
Dini dan Andi masih berada di dalam kamar Dini. Andi diam sebelum ia memberikan jawaban yang tepat pada Dini. Ia memikirkan baik baik apa yang sebaiknya ia katakan.
Belum sempat Andi menjawab, Aletta tiba tiba datang bersama Nico.
"Guys, ada makan makan nih, ayo ikutan!" ucap Nico tanpa basa basi.
Andi merasa lega dengan kehadiran Nico dan Aletta, setidaknya ia bisa menghindari pertanyaan Dini.
"Dimana?" tanya Andi.
"Di lantai bawah, ayo buruan, ntar keburu habis loh!"
"Kamu aja Ndi, aku nggak ikut," ucap Dini tak bersemangat.
"Kenapa Din? apa mau aku bawain ke sini?" tanya Aletta.
"Nggak perlu Al, makasih," jawab Dini.
"Ayo lah Din, sekali kali ngumpul sama anak anak yang lain," bujuk Nico.
"Bener tuh, kan ada aku juga," sahut Andi.
Dini menggeleng.
"Kalian duluan aja, abis ini gue sama Dini nyusul!" ucap Andi pada Nico dan Aletta.
"Oke,"
Nico dan Aletta pun kembali ke lantai satu.
"Lupain Dimas, lupain masalah kamu sekarang, kita makan makan numpuk lemak, oke?"
Dini sedikit menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Andi.
"Ayo!" balas Dini.
"Gitu dong!"
Mereka berduapun turun dan bergabung bersama teman teman yang lain. Di teras sudah ada banyak sekali makanan, lebih tepatnya junk food. Ada pizza dengan berbagai macam topping, burger, kentang goreng, minuman bersoda dan beberapa makanan ringan.
"Akhirnya, couple kita datang juga," ucap salah satu teman Andi ketika melihat Andi dan Dini datang.
"Dimana ada Andi, disitu ada Dini," sahut yang lain.
"Kayak lem, lengket!" sahut temannya lagi lalu mereka semua tertawa.
"Tapi romantis kan? bilang aja kalian semua iri!" balas Aletta.
"Lo kali yang iri," balas temannya lagi.
"Udah udah, ada acara apa sih ini?" tanya Andi.
"Nggak ada acara apa apa sih, abis nemu duit aja tadi hahaha....." jawab Nico.
Ya, Nico lah yang menyiapkan semua itu. Ia sengaja membeli banyak makanan untuk dimakan bersama teman teman kosnya.
**
Di apartemen Dimas.
Anita menonton tv dengan serius, sesekali ia memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya tanpa mengalihkan pandangannya pada tv di hadapannya.
Sedangkan Dimas sibuk dengan tugas kuliahnya. Sebelumnya, Dimas sudah membuat kesepakatan bersama Anita. Jika Anita ingin berada di apartemen Dimas, maka Anita tak boleh mengganggu Dimas yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Anitapun setuju, ia sedang berbaik hati saat itu. Setidaknya Dimas masih bersamanya sekarang, dan tidak sedang bersama Dini.
Satu jam berlalu, Anita sudah tertidur di sofa depan tv. Dimas yang sudah selesai mengerjakan tugasnya segera menghampiri Anita.
"Nit, kamu udah tidur?" tanya Dimas pelan dan duduk di samping Anita.
Anita tak menjawab, ia memutar badannya dan memeluk Dimas. Dimas hanya diam, ia berpikir bagaimana membuat Anita membencinya dan menjauh darinya.
"Aku udah mengabaikan kamu Anita, tapi kenapa kamu nggak pernah menyerah, kenapa kamu nggak mau lepasin aku?"
"Karena aku sayang sama kamu," jawab Anita tanpa membuka matanya.
Dimas segera mendorong tubuh Anita yang memeluknya begitu ia menyadari jika Anita sudah terbangun atau malah tidak tertidur.
Anita menatap tajam mata Dimas.
"Kalau kamu tanya kenapa aku nggak menyerah dan nggak menjauh dari kamu setelah kamu mengabaikanku, aku juga mau tanya, kenapa kamu nggak bisa cinta sama aku dan lupain Dini setelah semua yang aku lakuin buat kamu!"
"Cinta itu tanpa alasan Anita, itu bukan cinta kalau aku nerima kamu karena pengorbanan kamu," balas Dimas.
