Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Ice Cream


__ADS_3

Karena sudah sangat risih dengan sikap Anita, Dimas memutuskan untuk mengajak Dini keluar.


"Andini, mau keluar?" tanya Dimas pelan.


"Eh, kenapa?"


"Aku nggak suka filmnya," jawab Dimas beralasan.


"Oh, ayo, aku juga nggak begitu suka filmnya."


Dimaspun segera melepas paksa tangan Anita dan segera menggandeng tangan Dini untuk diajak keluar.


"Kemana Dim?" tanya Anita tapi tidak dihiraukan oleh Dimas.


Anitapun berdiri berniat untuk keluar mengikuti Dimas dan Dini namun Andi segera memegang tangannya, menahannya agar tidak keluar.


Anita menurut, ia kembali duduk di sebelah Andi dengan tangannya yang masih di genggam Andi.


Di luar, Dimas dan Dini memutuskan untuk ke food court.


"Mau ice cream?" tanya Dimas pada Dini.


"Mau!" jawab Dini penuh semangat.


"Tunggu di sini ya, aku cari ice creamnya!"


Dini mengangguk.


Tak lama kemudian Dimas kembali membawa 2 cone ice cream yang besar.


"Waaahh, besar banget," ucap Dini sambil bertepuk tangan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan.


"Suka?"


"Heemmm," jawab Dini hanya dengan menganggukkan kepalanya karena ia sibuk dengan ice creamnya membuat Dimas tertawa melihat tingkah Dini yang dianggapnya lucu.


"Abis ini beli apa lagi sayang?"


Dini tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian satu cone ice cream besar ditangannya sudah lenyap, meninggalkan bekas lelehan ice cream di tangan dan sudut bibirnya.


Dimaspun mendekati Dini dan mengusap sisa ice cream diujung bibirnya membuat wajah Dini bersemu merah.


"Kamu kalau makan ice cream selalu gini ya," ucap Dimas membuat Dini salah tingkah.


"Eemmm, enggak," jawab Dini sambil mendorong tubuh Dimas yang sangat dekat dengannya, membuat ice cream yang dibawa Dimas jatuh mengotori pakaiannya.


Dini segera berdiri dan mengambil tissue di tasnya.


"Aduuuhh, maaf, aku nggak sengaja!" ucap Dini sambil mencoba membersihkan pakaian Dimas dengan tissue yang dibawanya.


Dimas hanya diam membuat Dini takut jika Dimas akan marah padanya.


"Dimas, aku minta maaf, aku nggak sengaja, aku...."


Dimas tiba-tiba memeluk Dini, ia menahan rasa ingin tertawanya karena melihat Dini yang begitu panik.


"Biar sama-sama kotor," ucap Dimas pelan di telinga Dini.

__ADS_1


Dini segera melepas pelukan Dimas, seketika darahnya berdesir ketika Dimas berbisik di telinganya.


"Aaa aaaku minta maaf!" ucap Dini terbata-bata berusaha menstabilkan detak jantungnya yang sudah tidak beraturan lagi.


"Ayo, ikut!" ucap Dimas sambil menggandeng tangan Dini.


Dini hanya mengikuti Dimas, tidak peduli pada beberapa pasang mata yang memperhatikan tingkah mereka.


************


Andi dan Anita yang melihat kejadian itu hanya diam, menahan cemburu yang bergejolak di hati.


"Aku haus Ndi, beli minum dulu ya!" ucap Anita pada Andi.


Andi mengangguk dan mengikuti Anita.


"Kamu cemburu?" tanya Anita setelah membeli minum dan duduk.


"Enggak." jawab Andi singkat.


"Aku tau kamu suka sama Dini," ucap Anita membuat Andi mendongakkan kepalanya yang dari tadi menunduk menyembunyikan rasa cemburunya.


"Dimas lebih baik buat Dini," balas Andi.


"Kamu yakin?"


"Maksud kamu?"


"Selama ini yang selalu sama Dini kan kamu, kamu yang paling mengenal Dini, kamu yang paling tau segala hal tentang Dini, kamu yakin Dimas lebih baik dari kamu?"


"Aku yakin, Dimas udah buktiin itu!" jawab Andi penuh keyakinan.


**************


Di tempat lain, Dimas dan Dini sedang sibuk memilih pakaian untuk segera mereka pakai karena pakaian mereka sudah kotor.


