
Malam seperti sedang bersedih. Rintik kecilnya masih saja enggan untuk berhenti meski sudah 3 jam lamanya. Entah apa yang membuat langit tak lagi menghadirkan senyum sang bulan malam ini, hanya gelap dan tetes tetes kesedihan yang tampak darinya.
Andi masih berada di rumah sakit, tangannya masih menggengam erat jemari gadis yang dicintainya itu. Gadis yang bahkan tak pernah tau isi hatinya atau mungkin memang tak ingin tau.
Entah kenapa Andi begitu mencintainya, entah sejak kapan rasa itu hadir dan semakin tumbuh di hatinya. Andi bahkan lupa kapan terakhir kali memeluk Dini tanpa ada rasa cinta di hatinya. Rasa cinta yang bukan hanya sebatas sahabat, rasa cinta yang membuatnya ingin memiliki gadis dalam genggamannya seutuhnya.
Semakin hari rasa itu semakin menjalari setiap sudut hatinya. Membuatnya tak berdaya melawan gejolak rasa yang tak ia inginkan kehadirannya. Baginya, cinta yang ia rasakan tak akan membawa banyak hal indah dalam hidupnya. Cinta di hatinya cukup ia yang rasa, biar ia saja yang tau dan biar ia saja yang menyimpannya dalam dalam. Ia tak ingin menyakiti siapapun. Ia tak ingin menghancurkan kebersamaannya bersama Dini. Ia tak ingin merusak hal indah yang sudah banyak mereka lalui berdua.
Tak jarang ia merasa jika cinta di hatinya seperti pedang tajam yang siap untuk mengoyak seluruh hati dan jiwanya. Jika orang lain merasakan bunga yang bermekaran dalam hati, Andi justru merasakan tusukan pedang yang semakin dalam di hatinya. Semakin ia mencintai nya, semakin ia harus siap untuk merasakan perih di hatinya.
Namun di balik semua itu, ia bahagia. Bahagianya tidak hanya tentang hati yang berbunga bunga. Bahagianya tidak hanya tentang cinta yang berbalas. Bahagianya hanya sederhana, sesederhana senyum di wajah gadis dalam genggamannya. Melihat senyum itu membuatnya bahagia, melihat kebahagiaan dari wajah itu membuatnya sangat bahagia karena bahagianya hanya satu yaitu kebahagiaan Dini. Hatinya seperti sudah terkoneksi secara otomatis. Ia akan bahagia jika Dini bahagia, ia akan lebih terluka jika Dini bersedih.
"Udah malem Din, kamu tidur ya," ucap Andi dengan membelai rambut Dini.
"Ndi, apa yang Nico bilang itu bener? apa kamu punya perasaan yang lebih dari sekedar sahabat? apa selama ini kamu nyimpen sendiri perasaan kamu itu? aku harap Nico salah, aku harap itu nggak bener, aku harap kita akan selalu sama sama selamanya tanpa ada kata putus atau pisah, cukup aku ngerasain sakit karena Dimas pergi, aku nggak mau lebih sakit lagi karena harus kehilangan kamu Ndi," batin Dini dalam hati.
"Din, kamu mikirin apa?" tanya Andi yang melihat Dini hanya memandang kosong ke arah depan.
"Enggak, nggak mikirin apa apa," jawab Dini dengan tersenyum tipis dan menggeleng.
"Kamu udah mau pulang?" lanjut Dini bertanya pada Andi.
"Enggak, ntar aja, lagi nggak banyak tugas kok."
"Andi, aku boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya Dini dengan serius.
"Kamu mau minta apa?"
"Jangan ninggalin aku," ucap Dini pelan, hampir tak terdengar.
"Kamu mau aku di sini nemenin kamu?"
"Bukan, bukan itu, kamu jangan pergi dari aku ya, jangan tinggalin aku sendirian, apapun yang terjadi kita harus tetep sama sama, kamu sahabat terbaik buat aku, aku sayang sama kamu, aku nggak mau kamu......"
