Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Bukan Cinta yang Salah


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 yang artinya 30 menit lagi bel masuk akan segera berbunyi, namun Dimas baru saja sampai di rumah Anita.


Ia segera masuk dan mendapati ruang tamu Anita yang sedikit berantakan. Beberapa guci pajangan tampak pecah, bahkan meja kaca yang berada di tengah sofa pun pecah, entah apa yang baru saja terjadi, Dimas segera masuk dan melihat Bi Inah yang sedang menggedor gedor pintu kamar Anita.


"Anita di mana Bi?" tanya Dimas.


"Di dalam den, dari tadi nggak mau buka pintunya, Bibi jadi khawatir," jawab Bi Inah yang yang tampak sangat khawatir.


"Buka pintunya Nit, aku anter kamu ke rumah Dokter Dewi," ucap Dimas dari balik pintu.


Hening, tak ada jawaban.


"Gimana ya den, Bibi khawatir, nggak biasanya non Anita kayak gini," ucap Bi Inah pada Dimas.


"Pak Sonny mana Bi?"


"Bapak baru saja berangkat den!"


"bener bener keterlaluan," batin Dimas dalam hati.


"Saya harus buka paksa pintunya Bi," ucap Dimas pada Bi Inah.


"Silahkan den, saya panggilan Pak satpam buat bantu den Dimas," ucap Bi Inah diikuti anggukan kepala Dimas.


Setelah Pak satpam datang, Dimas dan Pak satpam mendobrak pintu kamar Anita. Tak mudah, beberapa kali mereka harus menabrakkan diri mereka dengan kencang ke pintu kamar Anita. Akhirnya pintu kamar Anita berhasil terbuka.


Dimas melihat kamar Anita yang tak kalah berantakan dengan ruang tamu, semua barang berserakan di lantai, beberapa frame foto seperti sengaja dipecahkan oleh Anita. Mata Dimas segera tertuju ke bawah jendela kamar, terlihat Anita yang sudah terkulai lemas di lantai dengan darah segar yang mengalir dari pergelangan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang pecahan kaca yang tajam.


Dimas segera menghampiri Anita, mengikatkan dasi nya pada pergelangan tangan Anita berharap menghentikan darah yang keluar untuk sementara dan tanpa pikir panjang membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Dimas segera menghubungi Dokter Dewi. Ia meraba saku celananya mencari ponselnya, namun tak ada. Ia membuka tas ranselnya, namun tetap tak menemukan ponselnya.


"aaarggghhh sial!"


Dimaspun meminjam telepon rumah sakit untuk menghubungi Dokter Dewi, karena Dokter Dewi adalah salah satu Dokter di rumah sakit itu, Dimas bisa dengan mudah mendapatkan kontak Dokter Dewi.


"Dok, ini Dimas, Anita di rumah sakit Dok," ucap Dimas pada Dokter Dewi melalui sambungan telepon.


"Ada apa Dim? dia kenapa?" tanya Dokter Dewi yang terdengar panik.


"Saya kurang tau Dok, Dokter Dewi bisa kesini?"


"Saya ke sana sekarang Dim, tolong tunggu saya!"


"Baik Dok!"


Dimas menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan campur aduk. Dia mengkhawatirkan keadaan Anita, entah pertengkaran seperti apa yang sudah terjadi antara Anita dan Pak Sonny hingga membuat Anita nekat melakukan hal itu.


Di sisi lain, ia juga memikirkan Dini yang pasti menunggunya di rumah, terlebih ia tak dapat menghubungi Dini karena ponselnya yang hilang entah kemana.


Tak lama kemudian, Dokter Dewi datang.


"Anita kenapa Dim?" tanya Dokter Dewi pada Dimas.


Belum sempat Dimas menjawab, Dokter yang menangani Anita sudah keluar dari ruang UGD.


"Dokter Rian, gimana keadaan Anita Dok?" tanya Dokter Dewi pada Dokter yang menangani Anita.


"Keadaannya sekarang baik baik saja, hanya saja dia kehilangan banyak darah, sedikit saja dia terlambat di bawa ke rumah sakit, mungkin nyawanya tak akan tertolong, Dokter Dewi tenang saja, dia sudah mendapatkan donor darah, sebentar lagi dia akan sadar," jelas Dokter Rian.


