
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, D Coffe Cafe sudah tutup, para pegawai mulai membereskan kafe.
"Din, ada yang cari kamu di depan!" ucap Tari pada Dini.
"Siapa kak?"
"Nggak tau, tapi cakep, hehehe......."
Dini menduga jika itu adalah Andi, ia pun segera keluar untuk menemui Andi. Namun dugaan Dini salah, David sudah berdiri di depan pintu kafe menunggu Dini.
"Halo sayang!" sapa David yang melihat Dini berjalan ke arahnya.
"Kamu ngapain ke sini? katanya......."
"Anggap aja ini salah satu cara ku buat bikin kamu jatuh cinta sama aku," ucap David dengan senyum yang menggoda.
"Ada ada aja kamu ini, tapi aku udah minta Andi jemput loh!"
"Tenang aja, aku udah bilang Andi kok kalau aku yang jemput kamu!"
Tanpa Dini dan David tau, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan pandangan tak suka dari jauh. Pemilik sepasang mata itu segera menghampiri mereka.
"Kamu nggak liat yang lain masih beres beres?" tanya Dimas, pemilik sepasang mata yang tak suka melihat kedekatan Dini dengan David.
"Ii... iya... Pak, saya....."
"Cepet masuk!" ucap Dimas dengan nada tinggi, lalu kembali masuk ke dalam kafe.
"Bos kamu ya? galak banget!"
"Huuuusssttttt, kamu tunggu bentar ya!"
David mengangguk.
Dini kembali masuk dan membantu teman temannya membereskan kafe.
"Saya nggak mau ya liat kamu pacaran waktu kerja!" ucap Dimas sinis pada Dini.
"Saya cuma......"
"Kamu nggak bisa iyain aja perintah saya?"
"Iya Pak!" jawab Dini kesal.
"Dimas? bukan, rasanya dia bukan Dimas, wajahnya aja yang sama, atau jangan jangan dia kembaran Dimas? apa mungkin.... aaarrrgghhh apaan sih Din, mikir apa kamu ini, dia Dimas, tapi bukan Dimas yang bucin sama kamu, Dimas yang galak dan ngeselin!"
"Kamu mikir apa?" tanya Dimas membangunkan lamunan Dini.
"Eh, apa?"
"Saya nggak suka kamu mencemooh saya dalam hati!"
"Haahhh, hehehe....."
Dini hanya terkekeh mendengar ucapan Dimas.
"apa abis hilang ingatan dia jadi punya indra ke enam? atau dia punya kekuatan baru gara gara lama koma, kayak...."
"Indra saya masih 5, sama kayak kamu!" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan kafe.
"dia....."
Dini menghentikan niatnya untuk membicarakan Dimas dalam hati, ia lebih memilih untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera pulang.
Setelah selesai, Dini dan teman temannya segera pulang dan meninggalkan kafe.
"Capek ya?" tanya David ketika Dini sudah masuk ke mobil.
Dini mengangguk.
"Uuuluuuuu uuluuu kasian bayi beruangku, ayo cari makan dulu!" ucap David dengan mengusap lembut rambut Dini.
"Bayi beruang?"
"Iya, kamu bayi beruangku!" jawab David dengan senyum manisnya.
"Kenapa bayi beruang?"
"Emang kenapa? beruang kan lucu, apa kamu lebih suka bayi ayam? bayi kodok? bayi singa? hahaha....."
"Terserah kamu aja lah!" balas Dini dengan menahan tawanya mendengar pertanyaan David.
"How's your day darling?"
"Good," jawab Dini dengan senyum termanisnya.
Sebenarnya ia bahagia karena bertemu lagi dengan Dimas. Tapi ia sudah memutuskan untuk tidak berharap apapun pada Dimas. Ia merasa bahwa dirinya adalah penyebab hal buruk itu terjadi pada Dimas. Ia memendam dalam dalam cintanya pada Dimas. Usaha yang sudah ia lakukan untuk melupakan Dimas selama ini tak boleh goyah hanya dengan kehadiran Dimas di hidupnya, dan lagi Dimas yang ia kenal sekarang sangat berbeda dengan Dimas yang ia kenal saat SMA, ia yakin hal itu akan membuatnya tetap kokoh pada pendiriannya.