"Din, aku nggak akan pernah ninggalin kamu, aku bahkan nggak pernah punya pikiran kayak gitu, aku selalu ada buat kamu, ketika kamu sendirian dan kamu sedih, aku akan di samping kamu buat peluk kamu, kalau kamu lagi sama seseorang yang kamu cintai dan kamu bahagia, aku akan ada di belakang kamu buat jagain kamu, buat pastiin kalau kamu selalu bahagia, jangan mikir yang aneh aneh lagi ya!"
Dini mengangguk pelan.
Andi bangkit dari duduknya dan memeluk Dini yang kini sudah bisa duduk karena luka di perutnya yang sudah membaik.
"aku juga sayang banget sama kamu Din, lebih dari yang kamu tau, bahkan aku sendiri nggak tau seberapa besar rasa ini ada buat kamu, yang aku tau aku selalu ingin liat kamu bahagia, aku ingin miliki kamu Din, tapi aku sadar kalau aku belum cukup baik untuk memiliki kamu dan aku tau rasa ini bukanlah rasa yang saling menerima, biarlah rasa ini hanya menjadi milikku, biarlah rasa ini hanya tersimpan di hatiku, asal aku bisa liat kamu bahagia, bagiku itu udah cukup,"
Andi melepaskan Dini dari pelukannya lalu mengusap lembut rambutnya.
"Kenapa kamu tiba tiba ngomong kayak gitu? apa ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Andi.
"Enggak, nggak ada apa apa," jawab Dini berbohong.
Ia tak mungkin menjelaskan yang sebenarnya, tentang apa yang Nico pernah katakan padanya. Ia juga baru mengenal Nico ketika mereka mulai kuliah, jadi mungkin Nico hanya salah paham seperti teman temannya yang lain.
Di luar, gerimis masih menyebar menebar titik titik basahnya pada setiap sudut kota. Hawa dinginnya masih bisa terasa pada mereka yang berada dalam ruangan.
Toookk toookk toookk
Pintu ruangan di ketuk oleh seseorang, Andi dan Dini kompak menoleh ke arah pintu.
"Gue masuk ya," ucap Nico dari luar ruangan.
"Iya Nic!"
__ADS_1
"Iya Nic," balas Dini dan Andi bersamaan.
Nico dan Aletta pun masuk ke ruangan Dini.
"Hai kak, aku Aletta temennya Nico sama An....." Aletta menghentikan ucapannya karena ia belum benar benar berkenalan dengan Andi. Ia hanya tau namanya dari Nico.
"Anak anak kos yang lainnya hehehe, iya kan? bener kan?" lanjut Aletta dengan meminta dukungan pada Nico dan Andi, namun seperti yang sudah terduga, hanya Nico yang menjawab.
"Iya bener, dia sekarang kos di tempat kita Din, dia temen SMA gue," jelas Nico.
"Waaahh, makin rame dong kos kita," balas Dini dengan bertepuk tangan kecil. Walaupun ia lebih suka suasana hening dan sepi, tapi menambah teman tidak ada salahnya bukan? Toh kamarnya kedap suara, jadi ia tak akan terganggu dengan suara berisik dari luar kamarnya.
"Iya bener, tenang aja kak, aku bakalan bikin kos kalian makin rame," sahut Aletta dengan menepuk nepuk dadanya.
"Jangan panggil kak, kalian seumuran," ucap Nico dengan menyenggol lengan Aletta.
"Hehehe, oke oke, kamu kenapa bisa ada di sini sih sampe' dijagain dua body guardnya Nico lagi, apa ada yang......"
"Dia abis kecelakaan, udah, jangan banyak tanya!" jawab Andi ketus.
"Iiisshh, lo tuh nggak bisa ngomong baik baik apa?"
"Ngomong baik baik sama lo? buat apa? 3 kali gue ketemu lo 3 kali gue sial, jangan sampe' gue tiba tiba ketemu lo lagi!"
"Emang ada apa sih?" tanya Dini penasaran.
