
Goresan jingga mulai terlukis di hamparan langit sore itu. Anita masih duduk di tepi sungai dengan pandangan kosong.
Berkat bantuan Anita, pihak kepolisian bisa menghubungi keluarga Dimas lebih cepat, karena jika dilihat dari plat nomor yang ditemukan, sudah pasti polisi akan mengira jika Sintialah yang mengalami kecelakaan itu.
Tak lama kemudian orangtua Dimas datang. Setelah mendengar penjelasan dari pihak kepolisian, mama dan papa Dimas menghampiri Anita yang masih duduk di tepi sungai.
"Anita!" panggil mama Dimas yang matanya sudah sangat sembab karena banyak menangis.
Anita menoleh dan segera berdiri memeluk mama Dimas.
"Dimas ma," ucap Anita di tengah isak tangisnya.
"Dimas pasti baik baik aja, mama yakin!" balas mama Dimas yang mulai kembali terisak.
Pak Tama hanya menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ia sama sekali tidak menyangka jika Dimas akan mengalami kejadian itu. Ingatan Pak Tama kembali mengulas kebersamaannya bersama Dimas di kantin kantor beberapa waktu yang lalu.
"apa ini yang kamu takutkan Dim? kamu takut kehilangan Dini, kamu takut Dini ninggalin kamu dan sekarang kamu yang ninggalin Dini, bertahan Dimas, papa yakin kamu sedang berjuang di luar sana, papa yakin kamu akan kuat, papa kenal kamu Dimas, kamu nggak akan nyerah sebelum dapetin apa yang kamu mau, kamu harus bertahan sampai kamu dapet apa yang kamu mau Dimas, papa selalu dukung kamu, papa percaya dan yakin sama kamu," ucap Pak Tama dalam hati.
"Permisi Pak, Bu, sebaiknya kalian tunggu di rumah, tim kami akan mencari anak Bapak dan Ibu semaksimal mungkin, kami akan......."
"Gimana mungkin saya bisa pulang sebelum saya tau keadaan anak saya Pak!" ucap mama Dimas memotong ucapan pihak kepolisian yang meminta mereka untuk meninggalkan lokasi kejadian.
"Saya mengerti Bu, percayakan pencarian anak ibu pada kami, kami akan segera menghubungi Ibu jika kami sudah berhasil menemukan anak Ibu."
"Enggak, saya nggak akan pergi dari sini!"
"Udah ma, kita pulang ya, kita tunggu di rumah," ucap Pak Tama berusaha membujuk istrinya.
"Tapi pa, mama....."
"Ma, kita pulang!" ucap Pak Tama tegas.
Mama Dimas pun meninggalkan tempat itu dan pulang dengan berbagai macam perasaan yang menyedihkan.
Sebelum meninggalkan sungai, Pak Tama meminta pihak kepolisian untuk menutup kasus itu dari media. Pak Tama tidak ingin membuat Dimas trauma dengan kejadian yang sudah menimpanya itu.
"Baik pak, kami mengerti," balas petugas kepolisian.
"Terima kasih pak, kami permisi dulu!"
Di mobil, sudah ada istrinya yang menunggu dengan tatapan kosong dan air mata yang tak berhenti menetes. Pak Tama menggenggam tangan istrinya, berusaha menguatkan istrinya meski ia sendiri juga hancur melihat kejadian naas yang menimpa putra satu satunya itu.
"Papa yakin Dimas masih bertahan di sana, Dimas nggak akan mudah menyerah, mama tau itu kan?"
Mama Dimas hanya mengangguk pelan. Ia seperti sudah kehilangan setengah dari hidupnya. Anak satu satunya yang selalu dibanggakan kini entah bagaimana nasibnya.
*****************
*Flashback ketika kecelakaan terjadi*
"NGGAK ADA YANG NGGAK BISA AKU MILIKI, TERMASUK KAMU ANDINI, KAMU MILIKKU, SELAMANYA KAMU CUMA BUAT AKU!" teriak Dimas dibalik kemudinya.
Ia tidak akan pernah rela kehilangan Dini. Baginya, hanya dialah yang mampu membahagiakan Dini. Jika Andi mampu merelakan Dini untuk Dimas, lain halnya dengan Dimas, ia tak akan pernah berhenti mengejar Dini sebelum ia bisa mendapatkan Dini.
