
Hawa dingin masih terasa, genangan air masih terlihat di beberapa tempat. Hampir semua orang yang berada di luar mengenakan jaket atau sekedar baju berlengan panjang untuk menghindari dingin yang menusuk tulang, terkecuali Andi, ia hanya mengenakan kaos berlengan pendek karena jaketnya dipakai oleh Dini.
Ia sedikit menggigil, tapi hatinya terasa hangat. Kehangatan yang ia rasakan karena berada dekat dengan gadis yang dicintainya.
10 menit menunggu, akhirnya nasi goreng pesanan mereka sudah siap.
"Kamu pesen dua Din?" tanya Andi yang melihat 2 porsi nasi goreng di hadapannya.
Dini mengangguk cepat, ia ingin segera melahap nasi goreng di hadapannya. Asap yang mengepul meninggalkan aroma nasi goreng yang membuat perut meronta ronta ingin di jamah.
"Aku kan udah makan Din, aku......"
Haapp
Dini menyuapkan satu sendok nasi goreng pada Andi setelah beberapa kali ia tiup untuk mengurangi panasnya. Andi akhirnya mengunyah nasi goreng dalam mulutnya.
"Jangan ganggu aku makan!" ucap Dini yang menyantap dengan lahap nasi goreng favoritnya.
Andi menghembuskan napasnya pelan. Bagaimana tidak, ia baru saja menghabiskan satu porsi nasi goreng bersama Aletta dan sekarang ia harus menghabiskan nasi goreng lagi bersama Dini. Andi memakan nasi goreng di hadapannya dengan sangat pelan, ia merasa perutnya akan meledak saat itu juga.
"Kenapa Ndi? nggak suka?" tanya Dini yang melihat Andi tampak tidak bersemangat.
"Suka kok, suka," jawab Andi cepat.
"Kamu masih kenyang?"
"Dikit, hehe....."
"Ya udah, ini buat aku aja!" ucap Dini sambil menggeser nasi goreng di hadapan Andi.
"Serius? ntar perut kamu sakit loh Din kalau kekenyangan!"
"Biarin, daripada dibuang!"
"Ya udah sini, aku abisin!" balas Andi sambil menggeser kembali nasi gorengnya dan memakannya dengan lahap.
Dini tersenyum lalu menghabiskan satu gelas es teh di hadapannya setelah nasi goreng miliknya habis tak bersisa.
Setelah menghabiskan nasi gorengnya, Andi dan Dini segera kembali ke kos karena hari sudah malam. Andi mengantar Dini kembali ke kamarnya. Namun Dini tidak langsung masuk, ia mengajak Andi untuk duduk di depan kamarnya.
"Kamu mulai kuliah kapan Din?" tanya Andi.
"Lusa kayaknya," jawab Dini.
"Kamu yakin udah baik baik aja?"
"Yakin," jawab Dini dengan mengangguk penuh keyakinan.
"Anak anak pasti banyak yang nanyain soal Dika ke kamu, kamu siap?"
"Aku harus jawab apa nanti Ndi?"
"Kamu bilang aja kalau kamu nggak tau apa apa, kalian udah putus sebelum hari itu dan kamu cuti kuliah karena pulang ke rumah ibu kamu," jelas Andi.
"Kamu emang pinter bohong ya, berbakat kamu Ndi!"
"Ini karena terpaksa aja Din, aku mana pernah bohong sama kamu!"
"Ya, kamu emang selalu dapat dipercaya!"
"Iya dong!"
"Oh ya, Aletta tadi nanyain hubungan kamu sama Dimas," lanjut Andi.
"Aletta? terus kamu jawab apa?"
"Ya aku jawab nggak tau, aku suruh di nanya sendiri sama kamu!"
Dini mengacungkan jari jempolnya.
"Aku aja nggak tau hubungan kalian itu sebenernya gimana!"
Dini menghembuskan napasnya pelan.
"Aku juga bingung Ndi, sikap Dimas bikin aku bimbang," ucap Dini dengan memandang nanar ke arah depan.
"Apa kamu bahagia?"
Dini mengangguk pelan.
