
Setelah berusaha mencari Dini, Andi kembali ke kosnya dengan harapan Dini sudah berada di kos, meski ia sendiri ragu pada harapannya sendiri.
Dia naik ke lantai 2 dan menggedor gedor pintu kamar Dini.
"Din, kamu udah pulang?" tanya Andi dari depan pintu, tak ada jawaban.
Ia pun kembali turun ke bawah dan duduk di kursi panjang teras kos.
"Muka lo kusut banget sih?" tanya Nico yang kini duduk di sebelah Andi.
Andi tak menjawab, ia mengusap kasar wajahnya, menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya.
"Ada apa sih? masih berantem sama Dini?" tanya Nico penasaran.
Andi menggeleng.
"Terus kenapa? patah hati?"
"Gue udah biasa patah hati Nic, lo liat Dini nggak?"
"Lah kan gue baru pulang, gimana sih!"
"Ya barangkali lo ketemu dia dimana gitu!"
"Enggak, gue belum ketemu dia, kenapa?"
"Gue takut terjadi apa apa sama dia."
"Coba gue hubungin dia ya!"
"Percuma Nic, nggak bisa, kayaknya HP nya mati!"
"Hmmmm, kalau gitu tunggu aja, cewek emang gitu kalau lagi marah, kasih dia waktu buat sendiri!"
"Enggak Nic, kita nggak berantem!"
"Terus?"
"Gue nggak bisa jelasin sama lo, tapi gue takut Dini dalam bahaya sekarang!"
"Lo serius? cerita sama gue Ndi, kalau gue bisa pasti gue bantu lo!"
"Lo dulu satu SMA kan sama Dika?"
"Iya, kenapa?"
"Dulu di SMA lo pernah ada kejadian aneh nggak? semacam pembunuhan atau yang lain?"
"Pembunuhan? mana mungkin lo kan tau SMA gue bukan SMA sembarangan, SMA favorit, isinya anak anak orang tajir semua, gue....."
"Nic, fokus dong, kok malah ceritain sekolah lo!"
"Hahaha sorry sorry, dulu ada kasus yang sengaja di tutup dari publik, bahkan yang nyebarin kasus itu bisa kena tuduhan pencemaran nama baik dari sekolah, nggak tau gimana sekolah bisa aja memutar balikkan fakta, biar si penyebar itu yang akan masuk penjara, itu kenapa kasusnya nggak sampe' keluar dari lingkungan sekolah!"
"Kasus apa Nic?"
"Gue nggak berani nyebarin itu Ndi, kan udah gue bilang konsekuensinya gimana kalau......"
"Gue cuma mau tau aja, ini penting buat gue dan ini ada hubungannya sama Dini sekarang!"
"Oke, karena gue percaya sama lo, gue akan ceritain, tapi lo juga harus cerita ada apa sama Dini, kenapa lo segelisah ini?"
Andi diam beberapa saat.
"Ndi, lo udah gue anggap sahabat gue, gue tau lo tulus jadi temen gue, lo nggak mandang siapa keluarga gue, lo temenan sama gue karena diri gue sendiri, bukan karena background keluarga gue, gue percaya sama lo dan gue harap lo juga bisa percaya sama gue!"
Ya, Nico benar. Nico adalah anak kedua dari seorang pengusaha besar di kota itu, perusahaan yang tak kalah suksesnya dengan perusahaan Adhitama, papa Dimas. Kakaknya juga mengelola perusahaannya sendiri yang kini mulai terlihat sukses dan mamanya seorang pebisnis online yang sudah tidak diragukan lagi kesuksesannya.
Selama ini, teman temannya mau berteman dengannya hanya untuk memanfaatkan apa yang ia punya. Entah karena bisnis kedua orangtua mereka atau sekedar menjadikan Nico atm keliling bagi mereka. Pada awalnya Nico tak pernah mempermasalahkan itu karena ia tak pernah merasakan kebersamaan keluarga di rumahnya, itu kenapa ia mencari kebahagiaannya sendiri bersama teman teman palsunya.
Sekarang, ia memutuskan untuk menjauh dari kemewahan yang selalu orangtuanya berikan padanya. Ia tinggal di kamar kos yang kecil tanpa mobil mewah yang dulu selalu ia gunakan.