"Bayangin aja Din, waktu di kampus dia lempar kepala aku pake sepatu, dia......"
"Eh, lo buang sepatu gue ke tong sampah, untung aja ada Nico yang bantuin ngambil, itu sepatu mahal tau'!"
"Sepatu mahal dari mantan yang nikah duluan ya hahaha....." seloroh Nico membuat Aletta melayangkan pukulan pukulannya pada Nico.
"Emang pantes sih ditinggal nikah," ucap Andi pelan.
"Dan lagi Din, dia lempar aku pake sendal waktu di dapur kosan, emang nih anak suka lempar lempar sembarangan deh kayaknya!"
"Eh, gue lagi nglempar sendal buat nangkap tikus, ya sorry kalau ternyata kena lo, muka lo mirip tikus kali hehe...."
"Hhmmmpph...."
Nico dan Dini kompak menahan tawa mereka. Bagiamana tidak, Andi yang seorang arjuna ketika di SMA disamakan dengan tikus oleh Aletta.
"Tuh kan Din, omongannya aja udah nggak bener kayak gitu, pantes emang ditinggal nikah, kasian juga suaminya nanti ngadepin istri barbar kayak gini!"
"Lo nggak tau apa apa diem aja deh, nggak usah bawa bawa nikah!"
"Oh ya satu lagi yang paling bikin kesel, tadi pagi waktu aku baru selesai mandi, baru ganti baju mau masak mie di dapur, dia tiba tiba nyiram pake segelas air, kan kelewatan Din!"
"Ada pembelaan?" tanya Dini pada Aletta.
"Gue tadi hampir kepleset, nggak sengaja air yang gue bawa kena muka lo, harusnya lo makasih sama gue karena gue udah pel lantainya biar lo nggak kepleset!"
"Lo ngepel lantai karena gue suruh, kalau......."
"Udah stop, ini rumah sakit, kasian Dini jadi nggak bisa istirahat," ucap Nico menengahi perdebatan Andi dan Aletta.
"Nggak papa kok, aku malah seneng ada kalian di sini, aku jadi nggak bosen," ucap Dini.
"Apa kamu mau pegang HP ku dulu buat sementara?" tanya Andi pada Dini.
__ADS_1
"Nggak usah Ndi, kamu kan butuh juga, aku gampanglah nanti."
"Guys, gue cari minum dulu ya, seret tenggorokan gue ngeladenin cowok tampan satu ini," ucap Aletta dengan mengedipkan matanya ke arah Andi, membuat Andi bergidik ngeri melihatnya.
"Hahaha, oke oke, buat kita juga ya!" balas Nico.
"Siap boskuh!"
Kini hanya ada Dini, Andi dan Nico dalam ruangan Dini.
"Oh ya makasih ya Nic kamu udah siapin semua ini buat aku, aku nggak tau harus gimana nanti balasnya, aku......"
"Nggak usah dipikirin Din, kita kan temen, santai aja!" ucap Nico memotong ucapan Dini.
Dini menoleh ke arah Andi dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa? kamu mau nanya apa?" tanya Andi yang merasa terintimidasi oleh tatapan Dini.
"Mmmm, soal Dika, kamu tau darimana kalau dia......"
"Dari buku catatannya yang ditemuin Nico di lantai," ucap Andi yang seolah tau kelanjutan dari pertanyaan Dini.
"Buku catatan? buku catatan apa?" tanya Dini yang kini menoleh ke arah Nico.
"Gue nggak tau apa apa, gue cuma nemuin buku itu di bawah kursi, gue pikir punya Andi ternyata bukan," jelas Nico.
"Kayaknya sebelum dia keluar, dia nggak sengaja jatuhin bukunya, aku liat dia bawa lakban di tasnya dia bilang buat nutup mulut kamu, awalnya aku ketawa ketawa aja karena Dika emang gitu anaknya, kalau bercanda suka dark tapi waktu aku mau balikin bukunya aku denger dia marah marah sama orang di telepon, dia marah karena orang itu nggak nemuin kamu Din, dia ngancam orang itu biar orang itu tau kamu lagi dimana saat itu, aku liat dia bener bener emosi waktu itu, dari situ aku mulai curiga, aku batalin niatku buat balikin buku catatan itu," jelas Andi.