"Terus gimana sama apa yang udah kamu lakuin sama aku? apa kamu nggak mau bertanggung jawab?"
"Aku minta maaf Nit, aku bener bener nggak inget apapun, aku ngelakuin itu tanpa sadar, aku........"
"Apa dengan semua alasan kamu itu kamu bisa kembaliin apa yang udah hilang dari aku? enggak Dimas, nggak ada yang bisa kembaliin apa yang udah kamu renggut dari aku, kecuali tanggung jawab kamu!"
"Cinta nggak bisa dipaksa Nit, aku sayang sama Andini, aku cinta sama dia!"
"Begitu juga aku Dimas, aku sayang dan cinta sama kamu, kamu nggak bisa maksain perasaan aku buat hilang gitu aja!"
"Aku anterin kamu pulang sekarang!"
Anita menurut. Ia mengambil tas selempangnya lalu mengikuti Dimas keluar apartemen.
Setelah mengantar Anita, Dimas pulang ke rumahnya. Ia sengaja tidak memberi tahu mama dan papanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Ketika mengetahui mobil Dimas yang masuk ke halaman rumah, mama Dimas segera berlari keluar untuk menyambut anak kesayangannya itu.
"Dimas, kamu kok nggak ngabarin mama dulu, mama kan bisa siapin makanan kesukaan kamu!" ucap mama Dimas sambil memeluk Dimas.
Dimas hanya tersenyum lalu mengecup kening mamanya.
"Gimana keadaan kamu? kamu bisa tidur nyenyak kan?"
"Bisa ma, aman semuanya!"
Dimas dan mamanya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Papa dimana ma?"
"Ada di ruang kerja," jawab mama Dimas.
"Dimas ke sana dulu ya!"
"Iya sayang, mama siapin makan malam dulu kalau gitu!"
Dimas mengangguk lalu naik ke lantai dua. Dimas mengetuk pintu ruang kerja papanya sebelum masuk.
"Pa," panggil Dimas.
"Masuk Dim!" balas papa Dimas dari dalam ruangan.
Dimas segera masuk dan duduk di kursi depan meja kerja papanya.
"Kok tau kalau Dimas ngetuk pintu?"
"Emang siapa lagi anak laki laki yang panggil 'papa' selain kamu?"
"Hehe, makanya papa bikinin Dimas adek dong!"
"Kan udah ada Sintia," jawab papa Dimas santai.
"Iya juga sih."
"Gimana kabar kamu? betah tinggal di sana?"
"Sebenernya sih betah....."
"Tapi?"
"Bentar lagi Anita juga tinggal di apartemen itu," jawab Dimas.
"Loh dia nggak jadi lanjutin kuliah di Singapura itu?"
Dimas mengangkat kedua bahunya seolah tak peduli.
"Pa, apa kalau udah tunangan itu pasti nanti menikah?" tanya Dimas serius.
"Ada apa Dim?" tanya papa Dimas.
"Jawab aja pa!"
"Maksud kamu pertunangan kamu sama Anita?"
Dimas mengangguk pelan.
"Dimas, kalau kamu udah yakin buat tunangan sama Anita berarti kamu juga udah yakin buat jadiin dia istri kamu!"
"Istri?"
"Iya, tapi kamu harus ketemu dulu sama papanya, harus ada pertemuan antara dua keluarga dan sampaikan niat baik kamu itu ke papanya Anita, itu baru namanya pertunangan, bukan sekedar kata kata 'iya, kita tunangan' terus pasangin cincin di jarinya, nggak sesimpel itu lah!" jelas papa Dimas.
"Jadi Dimas sama Anita belum tunangan dong pa!"
"Menurut kamu gimana? kamu mau dia jadi istri kamu?"
"Enggak lah Pa," jawab Dimas cepat.
"Kalau gitu kenapa kamu dulu mau tunangan sama dia waktu di Singapura?"
"Dimas terpaksa pa, Dimas......."
"Kamu nggak hamilin Anita kan?"
"Enggak lah, papa jahat banget tuduhannya, Dimas nggak kayak gitu Pa!"
"Hahaha..... papa percaya sama kamu!"
"papa sama mama udah sebegitu besar kasih kepercayaan mereka buat aku, gimana kecewanya mereka kalau mereka tau apa yang udah aku lakuin sama Anita, kamu emang bodoh Dimas, bodoh banget,"
"Jadi sekarang apa?" tanya papa Dimas membuyarkan lamunan Dimas.
