Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Pertemuan yang Tidak Disengaja


__ADS_3

"Masih mau nonton?" tanya Andi dengan menghapus air mata Anita.


Anita mengangguk lalu naik ke ranjangnya dan mulai mencari folder film horor koleksinya.


"Nit, aku mau bilang sesuatu tapi kamu jangan marah," ucap Andi pada Anita.


"Soal apa?"


"Soal kamu sama papa kamu, kalau kamu nggak keberatan."


"Nggak papa, bilang aja!"


"Kamu udah pernah ngobrol berdua sama papa kamu soal tante Rosa itu?"


Anita menggeleng, raut wajahnya masih terlihat kelam. Ia memundurkan posisi duduknya dan bersandar pada sandaran ranjangnya.


"Coba deh kalian ngobrol dulu, sampe'in apa yang kamu rasain ke papa kamu dan dengerin apa yang papa kamu bilang, barangkali nanti......."


"Buat apa Ndi? dia kayak bukan papa ku lagi, dia udah berubah, dia khianati mama, dia langgar janjinya sendiri demi wanita murahan itu," ucap Anita dengan mata berkaca kaca dan pandangan kosong ke depan.


Andi mendekat dan menenggelamkan Anita dalam pelukannya. Ia merasa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk membicarakan hal itu. Bagaimanapun juga ia tidak ingin jika hubungan Anita dan papanya semakin buruk. Ia hanya bisa berusaha melunakkan hati Anita karena ia yakin jika Anita dan papanya mau menurunkan sedikit egonya masing masing, pasti ada jalan keluar yang lebih baik tanpa harus ada yang tersakiti.


"Apa kamu liat aku sebagai anak durhaka Ndi? apa aku bukan cewek baik baik di mata kamu?" tanya Anita dengan suara bergetar menahan tangis.


"Enggak Nit, nggak gitu, aku minta maaf kalau kata kataku bikin kamu tersinggung," jawab Andi dengan membelai lembut rambut Anita.


"Semua orang yang liat kejadian tadi pasti salahin aku kan? padahal mereka nggak tau gimana tersiksanya aku selama ini, gimana papa perlakuin aku selama ini, mereka nggak tau, mereka cuma tau apa yang mereka liat dari luar dan menilai seenak mereka sendiri."


"Kamu sabar ya Nit, aku yakin kepedihan yang kamu lalui saat ini akan berbuah manis esok hari, kamu hanya perlu sabar dan tetep kuat jalanin semua ini sampai saatnya nanti tiba cuma air mata bahagia yang akan menetes dari mata kamu, aku yakin itu."


Anita semakin erat memeluk Andi, begitu juga Andi yang semakin merapatkan tubuh Anita padanya.


"Jadi nonton nggak nih?" tanya Andi sambil melepas pelukannya dari Anita namun ditahan oleh Anita.


"Nggak mau lepas, peluk terus," balas Anita manja dengan masih memeluk erat tubuh Andi.


Andi kembali melingkarkan tangannya di pinggang Anita dan mengusap lembut rambutnya.


"Ndi, aku mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Anita dengan melepaskan pelukan Andi.


"Tanya apa?" tanya Andi dengan menghapus sisa air mata yang masih tertinggal di pipi Anita.


"Kenapa kamu tiba tiba jadi baik sama aku?"


"Emang selama ini aku jahat ya?"


"Enggak sih, tapi dulu kamu kan cuek sama aku, kamu mau deket sama aku cuma buat lupain perasaan kamu sama Dini kan?"


"Iya," jawab Andi singkat.


"Iya?" tanya Anita dengan membelalakkan matanya.


"Iya awalnya gitu, tapi aku rasa percuma, sama aja aku ngabisin waktu buat bohongin kamu kan?"


"Terus?"


"Buat aku sekarang masih bisa jadi sahabat Dini aja udah cukup, aku masih bisa liat dia bahagia, aku masih bisa dengerin semua keluh kesahnya dan yang paling penting nggak ada yang berubah dari hubungan kita, nggak ada yang saling nyakitin dan nggak ada yang harus pergi ninggalin."


"Tapi hati kamu masih milik dia," ucap Anita pelan.