"Terimakasih banyak Dok!"


Dokter Rian mengangguk lalu pergi meninggalkan Dimas dan Dokter Dewi.


Dokter Dewi duduk di kursi sebelah Dimas, terlihat kesedihan di raut wajahnya.


"Makasih ya Dim, kamu selalu ada buat Anita," ucap Dokter Dewi pada Dimas.


"Sama sama Dok, tapi maaf Dimas nggak bisa nemenin Anita, Dimas udah telat ke sekolah!"


Dokter Dewi melirik jam tangannya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.30


"Oh iya nggak papa, biar saya yang jaga Anita."


"Kalau gitu Dimas permisi Dok, pulang sekolah nanti Dimas akan ke sini."


Dokter Dewi mengangguk dan tersenyum.


**************


Di rumahnya, Dini menunggu Dimas sampai jam 06.45 namun Dimas tak kunjung datang.


Ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Dimas namun tak ada jawaban.


"kamu di mana sih Dim, kenapa nggak ada kabar gini, nggak biasanya kamu nggak bisa dihubungi gini," gerutu Dini dalam hati.


Andi yang melihat Dini masih di depan rumahpun segera menghampirinya.


"Dimas belum dateng?" tanya Andi.


Dini menggeleng dengan wajah masam.


"Ada urusan mungkin, berangkat aja yok!"


Dini menghembuskan napasnya kasar karena kesal lalu berangkat ke sekolah bersama Andi.


"Dimas kemana ya Ndi, dia nggak bilang apa apa sama kamu?" tanya Dini pada Andi.


"Enggak, coba hubungin aja!"


"Udah, tapi nggak diangkat, di chat juga nggak bales, nggak dibaca malah!" balas Dini kesal.


"Tenang aja, Dimas nggak akan bisa lama lama nggak ada kabar kayak gini, bentar lagi juga muncul!" ucap Andi mencoba menghilangkan kekesalan Dini.


Bel masuk berbunyi, namun Dimas masih tak menunjukkan batang hidungnya.

__ADS_1


Dini yang pada awalnya kesal menjadi khawatir.


****************


Di sisi lain, Dimas menghampiri meja resepsionis untuk meminjam telepon.


"Papa di kantor kan?" tanya Dimas pada resepsionis di hadapannya.


"Iya mas, mau saya panggilkan?"


Dimas menggeleng.


"Dimas pinjam teleponnya aja kalau boleh!"


"Boleh, silahkan!"


Dimaspun menghubungi papanya.


"Pa, lagi sibuk? Dimas di lobi sekarang," ucap Dimas pada papanya.


"Bentar lagi selesai meeting, kamu tunggu di kantin aja!"


"Oke pa!"


Setelah mengucapkan terima kasih pada resepsionis, Dimas segera menuju ke kantin, menunggu papanya.


Tak lama kemudian Pak Tama datang dengan membawa beberapa lembar kertas kerjanya.


"Ada apa Dim? kamu nggak sekolah?" tanya Pak Tama yang duduk di hadapan Dimas.


"Enggak pa," jawab Dimas dengan menyandarkan kepalanya di meja.


"Kamu sakit?"


"Enggak pa!" jawab Dimas tak bersemangat.


"Kamu ini kenapa? tumben tumbenan bolos, bentar lagi kamu ujian loh!" ucap Pak Tama sambil menandatangani beberapa berkas yang dibawanya.


"Papa masih sibuk ya?"


"Enggak, kamu kenapa Dim?"


"Dimas takut pa," jawab Dimas yang mulai mengangkat kepalanya.


"Takut kenapa? jangan cerita setengah setengah, papa nggak suka!"


"Nggak tau kenapa Dimas ngerasa takut kehilangan Andini, Dimas ngerasa kalau Andini bakalan ninggalin Dimas," ucap Dimas menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.


"Kenapa kamu tiba tiba ngerasa kayak gitu? lagi berantem?"


Dimas menggeleng.


"Terus?"


