Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya


__ADS_3

Pak Tama merasa iba pada apa yang terjadi dengan anak satu satunya itu.


"Soal mama, kamu nggak perlu khawatir, yang harus kamu lakuin sekarang minta maaf sama dia," ucap Pak Tama pada Dimas.


"Papa nggak keberatan Dimas sama Andini?"


"Enggak, kenapa harus keberatan?"


"Papa tau dia tinggal dimana, gimana keadaan keluarganya?"


"Mama kamu bilang dia tinggal di daerah XX, ayahnya udah meninggal."


"Papa nggak ada masalah sama hal itu?"


"Enggak lah Dim, asal kamu tau ya, orangtua papa dulu juga tinggal di perkampungan, daerah kumuh gitu, papa lahir dan tumbuh di sana Dimas, baru setelah lulus SMA papa kuliah di luar kota."


"Kok papa nggak pernah cerita?"


"Mama kamu nggak pernah mau bahas soal masa lalu papa," jawab Pak Tama sendu.


"Kenapa?"


"Kamu jangan bilang mama ya kalau papa cerita soal semua ini!"


"Iya, Dimas janji!"


"Dulu papa anak orang nggak punya Dim, ayah sakit stroke dari papa masih kecil, ibu jualan rokok di pinggir jalan, tapi ibu nggak pernah putus asa buat sekolahin papa dengan harapan papa bisa dapat kehidupan yang layak di masa depan nanti, sampe' biaya berobat ayah yang dikasih sama saudara dipake' ibu buat biaya masuk SMP papa, kalau aja papa tau pasti papa nolak buat lanjut ke SMP, papa tau itu waktu papa udah kelas 3."


"Papa nggak dapat beasiswa?"


"Dapat, tapi tetep ada beberapa iuran yang harus dibayar, papa cuma nggak perlu bayar biaya SPP tiap bulan, tapi buku, seragam, kegiatan sekolah, papa tetap harus keluar uang sendiri, papa udah nyerah buat sekolah waktu tau biaya berobat ayah dipake' buat biaya sekolah waktu itu, tapi ibu selalu yakinin papa buat terus lanjut sekolah, dari situ papa mati matian belajar, kerja sana sini buat nabung pendaftaran kuliah, papa bertekad buat bahagiain ayah sama ibu dengan kesuksesan papa nanti, tapi Tuhan berkendak lain, ayah meninggal waktu papa ujian kelulusan dan satu minggu kemudian ibu juga pergi nyusul ayah," jelas Pak Tama dengan mata berkaca kaca.


"Papa wisuda tanpa orangtua?"


"Iya Dim, papa bangga sekaligus sangat sedih waktu wisuda, bangga karena perjuangan ibu buat sekolahin papa nggak sia sia karena papa lulus dengan nilai terbaik di sekolah dan papa sedih karena ibu sama ayah nggak bisa ada di sana waktu itu, tapi papa tetap semangat buat lanjut kuliah dan mulai belajar bisnis sama temen temen papa, beruntung papa memiliki lingkungan pertemanan yang sangat baik waktu itu."


"Terus papa kenal mama dimana?"


"Pertama kali papa ketemu mama waktu ada seminar tentang bisnis, waktu itu lagi hujan dan mama cuma pake' baju lengan pendek, mama kamu berdiri sendiri di pinggir jalan terus papa samperin papa pinjemin jaket papa terus kita kenalan," jawab Pak Tama dengan senyum yang mulai mengembang.


"Hahaha papa modus!"


"Enggak dong, tapi papa emang udah ada niat pingin kenalan hehehe....."


"Sama aja pa, tapi mama emang bawel dari dulu pa?"


"Waktu awal awal kenal enggak Dim, pendiam malah."


"Masak sih? mana mungkin seorang mama Angel pendiam!" tanya Dimas tak percaya.


"Beneran, baru bawel waktu papa mulai banyak yang deketin hahaha....."


"Terus abis kenalan jalan dong!"


"Enggak semudah itu Dim, papa ngobrol bentar sama mama kamu terus nggak lama ada mobil mewah yang jemput dia dan ternyata mamanya mama kamu, mamanya keliatan nggak suka sama papa sampe' jaket yang papa pinjemin aja langsung dibuang di depan papa."