"Hati aku milik kamu, nggak tau sejak kapan, aku mulai suka liat senyum kamu, suka liat keceriaan kamu dan aku nggak suka liat kamu sedih," jelas Andi dengan memandang lekat lekat mata Anita.


"Aku bukan pelampiasan kamu?"


"Kamu mau bukti apa dari aku?"


Anita menggeleng.


"Cukup kamu selalu ada buat aku dan jangan pernah tinggalin aku, ya?"


Andi mengangguk dan mencium kening Anita lalu memeluknya.


"Ini jadi nonton nggak? hehehe...." tanya Andi terkekeh.


"Jadi, kamu mau nonton film apa?" tanya Anita yang kembali membuka folder film horornya.


"Grave Encounters, kamu udah liat?"


"Udah, itu kan film lama Ndi!"


"Iya sih, tapi aku belum pernah liat."


"Mau liat itu?"


"Ya kalau kamu mau liat lagi."


"Mau dong."


Merekapun memutuskan untuk menonton film yang rilis tahun 2010 itu.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Andipun berpamitan untuk pulang.


"Aku pulang dulu ya Nit, udah malem."


"Mau aku anter?"


"Nggak usah, aku pulang sendiri aja!"


"Besok aku jemput ya!"


Andi mengangguk lalu memeluk Anita sebelum ia benar benar meninggalkan rumah Anita.


"Jaga diri baik baik ya, kalau ada apa apa hubungin aku!"


Anita mengangguk lalu mencium pipi Andi membuat Andi tersipu dan segera meninggalkan rumah Anita.


Sesampainya di rumah, ia segera masuk ke kamarnya untuk menemui Dini.


"Loh, Dini kemana buk?" tanya Andi pada ibunya yang sedang sibuk dengan mesin jahit.


"Dia udah pulang."


"Kok pulang, udah sembuh?"


"Udah, malah besok udah bisa sekolah katanya."

__ADS_1


"Syukurlah kalau gitu, Andi mandi dulu ya buk!"


"Dari mana aja sih, jam segini baru pulang, belum mandi lagi!" tanya Pak Joko, ayah Andi.


"Hehehe, biasa yah, kayak nggak pernah muda aja!" jawab Andi sambil berlalu ke kamar mandi.


Bu Joko dan Pak Joko hanya saling memandang dan menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah anak semata wayangnya itu.


Setelah selesai mandi dan makan, Andi segera ke rumah Dini untuk memastikan keadaan Dini.


Andi mengetuk pintu rumah Dini pelan. Tak lama kemudian Dinipun keluar.


"Ada apa Ndi, ayo masuk!"


"Nggak usah, aku cuma mau liat keadaan kamu."


"Aku baik baik aja kok, aku udah sehat," balas Dini dengan senyum manisnya.


"Abis ketemu Dimas bisa langsung sembuh gitu ya!" ledek Andi.


"Kamu yang ngasih tau Dimas ya!"


"Iya lah, siapa lagi, udah baikan dong sekarang?"


Dini mengangguk dan tersenyum malu.


"Jangan berantem berantem lagi ya!" ucap Andi dengan mengacak acak rambut Dini pelan.


Dini kembali menggangguk.


"Besok sekolah?"


"Iya, tapi aku....."


"Dijemput Dimas?"


Dini mengangguk lagi.


Andi mendekat dan memeluk Dini.


"Aku seneng liat kamu seneng," ucap Andi dengan memeluk Dini.


"Makasih ya Ndi," balas Dini.


"Ya udah aku balik dulu ya, kamu istirahat!" ucap Andi sambil melepaskan pelukannya dari Dini.


"Iya," jawab Dini yang kemudian menutup pintu rumahnya setelah Andi meninggalkan rumahnya.


Di dalam kamar, Dini masih belum bisa tertidur. Ingatannya masih memutar dengan jelas kejadian di kamar Andi ketika bersama Dimas tadi.


Tiba tiba ponselnya berdering. Ia segera mengambil ponselnya yang masih terhubung dengan charger.


Terlihat nama Dimas di layar ponselnya. Ia pun segera menggeser tanda hijau untuk menerima panggilan Dimas.


