
Bel pulang sekolah berbunyi. Sebelum meninggalkan kelas, Dini meminta maaf pada Andi atas tamparannya kemarin.
"Nggak papa Din, nggak usah dipikirin," ucap Andi pada Dini.
"Aku masih sahabat kamu kan?"
"Iya dong, selamanya!" jawab Andi dengan mengusap lembut rambut Dini.
Dimas yang melihat hal itu segera menghampiri Dini dan Andi. Ia menarik tangan Andi yang mengusap rambut Dini.
"Udah, jangan lama lama!" ucap Dimas cemburu.
"Oke oke, ya udah gue duluan!" balas Andi lalu pergi meninggalkan Dimas dan Dini.
Di depan gerbang sekolah, Anita sudah berdiri menunggu taxi datang.
Dini yang sedang menunggu Dimas pun menghampirinya.
"Nggak bawa mobil Nit?" tanya Dini.
"Enggak Din, lagi di bengkel," jawab Anita.
"Mau bareng nggak? aku sama Dimas mau ke cafe!"
"Boleh!" jawab Anita bersemangat.
Tak lama kemudian mobil Dimaspun keluar dan berhenti di depan Dini dan Anita.
"Sekalian anter Anita ya, dia nggak bawa mobil!" ucap Dini pada Dimas.
Dimas mengangguk.
Dini dan Anitapun masuk. Dini yang hendak duduk di belakang, tiba tiba di cegah oleh Andi yang entah darimana tiba tiba saja muncul.
"Kamu di depan, aku di belakang!" ucap Andi pada Dini.
Dini hanya tersenyum lalu duduk di samping Dimas.
"Lo ngapain?" tanya Dimas pada Andi.
"Gue ikut hahaha....." jawab Andi tanpa rasa berdosa karena tiba tiba masuk tanpa permisi.
"Ke kafe?"
"Iya, kemana aja yang penting gue ikut!"
"Rese' lo, orang gue cuma mau nganter Anita pulang!"
"Eh, aku ikut ke kafe juga dong!" ucap Anita tiba tiba.
"Jadi ke kafe semua nih?" tanya Dimas meyakinkan.
"Iya!" jawab Anita dan Andi serempak.
Dimaspun melajukan mobilnya ke arah kafe.
*****************
Di kafe, Yoga sedang bersitegang dengan seorang laki laki yang merupakan om nya.
"Ga, tolong kamu jangan egois, rumah itu akan jadi milik kamu kalau kamu mau tinggal di sana," ucap Dani, adik dari mama Yoga.
"Yoga nggak butuh rumah itu om, kalau om mau ambil aja!" jawab Yoga datar.
"Jangan munafik kamu Ga, kamu nolak tinggal di rumah itu tapi nerima cek kosong yang selalu kak Nindi kasih kan?"
"Cek ini yang om maksud?" ucap Yoga dengan mengeluarkan berlembar lembar cek kosong dan merobeknya tepat di hadapan Dani.
"Yoga nerima cek ini karena Yoga menghargai tante Angel, nggak lebih dari itu dan asal om tau, Yoga sama sekali nggak pernah gunain cek itu!" lanjut Yoga yang penuh emosi.
"Kamu harusnya bersyukur Ga, orangtua kamu masih mau kasih uang buat kamu, mereka......"
"Uang? Yoga bisa cari uang sendiri om, yang Yoga butuhin cuma kasih sayang, bukan uang, Yoga nggak perlu ngemis uang sama siapapun, jadi jangan samain Yoga sama om, kita beda!"
"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu? kamu kira saya......"
"Yoga udah tau semuanya om, Yoga tau semua kelicikan om buat ambil alih bisnis mama papa, tapi Yoga nggak peduli!"
"Kurang ajar kamu!" ucap Dani dengan melayangkan tinjunya ke wajah Yoga, membuat Yoga jatuh tersungkur.
Yoga segera berdiri namun Dani sudah menghujaninya dengan pukulan pukulan yang membuat Yoga tidak sempat membalas.
Dimas yang baru saja datang tanpa basa basi segera menendang laki laki yang tak dikenalnya itu. Begitu juga Andi yang ikut menghajar Dani.
Sedangkan Dini dan Anita membantu Yoga untuk berdiri.
"Kak Yoga nggak papa?" tanya Dini.
"Nggak papa Din," jawab Yoga dengan memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Abisin nggak nih?" tanya Dimas pada Yoga.
