
Dimas menjelaskan tentang siapa Sintia kepada Andi. Ia berharap hal itu tidak membuat Andi menjauhkan Dini darinya.
Sintia adalah anak tunggal dari teman Adhitama, papa Dimas. Adhitama dan orang tua Sintia berteman dekat dari masih sekolah.
Ketika perusahaan Adhitama mengalami pailit, orangtua Sintialah yang membantunya. Tanpa bantuan itu, tak akan ada perusahaan besar yang sekarang di pimpin oleh Adhitama.
Adhitama merasa sangat berhutang budi pada orangtua Sintia. Namun belum sempat Adhitama melaksanakan niat baiknya, kedua orangtua Sintia mengalami kecelakaan pesawat yang menyebabkan keduanya tak terselamatkan, meninggalkan Sintia seorang diri.
Di hadapan jenazah kedua orangtua Sintia, Adhitama dan istrinya berjanji akan menjaga Sintia seperti anak kandung mereka sendiri, begitu juga Dimas yang saat itu masih berusia 8 tahun, berjanji akan selalu melindungi Sintia seperti adik kandungnya sendiri.
Adhitama ingin mengadopsi Sintia saat itu, namun sang kakek melarangnya karena Adhitama dan istrinya yang sibuk bekerja pasti akan membuat Sintia kurang mendapatkan kasih sayang.
Akhirnya Sintia tinggal dan diasuh oleh kakeknya yang tinggal di luar negri. Ketika menginjak SMA, barulah Sintia kembali ke Indonesia dan tinggal tak jauh dari rumah Dimas bersama kakeknya.
Sampai saat ini, Sintia dan Dimas menjadi sangat dekat layaknya kakak dan adik. Hal itu yang membuat Sintia begitu manja kepada Dimas.
Ketika keluarga Adhitama memutuskan untuk kembali ke kota asalnya, Sintia merasa sangat keberatan karena harus jauh dari Dimas. Meski jarak antara 2 kota itu bisa di tempuh kurang lebih 3 jam, tak mungkin bagi Sintia untuk bisa menghabiskan hari-harinya bersama Dimas lagi.
"Jangan-jangan lo nanti dijodohin sama dia!" ucap Andi setelah mendengarkan cerita Dimas.
"Enggaklah Ndi, orangtua gue nggak sekolot itu."
"Sekarang kan banyak cerita kayak gitu, orangtuanya temenan terus anaknya di jodohin."
"Lo kebanyakan liat sinetron Ndi!"
"Bisa jadi kan?"
"Enggak lah, nggak mungkin!"
"Lo tau dari mana kalau nggak mungkin?"
"Gue udah bilang sama papa mama kalau gue nggak akan mau dijodohin!"
"Terus?"
"Ya orang tua fine-fine aja, mereka juga nggak ada niatan buat jodohin gue sama siapapun."
"Yakin lo Dim?"
"Yakinlah!" jawab Dimas penuh keyakinan.
"Gue cuma mau ingetin aja, kalau akhirnya nanti udah jelas Dini nggak akan sama lo, mending jangan lanjutin usaha lo buat deketin Dini!"
"Lo nggak percaya sama gue?"
"Gue percaya sama lo, tapi....."
"Siapa yang mau dijodohin?" tanya Dini yang tiba-tiba datang.
"Andini, kamu dari kapan disini?"
__ADS_1
"Dari tadi, siapa yang mau dijodohin? kamu Ndi? apa Dimas?" tanya Dini bergantian menoleh ke arah Andi dan Dimas.
"Nggak ada yang mau dijodohin Andini, kamu salah denger aja, sini duduk!" ucap Dimas sambil menggandeng tangan Dini untuk duduk si sebelahnya.
Dimaspun menyandarkan kepalanya di bahu Dini, membuat Andi kesal melihatnya.
"Aku capek," ucap Dimas yang masih bersandar di bahu Dini.
"Sini sayang," ucap Andi sambil menarik kepala Dimas untuk disandarkan di bahunya.
"Apaan sih Ndi, geli gue sama lo!" balas Dimas kesal.
"Gue beli minuman dulu ya, kasian tamu gue kehausan!" ucap Andi yang langsung keluar dari rumahnya meninggalkan Dimas dan Dini berdua di sana.
Selain untuk membeli minuman, Andi juga tidak ingin melihat kedekatan Dimas dan Dini, bagaimanapun juga hatinya masih terasa sakit meski ia sudah merelakan Dini untuk Dimas.
