnya. Ia melemparkan handuk basahnya ke arah Anita.
"Apa apaan kamu Nit!"
Anita tersenyum, ia beranjak dari tempat tidur dan mendekati Dimas. Perlahan Dimas melangkah mundur, sebagai laki laki normal ia tau maksud Anita.
"Kamu udah pernah ngelakuin itu Dim, kamu nggak mau lagi?"
"Kamu bener bener gila Anita!"
"Aku bahkan bisa lebih gila dari ini!"
Dimas menggeleng tak percaya. Anita benar benar sudah kehilangan akal sehatnya.
Dimas melangkah ke arah pintu. Ia harus segera keluar dari apartemennya. Namun Anita mengejarnya dan menahannya. Ia memeluk Dimas dari belakang. Dimas merasakan sesuatu yang halus dan kenyal terasa hangat di punggungnya. Sesaat ia terdiam. Anita semakin memeluk Dimas, mengusap dada Dimas pelan dan perlahan usapan tangannya semakin turun ke bawah.
Dimas segera berbalik dan mendorong tubuh Anita. Ia menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Tapi ia sadar, ia tak akan mengulangi kesalahannya lagi.
"Sakit kamu Nit!" ucap Dimas lalu keluar dari apartemennya.
Ia mengacak acak rambutnya kasar. Ia keluar apartemen tanpa membawa apapun, ponsel, kunci mobil, apa lagi dompet. Ia berjalan di trotoar jalan raya dengan keadaan yang kacau. Ia berjalan tanpa arah dan hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Ia tidak ingin kembali ke apartemennya malam itu.
Di bawah temaram lampu jalan, ia melihat seseorang sedang duduk seorang diri di kursi yang ada di trotoar. Seseorang itu hanya memandang kosong ke arah jalan raya. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat itu.
Dimas segera mendekat dan duduk di sampingnya.
"Dimas!"
Dimas menoleh dan memberikan senyumnya untuk gadis yang dicintainya itu.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Dini.
"Jalan jalan aja, kamu sendiri?"
"Aku....... aku juga jalan jalan aja," jawab Dini berbohong.
Dimas tersenyum dan memandang ke arah jalan raya. Kendaraan masih lalu lalang memenuhi jalanan kota meski sudah larut malam.
"Kamu dari mana?" tanya Dini yang melihat Dimas tampak kacau, tidak seperti biasanya yang selalu memperhatikan penampilannya.
Dimas hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong, rambut basah dan masih belum disisir. Tak ada wangi parfum yang biasanya selalu menjamah hidung ketika berada di dekat Dimas.
"Dari apartemen," jawab Dimas.
"Abis ngapain?" tanya Dini lagi, membuat Dimas menoleh cepat ke arah Dini. Ia sedikit gugup mendengar pertanyaan Dini.
"Enggak, aku nggak abis ngapa ngapain, aku......"
"Tumben kamu keliatan berantakan kayak gini!"
"Berantakan?"
Dini mengangguk. Ia mendekatkan dirinya ke arah Dimas lalu merapikan rambut Dimas dengan tangannya. Jarak mereka sangat dekat, membuat Dimas menahan napasnya karena pikirannya yang masih kotor gara gara kejadian yang baru saja ia alami.
"Udah, cakep," ucap Dini lalu kembali duduk seperti semula.
"Apa aku berantakan banget?" tanya Dimas.
"Mmmm, kalau dibanding sama kamu yang biasanya sih iya, ini pertama kali aku liat kamu kayak gini, biasanya kamu peduli banget sama penampilan," jelas Dini.
"Tapi masih cakep kan?"
Dini menoleh dan mengangguk dengan senyum manisnya.
"Kamu udah makan belum?" tanya Dini.
"Belum, mau makan?"
"Ayo, aku tau nasi goreng yang enak di sini!"
"Ayo!"
Mereka pun beranjak dari duduknya lalu berjalan berdampingan ke arah tempat kos Dini. Ya, Dini akan mengajak Dimas untuk ke tempat nasi goreng favoritnya.
__ADS_1
"Eh bentar!" ucap Dimas dengan menarik tangan Dini. Ia lupa jika tidak membawa apapun saat itu, termasuk dompet.
"Kenapa?"
Dimas memasukkan tangannya ke seluruh saku celananya, berharap ada beberapa lembar uang yang akan ia temukan di sana. Namun nihil, tak ada selembar uangpun dalam saku celananya.
"Aku lupa bawa dompet, aku juga nggak bawa HP, aku nggak bawa apa apa," ucap Dimas dengan menahan malu. Ia benar benar merasa menjadi laki laki yang sangat bodoh karena hal itu. Bagaimana mungkin ia tidak membawa apapun ketika ia ingin mendekati gadis yang dicintainya.
Dini tersenyum dan menggandeng tangan Dimas.
"Nggak masalah," ucap Dini dengan menarik tangan Dimas.
Dimas tersenyum dan mengikuti langkah Dini. Mereka masih bergandengan tangan sampai mereka tiba di tempat nasi goreng favorit Dini.