"Terserah kalian!" jawab Yoga yang langsung masuk ke dalam cafe dengan berjalan terpincang pincang menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Abisin aja Dim!" ucap Andi pada Dimas.
Dani yang sudah babak belur hanya bisa pasrah menerima pukulan demi pukulan dari Dimas dan Andi yang tak memberinya ampun sedikitpun.
Setelah melihat Dani sudah tak berdaya, Dimas dan Andi menghentikan pukulannya.
"Kalian ini kenapa main keroyok hah?" tanya Dani emosi namun tak bisa melakukan apapun.
"Maaf, kita nggak sengaja hahaha......" jawab Dimas lalu pergi begitu saja.
"Gila lo Dim, aman nggak nih?" tanya Andi yang mulai takut akan akibat dari perbuatannya.
"Aman, tenang aja!" jawab Dimas santai.
"Emang dia siapa?"
"Nggak tau hahaha......"
"Waaahh, bener bener gila lo Dim, ngapain gue ikutan tadi, aaarrrgghhh sialan lo Dim!" balas Andi kesal.
"Kok nyalahin gue, lo sendiri ngapain ikutan?"
"Gue pikir lo kenal!"
"Gue nggak kenal, tapi dia udah hajar Yoga sampe' kayak gitu jadi mana mungkin gue diem aja!"
"Iya juga sih, tapi tetep aja gue takut, kalau orang itu lapor polisi gimana?"
"Kita masuk penjara hahaha....."
"Dim, serius dong! gue nggak mau masa depan gue hancur, kasian orangtua gue Dim, gila lo!"
__ADS_1
"Hahaha, tenang aja Ndi, orang itu nggak mungkin lapor polisi, tuh!" ucap Dimas dengan menunjuk CCTV di beberapa sudut tempat parkir.
"CCTV? jadi?"
"Iya, ada bukti kalau orang itu dulu yang nyerang Yoga," jelas Dimas.
"Beneran aman kan Dim?"
"Santai aja Ndi, kalaupun ada masalah, papa pasti bisa bantuin kok, bantuin gue hahaha......."
"Jahat lo Dim!"
"Hahaha, udah nggak usah dipikirin!"
Merekapun masuk ke dalam kafe, mencari keberadaan Yoga.
"Yoga mana Ton?" tanya Dimas pada Toni.
"Di ruang kerja bos, sama kak Dini sama Anita," jawab Toni.
"Orangnya udah pergi bos?" tanya Toni.
"Siapa?" tanya Dimas tak mengerti.
"Orang yang sama kak Yoga tadi!"
"Udah mungkin, lo kenal?"
"Nggak kenal bos, tapi tadi sempet debat lama sama bang Yoga, makanya diajak ke tempat parkir sama bang Yoga!"
"Kalau ada apa apa kabarin gue ya Ton, gue mau liat keadaan Yoga dulu!"
"Siap bos!"
Dimas dan Andipun masuk ke ruang kerja.
Di sana sudah ada Yoga yang sedang diobati oleh Dini dan Anita.
Dimas dan Andi yang melihat hal itu hanya saling pandang lalu menarik kedua perempuannya masing masing. Dimas menarik Dini dan Andi menarik Anita.
"Eh, ini belum selesai!" protes Dini yang tiba tiba ditarik Dimas.
"Aku aja!" balas Dimas dengan menempelkan perban pada luka Yoga dengan kencang.
"Aaaahhh, gila lo Dim!" pekik Yoga kesakitan.
"Nggak usah manja!" balas Dimas.
"Nggak usah modus!" lanjut Andi.
"Kalian ini cemburu?"
"Enggak!" jawab Dimas dan Andi bersamaan.
"Hahaha, dasar bocah!" balas Yoga yang langsung mendapat pukulan ringan dari Dimas dan Andi namun membuatnya berteriak kesakitan.
"Dasar bocah, gitu aja teriak hahaha....." balas Dimas yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
"Thanks ya Ndi, Dim, untung kalian dateng!" ucap Yoga pada Dimas dan Andi.
"Itu tadi siapa sih?" tanya Dimas penasaran.
"Om Dani, adiknya mama!"
Yoga mengangguk.
"Mampus gue, masih hidup nggak tuh orang!" ucap Dimas dengan menepuk jidatnya.
"Hahaha, kalian apain dia?"
