
Pagi yang cerah. Sintia menunggu kedatangan Yoga di rumah kakeknya. Ya sepulang sekolah kemarin, ia meminta Yoga untuk mengantarnya ke rumah kakeknya dan menginap di sana. Tak lupa ia juga mengabari mama dan papa Dimas.
Setelah Yoga tiba, mereka segera berangkat ke sekolah.
"Nanti kakak jemput ya, sekolah yang bener, jangan genit!" ucap Yoga ketika mereka sudah sampai di depan sekolah Sintia.
"Siap om!"
"Om?"
"Hehehe, iya, kak Yoga kan udah om om hahaha," balas Sintia yang langsung keluar dari mobil meninggalkan Yoga yang hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Sintia.
Bel masuk berbunyi, Dini masih tak melihat Dimas hari itu. Ia mulai khawatir, namun ia buang jauh jauh rasa khawatirnya itu.
"terserah, mau sekolah apa enggak, aku nggak peduli!" ucap Dini dalam hati.
Meski ia berusaha untuk tak peduli, nyatanya ia masih memikirkan keadaan Dimas yang sudah 2 hari tak memunculkan batang hidungnya.
Jauh di lubuk hatinya, ia merindukan Dimas, merindukan kebersamaan dan perhatian Dimas padanya.
"Kamu nggak papa Din?" tanya Andi yang melihat Dini tampak murung beberapa hari ini.
"Nggak papa Ndi!" balas Dini berbohong. Ia merasa tidak baik baik saja saat itu.
"Fokus Din, ujian nasional udah di depan mata!"
"Iya Ndi."
Tak lama kemudian Pak Galih masuk dan memberikan pengumuman yang membuat semuanya begitu terkejut.
"Anak anak Bapak mau kasih pengumuman penting, Bapak harap apa yang Bapak sampaikan ini tidak akan menurunkan semangat belajar kalian, karena sebentar lagi ujian nasional sudah menunggu," ucap Pak Galih membuat semuanya penasaran dengan pengumuman yang akan di sampaikan oleh Pak Galih.
"Pengumuman apa Pak?" tanya Lia.
"Ini soal Dimas!"
Dini segera menegakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk tak bersemangat begitu nama Dimas disebut oleh Pak Galih.
"Ada apa Pak? pangeran baik baik aja kan Pak?" tanya Lia membuat seisi kelas meneriakinya.
"Huuuu, pangeran kita semua itu, bukan cuma pangeran lo!" seloroh temen perempuan Lia.
"Baru saja orangtua Dimas menemui Bapak, meminta izin karena Dimas harus pindah sekolah dan orangtuanya menitipkan pesan pada Bapak kalau Dimas minta maaf jika selama di sini pernah melakukan kesalahan pada kalian semua, Bapak harap hal ini tidak menyurutkan semangat belajar kalian ya terutama Lia and the geng nih, tetap semangat ya!" jelas Pak Galih membuat semuanya begitu tercengang, termasuk Dini.
"Kok mendadak sih Pak? pindah kemana Pak?"
"Bapak juga nggak tau, mungkin kalian bisa hubungin Dimas sendiri dan tanya langsung sama dia!"
"Yaaah, mana bisa semangat Pak kalau pangeran udah nggak di sini!"
"Bener Pak, males sekolah!"
"Kan masih ada Andi, dia juga cocok jadi pangeran kalian kan?" balas Pak Galih dengan memukul pelan pundak Andi.
Andi hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Pak Galih.
"Andi pangeran dingin Pak, saya sukanya yang hangat kayak Dimas," seloroh Lia diikuti sorak ramai teman temannya yang lain.
Seisi kelas begitu merasa kehilangan dengan pindahnya Dimas dari sekolah. Pasalnya, Dimas tak hanya tampan dan berprestasi tapi ia juga sangat baik, ramah dan perhatian pada teman temannya. Sikapnya yang hangat mampu membuat siapa saja yang berada di dekatnya bisa dengan mudah menyukainya.