Tak lama setelah memesan, dua porsi nasi goreng dan es teh telah datang di hadapan Dini dan Dimas.
"Hmmmm, dari baunya kayaknya enak," ucap Dimas.
"Iya dong, ini favorit aku sama anak anak kos," jelas Dini.
Merekapun mulai menyantap nasi goreng mereka hingga habis tak bersisa.
"Kamu mau langsung pulang?" tanya Dini.
"Enggak, malam ini aku nggak bisa balik ke aparetemen," jawab Dimas.
"Kenapa?"
"Ada ular berbisa di kamar, ngeri banget, aku nggak berani tidur di sana!" jawab Dimas berbohong, sedikit berbohong karena memang ia menganggap Anita sebagai ular yang berbisa.
"Haahh, ular berbisa? kok bisa? kamu nggak lapor sama pihak keamanan apartemen?"
"Udah kok, tapi aku masih nggak berani balik, takut tiba tiba muncul lagi," jawab Dimas dengan bergidik ngeri.
"Terus malam ini kamu mau tidur dimana?"
Dimas mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab.
Dini diam beberapa saat.
"Ikut aku," ucap Dini dengan menggandeng tangan Dimas lagi. Ia mengajak Dimas ke kosnya.
Tempat kos Dini memang bebas, bahkan terkadang teman perempuannya membawa laki laki untuk menginap, begitu juga teman laki lakinya yang berada di lantai bawah, mereka juga sering membawa teman perempuan mereka menginap. Semua itu tidak jadi masalah selama mereka tidak melakukan hal hal yang mengganggu kenyamanan bersama.
"Kamu mau ngajak aku........"
"Jangan mesum!" ucap Dini dengan memberikan sebuah kunci pada Dimas.
"Apa ini?"
"Kunci kamar Andi, dia kayaknya nggak pulang, kamu bisa tidur di sana," jawab Dini.
"Aku pikir kamu ngajak aku tidur di sini sama kamu hehe....."
Dini menggeleng gelengkan kepalanya lalu mengajak Dimas untuk ke kamar Andi.
"Apa Andi nggak marah nanti?" tanya Dimas.
"Kenapa marah?"
"Kamu belum bilang dia!"
"Nanti aku bilang dia, tenang aja!"
Merekapun masuk ke kamar Andi. Dini kemudian menyalakan laptop milik Andi.
"Mau liat film nggak?" tanya Dini.
"Boleh," jawab Dimas.
Dini segera mencari folder film yang sudah Andi simpan.
"Kamu kok bisa bawa kunci kamar Andi?"
"Iya, aku sama Andi emang sengaja duplikat kunci kamar kita, Andi juga bawa kunci kamar ku," jawab Dini.
"Emang Andi kemana?" tanya Dimas.
"Di rumah sakit, nemenin Aletta," jawab Dini tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop, ia masih sibuk mencari film yang akan ia lihat bersama Dimas.
"Oh, mereka kayaknya deket ya?"
__ADS_1
Dini menoleh ke arah Dimas, lalu menaikkan kedua bahunya tanpa menjawab.
"Menurut kamu Aletta gimana?"
"Baik," jawab Dini singkat.
"Ya, dia cocok sama Andi, aku pasti dukung mereka kalau mereka jadian, menurut kamu gimana?"
"Kamu udah liat film ini?" tanya Dini tanpa menjawab pertanyaan Dimas, karena ia sengaja mengabaikan ucapan Dimas yang membahas tentang Andi dan Aletta.
"Udah, gimana kalau liat horor aja, ada nggak?"
"Ada sih, tapi......"
"Tapi apa? kamu takut ya?"
"Enggak, aku nggak takut!" jawab Dini cepat.
Ia segera mencari folder film horor milik Andi. Ia kemudian mengklik sebuah film berjudul Inside 2007.
"Kamu yakin mau liat film itu?" tanya Dimas.
"Yakin, aku nggak akan takut Dimas, tenang aja!" jawab Dini.
"Tapi itu film gore loh Din!"
"Tenang aja, aku bukan penakut Dimas!"
Dini dan Dimas duduk bersandar pada dinding ketika film di mulai.
Tokoh utama dalam film itu adalah seorang perempuan yang sedang hamil. Setelah memeriksakan kandungannya, si perempuan dan sang suami mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sang suami meninggal. Dengan keadaan perut yang membuncit, si istri harus menjalani hari harinya di kawasan perumahan yang sepi tanpa sang suami. Hingga pada suatu malam seorang perempuan memaksa masuk ke dalam rumahnya, seorang perempuan yang menginginkan bayi dalam perut sang tokoh utama. Karena genre dari film horor itu adalah gore, maka banyak adegan yang berdarah darah yang membuat ngilu. Mulai dari pusar yang ditusuk dengan gunting, tangan yang ditusuk dengan gunting dan masih banyak adegan yang membuat Dini dan Dimas bergidik ngeri.
Sesekali Dini menutup matanya, ia memegangi perutnya. Ia merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Ia pernah merasakan kesakitan itu.
Dimas meregangkan tangannya dan membawa Dini ke dalam pelukannya.
"Kamu baik baik aja Andini?"