"Kita bawa ke rumah sakit aja ya!" ucap Andi.
"Ngapain? biarin aja dia mati hahaha......."
"Sehat lo Ga?" tanya Dimas meragukan kesehatan Yoga.
"Efek koma kali Dim!" balas Andi.
"Dia emang pantes mati," ucap Yoga dengan tersenyum sinis.
"Dia jahat kak?" tanya Dini yang tak kalah penasaran.
Yoga mengangguk, membuat Dini, Anita, Dimas dan Andi kompak menganggukkan kepala mereka tanda mengerti keadaan yang sebenarnya.
"Gue minta tolong sama kalian ya, tolong jangan kasih tau Sintia soal ini!" ucap Yoga.
"Kenapa? luka kakak juga nggak akan cepat hilang kan?" tanya Dini.
"Buat sementara ini gue mau sembunyi dulu dari Sintia, sampai luka gue hilang!"
"Lo yakin?" tanya Dimas meyakinkan.
"Yakin, gue nggak mau Sintia makin khawatir sama gue!"
Mereka semuapun sepakat untuk merahasiakan hal itu dari Sintia.
"Kalau semua luka gue udah hilang, gue mau ngajak Sintia liburan, kalian ikut?"
"Yaaahh, kita bentar lagi ujian nasional kak!" balas Dini.
"Liburan sehari aja, biar pikiran makin fresh, kasian Toni tuh kerja mulu!"
"Iya juga sih, mau ya sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Mmmm, oke deh!" jawab Dini setuju.
"Lo gimana Ndi? Nit?"
"Kalau Anita ikut gue ikut!" jawab Andi dengan menoleh ke arah Anita.
"Gimana Nit?"
"Ikut!"
"Gitu dong, kalau rame rame kan seru!" ucap Yoga.
***********************
Satu minggu berlalu, Yoga masih menghindar dari Sintia. Meski Sintia sempat sedih, ia berusaha untuk mengerti keadaan Yoga yang mengaku sedang sibuk mengejar ketertinggalannya di kampus.
Hari yang ditunggupun tiba. Dengan paksaan dari Dimas dan Dini, Sintia akhirnya ikut pergi berlibur ke puncak bersama Dini, Dimas, Andi, Anita dan Toni.
Mereka sengaja merahasiakan kedatangan Yoga di puncak, sesuai permintaan Yoga karena ia ingin memberi Sintia kejutan setelah lama tidak bertemu.
Merekapun segera menuju ke vila milik keluarga Dimas. Setelah menaruh semua barang barang ke kamar masing masing, mereka merebahkan badan di ruang tamu vila yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
"Abis ini kemana kak?" tanya Sintia.
"Istirahat dulu Sin," jawab Dimas dengan bersandar di bahu Dini.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu vila, Dimas sengaja menyuruh Sintia membuka pintu.
"Bi Em kemana sih!" gerutu Sintia karena tidak melihat keberadaan Bi Em, istri dari penjaga vila keluarga Dimas yang juga merawat vila itu.
"Udah sana, buka!" perintah Dimas.
Sintiapun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke pintu dengan malas.
Ia membuka pintu dan melihat seorang laki laki yang membelakangi pintu dengan memakai topi.
"Cari siapa mang?" tanya Sintia.
Yogapun berbalik dan melepas topinya.
"Kak Yoga!" pekik Sintia terkejut.
Yoga tersenyum dan memeluk Sintia erat, menumpahkan semua rindu yang menyiksanya.
"Mang Yoga apa kak Yoga nih?" tanya Yoga yang masih memeluk Sintia.
"Sintia pikir mamang mamang yang suka nawarin jagung bakar hehehe...."
"Emang mirip?" tanya Yoga.
"Mirip hehehe...." jawab Sintia dengan melepas pelukan Yoga namun ditahan oleh Yoga.
"Kakak masih kangen," ucap Yoga pelan dengan semakin erat memeluk Sintia.
"Sintia juga, kangen banget," balas Sintia.
"Udah udah, ntar dilanjut lagi!" ucap Dimas yang sengaja mengganggu Yoga dan Sintia.
"Ganggu aja lo!" balas Yoga.
"Hahaha, jadi ke bukit belakang nggak nih?"
"Sekarang?" tanya Sintia.
"Iya dong, ayo buruan"
"Nanti aja lah kak, kak Yoga kan baru nyampe'!"