"Aku bahagia, aku seneng karena bisa sama Dimas lagi, tapi hati kecil aku ragu, apa aku bener bener bahagia? karena situasinya sekarang berbeda, Dimas milik Anita sekarang dan aku nggak mau dicap sebagai perebut milik orang lain, setiap aku ngerasa bahagia selalu ada keraguan di hati aku, bahagia yang aku rasain kayak nggak nyata, aku harus siap jika suatu saat nanti Dimas pergi gitu aja demi Anita," jelas Dini.
__ADS_1
Andi merentangkan tangan kanannya, membawa kepala Dini untuk bersandar di bahunya lalu mengusap lembut rambutnya.
"Kenapa dia harus kembali lagi Ndi?" tanya Dini pilu.
Andi hanya diam. Rintik hujan kembali turun menyuarakan rintihan hati yang memilukan. Ini semua takdir. Semua ini terjadi karenaNya. Andi menggengam tangan Dini erat, berharap Dini tidak akan kembali menangis karena jalan cintanya yang rumit. Ia hanya ingin Dini bahagia, entah bersama Dimas atau tidak, ia hanya ingin Dini selalu tersenyum bahagia.
"Masuk Din, udah malem," ucap Andi pada Dini.
Tak ada jawaban, hanya suara rintik hujan yang terdengar.
"Din, kamu harus istirahat," ucap Andi lagi, namun tetap tak mendapatkan jawaban dari Dini. Bahkan Dini tak bergerak sedikitpun.
Andi sedikit membungkukkan badannya dan melihat mata Dini yang terpejam. Andi melepaskan tangan Dini dari genggamannya secara perlahan dan mengusap pipi Dini.
"Din, kamu udah tidur?" tanya Andi memastikan.
Tak ada jawaban. Dengan perlahan Andi membopong Dini untuk masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan di tempat tidur lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
Andi mencium kening Dini pelan sebelum ia keluar.
"Mimpi indah ya Din, aku harap kamu selalu bahagia," ucap Andi setengah berbisik lalu berbalik hendak keluar dari kamar Dini, namun tangan Dini menahannya.
Andi menghentikan langkahnya. Dini menarik tangannya, membuatnya kembali mendekat. Dengan mata yang masih terpejam, Dini membawa tangan Andi ke dalam pelukannya. Andi hanya diam, ia takut membangunkan Dini jika ia melepaskan tangannya. Kini Andi duduk di samping ranjang Dini, membiarkan Dini memeluk tangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, pintu kamar Dini masih terbuka, Andi masih di posisi yang sama, menahan kram yang menjalari hampir sekujur tubuhnya.
Tak lama kemudian, Dini menggeser tubuhnya, melepaskan tangan Andi dari pelukannya. Andi bernapas lega, ia meregangkan tangan, kaki dan pinggangnya pelan pelan. Ia membenarkan selimut Dini yang sedikit tersingkap, lalu keluar dengan perlahan dan menutup pintu kamar Dini.
Andi sudah sangat mengantuk saat itu, hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang ketika ia baru saja turun ke lantai satu.
PYAAAARRRR
Gelas beserta isinya tumpah membasahi lantai, pecahan gelas tercecer dimana mana.
"Sorry sorry, gue nggak sengaja," ucap Andi yang langsung membantu membereskan pecahan gelas di lantai.
"Aaaawww......." Aletta memekik pelan, jarinya berdarah terkena pecahan gelas yang tajam.
"Hati hati Ta, udah gue aja yang beresin, lo obatin aja jari lo!"
Aletta tak bergeming, ia masih memunguti pecahan gelas dan membuangnya ke tempat sampah, ia lalu mengambil alat pel namun Andi segera merebutnya dan mengepel lantai yang basah.
Aletta pergi ke dapur untuk membasuh jarinya yang berdarah. Setelah mengepel lantai, Andi segera menghampiri Aletta. Ia menarik tangan Aletta dari bawah wastafel lalu menggandengnya untuk diajak ke kamarnya. Namun Aletta menarik tangannya dengan cepat.
"Nggak perlu!" balas Aletta lalu segera naik ke lantai dua. Ia tampak kesal.
Melihat sikap Aletta yang tiba tiba berubah, Andi segera mengejarnya dan menarik tangan Aletta lalu menggenggamnya kuat kuat.