Dengan emosi yang meluap luap ia menambah kecepatan mobil yang dikendarainya hingga maksimal. Ia memutar setir mobil ke kanan berniat untuk mendahului mobil di hadapannya. Karena tidak fokus pada jalan raya, ia mengendarai mobil hingga melewati jalur di sebelahnya yang membuatnya tertabrak truk yang melaju kencang dari arah sebaliknya.
Dengan kesadaran penuh, ia dapat merasakan tabrakan itu membuat mobil yang dikendarainya terpental jauh dan terguling guling untuk beberapa saat dan akhirnya menabrak pembatas jalan lalu jatuh ke sungai.
Darah segar menetes dari kepalanya. Badan mobil yang hancur membuatnya kesulitan untuk keluar dari mobil yang tersangkut di sebuah batu besar di sungai.
Dengan pandangan yang mulai kabur, ia mencoba untuk keluar dari mobil yang malah membuatnya hanyut terseret arus sungai yang deras.
Ia ingin berteriak, ingin berenang menuju ke tepian sungai, namun tenaganya seperti sudah lolos dari badannya yang penuh luka.
Ia hanya bisa mengikuti arus sungai itu hingga beberapa kali ia terbentur batu besar yang membuat darahnya semakin tak berhenti keluar dari kepalanya hingga akhirnya ia merasa semuanya begitu gelap. Tak ada lagi rasa sakit yang ia rasakan saat itu.
****************
Di rumah Dimas, Anita masih menemani mama Dimas yang tak berhenti mengecek ponselnya, menunggu pihak kepolisian menghubunginya.
"Maafin Anita ma, harusnya Dimas pulang sama Anita tapi....."
"Nggak papa sayang, ini bukan salah kamu."
"Anita nyesel ma, harusnya Anita bisa cegah Dimas buat pake' mobil Sintia."
__ADS_1
"Mama nggak ngerti kenapa dia milih pake' mobil Sintia daripada pulang sama kamu!"
"Mungkin Dimas nggak mau bikin Dini cemburu ma."
"Maksud kamu? apa ini ada hubungannya sama Dini?"
"Anita nggak tau, tapi sebelum pulang sekolah, Dimas sama Dini berantem, mungkin gara gara Dimas berangkat sekolah sama Anita jadi Dini cemburu, tapi Dini nggak mau dengerin penjelasan Dimas dan Dini pulang duluan sama Andi, ninggalin Dimas," jelas Anita pada mama Dimas.
"Jadi ini gara gara Dini? bener bener keterlaluan!" balas mama Dimas yang kini terlihat sangat emosi.
"Dimas keliatan sayang banget sama Dini ma, itu kenapa Dini bisa manfaatin Dimas buat antar jemput dia dan ninggalin Dimas gitu aja kalau udah nggak butuh Dimas, Dini......"
"Stop Nit, udah cukup kita terpukul sama keadaan Dimas yang nggak tau gimana sekarang, tolong jangan tambahin beban pikiran kami dengan cerita kamu itu!" ucap Pak Tama memotong ucapan Anita yang terkesan memprovokasi mama Dimas.
"Maaf pa!" balas Anita menunduk.
"Satu lagi, jangan panggil saya papa, saya nggak suka ada orang asing yang bersikap berlebihan seperti itu!" protes Pak Tama.
"Maaf om, Anita nggak bermaksud buat nggak sopan!"
"Nggak papa Nit, kamu bisa pulang sekarang dan tolong jangan cerita masalah ini sama siapapun!"
"Baik om, Anita mengerti."
"Anita pulang dulu ya ma, permisi om!"
Anitapun pulang, meninggalkan rumah Dimas.
Tak lama setelah Anita pulang, ponsel mama Dimas berdering. Ia segera menerima panggilan dari ponselnya. Tangisnya kembali meledak mendengar penjelasan dari pihak kepolisian tentang keadaan Dimas yang sudah dibawa ke rumah sakit.
Tanpa pikir panjang, Pak Tama dan istrinya segera menuju ke rumah sakit saat itu juga.