"kalaupun Anita bukan tunangan Dimas, Dimas tetep nggak bisa lepas dari Anita gitu aja pa, Dimas....."
Toookkk toookkk tooookk
Pintu ruang kerja papa Dimas terbuka.
"Ayo makan malam dulu, mama udah masak kesukaan kamu sayang," ucap mama Dimas sambil menarik tangan Dimas.
"Loh, papa nggak diajak nih?" tanya papa Dimas.
"Papa kerja aja, cari duit yang banyak!" balas mama Dimas.
__ADS_1
Dimas dan papanya hanya terkekeh mendengar jawaban mama Dimas. Mereka kemudian makan malam bersama.
**
Di sudut gelap jalan sempit, di bawah remang lampu kuning dan temaram bulan. Aletta berjalan seorang diri dengan bersenandung ria mengusir keheningan malam itu. Ia baru saja pulang dari mini market di dekat kosnya. Karena ingin lebih cepat sampai, Aletta sengaja melewati jalanan sempit yang sangat sepi itu.
Aletta melepas handsfree yang terpasang di telinganya, ia diam beberapa saat. Ia merasa ada seseorang selain dirinya di sana. Ia menoleh ke kanan, ke kiri dan ke belakang, namun tak menemukan siapapun. Ia lalu kembali berjalan dengan semakin cepat tanpa bersenandung lagi. Di sebelah kanannya hanya ada sebuah gedung bekas pabrik yang sudah lama ditinggalkan, gedung itu sangat luas dan panjang. Ada beberapa pintu yang tampak terbuka dengan coretan coretan gambar yang tidak jelas. Sedangkan di sebelah kirinya ada makam dan tanah yang lapang. Itu kenapa tidak ada orang yang melewati jalan itu ketika malam. Pabrik kosong dan makam, seperti tempat favorit untuk berkumpulnya para makhluk tak kasat mata.
Aletta sudah melewati makam, kini yang ada di sebelah kirinya adalah tanah lapang dan pabrik kosong di sebelah kanannya.
Tiba tiba, ada seseorang yang menarik tangannya dan membawanya ke dalam area pabrik. Aletta menginjak kaki seseorang itu dan segera menghajarnya, namun belum sempat pukulannya mengenai wajah seseorang itu, Aletta diam. Tangannya urung melayangkan pukulan pada laki laki di hadapannya.
"Pukul aku Al, aku emang pantes kamu pukul!" ucapnya dengan menepuk nepuk pipinya sendiri.
Aletta hanya diam. Dadanya bergemuruh, rasa dalam hatinya berkecamuk kacau. Ia lalu melangkah pergi, namun laki laki itu menahannya. Ia menarik tangan Aletta dan mendorong tubuh ke Aletta ke arah dinding.
"Aku sayang sama kamu Al, aku mau kita kayak dulu lagi," ucap laki laki itu.
"Lepasin aku Ki, kamu itu suami kakak ku, jangan kayak gini!" balas Aletta dengan berusaha meronta.
Rizki lalu memeluk Aletta dengan erat. Ia sangat merindukan gadis dalam pelukannya itu. Aletta ingin meronta, tapi hatinya menolak, rasa dalam hatinya merindukan pelukan itu, sentuhan itu dan.....
Cuuppp
Rizki mendaratkan ciumannya di bibir Aletta. Mereka saling menatap, ada rindu dalam hati yang ingin segera dituntaskan. Rizki kembali memeluk Aletta. Tangannya mengusap lembut punggung Aletta. Tanpa Aletta sadar, tangan Rizki sudah menelusup ke dalam pakaiannya dan mengusap kulit punggung Aletta.
Menyadari tak ada perlawanan dari Aletta, Rizki mulai lebih berani, ia membuka kancing baju Aletta, satu dua, kancing baju bagian atas Aletta sudah terbuka. Namun Aletta segera tersadar dari semua kegilaan itu. Ia mendorong tubuh Rizki dengan sekuat tenaga lalu kembali menutup kancing kemeja.
Aletta lalu berlari dan Rizki mengejarnya. Sangat mudah bagi Rizki untuk mendapatkan Aletta kembali. Ia sangat tau jika hati Aletta masih sangat lemah, ia tau jika Aletta masih menyimpan rasa padanya.