"Tapi lo baik baik aja kan Din? apa lo butuh ke psikiater? gue punya kenalan psikolog hebat di sini," tanya Nico pada Dini. Ia takut Dini mengalami trauma karena kejadian itu.
"Makasih Nic, tapi aku baik baik aja kok, ada sesuatu yang hilangin rasa takutku, sesuatu yang kasih aku kekuatan buat bertahan saat itu, walaupun akhirnya aku nggak sadarkan diri sebelum ninggalin rumah itu," balas Dini dengan tersenyum dan pandangan menerawang jauh mengingat kejadian itu.
Ia mengingat bagaimana Dimas berusaha menolongnya, bagaimana Dika mencoba merusak memori Dimas dan bagaimana Dimas dengan semua usahanya bisa melawan Dika lalu membawanya keluar dari ruangan itu.
"Terus sekarang Dika gimana? apa dia di penjara? atau dia masih bebas kemana mana?" tanya Dini dengan menatap Andi dan Nico bergantian.
Ia sangat berharap Dika menghilang selamanya dalam hidupnya atau ia tidak akan aman selama Dika masih bebas kemana mana.
"Lo tenang aja Din, dia udah nggak bisa ganggu lo lagi, dia udah pergi jauh buat selamanya, dia udah...." Nico tak melanjutkan ucapannya, ia memberikan gerakan menggorok lehernya dengan telapak tangannya.
"Serius? kenapa bisa? kapan?"
"Serius, polisi sendiri yang bilang sama gue, dia lompat dari lantai 3 dan badannya ketusuk sama tiang besi bekas lampu taman di rumah itu," ucap Nico menjelaskan detailnya.
"Iiiissshhh, kasian banget," ucap Dini dengan memicingkan matanya membayangkan kengerian itu.
"Anggap aja itu karma buat perlakuan sadis yang udah dia lakuin sama semua korbannya," balas Andi.
"Semua korban? maksud kamu?"
"Dia emang udah 'sakit' dari lama Din, tapi dia pinter sembunyiin semuanya, dia bener bener licik, kamu tau siapa yang dorong Bela dari lantai 3 fakultas Seni? kamu tau kalau Anita pernah kena teror sampai masuk rumah sakit? semua itu Dika yang ngelakuin Din, dia sengaja nyelakain orang orang yang dia anggap jahat sama kamu, dia manis di depan kamu karena dia punya maksud lain, dia......"
"Dia marah sama aku," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.
"Marah? marah kenapa?" tanya Andi penasaran.
"Dia sempet bilang sama aku kalau dia liat aku pelukan sama kamu, sedangkan aku nggak pernah mau dia peluk, dia juga liat aku pelukan sama Dimas bahkan dia sampai cari tau hubungan kita waktu SMA gara gara itu, mungkin emang aku yang salah, aku yang nggak menghargai dia sebagai seseorang yang udah jadi pacar buat aku,"
"Enggak Din, kamu nggak salah apa apa, dia emang 'sakit' jauh sebelum kenal kamu," ucap Andi dengan mengusap pelan punggung Dini.
__ADS_1
"Andi bener Din, lo nggak salah apa apa, dia emang saiko dari dulu, lo bukan yang pertama Din, pacarnya waktu SMA malah baru ditemuin waktu udah jadi mayat dengan keadaan yang bener bener mengenaskan, banyak luka sayatan di semua tubuhnya, beruntung Dimas bisa nemuin lo waktu itu," jelas Nico meyakinkan.
Dini diam dengan pandangan nanar mendengar penjelasan Nico. Ia sama sekali tak menyangka jika ia bisa dekat bahkan berpacaran dengan seseorang yang sesadis itu.