"Dimas, kamu ini masih SMA, perjalanan kamu masih panjang, setiap hubungan pasti ada lika likunya, kamu jangan terlalu mikirin hal hal buruk yang cuma ganggu kamu itu, kamu harus fokus sama tujuan kamu, cara kamu meraih tujuan kamu dan menjaga apa yang sudah kamu miliki saat ini!"


"Apa Dimas pantas buat Andini pa?"


"Kamu sendiri yang tau jawabannya Dim, apa kamu mulai ragu sama perasaan kamu?"


Dimas menggeleng lemah. Entah kenapa, hatinya merasa tak tenang saat itu.


"Papa balik aja, Dimas mau di sini aja!"


"Kamu bisa masuk ke ruangan papa kalau mau!"


"Enggak pa, Dimas di sini aja!"


"Ya udah, kalau ada apa apa, hubungin papa!"


Dimas mengangguk lalu kembali merebahkan kepalanya di meja.


***********


Di rumah sakit, Anita sudah sadar dan ditemani oleh Dokter Dewi.


"Dimas mana mbak?" tanya Anita.


"Dia sekolah Nit, kasian dia telat gara gara anter kamu ke rumah sakit," jawab Dokter Dewi.


"Kamu kenapa kayak gini lagi?" tanya Dokter Dewi.


"Anita capek mbak, papa egois," jawab Anita dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Kamu bisa tinggal sama mbak Dewi kalau kamu mau!"


Anita menggeleng. Ia merasa tak rela jika papanya jatuh di pelukan wanita wanita murahan yang selalu bersama papanya, apa lagi jika salah satu dari mereka sampai berhasil memiliki rumah yang menjadi satu satunya kenangan kehangatan keluarganya dulu.


Ia akan tetap di sana, sampai Tuhan berhasil mencabut nyawanya.


"Ya udah kalau itu mau kamu, tapi tolong jangan lakuin ini lagi Nit, mama kamu pasti sedih liat kamu kayak gini!"


Anita hanya diam tak menjawab sepatahkatapun. Pikirannya tiba tiba memikirkan Dimas.


"kenapa kamu bantuin aku Dim? apa aku juga berarti buat kamu? kenapa kamu bikin aku jatuh cinta sama kamu? kenapa harus kamu?"


"Mbak, apa salah kalau aku suka sama Dimas?" tanya Anita pada Dokter Dewi.


"Enggak dong, nggak ada yang salah sama cinta," jawab Dokter Dewi.


"Kalau cinta itu sudah milik orang lain?"


"Tetep aja, cinta itu dari hati Nit, nggak ada yang bisa nyalahin itu, asal kamu tau batas kamu mencintainya ketika dia bukan milik kamu," jelas Dokter Dewi.


"bener, aku nggak salah kalau aku suka sama kamu Dim, apapun akan aku lakuin buat bisa dapetin cinta kamu," ucap Anita dalam hati.

__ADS_1


****************


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Dimas sedang menunggu Dini di depan gerbang sekolah saat itu.


"Dimas!" panggil Dini ketika melihat Dimas yang berdiri di samping mobilnya, di depan gerbang sekolah.


Dimas tersenyum dan menghampiri Dini.


"Ikut aku ya!" ucap Dimas dengan menggandeng tangan Dini.


"Mau ke mana? kenapa tadi nggak sekolah? kenapa kamu nggak bisa dihubungi, kenapa......"


"Kamu nggak sama Andi?"


"Andi masih bimbel, kamu nggak jawab pertanyaanku Dim!" jawab Dini kesal.


Dimas hanya tersenyum dan mencium kening Dini yang sudah duduk di sampingnya. Dimaspun melajukan mobilnya ke arah rumah sakit untuk melihat keadaan Anita bersama Dini.


"Dimas, kamu baik baik aja?" tanya Dini yang melihat gelagat tak biasa dari Dimas.


Dimas hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Dini.


"Kamu kenapa sih? kamu marah sama aku?"


"Enggak sayang, aku nggak marah, aku juga baik baik aja," jawab Dimas yang tak ingin membuat Dini khawatir.


"Kamu tau berapa kali aku chat kamu, semua chat sama panggilanku kamu abaikan Dim! nggak mungkin kamu baik baik aja!"


"Maaf sayang, HP ku hilang, aku nggak tau dimana!"


"Haaahhh, kok bisa? dari kapan?"