"Dimas, kamu tau banyak ya tentang Anita?" tanya Dini.
"Enggak, kenapa?"
"Jangan bohong Dim, aku tau!"
"Apa yang kamu tau?"
"Kedekatan kalian."
"Aku nggak dekat sama dia, cuma temen biasa!"
"Jangan dibahas lagi dong, kamu kan tau alasannya."
"Dia kayaknya suka sama kamu!"
"Yang penting aku sukanya sama kamu," balas Dimas sambil mencubit pipi Dini.
"Sampe' kapan? sampe' kapan kamu bisa bertahan nunggu aku Dimas? sedangkan ada orang lain disana yang udah jelas suka sama kamu!"
"Aku nggak peduli siapapun yang suka atau nggak suka sama aku Andini, yang aku bisa pastiin sekarang aku sayang sama kamu, aku cuma mau sama kamu, aku pasti nunggu kamu sampai kapanpun, apapun jawaban kamu nanti aku pasti terima, tapi tolong jangan jauh jauh dari aku!"
"Apa aku pantas buat kamu?"
"Nggak ada yang lebih pantas buat aku selain kamu."
"Tapi Anita lebih baik daripada aku atau bahkan banyak Anita Anita lain di luar sana yang jelas jauh lebih baik dibanding aku."
"Harus berapa kali aku bilang, aku nggak peduli, aku cuma mau sama kamu, apa semua usaha yang aku lakuin selama ini kamu anggap main main? enggak Andini, aku serius, aku nggak pernah main main tentang perasaan aku."
Dini hanya diam, berusaha meyakinkan hatinya untuk tidak meragukan Dimas.
Dimas bersandar lagi di bahu Dini. Dini hanya diam membiarkan Dimas lelap di bahunya.
"Dimas, kamu tidur?" tanya Dini.
__ADS_1
Dimas hanya diam, tak menjawab.
"Dimas!"
Dimas tersenyum tanpa suara.
"Aku sayang kamu, Andini!" ucap Dimas pelan di telinga Dini membuat Dini terlonjak kaget.
"Hahaha, kaget ya!"
"Aku pikir kamu tidur!"
"Jangan kemana-mana ya, disini aja!" ucap Dimas sambil bersandar lagi di bahu Dini.
************************************
Di cafe tempat Yoga dan Sintia duduk, tiba-tiba hening. Sintia yang biasanya selalu bawel tiba-tiba saja menjadi pendiam.
"Kamu marah Sin?" tanya Yoga.
Sintia menggeleng.
"Sintia pulang dulu ya kak, besok Sintia kesini lagi!" ucap Sintia yang langsung pergi sebelum Yoga memberikan respons apapun.
Sintia berjalan cepat keluar dari cafe.
"kak Dimas kenapa seperti menghindari Sintia, nanyain kabar aja enggak, padahal udah lama kita nggak ketemu, apa ada perempuan lain di hati kakak? siapa kak? siapa perempuan cantik yang sudah menggoda kakak?" batin Sintia bertanya-tanya, matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis.
Sintia segera masuk ke dalam taxi yang sudah berhenti di depannya dan meninggalkan cafe itu dengan penuh tanda tanya.
Yoga yang melihatnya dari dalam cafe hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ia merasa bersalah atas candaannya tadi.
Iapun menghubungi Dimas, memberi tahunya jika Sintia sudah keluar dari cafe karena sore ini adalah jadwal meeting cafe mereka.
Ya, mereka selalu mengadakan meeting setiap seminggu sekali. Tak hanya membahas hal-hal dasar, mereka juga membahas inovasi-inovasi baru yang akan mereka keluarkan guna menarik semakin banyak pelanggan.
"Lo dimana?" tanya Yoga setelah Dimas mengangkat panggilannya.
"Di rumah Andi, ada apa?"
"Sintia udah pulang, buruan balik!"
"Males ah, lo ganggu gue tau gak!"
"Emang lo lagi pacaran sama Andi? hahaha....."
"Emang, gue emang lagi pacaran!" balas Dimas sambil melirik Dini membuat Dini membulatkan matanya mendengar ucapan Dimas.
"Gila lo, buruan balik!"
Dimas mematikan ponselnya dan mendengus kesal karena harus kembali ke cafe nya dan meninggalkan Dini bersama Andi berdua di sini.
__ADS_1