Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Pilihan Sulit


__ADS_3

Mendengar cerita tentang Anita dari Dokter Dewi membuat Dimas semakin iba pada Anita.


"Maaf ya Dimas saya jadi cerita masalah keluarga sama kamu."


"Nggak papa Dok, terimakasih karena sudah mempercayai saya mendengarkan cerita ini," balas Dimas.


"Saya yakin kamu teman yang baik untuk Anita karena sejauh ini semua teman-temannya tidak ada yang benar-benar tulus berteman dengannya, itu kenapa saya mau cerita hal ini sama kamu, cuma kamu yang saya percaya untuk tahu tentang masalah ini."


"Terimakasih Dok, saya boleh nemenin Anita di dalam?"


"Boleh, silahkan!"


Dimaspun masuk ke ruangan Anita.


Dokter Dewi sama sekali tidak menanyakan penyebab Anita bisa terluka seperti itu, karena Dokter Dewi mengira jika Anita mencoba untuk bunuh diri lagi.


Tak terasa langit sudah mulai gelap, Dimas masih menemani Anita di ruangannya.


"Dimas," panggil Anita pelan, matanya masih mengerjap memastikan pengelihatannya.


"Kamu udah bangun, ada yang sakit?"


"Kamu ngapain di sini?" tanya Anita tanpa menjawab pertanyaan Dimas.


"Nemenin kamu."


"Aku harus hubungin papa!" ucap Anita sambil berusaha melepas selang infus di tangannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Dimas sambil mencegah Anita melepas selang infusnya.


"Lepasin Dimas, aku mau hubungin papa!"


"Jangan Nit, jangan sekarang, kamu harus istirahat dulu biar aku yang hubungin Pak Sony."


"Tapiiii....." ucapan Anita terhenti karena tiba-tiba ia merasa kepalanya begitu pusing.


"Kamu kenapa? aku panggil Dokter Dewi ya!"


Tak lama kemudian Dokter Dewi datang memeriksa keadaan Anita.


"Mbak kan udah bilang, jangan dibuat mikir yang berat-berat Nit," ucap Dokter Dewi pada Anita.


"Hari ini papa fitting baju Mbak," balas Anita dengan air mata yang sudah menggenang.

__ADS_1


"Udahlah Nit, papa kamu udah bulat sama keputusannya, kamu kan tau sendiri gimana keras kepalanya papa kamu!"


"Tapi Anita ini anaknya Mbak, apa nggak bisa papa dengerin Anita? atau Anita udah nggak dianggap anak lagi?" ucap Anita dengan air mata yang sudah tumpah membasahi pipinya.


"Kenapa papa jahat Mbak? kenapa papa khianati mama? kenapa?"


Tangis Anita semakin pecah di pelukan Dokter Dewi.


Apa yang ia rasakan ia luapkan semuanya. Dinding kokoh yang ia bangun sekarang sudah hancur.


Tidak ada lagi yang bisa menahannya untuk tidak menangis saat itu. Sakit di hatinya teramat menyakitkan untuknya.


Ia ingat betul bagaimana hancurnya dia dan papanya melihat mamanya terbaring tak bernyawa di ranjang rumah sakit.


Papanya seolah tak rela jika mamanya harus dikalahkan oleh penyakit yang semakin lama menggerogoti nyawanya.


Bahkan sampai saat ini, papanya begitu membenci Dokter Dewi yang menangani mamanya saat itu. Ia menuduh Dokter Dewi gagal menjadi seorang dokter.


Papanya menjadi sangat pendiam sejak kematian mamanya, namun itu hanya beberapa hari saja.


Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan, papanya pulang membawa wanita-wanita muda dan mengajaknya ke kamar.


Sejak saat itu sikap papanya padanya berubah. Berulang kali ia mengingatkan janji papanya pada mamanya, namun papanya tak pernah menggubris.


Dimaspun keluar, membiarkan Anita menuntaskan siksa batinnya di pelukan Dokter Dewi.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dimas baru ingat jika ia sudah berjanji akan menjemput Dini.