Hasilnya, ia mempunyai banyak teman sekarang, teman yang tulus padanya, terutama Andi. Dulu, Andi mengira jika Nico sama sepertinya, berasal dari keluarga biasa. Ia sering membagi makanan atau apapun yang ibunya berikan pada Nico. Baru baru ini Andi baru tau jika Nico bukanlah dari keluarga biasa sepertinya.
"Oke, gue akan ceritain semuanya sama lo!"
"Gitu dong, jadi di sekolah gue dulu ada anak cewek yang dari keluarga biasa, dia pinter banget jadi dapat beasiswa di sekolah gue, dia dulu pacarnya Dika, dia ditemuin di gudang belakang sekolah dalam keadaan mengenaskan, banyak luka sayatan pisau di tubuhnya, dari yang gue denger dia meninggal karena kehabisan darah karena baru ditemuin sekitar 2 hari setelah dia hilang, ngeri banget pokoknya!"
"Terus pelakunya?"
__ADS_1
"Itu dia, semua CCTV udah di cek dan nggak ada hasilnya, malah 2 hari sebelumnya semua CCTV mati sekitar 1 jam dan pihak sekolah sengaja nggak panggil polisi buat selidikin lebih lanjut karena takut nama baik sekolah akan rusak," jelas Nico.
"Apa orangtuanya nggak curiga kalau itu pembunuhan?"
"Iya, orangtuanya tau tapi nggak bisa ngelakuin apa apa karena ancaman pihak sekolah tadi, mereka kan orang biasa Ndi, mereka nggak bisa ngelawan!"
Andi mengangguk anggukan kepalanya mendengar cerita Nico.
***********
Di tempat lain, Dini masih berjuang untuk tidak kehilangan kesadarannya. Ia melihat Dimas yang kini meringkuk kesakitan di depannya.
"Dimas Raditya Adhitama, apa lo inget waktu pertama kali ketemu Dini? apa lo sadar kalau lo udah bikin renggang hubungan Dini sama Andi? gue tau mereka cuma sahabat, tapi harusnya lo tau kalau Andi juga suka sama Dini dan lo Din, lo bener bener egois, lo pilih Dimas tapi nggak mau nglepasin Andi, oh ya asal lo tau ya Dim, cewek yang lo cintai setengah mati ini masih sayang banget sama lo, dia pacaran sama gue tapi nggak mau gue peluk, kenapa coba? karena dia masih jaga hatinya buat lo dan lo malah tunangan sama orang lain!"
"Udah Dika, aku mohon hentikan omong kosong kamu," ucap Dini lemah.
Ia sudah lemas, darah menggenang di bawah kursinya.
"Andini Ayunindya Zhafira, harusnya kamu pilih salah satu, Dimas atau Andi, jangan dua duanya dong!"
Dimas masih merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Namun tiba tiba memorinya seperti berjalan mundur ke belakang. Rekaman masa lalunya tentang kebersamaannya bersama Dini seperti kembali terputar di otaknya.
Ketika ia sering menjahili Dini ketika masih SD, ketika ia melihat Dini pingsan sebelum ia pindah sekolah. Bahkan sampai terkahir kali ia bertemu Dini. Hatinya terasa sakit mengingat kejadian waktu itu.
Ia mengingat semuanya dengan jelas. Ia ingat bagaimana ia sangat mencintai Dini, bahkan ketika ingatannya hilang, cinta itu tetap ada tanpa ia sadari. Ia ingat bagaimana ia membuat Dini menangis karena sikapnya pada Anita.
Anita, ia sangat membencinya. Bagaimana mungkin dia bisa bertunangan dengan perempuan licik seperti Anita.
Ia kini sadar jika Anita dan mamanya sudah banyak berbohong tentang masa lalunya. Perempuan yang ada dalam ingatan singkatnya selama ini adalah Dini, itu kenapa ia selalu merasakan getaran yang sama di hatinya ketika ia bersama Dini. Sedangkan ketika bersama Anita, ia sama sekali tak bisa merasakan apapun meski ia sudah berusaha untuk mencintai Anita.
Dimas memegangi kepalanya dengan erat, ia menjambak rambutnya untuk menahan sakit. Ia ingat dan ia tak ingin ingatan itu hilang lagi darinya.
Di tengah kesakitan dan ingatannya yang telah kembali, ia melihat Dika yang sedang menggores luka di perut Dini dengan pisau kecil yang dibawanya lalu membiarkan pisau itu tertanam di perut Dini.