*******************
Mentari terlihat malu malu untuk menampakkan sinarnya. Menyembunyikan kehangatan yang dirindukan jiwa jiwa yang kesepian.
Dini begitu tak bersemangat hari ini. Dengan langkah gontai ia keluar dari rumahnya, menemui Andi yang sudah menunggu di balai balai depan rumahnya seperti biasa.
"Are you okay?" tanya Andi pada Dini.
Merekapun berjalan ke sekolah bersama.
"Rasanya udah lama banget ya Din kita nggak jalan bareng kayak gini!" ucap Andi memulai percakapan.
"Iya Ndi, lama!"
"Lupain Dimas Din, kamu pantas dapat yang lebih baik dari dia," ucap Andi dengan menepuk nepuk pundak Dini.
"Iya Ndi, aku juga yakin akan ada seseorang yang lebih baik dari Anita yang Tuhan siapkan buat kamu!"
"dan aku berharap kalau seseorang itu adalah kamu," ucap Andi dalam hati.
Bel masuk berbunyi ketika mereka baru saja memasuki gerbang sekolah. Merekapun segera menuju ke kelas. Di kelas sudah ramai dengan teman temannya yang sudah duduk di bangkunya masing masing.
Dini mengedarkan pandangannya, matanya terpaku pada bangku yang berada di pojok kelasnya. Ya itu adalah bangku yang biasa ditempati Dimas.
Tanpa Dini sadar, matanya masih memandang tajam ke arah sana, ada sedikit kerinduan yang terbalut luka di hatinya.
"Din!" panggil Andi yang melihat Dini melamun dengan memandang ke arah bangku Dimas.
"Eh, iya kenapa?" balas Dini yang baru tersadar dari lamunannya.
"Nggak papa, duduk!"
"Oh, iya!"
Dinipun duduk di bangkunya, membuka tasnya dan mengeluarkan buku dan alat tulis miliknya.
Tiba tiba Lia mendorong kursi Dini dengan kakinya, membuat Dini tersentak kaget.
"Kenapa?" tanya Dini dengan menoleh ke arah Lia yang berada tepat di belakangnya.
"Pangeran mana?" tanya Lia menanyakan keberadaan Dimas yang selalu dipanggilnya pangeran.
Dini hanya menghembuskan napasnya kasar lalu membalikkan badannya tanpa menjawab pertanyaan Lia.
__ADS_1
"Iiiihh, Dini! pangeranku mana?" tanya Lia dengan kembali mendorong kursi Dini di depannya.
"Nggak tau!" jawab Dini ketus.
"Kalian berantem lagi ya?"
Dini hanya diam tak menggubris pertanyaan Lia.
"Ayolah Din, dari jutaan cewek di dunia ini, kamu itu beruntung loh bisa jadi pacar Dimas, jadi jangan berantem mulu dong!"
Dini masih diam. Ia mengabaikan Lia dengan mencoba untuk membaca buku pelajaran di hadapannya namun tetap saja, pertanyaan dan ucapan Lia masih terdengar jelas di telinganya.
"Dini, asal kamu tau ya, di belakang kamu itu banyak cewek cewek yang antri buat dapetin Dimas, buat gantiin posisi kamu, tapi karena aku tau kamu baik, aku tetep dukung kamu sama Dimas, aku yakin kalau kamu...."
"Lia!" panggil Dini dengan kembali menghadap ke arah Lia. Ia sudah sangat terganggu dengan ucapan Lia tentang Dimas dan dirinya.
"Iya, Lia disini masih menunggu pangeran," balas Lia genit.
Dini memutar kedua bola matanya mendengar ucapan teman sekelasnya itu.
Ia tak bisa berbohong, Dimas memang tampan, bahkan sangat tampan. Dari pertama kali ia melihat Dimas ketika di taman, ia sudah menyadari hal itu. Tapi ia menepisnya jauh jauh. Tampan saja tidak akan berguna jika sikapnya tak setampan wajahnya, setidaknya itulah yang dipikirkan Dini saat itu.
Namun semakin lama ia dekat dengan Dimas, ia baru menyadari jika Dimas yang ia kenal sekarang tidaklah sama dengan Dimas yang dikenalnya sewaktu SD.