"Lo kenapa?" tanya Andi.
Aletta tak menjawab, ia hanya berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Andi.
"Ta, lo kenapa? lo marah sama gue?" tanya Andi lagi.
Aletta masih diam, ia masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Andi.
"Ta, gue......"
"Sakit Ndi, lepasin!" ucap Aletta setengah berteriak membuat Andi segera melepas tangan Aletta dari genggamannya, ia tak mau membuat kegaduhan.
"Lo marah sama gue? kenapa?"
Aletta tak menjawab, ia segera berlalu begitu saja meninggalkan Andi.
Andi hanya bisa membiarkan Aletta pergi. Ia lalu kembali turun dan masuk ke kamarnya. Ia benar benar tidak mengerti kenapa Aletta tiba tiba bersikap seperti itu padanya. Ia berusaha mengingat ingat apa yang ia lakukan bersama Aletta hingga membuat Aletta marah padanya.
"Apa karena aku pukul dia pake' sendok? apa karena nasi gorengnya nggak enak? apa karena kejadian di teras tadi? aaarrrgghhh nggak ngerti lah, cewek emang ribet!"
Andi lalu berusaha untuk memejamkan matanya, tapi sikap Aletta membuat otaknya tidak berhenti bekerja. Ia masih memikirkan sikap Aletta yang tiba tiba dingin padanya. Pasalnya, Aletta bukanlah perempuan yang gampang marah ataupun ngambek. Ia ingat betul bagaimana ia membentak Aletta waktu kaki Dini terkena air panas, meski itu salah paham, Aletta tidak marah, sikapnya tidak berubah. Namun malam ini, entah kesalahan apa yang sudah Andi perbuat hingga Aletta bersikap dingin padanya.
"Lo kenapa sih Ta? ganggu pikiran gue aja tau gak!"
Andi menggerutu kesal. Ia mengambil ponsel di meja belajarnya lalu membuka mesin pencariannya. Ia mengetik "kenapa cewek tiba tiba diam" lalu muncul banyak artikel dengan banyak judul yang bermacam macam, mulai dari 6 Alasan Kenapa Cewek Memilih Diam, 7 Hal yang Paling Diinginkan Cewek Ketika Dia Diam, 5 Tanda Wanita Sedang Ngambek, Penyebab Wanita Tiba Tiba Menjadi Pendiam, dan banyak artikel lainnya yang membuat Andi geli, pasalnya ia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya.
Ia lalu keluar dari berbagai macam suguhan artikel yang sudah ia cari. Ia menghidupkan alarm agar ia tidak bangun terlambat besok karena ia harus menyiapkan sarapan untuk Dini.
Baru saja matanya terpejam, seorang gadis yang dikenalnya duduk di sebelahnya. Ia tersenyum manis ke arahnya. Andi segera duduk dan membalas senyuman sang gadis.
"Kamu udah nggak marah?" tanya Andi.
Si gadis menggeleng, masih dengan senyum manisnya. Perlahan si gadis mendekat, hembusan napasnya terasa hangat di telinga Andi.
__ADS_1
"Aku suka sama kamu," ucap si gadis dengan berbisik pelan.
Lalu.....
Krrriiiiing....... krriiiiing...... Kriiiiiing.......
Dering alarm membangunkan tidurnya. Andi segera membuka matanya dan terduduk untuk mematikan alarm dari ponselnya. Ia memegangi dadanya yang berdetak sangat cepat.
aku suka sama kamu
Suara itu seakan kembali menggema di telinganya. Entah kenapa jantungnya masih berdetak tak beraturan, mungkin karena dering alarm yang mengagetkannya, begitu pikirnya.
"Aletta? kenapa harus Aletta? pasti gara gara semalem kepikiran sama sikapnya yang tiba tiba berubah, jadi kebawa mimpi, Aletta suka sama aku? hehe mana mungkin,"
Andi segera pergi ke kamar mandi. Setelah mandi dan berpakaian rapi, ia segera keluar untuk membeli bubur ayam, bukan untuknya tapi untuk Dini, Aletta dan Nico. Ia sengaja tidak membeli untuk dirinya sendiri, karena bubur ayam masuk dalam daftar makanan yang tidak di sukainya. Menurutnya perpaduan bubur putih dengan suwiran ayam, bawang goreng seledri dan lainnya itu menghasilkan rasa yang aneh di mulutnya, semua rasa itu seperti bertabrakan di lidahnya.