"siiiaaalllll, kenapa bisa lupa sih, pasti Andini udah nungguin aku, mana dia nggak punya HP lagi, aaaarrrggghhhhh siiiaaalllll," batin Dimas kesal pada dirinya sendiri.


Dengan berat hati Dimas memutuskan untuk tetap menemani Anita karena ia sangat merasa bersalah pada Anita.


Ia merasa dirinyalah penyebab Anita bisa berada di rumah sakit bahkan sempat kritis, beruntung keadaannya cepat membaik karena sudah menerima transfusi darah dari Dimas.


"mudah-mudahan kamu nggak marah ya Andini, aku minta maaf," ucap Dimas dalam hati.


Setelah membeli minuman coklat untuk Anita, Dimas segera kembali ke ruangan Anita. Sudah tidak ada Dokter Dewi di sana, hanya ada Anita yang terbaring lemah di ranjangnya.


Untuk pertama kalinya ia melihat Anita begitu rapuh.


"Belum tidur Nit?" tanya Dimas basa basi.


Anita hanya diam tak menjawab.

__ADS_1


"Ini, coklat buat kamu, setahuku coklat ini bisa nglepasin hormon endorfin ke otak, kamu pasti tau dong kalau hormon endorfin itu bisa ngurangin stres dan bikin bahagia," ucap Dimas mencoba mencairkan suasana.


Anita menahan senyumnya mendengarkan penjelasan Dimas yang seperti seorang guru.


Ia tau Dimas pasti membencinya karena diam-diam dirinyalah yang memberi Dini teror di sekolah.


Tapi ia tidak mengerti kenapa Dimas masih bersikap baik padanya.


"Dimas," panggil Anita pelan.


"Iya Nit."


"Aku minta maaf ya, aku emang jahat, aku bodoh, aku......."


Belum sempat Anita melanjutkan ucapannya, Dimas yang duduk di kursi samping ranjang Anita segera berdiri dan memeluk Anita yang mulai menangis.


Dimas mengusap lembut rambut Anita, membenamkan Anita dalam pelukannya. Ia memang tidak menyangka jika Anitalah yang ternyata mengancam Dini di sekolah, namun karena melihat kondisi Anita saat ini, Dimas sudah tidak memikirkan hal itu lagi.


"Jangan dipikirin lagi, aku yakin kamu tau apa yang harus kamu lakuin untuk perbaiki semuanya, sekarang kamu hanya perlu fokus sama kesembuhan kamu," ucap Dimas mencoba menenangkan Anita.


"Inget kan kata Dokter Dewi, kamu nggak boleh terlalu mikirin hal-hal yang bikin kamu makin stres," lanjut Dimas sambil melepaskan Anita dari pelukannya dan menghapus air mata Anita yang tidak berhenti menetes.


"Kamu harus bahagia Anita, bener-bener bahagia!" ucap Dimas dengan menatap mata Anita dalam-dalam.


Anita mengangguk, lalu tersenyum.


Di sisi lain, Dini yang sudah menyiapkan dirinya, menunggu Dimas di depan rumahnya.


Entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat saat itu. Ia tidak sabar menunggu kedatangan Dimas.


Berkali-kali ia melihat ke arah jam dinding di ruang tamunya.


Ia berjalan mondar mandir dengan gelisah


"sabar ya Dini, mungkin lagi macet, nggak mungkin Dimas lupa, Dimas selalu tepat waktu, mungkin bentar lagi dia dateng," ucap Dini dalam hati, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Lama Dini menunggu Dimas di depan rumahnya, ia mulai sedikit kesal.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam namun Dimas tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Kamu ke mana Dimas? apa kamu lupa?"


Dini sudah benar-benar kesal saat itu. Ia masuk ke dalam rumahnya, menutup pintunya dengan kasar dan segera masuk ke kamarnya kemudian berganti pakaian.

__ADS_1


"Buat apa aku siap siap kayak gini, buat apa aku harus dandan, emang aku siapa? emang mau kemana? sadar Dini, sadar, Dimas cuma teman biasa, jangan berharap apapun sana Dimas," ucap Dini memaki dirinya sendiri sambil memukul mukul guling di tangannya.


__ADS_2