Jika tidak pandai pandai menyikapinya, sikap Dimas tak jarang akan di salah artikan oleh mereka, seperti yang terjadi pada Anita. Hanya saja, ambisi Anita terlalu besar untuk memiliki Dimas. Memaksakan kehendaknya sendiri dengan berbagai macam cara.
Dini hanya bisa diam dengan beribu tanya di kepalanya. Ia merasa sesak yang menghimpit dadanya. Entah kenapa air matanya jatuh begitu saja. Ia segera menghapus air matanya sebelum ada yang melihatnya.
"lagi Dim? kamu ngelakuin ini lagi? pergi gitu aja tanpa sepatahkatapun, ninggalin aku yang kamu bilang masa depan kamu, kenapa Dimas? kenapa?"
Terasa air matanya kembali mengalir deras dari kedua sudut matanya. Hatinya terasa sakit. Meski ia ingin Dimas pergi darinya, tapi hati kecilnya menolak, ia tidak ingin Dimas pergi. Ia merindukannya.
"Kamu kenapa Din?" tanya Pak Galih yang menyadari jika Dini menangis.
"Dini sakit Pak, kamu ke UKS aja Din!" jawab Andi berbohong dan memintanya untuk pergi ke UKS.
"Saya permisi Pak!" ucap Dini pada Pak Galih lalu pergi meninggalkan kelas menuju ke UKS.
Setelah bel istirahat berbunyi, Dini segera keluar dari UKS dan menuju ke kelas Sintia.
Andi yang melihat Dini pergi ke kelas XI segera mengikutinya.
"Kak Dini, ada apa kak?" tanya Sintia yang melihat Dini menghampirinya.
Dini menarik tangan Sintia mengajaknya untuk menjauh dari teman temannya.
"Kamu tau Dimas dimana?" tanya Dini tanpa basa basi.
__ADS_1
"Loh emang nggak sekolah?" tanya Sintia balik.
"Kamu nggak tau kalau dia udah pindah?"
"Haahhh, pindah? pindah kemana kak?" tanya Sintia tak mengerti.
"Aku juga nggak tau, itu kenapa aku tanya kamu, bukannya kamu tinggal di rumah Dimas ya?"
"Iya, tapi dari pulang sekolah kemarin Sintia pulang ke rumah kakek, berangkat sekolah juga dari rumah kakek di jemput kak Yoga, Sintia belum pulang ke rumah kak Dimas kak!"
"Coba kamu hubungin dia!"
Sintiapun mengambil ponsel dari kantong seragamnya dan mencari nama Dimas lalu menghubunginya.
Beberapa saat menunggu, Sintia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku seragamnya.
"Nggak aktif kak, lowbatt mungkin," ucap Sintia yang membuat Dini semakin gelisah.
"Kamu beneran nggak tau Dimas pindah ke mana?"
"Maaf kak, Sintia nggak tau, nanti kalau Sintia tau Sintia langsung kasih kabar ke kak Dini."
"Ya udah kalau gitu, makasih ya!"
Sintia mengangguk dan membiarkan Dini pergi meninggalkannya.
"kenapa kak Dimas tiba tiba pindah? pindah kemana?" batin Sintia bertanya tanya.
Dini berjalan ke arah kelasnya melewati kelas Anita. Tak sengaja ia mendengar percakapan Anita melalui ponsel yang ia tempelkan di telinganya.
"Ada kabar dari Dimas ma?" tanya Anita melalui sambungan ponselnya.
"Dimas di rumah sakit sekarang, kamu ke sini ya, nanti mama kasih alamatnya," balas mama Dimas dari ujung telepon.
"Baik ma, gimana keadaan Dimas ma?"
"Kamu ke sini aja dulu, oke?"
"Baik ma, makasih udah kabarin Anita!"
"Sama sama sayang!"
Anita memasukkan ponselnya ke saku seragamnya.
"Dimas kemana Nit?" tanya Dini.
"Apa peduli kamu Din? bukannya kamu yang mau dia pergi?"
"Enggak Nit, aku cuma......."
"Kamu nggak akan pernah ketemu Dimas lagi Din, kamu yang udah bikin dia pergi dan jangan harap Dimas akan kembali lagi sama kamu!" ucap Anita lalu pergi meninggalkan Dini.
