
Dengan berat hati Dimas meninggalkan Dini di rumah Andi.
Tak lama kemudian Andi datang dengan membawa 3 botol minuman yang sudah dibelinya.
"Loh, Dimas kemana Din?" tanya Andi pada Dini.
"Ada urusan penting katanya, aku pulang dulu ya!"
"Kok pulang, aku udah beli 3 minuman padahal."
"Ya udah, aku ambil, sisanya buat kamu aja, bye!" ucap Dini sambil mengambil satu botol minuman yang baru dibeli Andi dan langsung pulang.
"Hmmmm..."
"Dimas ada urusan penting apa? apa dia mau ketemu sama Sintia?" batin Andi bertanya-tanya.
Ia pun memutuskan untuk menghubungi Dimas guna memastikan yang sebenarnya.
"Halo, lo kemana?" tanya Andi setelah Dimas menerima panggilannya.
"Gue ke cafe, sorry nggak pamit, buru-buru soalnya!"
"Ketemu cewek tadi?"
"Enggaklah, gue ada meeting sama Yoga sama Toni."
"Meeting apa meeting?" tanya Andi tak percaya.
"Nggak percaya?"
"Enggak," jawab Andi singkat.
Dimaspun mengubah mode panggilannya menjadi video call agar Andi dapat melihat apa yang sebenarnya dilakukannya di cafe.
"Oke, gue percaya, bye!" ucap Andi setelah melihat Yoga dan satu orang laki-laki yang tidak dikenalnya bersama Dimas dan langsung mematikan panggilannya.
**************************
Di cafe.
"Sorry gue tadi marah nggak jelas!" ucap Dimas pada Yoga.
"It's oke, gue tau kenapa lo marah, tapi gue sama Toni bener-bener nggak tau kalau dia tiba-tiba datang," balas Yoga.
Dimas mengangguk.
Merekapun memulai meeting dan akhirnya selesai setelah 1 jam beradu pendapat.
**********************
Waktu berliburpun tiba.
Dini menyiapkan segala kebutuhan yang akan dibawanya.
Pagi itu, ia menunggu Dimas datang menjemputnya karena Andi harus berangkat lebih awal untuk menyiapkan kebutuhan logistik bersama Pak Galih.
Tak berapa lama kemudian terlihat mobil Dimas memasuki halaman rumah Dini.
"Udah siap sayang?" tanya Dimas.
Dini mengangguk lalu segera menggendong tas ranselnya yang terlihat berat, membuat Dimas segera merebut tas itu dan membawanya.
Dini hanya tersenyum melihat sikap manis Dimas.
Merekapun segera berangkat ke sekolah, tempat berkumpul sebelum akhirnya mereka harus menaiki bus yang sudah disiapkan oleh Pak Galih.
Sesampainya di sekolah, Dimas segera memarkirkan mobilnya dan bergabung bersama teman-temannya yang lain.
Setelah semua persiapan selesai dan tak lupa berdo'a, mereka segera memasuki bus dan memilih tempat duduk masing-masing.
"Andini!" panggil Dimas sambil melambaikan tangannya.
Lia yang berada di belakang Dini segera berjalan cepat mendahului Dini dan duduk di sebelah Dimas.
__ADS_1
"Pangeran sama aku ya!" ucap Lia pada Dimas.
"Ratu sama Raja aja sini!" ucap Andi sambil menarik tangan Lia agar duduk bersamanya.
"Eeh, nggak mau!" balas Lia memberontak, tapi Dimas juga mendorongnya, alhasil ia pun gagal duduk bersama Dimas.
"Sini sayang!" ucap Dimas pada Dini sambil menepuk nepuk kursi kosong di sampingnya.
"Aku sama Andi aja nggak papa kalau Lia mau disitu," balas Dini.
"Nggak deh, aku disini aja!" balas Lia.
Dinipun duduk di sebelah Dimas, dekat dengan jendela.
Selama perjalanan mereka bercanda dan berfoto di dalam bus. Tiba-tiba ponsel Dimas berdering. Tertulis nama Anita di layar ponselnya, Dimas tak menghiraukannya, membiarkan ponselnya terus berdiring.
"Angkat aja Dim, siapa tau penting!" ucap Dini pada Dimas.
Dimaspun menerima panggilan Anita.
"Ada apa Nit?"
"Kamu dimana?"
"Lagi di jalan, mau ke pantai."
"Sama Dini?"
"Iya, sama anak-anak yang lain juga."
"Acara kelas?"
"Iya, Pak Galih yang ngajak, kenapa?"
