Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Cemburu Buta


__ADS_3

Setelah Dimas pulang dari rumah Dokter Mela, ia mengurungkan niatnya untuk pergi kafe. Ia menghubungi Toni dan Toni menjelaskan jika keadaan kafe baik baik saja.


Dimas kemudian melajukan mobilnya ke tempat kos Dini. Tak lupa ia membeli 1 buket bunga mawar merah untuk gadis yang sangat dicintainya itu.


Sesampainya di tempat tujuan, Dimas segera keluar dari mobilnya dan menuju ke lantai dua. Baru saja kakinya menginjak anak tangga paling atas, matanya menangkap sesuatu yang sangat ia sesali. Ia menyesal karena membiarkan matanya melihat sesuatu yang menyakitkan untuknya. Ia hanya diam, melihat adegan demi adegan romantis dari dua sahabat itu.


Dimas tersenyum tipis lalu kembali turun ke lantai satu dan membuang bunga mawar yang dipegangnya ke dalam tempat sampah.


"Dimas!" panggil Aletta.


Dimas menghampiri Aletta dan duduk di sebelahnya sebelum ia pergi.


"Lo ngapain di sini sendirian?" tanya Dimas.


"Nungguin Andi, lo dari mana? gue nggak liat lo dateng!"


"Lo sibuk banget sama HP, apa lagi telinga lo ketutup earphone!"


"Hahaha.... iya sih, eh lo dari mana? ketemu Dini?"


Dimas menggeleng.


"Jangan bilang siapa siapa kalau gue kesini ya, gue pergi dulu!"


Aletta mengangguk anggukkan kepalanya, belum sempat ia bertanya Dimas sudah pergi.


Tak lama setelah Dimas pergi, Andi turun dari lantai dua dan menghampiri Aletta. Ketika melewati tempat sampah di bawah tangga, Andi melihat sebuket bunga mawar merah yang masih segar di sana.


"Kamu masih di sini?" tanya Andi lalu duduk di samping Aletta.


"Iya, nungguin kamu," jawab Aletta.


"Di tempat sampah ada bunga mawar, kamu tau punya siapa?"


"Nggak tau, udah layu mungkin, makanya dibuang!"


"Masih bagus kok!"


"Oh, mungkin punya Di......" Aletta menghentikan ucapannya, ia ingat ucapan Dimas sebelum pergi beberapa waktu yang lalu.


"jangan bilang siapa siapa kalau gue kesini ya!"


"Di?" tanya Andi.


"Dii... Dini mungkin hehe, nggak tau ah aku tidur dulu!" jawab Aletta berbohong. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Andi.


Ia harus segera pergi sebelum Andi mengetahui dirinya yang sedang berbohong.


Setelah Aletta pergi, Andi masuk ke dalam kamarnya. Setelah mencuci kaki, ia merebahkan badannya di atas tempat tidurnya. Andi mengambil satu buku dari atas mejanya dan membacanya dengan posisi terlentang.


Sudah beberapa hari ini Andi membaca buku tentang psikologi. Dan sekarang ia sedang fokus pada buku dengan judul Ensiklophobia.


"kalau kamu nggak mau ketemu psikiater, biar aku yang jadi psikiater kamu Din,"


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan akhirnya Andi tertidur dengan masih memegang buku yang bukan termasuk dalam materi kuliahnya.


**


Pagi telah menyapa dengan hangat. Dimas sudah berada di kos Dini pagi pagi sekali. Ia duduk di teras bersama beberapa teman laki laki Andi. Karena sifat Dimas yang mudah bergaul, ia bisa dengan mudah akrab dengan teman teman Andi di kos.


Tak lama kemudian, Andi keluar dari kamarnya dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaos berlengan pendek. Ya, ia baru saja bangun tidur.


"Dari tadi Dim?" tanya Andi pada Dimas. Dimas hanya menoleh tanpa menjawab pertanyaan Andi.


"Gue naik dulu ya!" ucap Dimas pada teman teman Andi tanpa menghiraukan Andi.


Andi yang merasa Dimas mengabaikannya lalu menghadang Dimas yang berjalan di depannya.