Dini mengejar Anita dan tetap bersikeras untuk menanyakan keberadaan Dimas pada Anita.
"Aku mohon Nit, aku cuma mau tau dia dimana, itu aja!" ucap Dini memohon.
"Buat kamu, Dimas udah nggak ada jadi jangan pernah kamu cari dia lagi!" balas Anita lalu berlari meninggalkan Dini.
Dini berniat untuk mengejar Anita, namun Andi mencegahnya. Ia mengajak Dini untuk kembali ke kelas.
"Udahlah Din, lupain Dimas, masih banyak cowok di luar sana yang lebih baik dari Dimas!" ucap Andi dengan mengusap lembut rambut sahabat yang dicintainya itu.
"Tapi hati aku udah milih Dimas Ndi," balas Dini pelan.
Andi hanya mendengus kesal lalu pergi keluar dari kelas meninggalkan Dini.
"kenapa Din? kenapa kamu masih milih Dimas? kapan kamu bisa lihat aku?" batin Andi kesal.
Bel istirahat berbunyi, Anita segera meninggalkan sekolah dan menuju ke rumah sakit dimana Dimas dirawat.
Sesampainya di sana, sudah ada mama Dimas yang duduk di luar ruang ICU. Sedangkan papa Dimas masih berada di kantor. Mama Dimas meyakinkan suaminya agar tetap fokus pada kantor dan mempercayakan Dimas padanya.
"Ma, gimana keadaan Dimas?" tanya Anita pada mama Dimas.
"Dia masih koma Nit, Dokter bilang akan ada kemungkinan dia amnesia ketika dia sadar nanti," jawab mama Dimas dengan menahan tangisnya.
Ya, Dimas menderita cedera kepala berat yang bisa saja membuatnya mengalami Disorientasi dimana ia tidak dapat mengenali waktu, tempat dan orang orang yang sudah dikenalnya sebelum kecelakaan itu terjadi.
Ketika ia baru saja dibawa ke rumah sakit, Dokter segera menstabilkan pernapasan, denyut jantung dan tekanan darah Dimas. Setelah melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan saraf, Dokter menggunakan Glasgow Coma Scale untuk mengidentifikasi tingkat keparahan cedera kepala yang dialami Dimas. Hasilnya cedera kepala berat yang dialami Dimas mendapat nilai 3 yang artinya ia dalam keadaan koma.
Kini Dimas hanya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan ventilator yang membantunya untuk tetap bernapas.
"Nit, kalau 2 hari lagi Dimas belum sadar, mama sama om udah mutusin buat bawa Dimas ke Singapura, di sana ada Dokter terbaik yang mama kenal, mama yakin Dimas akan segera sadar dan memulai hidupnya yang baru di sana," jelas mama Dimas.
__ADS_1
"Secepat itu ma?"
"Iya Nit, ini yang terbaik buat Dimas, tolong kamu ngerti ya, sesampainya di sana mama akan selalu kasih kabar tentang perkembangan Dimas di sana, kalau kamu mau, kamu bisa berkunjung ke sana!"
"Iya ma, Anita ngerti!"
"Dan tolong, jangan kasih tau siapapun tentang keadaan Dimas, kamu bisa janji?"
"Anita janji ma!"
"Makasih sayang, setelah Dimas sadar, mama berharap kamu ada di sana!"
Anita mengangguk pelan. Ia merasa ini adalah kesempatan besar baginya untuk bisa mendapatkan Dimas.
"setelah kamu sadar, aku yang akan kamu lihat Dim, udah nggak ada lagi Dini di hidup kamu!" ucap Anita dalam hati.
*************
Setelah Yoga menjemput Sintia, ia mengajak Sintia untuk ke kafe.
"Kak, kak Dimas pindah sekolah ya?" tanya Sintia pada Yoga.
"Pindah? kemana?"
"Kakak ini gimana sih, kan Sintia nanya!"
"Loh kakak malah nggak tau apa apa, dia juga nggak pernah cerita kalau mau pindah!"