"Kejam banget dong pa!"


"Tapi papa nggak putus asa, papa deketin dia terus waktu di kampus sampe' akhirnya kita pacaran diam diam, kalau anak sekarang bilangnya backstreet."


"Berarti mama sama papa dari kalangan yang beda dong!"


"Iya, itu juga yang memotivasi papa buat terus berusaha buat sukses dan buktiin ke orangtua mama kamu kalau papa ini layak buat anaknya, nggak mudah Dim, beberapa kali mama sama papa mau nyerah, waktu mama mulai nyerah, papa yang yakinin mama, begitu juga kalau papa mulai nyerah, mama yang yakinin papa, kita saling menguatkan satu sama lain."


"Kenapa papa nggak nyerah waktu itu?"


"Kamu tau Dim, di sini ada perasaan yang bisa dirasain tapi nggak bisa dijelasin, perasaan yang kuat meski kamu nggak tau alasan apa yang membuatnya ada di sini," jawab papa Dimas sambil menunjuk dada Dimas.


"Dimas tau pa, itu yang Dimas rasain sama Andini."


"Dimas, selama ini mama sama papa selalu berusaha supaya kamu nggak pernah merasa kehilangan kasih sayang orang tua walaupun papa sama mama selalu sibuk, papa sama mama selalu bebasin kamu buat melakukan apapun yang kamu mau karena mama papa percaya kalau kamu bisa bertanggung jawab sama apa yang udah kamu lakuin dan sekarang papa yakin, papa percaya sama semua keputusan kamu, kamu pasti bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu pilih."


"Makasih pa, tapi Dimas nggak pernah ngerasa kekurangan kasih sayang, maaf kalau Dimas sering keras kepala, maaf......"


"Papa kalau liat kamu itu kayak liat diri papa sendiri Dim!" ucap Pak Tama memotong perkataan Dimas.


"Tapi lebih cakep Dimas kan pa?"


"Iya iya, kamu lebih cakep!"


"Oh iya, papa dulu juga nakal?"


"Hahaha, dulu banget Dim, waktu masih SD papa sering narik rambut temen cewek papa kalau lagi istirahat di kantin, kadang papa sengaja nabrak mereka biar makanan yang dibawanya jatuh!"


"Jadi kelakuan buruk Dimas itu juga dari papa dong!"


"Hahaha yang penting sekarang udah nggak nakal lagi kan?"


"Gimana mau nakal, mama aja bawel gitu hahaha....."


"Nah itu hahaha......."


Merekapun tertawa, metertawakan kenakalan masa kecil mereka.


"Tapi sekarang keluarga mama nerima papa kan?"


"Iya lah, kalau nggak nerima ya nggak akan ada kamu di sini, papa paling anti nikah tanpa restu orang tua Dim, karena papa percaya restu orangtua yang akan mempermudah jalan hidup kita."


"Tapi gimana kalau mama nggak bisa nerima Andini pa?"


"Tenang aja, nggak usah pikirin masalah itu, kamu ini SMA aja belum lulus!"


"Tapi Dimas yakin Andini itu masa depan Dimas pa!"


"Iya iya papa percaya sama kamu."


"Jadi papa dukung Dimas sama Andini?"

__ADS_1


"Kenapa enggak? dia cantik, baik juga anaknya, pinter lagi!"


"Makasih pa, Dimas sedikit lega sekarang."


"Sekarang kamu tau kan apa yang harus kamu lakuin?"


"Dimas ragu pa, Dimas udah ngecewain dia," jawab Dimas dengan raut wajah yang kembali sendu.


"Kamu ragu sama perasaan kamu?"


"Enggak pa, Dimas yakin kalau dia......"


"Itu jawabannya, jangan biarin otak kamu mengendalikan hati kamu Dim!"


"Papa bener, Dimas nggak boleh nyerah, Dimas nggak akan pernah nyerah sebelum dapetin apa yang seharusnya Dimas miliki!" balas Dimas penuh keyakinan.


"Gitu dong, ini baru anak papa," ucap Pak Tama sambil menepuk nepuk punggung Dimas.