"Lo sakit?" tanya Andi dengan menempelkan tangannya di dahi Dimas namun segera di tampik oleh Dimas.


Dimas lalu berlari ke lantai dua. Sedangkan Andi masih diam di tempatnya. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Dimas.


Andi lalu berjalan ke dapur bersamaan dengan Aletta yang baru saja turun dari lantai dua.


Andi berlari kecil dan mengalungkan tangannya di bahu Aletta dan menariknya agar semakin dekat.


"Iiiihhh, aku udah mandi Ndi, sana jauh jauh!" ucap Aletta sambil mendorong tubuh Andi.


"Aku juga udah kok!"


"Bohong banget, kamu masih bau tau'!"

__ADS_1


"Bau apa? bau wangi? nih rasain, wangi kan?" balas Andi dengan menarik Aletta ke dalam pelukannya dan semakin erat memeluk karena Aletta yang semakin meronta.


Di lantai dua, Dimas mengetuk pintu Dini beberapa kali hingga akhirnya Dini keluar.


"Pagi sayang," sapa Dimas dengan senyum manisnya.


Dini lalu keluar dan memeluk Dimas, namun Dimas segera melepaskan pelukan Dini.


"Kamu belum mandi ya?" tanya Dimas.


Dini menggeleng dengan memamerkan deretan giginya.


"Mandi dulu sana!"


"Mau tunggu di dalem?"


Dimas mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Dini. Sebelum Dini masuk ke kamar mandi, Dimas menarik tangan Dini dan memeluknya. Hari itu, ia ingin mengabaikan Dini dan Andi. Hatinya masih terasa sakit mengingat kejadian semalam yang ia lihat. Namun nyatanya ia tidak bisa mengabaikan Dini. Ia begitu mencintai gadis itu.


"Aku mau mandi Dim!" ucap Dini yang masih berada dalam pelukan Dimas.


"5 menit lagi sayang," balas Dimas dengan suara serak, menahan rasa sakit yang menghimpit dadanya.


"Dimas, kamu baik baik aja?" tanya Dini yang menyadari jika Dimas tidak sedang baik baik saja.


Dimas hanya mengangguk dengan masih memeluk Dini. Dalam hatinya ia takut jika ternyata Dini juga merasakan hal yang sama seperti yang Andi rasakan. Ia takut Dini akan memilih Andi dan meninggalkannya.


Meski perasaan buruk itu sudah lama ia buang, pada kenyataannya setiap saat ia masih merasa cemburu melihat kedekatan Dini dan Andi.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan menatapnya dalam dalam.


"Andini, jangan pernah tinggalin aku," ucap Dimas dengan membelai pipi Dini.


"Kenapa kamu bilang gitu? aku nggak mungkin ninggalin kamu," balas Dini dengan menggenggam tangan Dimas di pipinya lalu menciumnya.


"Kamu tau kan aku cinta banget sama kamu, aku sayang banget sama kamu, jadi kalau suatu saat nanti ada cowok yang mencintai kamu lebih dari aku, apa kamu juga akan mencintainya?"


"Dimas, apa yang kamu rasain itu sama sama yang aku rasain, aku sayang dan cinta sama kamu, aku nggak peduli kalau ada yang bilang cinta sama aku, buat aku hati aku cuma milik kamu, Dimas Raditya Adhitama!"


"Makasih sayang," balas Dimas dengan mencium kening Dini.


Perlahan, Dimas mendorong tubuh Dini sampai Dini terpojok ke dinding. Satu tangan Dimas melingkar di pinggang Dini, satu tangannya lagi memegang pipi Dini dan menarik wajahnya agar semakin dekat dengannya.


Hembusan napas mereka kian memburu ketika kecupan mesra mulai mendarat dan saling menautkan kedua bibir mereka. Kedua tangan Dini menarik pakaian Dimas agar mereka semakin dekat. Alunan melodi cinta sudah membawa mereka membumbung tinggi ke angkasa. Melupakan semua rasa sakit dan perih yang menyesakkan dada.


Tak lama kemudian, Dini mendorong tubuh Dimas, membuat Dimas menyudahi "sarapan" paginya.