Setelah mendapatkan 3 porsi bubur ayam, ia segera kembali ke kos. Ia melihat Nico dan Aletta yang berada di dapur.
"Buat sarapan nih!" ucap Andi sambil menaruh 2 porsi bubur ayam di depan Nico dan Aletta.
"Waaaah, bubur ayam nih, thanks Ndi!" ucap Nico.
Andi mengangguk sambil membawa mangkok dan sendok keluar dari dapur.
"Gue nggak suka," ucap Aletta sebelum Andi benar benar keluar dari dapur.
Andi kembali dan menghampiri Aletta.
"Lo kenapa sih Ta? gue ada salah apa sama lo?" tanya Andi.
"Gue nggak papa, gue emang nggak suka bubur ayam!" balas Aletta lalu berjalan keluar dari dapur, namun Andi menahannya dengan menarik tangan Aletta.
"Sorry kalau gue ada salah sama lo, gue....."
"Apaan sih Ndi, lebay lo, gue emang nggak suka bubur ayam, tanya aja Nico!" balas Aletta dengan mengarahkan pandangannya pada Nico.
Andi menoleh ke arah Nico. Aletta segera menarik tangganya dari genggaman Andi lalu berlari keluar dari dapur dan masuk ke kamarnya.
"Emang iya Nic?"
"Hmmmm," jawab Nico dengan menganggukkan kepalanya, mulutnya sudah penuh dengan bubur ayam saat itu.
"Ya udah buat lo aja dua duanya!" ucap Andi lalu keluar dari dapur dan naik ke lantai dua untuk ke kamar Dini.
Nico hanya mengangguk sambil sibuk menyantap sarapan gratis di hadapannya.
Andi sedikit lega, setidaknya Aletta sudah tidak mendiamkannya lagi. Andi mengetuk pintu kamar Dini pelan, ia tak mau mengagetkan Dini. Beberapa menit menunggu akhirnya pintu kamar Dini terbuka, Dini keluar dengan rambut yang masih basah, pertanda ia baru saja selesai mandi.
"Maaf, abis mandi," ucap Dini setelah membuka pintunya.
Andi tersenyum dan memamerkan satu kotak bubur ayam di tangannya.
"Bubur ayam?"
"Iya, kesukaan kamu!"
"Waaahhh, Andi terbaik emang, ayo masuk!"
Andi masuk ke kamar Dini, namun Dini segera keluar dari kamar.
"Tungguin, aku bikinin kamu sarapan!" ucap Dini sambil membawa mie instan dan telor di tangannya.
Andi mengangguk, ia menunggu Dini dengan sabar.
Di dapur, Dini memasak mie instan untuk Andi. Ada Aletta yang juga sedang memasak mie instan di sana.
"Gimana keadaan lo Din?" tanya Aletta.
"Baik Al," jawab Dini dengan mengaduk aduk mie dalam panci di hadapannya.
"Gue semalem liat Dimas keluar dari kamar lo, kalian berdua deket ya?" tanya Aletta.
Dini hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Aletta. Setelah selesai memasak mie kuah dengan telur bulat sempurna dan irisan cabe, Dini segera membawanya keluar dari dapur dan masuk ke kamarnya. Aletta yang melihat hal itu sudah menduga jika mie yang dibawa Dini adalah untuk Andi.
Dini meletakkan satu mangkok mie instan favorit Andi di hadapannya.
"Hmmmm, ini yang terbaik dari semua makanan," ucap Andi dengan menghirup kepulan asap yang selalu bisa membangkitkan nafsu makannya.
Merekapun makan berdua di kamar Dini. Andi menikmati mie kuah favoritnya dan Dini menikmati bubur ayam favoritnya.
Tak lama kemudian, seseorang datang. Ia berdiri di depan pintu kamar Dini dengan membawa kantong besar yang berisi makanan.
__ADS_1
"Aku ganggu ya?" tanyanya.
"Enggak kok, masuk aja!" jawab Dini dengan senyum manisnya.