"Jangan lupa ya, kamu udah janji mau liburan berdua aja sama aku!"
"Iya, aku inget, tenang aja!"
"Minggu depan ya?"
Dimas menutup panggilan Anita.
Dini hanya diam, memandang keluar bus. Meski ia tak mau mendengarkan tetap saja ia mendengar apa yang Dimas katakan pada Anita, walaupun ia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"inget apa? janji apa?" tanya Dini dalam hati.
Biiippp biiippp biiipppp
Ponsel Dimas kembali berdering, kali ini bukan panggilan, melainkan chat yang masuk.
"Udah nyampe'?" tanya Anita pada Dimas melalui chat.
"Belum, masih di bus," balas Dimas.
"Duduk sama siapa?"
"Sama Andini, kenapa?"
"Oh, nggak papa, sorry ganggu."
Dini yang melihat Dimas sibuk dengan chatnya, hanya diam, membuatnya mengantuk. Iapun tertidur bersandarkan jendela bus.
Dimas yang melihat Dini tertidur memindahkan posisi kepala Dini dan disandarkan ke bahunya.
Andi yang melihat hal itu hanya bisa menahan rasa cemburu yang mulai berapi-api.
"Ndi, nyanyi di depan dong!" pinta Lia.
Andi menggeleng.
"Ayolah, suara kamu kan bagus!"
"Dimas tuh yang suaranya bagus!"
__ADS_1
"Dimas lagi sibuk sama Dini, jangan diganggu, kamu aja sana!"
Andi hanya diam, tidak mempedulikan Lia.
"Pak, Andi mau nyanyi!" teriak Lia membuat seluruh teman-temannya bersorak.
"Enggak Pak!" bantah Andi.
"Iya Pak, tadi dia bilang saya mau nyanyi, tapi takut ganggu," ucap Lia yang pandai mengarang cerita.
Andi hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Lia.
"Ayo Ndi, sini!" ajak Pak Galih.
"Nggak ah Pak, nanti yang tidur pada kebangun lagi!"
"Justru malah makin nyenyak hahaha....." sahut Doni.
"Ayo buruan!" ucap Pak Galih sambil menarik Andi agar berdiri.
Andipun pasrah dan mengikuti Pak Galih untuk ke depan.
Andipun bernyanyi, membuat teman-temannya bersorak untuk Andi.
Ketika ia menyanyikan lagu-lagu galau, teman-temannya pun ikut bernyanyi.
Tak lama kemudian merekapun sampai ke tempat tujuan.
"Andini, bangun sayang," ucap Dimas pelan sambil mengusap pipi Dini.
"Eh, aku ketiduran ya, maaf Dim, capek ya?"
"Enggak kok, bahu ini emang diciptakan buat kamu bersandar."
Dini hanya tersenyum lalu mengikuti teman-temannya turun dari bus.
Dari tempat parkir, mereka masih harus berjalan sekitar 200 meter untuk sampai ke pantai.
Sepanjang perjalanan ke pantai, tangan Dini tak pernah lepas dari genggaman Dimas.
Membuat beberapa teman-temannya bersorak karena iri.
Sedangkan Andi, hanya bisa melihat sahabat yang dicintainya bahagia bersama laki-laki lain.
"Kamu nggak papa Ndi?" tanya Lia pada Andi.
"Maksud kamu?"
"Kamu nggak cemburu liat Dini sama Dimas?"
"Enggaklah!"
"Keliatan kali Ndi!"
"Apaan sih!"
"Kalian udah lama kenal?"
"Dari bayi hahaha......"
"Aku tau Ndi gimana rasanya mencintai orang yang bahkan nggak menganggap kita ada, sakitnya melebihi sakit mencintai sahabat sendiri," ucap Lia yang tiba-tiba berkaca-kaca.
Andi hanya diam mendengarkan Lia.
*****************************
Di sisi lain, sekolah Sintia yang sedang mengadakan study tour sudah sampai di tempat tujuan.
Mereka berjalan beberapa ratus meter dari tempat parkir untuk sampai di pantai.
Dari jauh, Sintia melihat Dimas sedang berdiri menghadap pantai. Ia segera berlari dan memeluk Dimas dari belakang.
"Sintia kangeeennn!" ucap Sintia dengan memeluk erat Dimas membuat Dimas seketika terkesiap.
__ADS_1
Dini yang melihat hal itu dari warung tempatnya membeli minuman begitu terkejut, membuatnya tanpa sengaja menjatuhkan 2 gelas es kelapa muda yang dibawanya.