"Aku belum mandi, aku......"


Belum sempat Dini menyelesaikan ucapannya, Dimas menarik tubuh Dini dan kembali "menyerang"nya. Api asmara keduanya kini semakin membara dalam hati mereka. Entah sudah berapa lama mereka melakukannya, Dimas akhirnya melepaskan Dini dari pelukannya.


Dimas tersenyum manis lalu membersihkan bibir Dini yang tampak basah dengan jarinya.


"Aku tunggu di sini," ucap Dimas lalu duduk di ranjang Dini.


Dini hanya tersenyum malu lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa menit menunggu, Dimas melihat Dini keluar dari kamar mandi.


"Cantik banget calon istriku," ucap Dimas pada Dini.


Dini hanya tersenyum lalu menyisir rambutnya dan memakai riasan tipis di wajahnya.


"Udah cantik?" tanya Dini dengan mengedipkan sebelah matanya pada Dimas.


Dimas lalu berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggang Dini kemudian menariknya agar lebih dekat.


"Kamu emang selalu cantik sayang," jawab Dimas lalu mencium kening Dini.


Mereka kemudian keluar dari kamar Dini dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Ketika melewati dapur, Dini melihat Andi dan Aletta sedang berdua di dalam dapur. Aletta tampak sedang mengaduk mie dalam panci, sedangkan Andi berdiri di samping Aletta dengan mengalungkan tangannya di bahu Aletta seperti biasa.


"Nggak berangkat Ndi? Al?" tanya Dini.


Aletta menggeleng dengan senyum manisnya.


"Kalian duluan aja, aku sama Aletta berangkat nanti," jawab Andi.


"Ya udah aku duluan ya!"


Andi dan Aletta kompak mengangguk, sedangkan Dimas hanya diam dengan raut wajah datar tak berekspresi. Dini dan Dimas lalu masuk ke dalam mobil. Dimas segera melajukan mobilnya ke arah kampus.


"Anita gimana Dim? belum hubungin kamu?" tanya Dini.


"Kenapa kamu nanyain itu terus sayang?"

__ADS_1


"Ya aneh aja kalau dia tiba tiba ngilang gini, aku....."


"Apa kamu nggak suka ngabisin waktu sama aku? apa kamu udah bosen sama aku? apa ada cowok lain yang lebih bikin kamu nyaman daripada aku?"


"Enggak Dimas, bukan itu maksud ku," balas Dini dengan menggenggam tangan Dimas, namun Dimas hanya diam dengan raut wajah kesal.


Karena hari masih pagi, Dimas mengajak Dini untuk berjalan jalan di area jogging track. Mereka berjalan tanpa bergandengan tangan. Entah kenapa Dimas masih merasa kesal tiap ia mengingat kejadian malam kemarin. Ia percaya pada Dini, ia percaya pada Andi, tapi melihat kejadian kemarin membuatnya kembali ragu. Tak hanya sekali dua kali ia melihat kemesraan dua sahabat itu dan ia selalu bisa menekan rasa cemburu dalam hatinya. Tapi sekarang, Dimas seolah kehilangan kemampuannya itu. Rasa cemburu dengan perlahan menjalari seluruh hatinya.


"Dimas, kamu baik baik aja?" tanya Dini yang menyadari jika Dimas tiba tiba menjadi diam.


Dimas hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Dini.


"Kamu nggak mau cerita sama aku?" tanya Dini.


Dimas menggeleng.


"Nggak ada yang harus aku ceritain Andini."


"Tapi aku tau kamu lagi nggak baik baik aja, aku....."


"Apa kamu masih peduli sama aku?" tanya Dimas dengan memotong ucapan Dini.


"Maksud kamu? kamu kenapa sih Dim? kalau ada masalah cerita, jangan tiba tiba diem kayak gini!" balas Dini yang mulai tampak emosi.


"Kamu sendiri apa udah cerita semua masalah kamu sama aku? kamu juga sembunyiin banyak hal dari aku Andini, aku selalau percaya sama kamu, aku berusaha ngertiin kamu, tapi kamu? kamu sama sekali nggak pernah anggap aku!" balas Dimas yang tak kalah emosi.