"Kamu cari-cari aja dulu, kalau udah panggil aku ya, aku ke sebelah sana!" ucap Dimas sambil menunjuk deretan pakaian laki-laki.


Dini mengangguk dan segera berjalan mengelilingi jejeran pakaian perempuan di sekitarnya.


"pasti harganya mahal semua, nggak mungkin aku beli ini," ucap Dini dalam hati sambil mengintip harga pakaian yang dilihatnya.


"Maaf mbak, kalau cari yang murah bukan di sini, ini semua barang branded jadi pasti mahal," ucap si penjaga yang tiba-tiba menghampirinya.


"Eh, iya mbak, saya permisi," balas Dini yang segera keluar dari tempat itu.


Dimas yang melihat hal itu segera mengejar Dini dan menggandeng tangannya untuk kembali ke tempat dimana mereka akan membeli pakaian.


"Nggak usah Dim, aku langsung pulang aja!" ucap Dini menahan Dimas agar tidak mengajaknya kembali ke sana.


"Kamu beli semua yang kamu mau Andini," ucap Dimas yang terlihat emosi.


"Tapi aku...."


"Nggak ada tapi-tapi Andini, nggak boleh ada satu orangpun yang memandang rendah kamu kayak tadi!"


"tapi aku emang nggak mampu beli pakaian itu Dimas, bahkan yang paling murahpun aku nggak akan sanggup," ucap Dini dalam hati. Namun ia tetap mengikuti Dimas, melihat Dimas yang emosi membuatnya takut.

__ADS_1


"Pilih semua yang kamu mau sayang," ucap Dimas pada Dini.


"Tapi Dim..."


"Nggak usah dengerin mereka, kita disini raja, nggak seharusnya mereka memperlakukan kamu kayak tadi," ucap Dimas penuh ketegasan membuat para penjaga di sana menduduk karena merasa bersalah.


"Ambilkan pakaian perempuan yang paling mahal disini!" pinta Dimas pada si penjaga.


Setelah membeli apa yang sudah dipilih Dini dan mengenakan pakaian yang paling mahal, Dimas dan Dinipun segera meninggalkan tempat itu.


"Dimas," panggil Dini pelan.


"Maaf, aku emosi," balas Dimas.


"Mereka bener Dim, aku emang nggak akan sanggup beli barang di sana, mereka....."


"Andini, selama kamu punya aku, apapun yang kamu mau, apapun yang kamu butuhin aku pasti kasih buat kamu, aku nggak mau lihat kamu diperlakukan kayak tadi lagi," ucap Dimas penuh ketegasan membuat Dini hanya diam takut jika Dimas akan semakin emosi.


Tiba-tiba ponsel Dimas berdering, ada panggilan dari Andi.


"Lo dimana Dim?"


"Jalan ke tempat parkir," jawab Dimas yang masih terdengar emosi.


"Tunggu bentar, gue sama Anita udah jalan keluar."


Dimas tak menjawab dan langsung mematikan panggilan Andi.


**************


"Dimas, kamu marah sama aku?" tanya Dini ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Enggak sayang, aku marah sama mereka yang..."


"Udah Dim, lupain aja ya!" ucap Dini sambil menggengam tangan Dimas berharap emosi Dimas akan mereda.


Dimas tersenyum dan menggengam erat tangan Dini lalu,


Cuupp!


Dimas mencium tangan Dini, membuat Dini kembali salah tingkah karena sikap Dimas.


"Aku sayang kamu Andini."


Dini hanya tersenyum dan tiba-tiba ponsel Dimas kembali berdering.


Terlihat nama Andi di layar ponselnya, membuatnya mendengus kesal.


"Lo ganggu aja sih!" ucap Dimas sebelum Andi sempat berkata apapun.


"Lo dimana Dim, gue sama Anita udah nunggu di depan dari tadi!" ucap Andi yang tak kalah kesal.


"Oke, gue keluar!"


"Lo baru keluar? gila lo Dim, gue sama Anita udah lumutan nunggu lo, lo malah....."


Tuutt... tuuuttt.... tuuuttt....

__ADS_1


Dimas mematikan panggilan Andi sebelum Andi selesai berbicara. Ia sengaja agar tidak mendengar Andi yang mulai bawel.


__ADS_2