Dengan ketampanannya, prestasi dan kebaikan hatinya, sangat tidak mungkin baginya untuk tidak memiliki pacar saat itu. Tapi kenyataannya, ia hanya memilih Dini untuk dijadikannya kekasih hati.
Dengan berbagai macam cara yang sudah di lakukannya, akhirnya Dinipun jatuh padanya. Ketika Dini sudah benar benar jatuh sejatuh jatuhnya dalam hati Dimas, Dimas membuatnya kecewa, membuatnya terluka hingga ia memutuskan untuk pergi.
Meski rasa cinta itu masih ada, Dini berusaha menguburnya dalam dalam. Terlebih, tak akan mudah menjalani hubungan jika orangtuanya saja tidak menyukainya.
"Dengerin aku baik baik ya, aku sama Dimas nggak pernah pacaran, oke!" ucap Dini pada Lia.
"Hahaha.... aku tau Din, kalau lagi berantem sama pacar emang suka gitu, jadi....."
"Aku serius, aku nggak pernah pacaran sama dia dari dulu, semua cerita yang dia ceritain ke kamu atau temen temen yang lain, itu bohong, aku emang satu SD sama dia, tapi kita nggak deket dan sekarangpun kita nggak pacaran!" jelas Dini.
"Tapi....."
"Lagian mana mungkin sih aku pacaran waktu SD," gerutu Dini kesal.
"Hahaha..... iya juga ya!"
Dini menghembuskan napasnya kasar lalu kembali sibuk dengan buku yang dibacanya.
"Eh, tapi pangeran sekarang kemana? nggak lagi sakit kan?" tanya Lia pada Dini.
"Aku nggak tau dan aku nggak mau tau, jadi jangan tanya apapun soal dia lagi, oke?" balas Dini dengan setengah berteriak, membuat seisi kelas melihat ke arahnya.
"O..oke.. maaf!" ucap Lia terbata bata karena terkejut melihat respon Dini yang terlihat emosi.
"Udah Din, sabar!" ucap Andi pada Dini.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Dini dan Andi segera keluar dari sekolah dan pulang.
"Yakin mau langsung pulang?" tanya Andi.
"Iya Ndi, aku mau langsung pulang aja, mendung," jawab Dini dengan memandang langit yang dari pagi sudah tertutup awan gelap.
Dinipun masuk ke kamarnya. Merebahkan badannya sebelum tiba tiba suara gemuruh petir menyambar dan hujan turun dengan derasnya.
"Tenang Dini, ini cuma hujan, cuma hujan," ucap Dini berusaha menenangkan perasaannya yang gelisah.
Ia segera berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut yang dimilikinya.
Ketika tangannya keluar dari balik selimut, tanpa sengaja ia menyentuh sebuah kotak. Ia pun membuka selimut yang menutup wajahnya dan melihat kotak itu dan membukanya.
Sebuah handsfree terlihat di dalamnya. Iapun mengambilnya dan mulai mendengarkan lagu dari ponselnya menggunakan handsfree yang Dimas berikan padanya.
Ia mendengarkan lagu dengan volume tinggi agar tak mendengar suara hujan yang terus turun membasahi bumi.
Tanpa ia sadar, air matanya menetes begitu saja. Memorinya kembali membuka kebersamaanya dengan Dimas. Tak bisa dipungkiri, ia sangat bahagia ketika bersama Dimas. Meski seringkali terjadi salah paham, nyatanya mereka masih bisa melanjutkan kebersamaan mereka, sebelum kenyataan pahit yang ia terima.
"aku sayang sama kamu Dimas, seandainya kamu tau itu, tapi kenapa kamu selalu nyakitin aku, kenapa kamu selalu sembunyiin banyak hal dari aku? aku mau benci sama kamu, aku mau kamu pergi dari aku, tapi kenapa rasanya terlalu sakit!"
Dini melepas handsfree dari telinganya dan melempar ponsel di genggamannya ke lantai, membuat layar ponsel itu padam dan retak di beberapa bagian.
__ADS_1
Dini mengambil ponsel itu dan menaruhnya di sudut meja belajarnya, menutupinya dengan buku buku pelajarannya.