Dini menarik tangan Dimas, berusaha untuk menggenggamnya, namun Dimas segera menariknya.


"Kamu ada masalah apa Dimas? cerita sama aku!" ucap Dini dengan merendahkan suaranya, berharap bisa meredakan emosi Dimas.


"Kamu sayang sama aku?" tanya Dimas.


"Kenapa dari tadi kamu tanyain hal hal kayak gitu sih, kamu ragu sama aku?"


"Jawab Andini!"


"Apa pertanyaan kamu itu perlu jawaban? apa kamu masih nggak tau jawaban dari pertanyaan kamu itu?"


"Kamu bahkan nggak bisa jawab pertanyaan itu, harusnya aku tau, harusnya aku nggak perlu lagi tanyain hal ini sama kamu!"


"Dimas, cerita sama aku ada apa? kasih tau aku apa yang bikin kamu tiba tiba berubah kayak gini?"


"Nggak ada, aku cuma baru tau kalau cintaku bertepuk sebelah tangan, cinta ini cuma aku yang ngerasain, kamu enggak!"


Dini hanya menggeleng pelan, ia lalu berjalan cepat meninggalkan Dimas. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Dimas. Dimulai dari pagi tadi ketika Dimas datang, Dini memeluknya namun Dimas tidak membalas pelukannya. Ketika bertemu Andi dan Aletta, Dimas hanya diam seolah tidak mempedulikan Andi dan Aletta. Ketika Dini menanyakan tentang Anita, Dimas meresponnya dengan sangat berlebihan dan sekarang sikap Dimas menjadi sangat menyebalkan di mata Dini.


"Andini, tunggu!" teriak Dimas namun Dini masih berjalan tak mempedulikan Dimas.


Dimas lalu berlari dan menarik tangan Dini dengan kasar, membuat Dini hampir terjatuh.


"Kamu apa apaan sih Dim!"


"Aku bilang tunggu Andini!" ucap Dimas dengan semakin erat mencengkeram tangan Dini.


"Kamu nyakitin tangan ku Dimas," ucap Dini pelan dengan membawa pandangannya ke arah tangan Dimas yang mencengkeram tangannya.


Dimas lalu melonggarkan genggaman tangannya pada Dini.


"Maafin aku," ucap Dimas lalu memeluk Dini, namun Dini segera mendorong tubuh Dimas.


"Simpan kata maaf kamu itu sampe' kamu mau cerita sama aku!" balas Dini lalu pergi meninggalkan Dimas.


Dimas hanya diam membiarkan Dini pergi. Ia seperti tidak bisa mengendalikan hatinya lagi. Rasa cemburu itu sudah memenuhi setiap sudut hatinya.


Dimas lalu keluar dari area jogging track dan tak sengaja berpapasan dengan Andi.


"Sendirian Dim? Dini mana?" tanya Andi.


Dimas hanya menoleh dengan ekspresi datar tanpa menjawab apapun. Menyadari perubahan sikap Dimas, Andipun menghampiri Dimas.


"Lo baik baik aja?" tanya Andi dengan mengalungkan tangannya di bahu Andi namun segera di lepas oleh Dimas.


"Lo kenapa sih Dim?"


"sorry Ndi," ucap Dimas dalam hati sebelum ia melayangkan tinjunya pada Andi.


Mendapat serangan yang tiba tiba, Andi tak bisa mengelak. Ia jatuh tersungkur ke tanah. Dimas berjongkok dan menarik kerah kemeja Andi. Wajahnya sudah merah padam di penuhi amarah.


"Gue harap lo inget posisi lo Ndi, jangan bikin gue marah, jangan bikin kesabaran gue habis buat ngertiin hubungan kalian!" ucap Dimas dengan menatap tajam mata Andi.


"Kita omongin baik baik Dim, jangan kayak gini!"

__ADS_1


Melihat ada keributan, beberapa mahasiswa yang lewat segera menghampiri Andi dan Dimas kemudian berusaha memisahkan mereka.


__ADS_2