"Makasih pa!"


"Pak Adi bilang kamu sering jemput dia ya!"


"Iya Pa, Dimas tiap hari antar jemput dia kalau Dimas nggak buru buru ke cafe."


"Yang penting jangan sampe' ganggu belajar sama bisnis kamu aja!"


"Enggak dong pa, justru dia yang bikin Dimas makin semangat!"


"Kamu udah pernah ngapain aja sama dia?"


"Mmmm maa.... maksud papa apa?" tanya Dimas pura pura tak mengerti maksud dari pertanyaan papanya.


"Jangan dikira papa nggak tau ya!"


"Dimas nggak pernah aneh aneh kok pa!"


"Pak Adi liat kamu sama dia lagi......"


"Itu nggak sengaja pa!"


"Tuh kan!"


"Beneran nggak sengaja, Dimas mau ngetuk pintu eh tiba tiba Andini keluar nabrak Dimas terus kita jatuh, dia nindih Dimas."


"Terus?"


"Teruuusss.... udah, gitu aja, papa keluar aja sana, Dimas mau belajar!" jawab Dimas sambil mendorong papanya agar keluar.


"Kamu nggak tau ya kalau papa punya videonya!" ucap Pak Tama dengan senyum jahatnya.


"Video? video apa pa? papa bohong kan?" tanya Dimas yang terlihat panik.


Pak Tama mengambil ponsel dari saku celananya dan memperlihatkan sebuah video pada Dimas. Video ketika ia menjemput Dini dan Dini yang tak sengaja menabraknya lalu Dimas yang berpura pura kesakitan dan malah menarik Dini agar kembali menindihnya.


Dimas segera menarik ponsel papanya dengan paksa, namun Pak Tama lebih sigap dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Pak Adi ya yang ngasih papa video itu?"


"Editan itu pa!" balas Dimas asal.


"Hahaha, kamu kira papa nggak pernah muda?"


"Berarti papa juga pernah dong sama mama?"


"Pernah, mau tau?"


"Mau!" jawab Dimas cepat.


"Kamu cerita dulu sama papa, kamu ngapain aja sama dia?"


"Beneran pa, Dimas nggak pernah aneh aneh sama dia."


"Pelukan?"


"Pernah."


"Ciuman?"


"Eee... enggak nggak pernah."


"Bener?"


"Ciuman yang kayak gitu gitu kan pa?? nggak pernah, beneran!"


"Hmmmm, cium pipi?"


"Pernah."


"Cium kening?"


"Tiap hari."


"Tiap hari?"


"Ya enggak tiap hari juga sih pa, tiap Dimas mau pulang dari rumahnya."


"Cium bibir?"


"Mmmm, enggak deh kayaknya."


"Kok kayaknya?"


"Pernah, tapi nggak sengaja hehehe....."


"Kok nggak dibikin sengaja?"


"Andini bukan cewek gampangan pa!"

__ADS_1


"Hmmmm, payah kamu Dim!"


"Biarin!"


"Kalau pegang pegang?"


"Apaan sih pa, Dimas nggak mesum kayak papa ya!"


"Hahaha, serius?"


"Iya lah, hubungan Dimas sama Andini sehat pa!"


"Pinter anak papa," ucap Pak Tama sambil mengacak acak rambut Dimas.


Dimas hanya memutar bola matanya mendengar pertanyaan pertanyaan absurd dari papanya.


"Tapi si adek udah pernah dibikin bangun dong?"


"Ada pertanyaan lain nggak pa?"


"Hahaha, udah ya, waktu ngapain?"


"Udah ah papa keluar aja sana!" balas Dimas dengan kembali mendorong papanya untuk keluar.


"Loh kamu nggak mau denger cerita papa lagi?"


"Enggak, papa mesum!"


"Hahaha kamu harus banyak belajar sama papa Dim!" ucap Pak Tama dari balik pintu kamar Dimas yang sudah tertutup.


Dimas merebahkan badannya di ranjang. Pikirannya memikirkan kata kata papanya. Selama ini ia memang tak pernah mengetahui tentang keluarga papanya, yang ia selalu dengar hanyalah tentang keluarga mamanya.