Di dalam kamarnya, Dimas masih memikirkan tentang Dini.
"siapa cewek itu? kenapa jantung ku selalu berdebar tiap deket sama dia, kenapa aku........ cemburu? enggak, ini nggak bener, mungkin aku cuma lelah!"
Ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Anita, mereka saling menceritakan tentang kegiatan hari itu hingga mereka mengantuk dan sama sama tertidur.
****************
Esok paginya, Dini berangkat ke kampus bersama David.
"Sayang, tolong ambilin kotak di belakang itu dong!" ucap David sambil melirik ke kursi belakang mobilnya.
"Apa ini?" tanya Dini ketika ia sudah mengambil kotak itu.
"Buat kamu, buka aja!"
Dini membuka kotak itu dengan penuh semangat, kotak besar itu ternyata berisi kotak yang lebih kecil ukurannya, ia pun membuka kotak itu dan isinya juga sama, kotak yang ukurannya lebih kecil. Hal itu terus berulang hingga Dini mendapatkan kotak terakhir tepat ketika mereka sampai di tempat parkir kampus.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Dini ketika melihat sebuah kalung dengan kepala beruang yang tergantung dengan lucu.
"David, ini cantik banget," ucap Dini dengan memandangi kalung di hadapannya.
"Nggak secantik kamu," balas David dengan senyum nakalnya.
"Sini, aku pake'in!" Dini berbalik membelakangi David dan kembali menghadap ke depan ketika David sudah selesai memasang kalung itu di lehernya.
"Suka?"
Dini mengangguk cepat.
"Kamu tau kenapa aku kasih kamu cincin sama kalung?" tanya David pada Dini.
"Mmmm.... biar bisa aku jual ya! hehehe....."
"Hahaha...... dasar, kamu ini!" balas David dengan mengacak acak rambut Dini lalu keluar dari mobil
"Iiiissshhh, Daviiiidd!!!"
Dini keluar dan mengejar David yang sudah berlari meninggalkannya lalu memukul lengannya kencang karena kesal.
"Hahaha, kalau kayak gini kamu jadi bayi singa hahaha....."
Dini kembali melayangkan pukulannya pada lengan David, namun dengan sigap David menahan tangan Dini dan memegangnya erat.
"Aku sayang kamu," ucap David berbisik dengan masih memegang tangan Dini lalu segera pergi.
Dini hanya tersenyum simpul melihat sikap David.
"David ya?" tanya Cika yang tiba tiba datang.
Dini mengangguk.
"Bener bener kamu Din, perasaan baru semalem kamu bilang putus sama Rio, sekarang......"
"Ralat, 2 hari yang lalu aku putus sama Rio!" protes Dini.
"Oke dan sekarang, pangeran dari fakultas Sastra yang gantiin posisi Rio?"
"Eheemm!" jawab Dini dengan mengangguk anggukkan kepalanya.
"Eh, kalung kamu baru ya, jangan bilang ini......"
"Pasti dikasih om om lah, dia kan sugar baby!" ucap Bela yang tiba tiba muncul.
"Eh, boneka anabel jangan sembarangan ya kalau ngomong!" balas Cika yang selalu emosi setiap bertemu Bela.
"Siapa yang sembarangan sih, lo nggak tau ya kalau dia putus sama Rio gara gara Rio tau kelakuannya sama om om!"
"Eh, boneka santet, lo nggak sadar ya, pesona Dini itu emang nggak cuma bikin cowok cowok kelepek kelepek, mau om om, kakek kakek juga lebih pilih Dini dari pada lo, dasar uler, anabel, boneka santet!"
"Udah udah, ayo pergi!" ucap Dini dengan menarik tangan Cika menjauhi Bela.
"Kurang ajar banget lo ya, lo tuh nggak ada apa apanya dibanding gue!" balas Bela pada Cika dengan setengah berteriak.