Dika mencekik leher Dini dengan kuat lalu tertawa puas melihat kesakitan Dini.
Dimas segera bangkit dan menendang tubuh Dila lalu memukulnya dengan tongkat baseball yang tergelatak di lantai. Dika tersungkur dengan darah yang keluar dari kepalanya.
Dimas mendekati Dini dan dengan pelan mencabut pisau yang berada di perut Dini.
"Tahan sayang, kamu harus tetep sadar, jangan tutup mata kamu!" ucap Dimas dengan berusaha melepas ikatan tali yang mengikat tubuh Dini secepatnya.
"Dimas, kenapa kamu panggil aku sayang?"
Dimas melepas kemejanya dan memakaikannya pada Dini. Ia menepuk pelan pipi Dini yang tidak terluka agar Dini membuka matanya yang mulai tertutup.
"Sayang, bangun, aku yakin kamu kuat, buka mata kamu sayang, aku mohon," ucap Dimas dengan air mata yang mulai menggenang di kedua sudut matanya.
Hatinya terasa sakit dan perih. Ia merasa bersalah atas semua yang terjadi pada perempuan yang ia cintai itu.
Samar samar Dini mendengar ucapan Dimas, ia membuka matanya pelan dan berusaha untuk tetap tersadar.
"Tetep buka mata kamu sayang, aku akan bawa kamu pergi dari tempat ini!"
Dimas membopong Dini keluar dari ruangan itu. Kemeja putih yang dipakai Dini sudah berubah warna menjadi merah, begitu juga kaos lengan pendek yang Dimas pakai sudah penuh dengan darah Dini.
Dimas berjalan dengan cepat dan hati hati. Ketika baru menuruni lantai satu, seseorang berlari ke arahnya bersama beberapa orang polisi.
Para polisi segera membagi tugas untuk menyusuri rumah berlantai 3 itu dan Yoga membantu Dimas untuk membawa Dini ke mobil.
"Dia di atas Ga, di lantai 3 kamar nomor 2!" ucap Dimas pada Yoga.
Meski Yoga tak mengerti maksud "dia", ia tetap memberitahukan hal itu pada polisi.
"Dia di lantai 3 pak, kamar nomor 2!" ucap Yoga pada salah satu polisi.
Para polisi segera berlari ke arah lantai 3.
Dimas dan Yoga membawa Dini ke mobil polisi, karena tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Yoga hanya memanggil polisi tanpa ambulan bersamanya.
Beberapa polisi yang berjaga di luar mengantarkan Dimas dan Dini ke rumah sakit terdekat. Belum sampai mereka meninggalkan halaman rumah itu,
BRRUUGGG
Dimas menoleh ke sumber suara, ia melihat tubuh Dika yang sudah penuh darah jatuh dari lantai 3. Tubuhnya jatuh tepat di atas besi panjang bekas lampu taman yang sudah rusak, membuatnya tertancap tepat pada perutnya hingga tembus ke punggung.
Yoga yang menyaksikan hal itu di depan matanya merasa mual, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dan segera membawa masuk Dini ke dalam mobil polisi.
Tak sampai 10 menit, mereka sudah berada di rumah sakit. Dini segera di bawa ke ruang UGD. Sedangkan Dimas dan Yoga menunggu di depan.
__ADS_1
"Dim, lo baik baik aja?"
Dimas mengangguk pelan. Kepalanya masih terasa pusing. Namun sakit di kepalanya tak sebanding dengan sakit di hatinya karena melihat keadaan Dini saat itu.
"Dim, lo harus periksa juga deh kayaknya, kepala lo berdarah!"
Dimas meraba kepala belakangnya, perih. Tapi ia mengabaikannya.
"Ayo gue anter ke....."
"Ini nggak sebanding sama apa yang dirasain Dini sekarang Ga!" ucap Dimas pelan.
Suaranya terasa dipenuhi dengan penyelasan.
"Biarin gue di sini!" lanjut Dimas.
"Lo pusing?"
Dimas menggeleng.
"Apa gue harus kabarin orangtua lo?"
"Jangan, jangan cerita apa apa sama siapa pun, cuma lo yang tau soal ini!"
"Oke, kalau gitu gue cari minum dulu buat lo!"
Yoga keluar dari rumah sakit, mencari minum dan pakaian baru untuk Dimas lalu segera kembali. Ia sangat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia harus menunggu waktu yang tepat untuk menanyakannya.
