
Melihat Andi yang sudah terbakar amarahnya, Anita segera mendekatinya. Ia tidak ingin jika sampai ada orang lain yang melaporkan hal ini ke sekolah.
"Udah Ndi, kamu masih pake' seragam sekolah, jangan sampe' kamu kena masalah karena kejadian ini," ucap Anita sambil menarik tangan Andi, menahannya agar tak melanjutkan aksinya.
Andi yang baru menyadari hal itu segera berdiri dan meninggalkan Dimas begitu saja. Ia menarik paksa tangan Dini agar mengikutinya keluar dari mall.
Ia tak peduli berapa banyak orang yang memperhatikannya saat itu, ia hanya mau membawa Dini menjauh dari Dimas.
Beruntung belum sempat ada petugas keamanan yang datang, karena jika ada petugas keamanan sudah pasti mereka akan dilaporkan ke sekolah.
Dini yang sudah sangat mengenal Andi hanya diam mengikutinya. Ia tak mau membuat Andi semakin emosi jika ia menolak untuk pergi.
Sedangkan Anita yang ditinggal begitu saja oleh Andi, membantu Dimas untuk berdiri dan menjauh dari kerumunan orang-orang yang hanya melihat kejadian tadi.
"Kamu mau aku anter ke rumah sakit?" tanya Anita pada Dimas.
"Nggak perlu, aku nggak papa," jawab Dimas sambil memegang perutnya yang terasa sakit karena pukulan Andi.
"Kamu bawa mobil kan? aku anter ke mobil kamu ya?"
"Iya, bawa kok!"
Anitapun mengantar Dimas ke mobilnya. Ia ragu jika membiarkan Dimas mengendarai mobilnya sendiri karena sepertinya Dimas begitu kesakitan.
"Kamu pacarnya Andi kan?" tanya Dimas tiba-tiba.
"Bukan."
"Tapi kamu suka kan sama dia?"
"Apaan sih! jangan banyak ngomong deh, aku anter kamu ke rumah sakit aja, takutnya ada luka dalam."
"Nggak usah, aku nggak papa kok!"
"Diem aja deh, mana kunci mobil kamu?"
Dimaspun memberikan kunci mobilnya pada Anita.
"sorry ya Nit, aku sempat mikir kamu ini jahat, karena kamu suka Andi dan Andi suka sama Dini, aku pikir kamu akan membenci Dini, tapi sikap kamu nunjukin kedewasaan kamu banget, aku salut sama kamu, meski aku tau apa yang kamu rasain pasti sakit, tapi kamu coba buat pendam sendiri," batin Dimas.
"Kenapa diem aja sih?" tanya Anita yang merasa canggung.
"Lah kan kamu sendiri yang nyuruh aku diem tadi!"
"Iya juga ya hahaha," balas Anita tertawa.
"Eh, kamu bukannya bawa mobil?"
"Iya bawa, nitip bentar di mall hehehe..."
Dimas hanya menggelengkan kepala.
Sebenarnya Anita begitu sedih melihat Andi yang meninggalkannya begitu saja. Tapi ia berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya, ia tak mau terlihat lemah di depan orang lain.
Sesampainya di rumah sakit, Anita bertemu saudaranya yang merupakan seorang dokter di rumah sakit itu.
__ADS_1
"Pacar kamu Nit?" tanya saudara Anita yang bernama Dewi.
"Udah deh mbak, ini temanku lagi kesakitan loh!" jawab Anita kesal karena setiap ia bersama dengan lelaki selalu saja Dokter Dewi mengira itu adalah pacar Anita.
"Ya kalau bukan pacar kamu, buat mbak aja!" ucap Dokter Dewi sambil melirik Dimas.
Dimas hanya tersenyum ramah.
"Makanya buruan nikah mbak biar nggak halu terus!"
"Mbak ini nunggu yang tepat Nit, emang nikah kayak pacaran kalau ngerasa bosan terus putus gitu aja!"
"Terserah mbak Dewi lah, tapi ini temanku lagi darurat loh mbak, malah ngajak ngobrol!"
"Eh iya, sorry ya!" ucap Dokter Dewi pada Dimas.
Setelah beberapa menit diperiksa, Dokter Dewi dan Dimas keluar.
"Dia nggak papa kok, cuma memar aja," jelas Dokter Dewi.
"Nggak ada luka dalam mbak?"