"Aku baru sadar waktu di rumah sa......." Dimas menghentikan ucapannya, ia harus menceritakan apa yang terjadi pagi tadi sebelum ada kesalahpahaman lagi diantara mereka.


"Andini, aku mau cerita sesuatu sama kamu, aku harap kamu ngerti," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


"Ada apa Dim? kamu bikin aku takut!"


"Tadi pagi aku mau jemput kamu, tapi tiba tiba Anita telfon, dia minta aku anter dia ke rumah sepupunya, dia kayak abis berantem sama Pak Sonny, aku denger teriakan Pak Sonny waktu itu jadi aku mutusin buat ke rumahnya, waktu aku sampe' sana dia udah berdarah darah sayang, dia mau bunuh diri," jelas Dimas.


"Bunuh diri? terus sekarang dia dimana? baik baik aja kan?"


"Dia baik baik aja sekarang, aku langsung bawa dia ke rumah sakit, itu kenapa aku nggak bisa jemput kamu, aku mau ngabarin kamu tapi HP ku nggak ada, aku nggak hafal kontak kamu, maafin aku ya!"


"Jadi kamu nggak sekolah karena nemenin dia?"


"Enggak, sepupunya yang nemenin dia, aku pergi ke kantor papa."


Dini mengangguk anggukan kepalanya.


"Kamu nggak marah kan?"


"Enggak kok, aku seneng kamu nggak sembunyiin ini lagi dari aku," jawab Dini dengan senyum manisnya.


Dimas menarik tangan Dini dan menciumnya.


"Kita ke rumah sakit ya!" ajak Dimas.


Dini mengangguk tanda setuju.


Sesampainya di rumah sakit, Dini dan Dimas segera mencari ruangan Anita.


"Masuk Dim!" ucap Dokter Dewi yang melihat kedatangan Dimas.


Dimaspun masuk dengan menggandeng tangan Dini.


"Duduk sayang," ucap Dimas dengan menarik kursi untuk Dini duduk.


"dia siapa? kenapa Dimas panggil 'sayang'? pacarnya? tapi Anita?" batin Dokter Dewi bertanya tanya.


"Mbak keluar dulu ya Nit!" ucap Dokter Dewi pada Anita di susul anggukan kepala Anita.


"Gimana keadaan kamu Nit?" tanya Dini.


"Baik," jawab Anita singkat.


Ia merasa kesal karena Dimas datang bersama Dini. Ia sudah tak tahan untuk mengungkapkan ketidaksukaannya pada Dini saat itu. Namun ia harus bisa bersabar, ia tak ingin Dimas memandangnya sebagai perempuan yang jahat.


"Andi nggak ikut?" tanya Anita.


"Dia masih bimbel, ntar kalau udah selesai dia pasti ke sini," jawab Dini.


"Maaf ya Dim, aku selalu nyusahin kamu!" ucap Anita pada Dimas.


"Santai aja Nit, kamu kan temen ku!" jawab Dimas yang membuat Anita semakin kesal.


"Kalau boleh tau, kenapa kamu hubungin Dimas? kenapa bukan Andi atau yang lainnya?" tanya Dini yang sudah menahan rasa cemburunya dari tadi.


"Aku nggak tau Din, tiap ada masalah yang ada dipikiranku cuma Dimas," jawab Anita yang sengaja membuat Dini cemburu.


"Maksud kamu?"


"Iya aku nggak tau, aku reflek aja hubungin Dimas, maaf kalau kamu ngerasa keberatan Dimas bantuin aku!"


"Enggak kok, aku sama sekali nggak keberatan, kalian kan temen, jadi aku ngerti," jawab Dini dengan berusaha tersenyum meski hatinya seperti terbakar saat itu.


Sedangkan Dimas hanya tersenyum kecil menyadari kekasihnya yang sedang cemburu.


"Makasih udah ngerti," balas Anita menahan kesal.


Dini hanya tersenyum tipis.


Dimas sengaja menggenggam tangan Dini dan menciumnya di depan Anita.


"Kamu emang yang terbaik sayang!" ucap Dimas pada Dini yang kini membuat Anita merasa terbakar hatinya.

__ADS_1


__ADS_2