Tanpa Dimas tau, Dokter Dewi saat itu sedang mengunjungi temannya yang bertugas di rumah sakit itu. Ia melihat Dimas dengan pakaian yang penuh darah. Ia segera menghubungi Anita dan tanpa pikir panjang Anita segera menuju ke tempat yang dijelaskan oleh Dokter Dewi.
Yoga menyerahkan pakaian dan minuman yang baru saja ia beli pada Dimas. Namun Dimas hanya menerimanya tanpa meminum apalagi mengganti pakaiannya.
"Gue yakin Dini pasti baik baik aja!" ucap Yoga menguatkan Dimas.
Dimas hanya diam, pandangannya kosong. Ia ingat dengan jelas kecelakaan yang terjadi padanya sebelum ia hilang ingatan. Kecelakaan yang membuatnya semakin jauh dari Dini. Ia menyesal, jika saja ia tidak terbawa emosi, jika saja ia mengendarai mobilnya dengan hati hati, mungkin ia tidak akan mengalami kecelakaan, ia tidak akan hilang ingatan dan pada akhirnya Dini tidak akan mengalami hal buruk ini.
Hampir satu jam para Dokter masih berusaha menyelamatkan Dini. Berkali kali Dimas duduk dan berdiri untuk menghilangkan kecemasannya. Tiba tiba, Anita datang dan menghampiri Dimas lalu memeluknya, namun Dimas segera mendorong tubuh Anita.
"Dimas, kamu kenapa? kamu......"
"Stop Anita, hentikan semua kebohongan kamu itu!" ucap Dimas pelan namun penuh penekanan dalam setiap kata katanya.
"Apa maksud kamu? kebohongan apa?"
"Aku tau semuanya, aku inget semuanya Nit!"
Deg.
Hal yang paling ditakutkan Anita selama ini terjadi. Dimas sudah mengingat semua masa lalunya, ingatan Dimas sudah kembali seutuhnya.
Yoga yang berada di sana juga tak kalah terkejutnya dengan Anita. Ia sangat bersyukur dan bahagia dengan apa yang di dengarnya. Bahagia? tidak, ia tidak sepenuhnya bahagia melihat keadaan Dimas saat itu.
"Oh, kamu inget? aku nggak peduli kamu inget atau enggak, yang penting kamu tetep tunangan aku sekarang!"
"Enggak, aku udah selesai sama kamu Nit!"
"Apa kamu lupa apa yang udah kamu lakuin sama aku? kamu mau jadi laki laki pengecut?"
"Aku nggak peduli!"
"Ada yang punya golongan darah O?" tanya Dokter yang tiba tiba keluar dari ruangan UGD.
"Saya O Dok!" jawab Dimas cepat.
Dokter memperhatikan Dimas dan menolak Dimas untuk mendonorkan darahnya pada Dini karena keadaan Dimas yang tidak memungkinkan.
"Tolong periksa darah saya Dok!" ucap Yoga.
Dokter segera membawa Yoga ke salah satu ruangan. Beberapa menit kemudian Yoga keluar dengan wajah lesu.
"Sorry Dim, golongan darah gue A, Dini cuma bisa nerima dari golongan darah O karena golongan darahnya O," jelas Yoga pada Dimas.
Dokter menjelaskan jika keadaan Dini kritis, ia harus cepat mendapatkan donor darah yang sesuai atau ia tak akan bisa di selamatkan karena darah O di bank darah di rumah sakit itu kosong.
"Aku akan bantuin Dini, asalkan kamu janji sama aku kalau kamu mau lanjutin hubungan kita dan jangan pernah temui Dini lagi!" ucap Anita dengan senyum liciknya.
Dimas diam beberapa saat.
"Terserah kamu Dimas, kamu mau Dini selamat atau enggak dan kak Yoga juga terlibat sama perjanjian ini, kakak nggak boleh kasih tau siapapun tentang ini, termasuk kalau ingatan Dimas udah balik, kamu harus rahasiain semuanya Dimas, kamu harus tetep sama aku, tinggalin Dini dan aku akan bantuin Dini sekarang, setuju?"
__ADS_1
Dimas dan Yoga saling tatap, mereka benar benar tidak menyangka akan berhadapan dengan perempuan licik seperti Anita di saat saat genting seperti ini.