Ya, hampir setiap hari hal itu selalu terjadi. Bela yang selalu menganggu Dini dan Cika yang selalu terbakar emosinya ketika mendengar Bela mengganggu Dini. Sedangkan Dini, selalu menanggapi semua ocehan Bela dengan tersenyum, senyum penuh kemenangan yang membuat Bela semakin gemas terhadapnya. Ia hanya menganggap semua kata kata buruk Bela hanyalah angin yang ia biarkan berlalu begitu saja.
Tepat jam 3, Dini sudah berada di kafe dengan diantar oleh David.
"Semangat ya, nanti malem aku jemput!" ucap David dengan membelai rambut Dini.
Dini mengangguk dengan senyum penuh semangat, sedangkan dari dalam kafe, Dimas melihat dengan tersenyum sinis.
Hari ini seharusnya ia berada di kafe utama, kafe pertama Dimas yang Pak Tama percayakan pada Toni. Tapi entah kenapa, Dimas dengan penuh semangat berangkat ke D Coffe Cafe, kafe yang sudah dikelola Yoga selama Dimas di Singapura.
"Kamu telat!" ucap Dimas sinis ketika Dini baru memasuki kafe.
Dini melirik ke arah jam tangannya, menunjukkan pukul 3 lebih 1 menit.
"Cuma 1 menit Pak!"
"Tetap saja kamu telat, kamu harus dapat hukuman!"
"Haahhh, tapi......."
"Nggak ada tapi tapi, cepat pakai seragam kamu dan ikut saya!"
Dini menghembuskan napasnya kasar dan segera berganti pakaian dengan seragam kafe lalu kembali menghampiri Dimas.
"Ikut saya!"
Dini hanya mengangguk dan mengikuti Dimas yang membawanya ke gudang.
"Bereskan gudang ini!" ucap Dimas dengan membuka gudang yang tampak berantakan dan berdebu.
"Sendirian Pak?"
"Emang ada yang telat selain kamu?"
Dini menggeleng pelan.
"Ya udah, kerjain sendiri!" ucap Dimas lalu berbalik, pergi meninggalkan gudang.
"Iiihhh dasar penindas!"
"Saya denger ya, kamu mau saya tambahin hukuman kamu?" tanya Dimas setengah berteriak karena ia sudah beberapa langkah menjauhi gudang.
"Haahhh? enggak Pak, cukup, sangat cukup, terima kasih!"
Dini mengintip dari pintu gudang, memastikan Dimas sudah benar benar meninggalkan gudang atau belum.
Ia bernapas lega karena Dimas sudah tak terlihat, itu artinya ia bisa mengumpat tentangnya sepuas hatinya.
Hampir 3 jam Dini berkutat dengan barang barang berdebu di gudang, itu membuat peluhnya tak berhenti menetes, membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
Dimas yang memperhatikan Dini dari CCTV hanya terkekeh geli melihat Dini yang membereskan gudang dengan raut wajah yang kesal.
Ketika Dini selesai, ia sengaja menunggu Dini di depan gudang dengan membawa 1 cup ice choco.
"Nih!" ucap Dimas sambil menyodorkan 1 cup es yang dibawanya begitu Dini keluar dari gudang.
"Apa ini?"
"Kamu nggak lihat ini apa?"
"Iya, maksudnya......"
"Nggak usah banyak tanya, minum aja, jangan GR, saya potong gaji kamu buat bayar minuman itu!" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Dini.
Dini menghembuskan napasnya kasar, ia benar benar tidak mengerti dengan sikap Dimas sekarang.
"apa kamu punya kepribadian ganda? atau sekarang sifat kamu balik lagi kayak SD, ngeselin!"
Setelah mengabiskan minumannya dengan cepat, Dini segera meninggalkan gudang dan kembali sibuk belajar meracik kopi bersama Tari.
Ketika ia sedang fokus memperhatikan Tari, David datang dan memesan minuman.
"Hot choco 1 kak!" ucap David dengan menampakkan kedua langsung pipinya.
"David, kamu......"
"Aku pelanggan kamu sayang," ucap David yang membuat semua teman teman Dini memandang ke arahnya.
"Oke kalau gitu, dia pelanggan spesial kamu ya, aku tinggal dulu!" ucap Tari meninggalkan Dini.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Aku kangen sama kamu!"