Ia pernah sekali bertanya pada mamanya tentang keluarga papanya, namun mamanya malah marah dan melarang Dimas untuk menanyakan hal itu lagi. Itu lah kenapa ia tak pernah menanyakannya lagi. Sekarang ia mengerti betapa kelamnya masa lalu papanya.


Dari papanya ia banyak belajar, belajar untuk tidak mudah menyerah dan putus asa, belajar untuk selalu berusaha dan yang paling penting adalah belajar untuk mendapatkan apa yang seharusnya dimilikinya.


Ia merasa sangat beruntung lahir di keluarga Adhitama. Bukan karena kekayaan yang dimiliki orangtuanya tapi karena cara orangtua nya yang mendidiknya dengan sangat baik membuatnya selalu merasakan hangatnya kasih sayang sebuah keluarga.


"Tunggu Andini, aku akan datang lagi," ucap Dimas dengan memandangi foto Dini di ponselnya.


Ia pun berusaha menghubungi Dini namun tak pernah ada ada jawaban hingga ia tertidur.


******************


Esok harinya, Andi menjemput Dini untuk berangkat ke sekolah karena ia yakin Dini tak akan mau dijemput oleh Dimas.


Andi duduk di depan rumah Dini seperti biasa, tanpa memanggil dan mengetuk pintunya.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit, namun tak ada tanda tanda Dini yang akan keluar dari rumahnya.


Andi mulai khawatir. Ia pun berdiri dari duduknya dan memanggil Dini.


"Din, kamu udah bangun kan?"


Tak ada jawaban, Andi mengetuk pintu beberapa kali, tetap tak ada jawaban.


Dengan terpaksa Andipun masuk ke rumah Dini tanpa permisi.


"Din, kamu baik baik aja?"


Masih tak ada jawaban. Andi membuka pintu kamar Dini pelan pelan. Ia melihat Dini yang masih terpejam dengan selimut yang masih melekat di badannya. Wajahnya terlihat pucat, keringat dingin membasahi wajahnya.


"Dini, kamu kenapa Din?"


Andi menggoyang goyangkan tubuh Dini dengan pelan, berharap Dini segera bangun.


"Din, bangun Din!" ucap Andi yang terlihat sangat khawatir.


"Dimaas," ucap Dini dengan suara bergetar, tanpa membuka matanya.


Andi segera mengambil tissue yang terletak di meja belajar Dini dan mengusap keringat dingin yang membasahi wajahnya.


"Badan kamu panas banget Din," ucap Andi pelan.


"Dimaas," ucap Dini lagi membuat Andi menghembuskan napasnya kasar karena kesal.


"Dia udah kasar sama kamu Din, dia egois!"


Dini mulai membuka matanya. Matanya terlihat begitu sayu karena wajah pucatnya.


"Andi," panggil Dini pelan.


"Kamu ke rumahku aja ya, biar ibu yang ngerawat kamu."


"Enggak Ndi, aku nggak mau ngrepotin Bu Joko."


"Kalau kamu nggak mau ke rumahku, aku nggak sekolah, nggak mungkin aku biarin kamu sendirian sekarang!"


"Jangan Ndi, kamu jangan bolos!"


"Ya udah kamu ke rumahku ya!"


Dini mengangguk.


Andi mengambil jaket Dini yang tergantung di dinding dan segera membantu Dini untuk berjalan ke rumahnya.


"Bu, Dini sakit!" ucap Andi pada ibunya.


"Ya ampun Din, badan kamu panas banget!" ucap Bu Joko ketika membantu Dini untuk masuk ke kamar Dimas.


"Kamu buruan berangkat Ndi, biar ibu yang jaga Dini," ucap Bu Joko pada Andi.


"Iya bu, kalau ada apa apa kabarin Andi ya bu!"


Bu Joko mengangguk lalu segera pergi ke dapur untuk membuatkan Dini bubur.


"Kamu sarapan bubur dulu ya Din, abis itu minum obat!" ucap Bu Joko sambil menyuapi Dini dengan bubur buatannya.

__ADS_1


"Makasih bu, maaf Dini ngrepotin."


"Jangan bilang gitu, kamu udah ibu anggap anak ibu sendiri."


__ADS_2