"Baru nyampe' gimana orang dia dari kemarin udah di sini!" balas Dimas lalu menggandeng tangan Dini untuk keluar dari vila.
"Hah? dari kemarin? bener kak?" tanya Sintia pada Yoga.
Yoga mengangguk pelan.
"Iiiihhh, kakak nyebelin!" ucap Sintia dengan memukul lengan Yoga.
Mereka pun akhirnya pergi ke bukit yang berada di belakang vila, meninggalkan Toni yang lebih memilih untuk tinggal di vila karena masih mabuk perjalanan.
Mereka berjalan menyusuri bukit yang tak terlalu tinggi itu.
Melihat langit yang tertutup mendung, Dini mengajak Dimas untuk turun dan kembali ke vila, namun Dimas menolak, ia ingin mengajak Dini melihat sunset dari bukit itu.
Sedangkan Andi dan Anita masih berada di mini market untuk membeli beberapa snack dan minuman, sedangkan Yoga dan Sintia masih berada di bawah bukit menunggu jagung bakar pesanannya selesai.
"Yaaahh, HP ku ketinggalan sayang, kamu bawa HP?" tanya Dimas pada Dini.
"Enggak, mau ambil dulu?"
"Kamu tunggu di sini ya, aku ambil bentar!"
"Ikut!"
"Jangan, kamu di sini aja, capek naik turun nanti!"
"Kalau gitu nggak usah ambil HP!"
"Kita nggak bisa foto dong, percaya deh sunset di sini bagus banget!"
"Tapi ini kan mendung Dimas!"
"Bentar lagi juga hilang mendungnya, tunggu bentar ya!" ucap Dimas dengan berlari turun ke bawah meninggalkan Dini yang masih berada di puncak bukit.
Tak lama kemudian, hujan perlahan turun. Rintiknya membasahi semua yang ada dibawahnya.
Dini berlari ke arah sebuah pohon yang rindang, berharap hujan tak akan membasahi dirinya. Namun hujan yang semakin lebat membuat Dini tetap basah.
Ia mulai menggigil samar samar ia melihat sebuah pondok kecil di atas. Dengan sisa tenaga yang ada ia berusaha pergi ke pondok itu untuk berteduh meski badannya sudah bayar kuyup oleh hujan.
Belum sampai ia tiba di pondok, matanya sudah berkunang kunang, kepalanya mulai terasa pusing dan akhirnya ia pingsan, jatuh begitu saja di tanah basah yang berlumpur.
Andi begitu panik ketika melihat hujan yang sudah turun dengan derasnya. Ia segera berlari meninggalkan Anita yang masih mengantre di mini market.
Ia segera berlari ke bukit untuk mencari Dini. Begitu juga dengan Dimas yang berlari di belakang Andi. Menyadari ada yang berlari di belakangnya, Andipun menoleh.
"Lo di sini? Dini mana?" tanya Andi pada Dimas.
"Di atas!"
"Sendirian?"
"Iya, dia pasti kehujanan," jawab Dimas yang masih tidak mengetahui keadaan Dini.
"Gila lo Dim!"
Andi pun mempercepat langkah nya untuk berlari mencari Dini, begitu juga Dimas.
"reaksi yang berlebihan," batin Dimas dalam hati.
Tak lama kemudian, Andi melihat Dini yang sudah tak berdaya dengan keadaan basah dan kotor.
Ia pun segera membopong Dini dan membawanya turun.
"Andini!" pekik Dimas yang melihat Dini sudah pingsan.
Andi tak mempedulikan Dimas yang masih tidak memahami situasi yang terjadi, ia hanya terus berjalan cepat ke arah vila dan meminta Bi Em untuk mengganti pakaian Dini.
"Ndi, Dini kenapa?" tanya Dimas.
"Lo beneran bego apa pura pura bego sih Dim!"
"Gue bener bener nggak tau Ndi, gue....."
"Lo nggak inget apa yang udah lo lakuin dulu? dan sekarang lo ulangin lagi kejadian itu!"
Mendengar ucapan Andi membuat Dimas mengingat kenangan pahitnya yang membuatnya harus tersiksa karena penyesalannya.
Karena tingkah nakalnya, ia membiarkan Dini kehujanan di lapangan sekolah hingga Dini pingsan dan sekarang tanpa ia sadar ia mengulanginya lagi, meninggalkan Dini sendirian di bawah hujan hingga Dini pingsan.
__ADS_1