Ia menarik tangan Aletta dan kembali memeluknya dengan erat.
"Maafin aku Al, maaf," ucap Rizki dengan memeluk erat Aletta.
"Lepas Ki," ucap Aletta dengan berusaha mendorong Rizki, namun tak bisa.
"Kamu milikku Al dan kita saling mencintai, aku mau kita bisa kayak dulu lagi!"
Aletta hanya diam, air matanya kembali menetes. Tak ada yang lebih sakit dari mencintai laki laki yang merupakan suami dari kakak kandungnya, terlebih laki laki itu adalah cinta pertamanya yang sudah memberikanya begitu banyak hal indah yang tak akan mudah untuk ia lupakan.
Perlahan Rizki melepaskan Aletta dari pelukannya.
"Aku tau kamu masih sayang sama aku Al, aku akan ceraiin Asyila dan kita akan menikah, aku janji sama kamu," ucap Rizki dengan menggenggam erat kedua tangan Aletta.
Aletta menghapus air matanya dengan kasar. Ia sudah muak dengan semua rasa menyakitkan dalam hatinya.
"Lupain semuanya Ki, itu cuma masa lalu, itu semua kesalahan dan aku mohon jangan pernah temui aku lagi!"
"Enggak Al, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, aku......"
PLAAAKKK
Satu tamparan mendarat di pipi Rizki. Aletta lalu berbalik dan melangkah pergi namun lagi lagi Rizki menahan tangannya dan menarik Aletta ke dalam pelukannya.
Aletta meronta namun Rizki semakin erat memeluknya.
"Aku udah lama nunggu waktu ini Al, aku......"
"Lepas atau aku teriak?"
"Silakan kalau kamu mau teriak, kamu. pasti tau tempat ini jauh dari rumah warga dan nggak ada siapapun yang lewat sini malem malem!"
"TOLOOONG!!!" teriak Aletta.
Rizki menarik tangan Aletta untuk di bawa kembali ke dalam pabrik, namun seseorang tiba tiba datang dan menendang Rizki hingga Rizki jatuh tersungkur.
"Kamu nggak papa Ta?"
"Aa..... aku..... aku....."
Buuughhh
Satu tinjuan mengarah ke wajah Andi, meninggalkan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Andi segera membalasnya, perkelahianpun tak terelakkan.
"Sekali lagi gue liat lo gangguin Aletta, abis lo sama gue!" ucap Andi yang kini mencengkeram dengan kuat kerah baju Rizki yang berada di bawahnya.
Andi melepaskan Rizki, lalu melangkah pergi bersama Aletta.
"Apa dia tau masa lalu kamu Al? apa dia tau apa aja yang udah kita lakuin? apa dia tau kalau kamu udah nggak......"
Aletta segera berbalik dan menampar Rizki. Rizki hanya tersenyum, ia sudah menduga jika Aletta akan menamparnya.
"Apa dia belum tau?" tanya Rizki.
"Jaga mulut kamu Ki, kamu......."
"Iya, gue tau, lalu apa masalahnya?" tanya Andi tiba tiba.
Aletta menoleh ke arah Andi dengan tatapan tidak percaya.
"Gue sayang sama dia dan gue nerima dia apa adanya seperti dia yang nerima gue apa adanya," lanjut Andi.
"Aku nggak percaya kalau kamu beneran pacaran sama dia Al, aku yakin kamu masih sayang sama aku, iya kan?"
Tanpa basa basi Andi menunduk dan membawa pandangan Aletta ke arahnya, lalu mengecup bibir Aletta dengan lembut. Andi memejamkan matanya, merasakan aliran darahnya yang seolah berhenti. Sedangkan Aletta membelalakkan matanya tak percaya pada apa yang sedang terjadi. Namun hangat kecupan yang berubah menjadi tautan mesra itu membuatnya turut memejamkan matanya.
__ADS_1
Rizki yang menyaksikan hal itu semakin kesal. Ia pun pergi meninggalkan Aletta dan Andi. Rizki berjalan dengan segala sumpah serapahnya hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berdiri di ujung jalan sempit itu. Seseorang yang dari beberapa waktu yang lalu memperhatikan dua pasang manusia tengah berciuman mesra di bawah remang cahaya bohlam di jalanan yang sempit itu.