"Nggak ada, aman, itu udah mbak kasih resep obat buat redain nyerinya."
"Ya udah mbak, aku pulang dulu ya, mbak yang bayar hahaha...."
"Huuu, dasar, untung cantik kamu!"
"Emang aku cantik hahaha...."
"Eh iya, sama-sama, cepet sembuh ya!"
Dimas mengangguk dan tersenyum.
Setelah urusannya di rumah sakit selesai, Anita dan Dimas keluar dari rumah sakit.
"Sekarang gimana? mau aku anter pulang?" tanya Anita pada Dimas.
"Aku bisa pulang sendiri kok!"
"Aku nggak yakin!"
"Nggak yakin kenapa?"
"Dari tadi kamu diem aja, mikirin Dini ya?"
"Enggak, sok tau kamu!"
"Apa jangan-jangan mikirin mbak Dewi?"
"Bener hahaha...."
Mereka berduapun tertawa, sejenak melupakan kesedihan yang mereka rasakan.
"Aku anterin kamu kamu pulang aja ya, daripada kamu kenapa napa karena nggak fokus nyetir," ucap Anita setengah memaksa.
__ADS_1
"Terserah kamu aja deh!" jawab Dimas pasrah.
"Nah, gitu kan cakep!"
"Emang aku cakep, jadi hati-hati aja takutnya kamu naksir sama aku!" balas Dimas dengan sombong.
"Idiih, nggak bakal deh, lagian udah ada cowok yang aku suka!"
"Udah berapa lama kamu suka sama Andi?" tanya Dimas tiba-tiba, membuat Anita kaget.
"Jangan ngada-ngada deh, kita aja baru kenal kamu udah sok tau!"
"Keliatan banget kali!"
"Emang iya?"
Dimas mengangguk membuat Anita tersenyum malu.
Di sisi lain, Andi dan Dini hanya diam sampai mereka tiba di rumah masing-masing.
Setelah memastikan Dini sudah masuk ke rumahnya, Andi segera pulang.
Namun tiba-tiba Dini keluar dan memeluk Andi dari belakang. Dini hanya menangis, tak mengucapkan sepatahkatapun.
"Aku mau pulang Din!" ucap Andi dingin.
"Aku mohon dengerin aku dulu Ndi!"
"Lupain aja Din, anggap semua kejadian buruk ini cuma mimpi."
"Kamu harus dengerin aku dulu, kamu harus percaya sama aku!" ucap Dini memohon.
Andi tak bergeming, ia melepas paksa tangan Dini yang memeluknya dan pergi meninggalkan Dini tanpa menoleh sedikitpun.
Andi merasa pikirannya begitu kacau. Entah kenapa emosinya menjadi tak terkendali ketika melihat Dini bersama Dimas.
Ia takut jika Dimas kembali berulah dan membuat Dini celaka. Tapi sekarang ia lebih takut jika Dimas menjadi sosok yang berbeda untuk mendekati Dini dan mengambil Dini dari hidupnya.
Di rumahnya, Dini hanya menangis. Ia tak mengerti kenapa Andi begitu marah padanya hingga tak mau mendengarkan penjelasannya sama sekali.
Lama Dini menangis hingga ia tertidur.
Setelah Anita mengantar Dimas sampai ke rumahnya ia segera kembali ke mall tempat ia memarkirkan mobilnya.
"Nanti malem kamu bisa jemput Dini nggak? soalnya aku mau jemput Andi," tanya Anita pada Dimas.
"Bisa banget," jawab Dimas penuh semangat.
Anitapun pergi menggunakan taxi.
Dengan terpaksa ia harus membeli keperluannya sendiri karena Andi sudah pulang bersama Dini.
Ia ingin marah saat itu, tapi ia tahan. Ia tak mau membuat Andi semakin kehilangan kendali.
Sedikit rasa kecewa yang ia rasakan meninggalkan kepedihan di hatinya. Namun ia sadar, ia bukanlah siapa-siapa bagi Andi, setidaknya untuk saat ini. Itu sebabnya ia lebih memilih untuk diam dan menyembunyikan kekecewaannya dari Andi.
__ADS_1
Anita menarik napas panjang, mengingat semarah apa Andi pada Dimas. Ia yakin, Andi tak hanya marah tapi juga cemburu karena melihat Dini yang begitu dekat dengan Dimas.