Dini mengangguk pelan. Ia sudah tidak sanggup menatap layar laptop di hadapannya. Dimas yang melihat Dini sedang tidak baik baik saja segera menyudahi film yang ia liat lalu menutup laptop milik Andi.
"Lupain Andini, itu cuma mimpi buruk, kamu udah bangun sekarang, ada banyak orang orang yang sayang sama kamu di sini dan nggak akan ada bisa jahatin kamu lagi," ucap Dimas dengan mengusap lembut rambut Dini.
Dini masih meringkuk dalam pelukan Dimas. Ia merasa darahnya kembali mengalir dari setiap bekas luka yang ditinggalkan oleh Dika di tubuhnya. Ia merasakan perih dari setiap bekas lukanya. Tentu saja itu karena ia masih trauma atas hal buruk yang sudah terjadi padanya.
"Andini, liat aku," ucap Dimas dengan memegang pipi Dini dan membawa mata Dini untuk menatapnya.
"Semuanya udah terjadi dan nggak akan pernah terulang lagi, sekarang hanya ada kamu sama orang orang yang sayang sama kamu, lupain semuanya yang menyakitkan buat kamu, kamu akan baik baik aja, semuanya akan baik baik aja, percaya sama aku!" lanjut Dimas.
Dini mengangguk pelan, lalu memeluk Dimas dengan erat. Dimas mencium pucuk kepala Dini lembut, membuat Dini melepaskan diri dari pelukan Dimas.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Ada rindu yang menggelora dalam diri mereka berdua. Rindu yang tak akan tuntas hanya dengan sekedar bertemu. Rindu yang hadir karena jarak dan takdir yang menjauhkan mereka. Rindu akan hangatnya pelukan dan kasih sayang. Rindu akan debaran indah yang menyelinap dalam hati.
Dimas memeluk Dini dan berbisik.
"Aku sayang sama kamu, selamanya," ucap Dimas membuat Dini tanpa sadar memejamkan matanya.
Hembusan napas Dimas terasa hangat di telinganya. Meninggalkan rasa yang sulit untuk ia jelaskan. Dimas menurunkan kepalanya, memberikan ciuman tipis di leher Dini. Dini hanya diam, ia menggengam erat satu tangan Dimas.
Dimas menatap mata Dini jauh ke dalam, menyuarakan rasa yang tak bisa ia jelaskan. Mereka hanya diam saling menatap sebelum Dimas mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Dini. Tidak, tak hanya kecupan, Dimas memegang tengkuk Dini seakan enggan untuk melepaskan tautan cinta diantara mereka. Mereka membawa suasana menjadi indah. Jantung yang berdetak tak beraturan seperti mengalunkan nada nada cinta dalam diri mereka. Untuk beberapa saat mereka menyelami dalamnya cinta melalui ciuman hangat yang mereka berdua ciptakan.
PYAAAARRRRR!!
Seseorang dari luar kamar Andi tanpa sengaja menjatuhkan piring, membuat Dimas dan Dini segera menyudahi dua bibir yang sedang bertaut mesra malam itu.
Mereka berdua saling menunduk dan tersipu malu. Dini lalu mendekat dan mencium pipi Dimas kemudian menggeser duduknya menjauhi Dimas. Dimas menoleh cepat ke arah Dini, sedangkan Dini hanya memamerkan senyumnya, membuat Dimas kembali menarik Dini ke dalam dekapannya. Dimas memegang pipi Dini, membawa pandangan Dini ke arahnya, membuat Dini mendongakkan kepalanya menatap Dimas.
Dimas kembali mendaratkan bibirnya di bibir Dini. Sekali lagi, bibir mereka bertaut, meninggalkan rasa indah yang sudah lama terpendam. Mereka hanyut dalam romantisme masa remaja mereka, meluruhkan semua rasa yang sudah lama menyiksa, menyapu semua rindu yang akhirnya membuat mereka kembali bersatu.
Sungguh malam yang tak terlupakan bagi mereka yang sedang memadu kasih dalam pesona keindahan cinta mereka berdua. Malam yang membuat mereka semakin mengerti akan cinta yang tumbuh dalam hati. Cinta yang mungkin tak bisa mengubah takdir perjalanan hidup mereka, cinta yang hanya akan mereka rasakan keindahannya meski hanya sesaat. Ya, sesaat, karena mereka sama sama sadar akan kehadiran orang ketiga diantara cinta mereka.
**
Di rumah sakit.
Andi masih menemani Aletta di rumah sakit. Saat itu Aletta sudah tertidur nyenyak setelah minum obat. Andi mencoba untuk menghubungi Dini, namun tak ada jawaban. Ia pun menghubungi salah satu teman kosnya untuk menanyakan keberadaan Dini.
"Gue tadi liat dia masuk kamar lo, sama cowoknya kayaknya!"
"Cowoknya? siapa?"
"Yang kemarin pernah ke sini, yang bawa Porsche!"
__ADS_1
"Dimas?"
Klik. Andi mematikan sambungan ponselnya. Ia segera keluar dari ruangan Aletta dan meninggalkan rumah sakit.