"Malem sayang," ucap Dimas begitu Dini menerima panggilannya.


"Ada apa Dim?" tanya Dini.


"Nggak papa, pingin denger suara kamu sebelum tidur, kamu belum tidur?"


"Baru selesai ngerjain laporan harian cafe, kamu sendiri kenapa belum tidur, kepikiran yang tadi ya?" ledek Dimas dengan tertawa kecil mengingat kejadian di kamar Andi tadi.


"Ee... enggak... a.. aku... aku nggak mikirin itu kok, aku cuma lagi nggak bisa tidur aja!"


"Bibir kamu manis," ucap Dimas pelan membuat Dini salah tingkah.


Beruntung saat itu mereka hanya berbicara lewat ponsel, jika saja Dimas berada di hadapan Dini saat itu, sudah pasti ia akan melihat wajah Dini yang merah menahan malu.


"Apaan sih Dim, aku ngantuk, aku matiin, bye!" balas Dini dengan langsung mematikan panggilan Dimas.


Jantungnya kembali berdetak kencang. Tanpa sadar ia menggigit bibirnya pelan dan memejamkan matanya hingga ia tertidur.


***************


Esok harinya, Dimas sudah menunggu di depan rumah Dini. Tak lama kemudian Dinipun keluar dari rumahnya.


Dimas segera melepas hoodie yang dipakainya begitu melihat Dini yang tak mengenakan jaket.


"Kamu abis sakit, jangan banyak kena angin!" ucap Dimas sambil memakaikan hoodie nya pada Dini.


"Makasih," balas Dini dengan tersenyum manis.


Dimas memeluknya dan berniat mengecup keningnya namun Dini segera mendorong tubuh Dimas hingga Dimas mundur beberapa langkah.


"Ada Pak Adi," ucap Dini pelan.


"Nggak papa, biarin!" balas Dimas dengan kembali memeluk Dini erat.


"Lepasin Dim, nggak enak dilihat Pak Adi," ucap Dini dengan berusaha melepaskan Dimas dari pelukannya.


Dimas mencium kening Dini dengan cepat dan langsung masuk ke mobil.


Dini hanya menduduk malu dan mengikuti Dimas masuk ke mobil.


Sesampainya di depan gerbang sekolah, Dini dan Dimas segera turun dari mobil dan menuju ke kelas.


Bel masuk pun berbunyi.


"Kamu ke UKS aja ya kalau masih nggak enak badan," ucap Dimas pada Dini.


"Aku nggak papa kok!" balas Dini.


Setelah beberapa jam menguras otak dengan berbagai materi pelajaran, bel istirahat berbunyi. Dimas segera berlari ke kamar mandi karena sudah menahan buang air dari tadi.


"Kamu ke perpustakaan duluan ya, aku harus ke ruangan Pak Sonny!" ucap Andi pada Dini.


"Ada masalah lagi Ndi?"


"Enggak kok, palingan nanyain soal anggota OSIS yang baru," jawab Andi berbohong. Ia yakin Pak Sonny akan membicarakan soal Anita lagi padanya.


"Ya udah kalau gitu aku ke perpustakaan dulu ya!"


"Oke!"


Ketika hendak memasuki perpustakaan Dini melihat seorang lelaki yang tampaknya tidak asing baginya, namun ia tak mengingat dengan baik siapa lelaki itu.

__ADS_1


Tanpa sadar, lelaki itu menjatuhkan dompetnya di lantai. Dinipun segera mengambilnya dan memberikannya pada lelaki itu.


"Maaf pak, dompetnya jatuh!" ucap Dini pada lelaki itu.


Lelaki itu pun memeriksa saku celananya dan mendapati sakunya kosong.


"Oh iya, terimakasih ya!"


"Sama sama pak!" jawab Dini dengan tersenyum ramah.


"Eh, kamu yang di cafe kemarin ya?" tanya lelaki itu.


Dinipun berusaha keras mengingat lelaki yang berdiri di hadapannya itu.


"Oh, iya, bapak yang angkat angkat kursi di cafe ya!"


"Hahaha iya bener dan kamu yang bantuin saya kan waktu itu!"