"Kamu tadi mau apa? hot choco ya?"
David mengangguk. Ia memperhatikan setiap gerakan Dini ketika Dini menyiapkan pesanannya.
"Udah selesai, hot choco dari bayi beruang lucu," ucap Dini dengan senyum termanisnya.
David menerima cup yang Dini berikan dan sengaja menggengam tangan Dini.
"David, ini tempat kerja!" protes Dini dengan segera menarik tangannya.
"Aku ke sini cuma mau bilang, aku nanti nggak bisa jemput kamu, nggak papa kan?"
"Nggak papa, aku bisa minta jemput Andi kok!"
"Sebagai permintaan maaf, aku beli ini buat kamu," ucap David sambil meletakkan sebuah cake dengan bentuk kepala beruang di atas meja.
"Beruang lagi?"
"Iya, makan ya, aku pulang dulu!"
Dini mengangguk, melambaikan tangannya dengan senyum termanisnya.
Belum sempat Dini membuka kotak kue pemberian David, Dimas sudah menghampirinya dan mengambil kotak kue itu.
"Buat saya ya? makasih!" ucap Dimas lalu pergi dengan dengan membawa kue pemberian David.
Dini lagi lagi hanya bisa menghembuskan napasnya kasar melihat sikap Dimas yang benar benar menyebalkan baginya.
Di dalam ruang kerjanya, Dimas melempar kue itu ke dalam tempat sampah dengan kesal. Ia masih tidak mengerti kenapa ia begitu emosional setiap melihat Dini dekat dengan laki laki.
Biiippp biiippp biiippp
Ponsel Dini berdering, terlihat nama Yoga di layar ponselnya.
"Halo, ada apa kak, eh Pak!"
"Kamu sekarang ganti baju ya, ikut Dimas ke kafe utama!"
"Haahhh, kenapa Dini kak?"
"Udah, nurut aja, ini perintah, buruan!"
"Tapi......"
Tuuuttt tuuuuttt tuuutttt
Yoga memutuskan panggilannya begitu saja.
Dini segera masuk ke ruang kerja Dimas berniat untuk memastikan perintah Yoga padanya.
"Iya, buruan ganti baju, saya tunggu di mobil!" jawab Dimas yang langsung keluar meninggalkan Dini begitu saja.
Dengan terpaksa Dini berganti pakaian dan segera menuju ke tempat parkir mobil. Dini masih berdiri, menyapu pandangannya ke arah mobil mobil yang terparkir, karena ia tidak mengetahui mana dari salah satu mobil itu yang merupakan milik Dimas.
Dimas yang melihat hal itu segera turun dari mobilnya dan menggandeng tangan Dini untuk diajak masuk ke mobilnya.
Dari jauh, Andi melihat sosok yang tak asing baginya. Laki laki yang sudah menjatuhkan Dini dengan semua kebohongan yang disembunyikannya.
Tanpa pikir panjang Andi segera menghampirinya, menepuk pundaknya dan ketika laki laki itu menoleh, ia segera melayangkan pukulan kerasnya pada laki laki itu.
"Andi!" pekik Dini yang melihat Andi tiba tiba datang menghajar Dimas.
"Nggak ada ampun buat cowok brengsek kayak lo!" ucap Andi dengan bersiap memukul Dimas lagi, namun Dini segera mencegahnya.
"Kamu salah paham Ndi, aku akan jelasin nanti, aku janji!" ucap Dini lalu mengikuti Dimas yang sudah lebih dulu masuk ke mobilnya.
Andi hanya bisa meluapkan emosinya dengan menendang angin di sekitarnya.
Sedangkan Dimas sudah dipenuhi dengan banyak tanda tanya di pikirannya. Ia tidak mengenal laki laki yang menghajarnya, tapi dari sorot mata Andi, ia yakin jika Andi sangat membencinya.
Dimas memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing dan membiarkan darah keluar dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Ma... maaf Pak!" ucap Dini gugup.
Ia merasa bersalah karena kesalahpahaman itu tapi ia tak bisa menjelaskan apapun pada Dimas, ia harus memikirkan alasan yang tepat sebelum Dimas bertanya banyak hal padanya.