Sintia mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Dimas, namun tetap saja hanya suara operator yang ia dengar.
"nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, coba beberapa saat lagi, your......."
"Kak Dimas tumben banget sih nggak ada kabar gini dari tadi HP nya nggak aktif, bikin khawatir aja!"
"Kamu khawatir apa kangen?" ledek Yoga.
"Sintia khawatir kak, nggak biasanya kak Dimas nggak bisa dihubungi gini, iya kan?"
"Iya juga sih, biasanya dia selalu cerita sama kakak, tapi dia nggak cerita apa apa belakangan ini!"
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ketika Yoga hendak mengantarkan Sintia pulang, mama Dimas datang dan mengajak mereka untuk kembali masuk ke kafe.
"Tante mau jemput Sintia?" tanya Sintia pada mama Dimas.
"Enggak, ada hal penting yang harus tante jelasin sama kamu, Yoga dan Toni," jawab mama Dimas.
Dalam hati Yoga sudah menduga jika berkaitan dengan dirinya dan Toni, itu pasti berhubungan dengan kafe.
Yoga pun memanggil Toni dan memintanya untuk ikut duduk bersama mereka.
"Kalian dengerin tante baik baik ya dan jangan ada yang bantah kata kata tante!"
"Maaf tante, apa kita nggak nunggu Dimas dulu?" tanya Yoga.
"Itu yang akan tante bicarain sama kalian sekarang, soal Dimas, Dimas kecelakaan kemarin, dia sekarang koma di rumah sakit, tante sama om sengaja nggak izinin polisi buat buka hal ini ke media, itu kenapa banyak yang belum tau tentang hal ini," ucap mama Dimas dengan menahan air mata yang ingin tumpah saat itu.
"Om sama tante udah mutusin buat bawa dia ke Singapura kalau 2 hari lagi dia belum sadar," lanjut mama Dimas.
"Apa separah itu tante sampe' harus dibawa ke luar negeri?" tanya Yoga.
"Iya Ga, kalaupun dia sadar, kemungkinan besar dia akan amnesia, tante ingin ketika dia sadar nanti dia memulai hidupnya yang baru di sana, ini yang terbaik buat Dimas Ga, tante harap kalian semua ngerti!"
"Jadi sebenernya kak Dimas nggak pindah dari sekolah?" tanya Sintia dengan air mata menggenang mendengar keadaan Dimas.
"Enggak Sin, om sama tante sengaja nutup masalah ini dari semua orang, om sama tante nggak mau kalau Dimas akan trauma ketika dia sadar nanti dan soal kafe, tante sebagai orangtua Dimas, tante berhak buat nutup kafe ini!"
"Tapi tante, Dimas udah berjuang mati matian buat kafe ini, Dimas nggak mungkin setuju kalau....."
"Kecuali kalian mau janji sama tante!"
"Janji apa tante?"
"Janji kalau kalian nggak akan pernah cerita tentang Dimas sama siapapun, termasuk Dini dan tante nggak mau kalian bahas soal Dini di depan Dimas, apapun masa lalu Dimas, biar jadi masa lalunya, biarin dia lanjutin hidup dengan ingatannya yang baru, kalian bisa janji?"
"Tapi tante......"
"Ini keputusan tante Ga, kalau kamu mau kafe ini tetep buka, ikutin kata kata tante, tapi kalau kamu mau kafe ini tutup, terserah kamu, tante pergi dulu!" ucap mama Dimas lalu pergi meninggalkan kafe.
"Tante, apa nggak ada pilihan lain?" tanya Yoga penuh harap.
"Nggak ada Ga, kamu bicarain hal ini sama Toni, keputusan ada di tangan kalian dan soal mobil yang dipakai Dimas, tante akan ganti!"
Sintia, Yoga dan Toni hanya diam melihat mama Dimas yang pergi meninggalkan kafe. Sintia sama sekali tak memikirkan mobilnya, ia hanya memikirkan keadaan Dimas saat itu.
__ADS_1
Sedangkan Yoga dan Toni masih bimbang dengan keputusan yang akan mereka ambil.