"Iya pak, saya baru inget, anak bapak sekolah di sini juga?"


"Iya, kamu lagi sibuk nggak?"


"Enggak Pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Bisa anter saya ke kantin? saya mau ketemu anak saya di kantin."


"Bisa pak, mari!"


Dini dan lelaki itupun berjalan ke kantin.


"Oh iya nama kamu siapa?"


"Saya Dini pak."


"Saya Tama, tapi jangan panggil saya bapak dong, emang saya setua itu ya hahaha....."


"Eh, maaf, om," balas Dini yang merasa bersalah karena memanggil "Pak" padahal jika dilihat memang lelaki di hadapannya itu belum begitu berumur.


"Santai aja sama saya, sebagai ucapan terima kasih saya, kamu bisa pesen apa aja yang kamu mau di sini!"


"Enggak om, saya cuma mau nganterin om aja ke sini."


"Kamu duduk dulu ya, tunggu anak saya dateng!"


"Tapi om......."


"Saya hubungi dia dulu ya!" ucap lelaki itu dengan menghampiri pemilik kantin untuk memesan beberapa makanan dan minuman.


Tak lama kemudian Dini melihat Dimas yang berjalan ke arahnya.


"Papa ngapain ke sini?" tanya Dimas pada lelaki di hadapan Dini.


"Papa abis ketemu wali kelas Sintia, dia nggak masuk sekolah hari ini."


"Oh, Andini, kamu nggak diapa-apain kan sama om om ini?"


Dini hanya terdiam membisu, tidak mengerti tentang situasi di hadapannya saat itu.


"Kamu pikir papa ini om om hidung belang?" protes Pak Tama, papa Dimas.


"Lagian papa kok bisa sama Andini di sini?"


"Tadi papa nggak sengaja jatuhin dompet, terus dia yang nemuin dompet papa, iya kan Din?"


"Iii.. iya.. aa... om..."


"Hahaha.... kamu kenapa jadi canggung gini Din? saya Tama, papanya Dimas," ucap Pak Tama dengan tertawa melihat sikap Dini yang tiba tiba canggung padanya.


"Maaf om, saya nggak tau kalau om papanya Dimas," ucap Dini merasa bersalah.


"Dimas nggak pernah cerita ya?"


Dini menggeleng pelan.


"Anak saya baik nggak sama kamu? kalau nakal jewer aja telinganya," ucap Pak Tama setengah berbisik.


"Apa sih papa ini!" balas Dimas yang sudah pasti mendengar ucapan papanya.


"Hahaha, ya udah papa balik dulu ya!" ucap Pak Tama sambil bersiap untuk pergi.


"Loh nggak makan dulu?"


"Masih kenyang, tapi papa udah pesen 2 porsi bakso, mie ayam, gado gado sama 5 macam minuman tadi, nanti kamu bayar ya!"


"Banyak banget pa, buat siapa aja?"


"Buat kamu sama Dini, papa nggak tau Dini suka apa jadi papa pesen semuanya hahaha......" balas Pak Tama sambil berlalu pergi meninggalkan Dimas dan Dini.


Tak lama kemudian ibu kantin datang dengan berbagai macam makanan dan minuman pesanan papa Dimas.


"Banyak banget Dim!"


"Iya sayang, kamu mau makan semua?"


"Enggaklah, kamu aja!"


"Kamu pilih mana yang kamu mau, sisanya aku kasihkan anak anak aja!"


"Oke!"


Setelah selesai makan. Dimas dan Dini segera kembali ke kelas.


"Kamu kok bisa ketemu papa tadi?"


"Kan tadi papa kamu udah jelasin, aku nggak sengaja liat papa kamu jatuhin dompet tadi."


"Itu pasti modusnya papa aja!"


"Maaf ya Dim, aku tadi nggak tau kalau itu papa kamu."


"Nggak masalah, sekarang udah tau kan, jadi kapan kamu mau aku ajak makan bareng keluarga?"


"Haahhh, makan bareng keluarga kamu?"


"Iya, aku kamu mama sama papa."

__ADS_1


"Tunggu kita lulus SMA ya hehehe....." balas Dini sambil berlari meninggalkan Dimas.


__ADS_2