
Andi yang merasa ditinggal kabur oleh Dimas, segera menyusul Dimas ke kamar mandi.
"emang nggak bisa dipercaya banget ini orang," ucapnya dalam hati.
Sebelum sampai di kamar mandi, ia melihat Dimas yang bersembunyi di balik dinding.
"Heiii, ngapain lo?" teriak Andi pada Dimas, membuat Dimas terkejut, begitu juga seseorang yang sedang Dimas awasi.
"Lo ngapain sih ke sini?" tanya Dimas kesal.
Ia semakin kesal karena seseorang yang ia awasi tadi sudah tidak berada di sana.
"sial, dia udah pergi, pasti dia denger teriakan Andi tadi, mana aku belum sempet liat wajahnya lagi, tapi nggak papa setidaknya ada sedikit petunjuk dari jaket merah dan sepatu yang dia pakai," batin Dimas.
"Ya lo ngapain di sini? katanya mau ke kamar mandi malah nyantai di sini."
"Siapa yang nyantai sih, gue mau ke kamar mandi."
"Terus kenapa lo masih di sini? ngintipin siapa sih?" tanya Andi penasaran.
"Nggak usah kepo, lanjutin aja kerjaan lo!"
"Enak banget lo ya nyuruh gue kerja tapi lo malah nyantai di sini! "
"Heiii Heiii ada apa ini?" tanya Pak Tejo yang tiba-tiba datang.
"Dimas mau kabur Pak," jawab Andi.
"Enggak Pak, saya mau ke kamar mandi."
"Udah udah, kalian mau saya laporkan ke Bu Ana karena berantem lagi?"
"Jangan dong Pak, kita nggak berantem kok, iya kan sobat?" ucap Dimas sambil merangkul pundak Andi.
Andi hanya diam tak merespon, lalu pergi.
"Kalau kamu ke kamar mandi jangan lama-lama, kamu nggak boleh pulang sebelum semua halaman bersih," ucap Pak Tejo pada Dimas.
"Iya Pak, saya mengerti."
Pak Tejo pun berniat kembali ke pos jaganya, namun ditahan oleh Dimas karena ada hal yang harus Dimas tanyakan.
"Pak, yang belum pulang siapa aja ya?"
"Cuma ada saya, kamu sama Andi, kenapa?"
"Nggak ada lagi Pak?"
"Nggak ada, saya udah cek semua ruangan dan yang terakhir keluar tadi Pak Sony, sekarang tinggal kita bertiga," jelas Pak Tejo.
"Kenapa? kamu lihat hantu?" tanya Pak Tejo serius.
"Haah, emang ada Pak?"
"Mungkin, hahaha....." jawab Pak Tejo sambil tertawa puas lalu pergi meninggalkan Dimas.
"mana ada hantu pake' sepatu," batin Dimas.
Setelah ke kamar mandi, Dimas melanjutkan tugasnya untuk membersihkan halaman bersama Andi.
"Lo tadi liatin apa sih?" tanya Andi yang masih penasaran.
__ADS_1
"Liatin setan, mirip lo! hahaha...." jawab Dimas asal.
"Lo yang setan!" balas Andi kesal.
Setelah selesai membersihkan semua halaman sekolah dan sudah di cek oleh Pak Tejo, Dimas dan Andipun pulang.
Esok harinya, seperti biasa Andi sudah menunggu Dini di depan rumah.
Tak ada Dimas hari itu, karena ia terlambat bangun.
Sesampainya di sekolah, Dini segera masuk ke kelasnya. Ia tidak mau lagi membuka lokernya, takut akan melihat ancaman-ancaman yang hanya mengganggu pikirannya.
"Dimas kok belum dateng ya!" ucap Dini setelah matanya berkeliling mencari Dimas.
"Bolos mungkin," balas Andi.
"Kamu jangan negatif thinking terus dong Ndi!"
Andi hanya menghela napas, entah kenapa yang Andi lihat dari Dimas hanya sisi negatifnya saja, seolah menutupi semua sisi positif dari Dimas.
Tak lama kemudian Dimas datang bersama dengan bel masuk.
"Pagi sayang!" sapa Dimas pada Dini.
Dini hanya tersenyum.
Beberapa saat kemudian Bu Indah -guru kesenian- datang.
Bu Indah meminta semuanya untuk membuat sebuah karya seni dari barang-barang bekas dan hasil karya itu harus di kumpulan besok siang.
"Karena ini adalah ujian praktek buat kalian, siapa yang tidak mengerjakan tugas ini, nilai ujiannya akan ibu kasih nol," jelas Bu Indah yang terkenal sangat tegas.
"Kalau telat Bu?"
"Paham Bu."
Setelah bel istirahat berbunyi, Dini pergi ke perpustakaan bersama Andi.
"Kamu udah ada ide buat bikin karya apa?" tanya Andi pada Dini.
"Belum Ndi, kamu?"
"Kayaknya sih mau bikin baju dari kain perca, di rumah kan banyak kain perca."
"Oh iya, kamu kan suka gambar-gambar rancangan baju gitu, jadi nanti mau kamu jahit sendiri?"
"Iya, tapi aku bikin yang mini aja Din hehehe."
"Nggak papa Ndi, nanti kalau udah jadi kasih liat aku ya!"
"Oke."
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 14.00, bel pulang sudah berbunyi.
"Sayang, ikut aku!" ucap Dimas sambil menggandeng tangan Dini.
"Eeh, apa-apaan ini, lepas!" ucap Andi sambil melepaskan tangan Dimas yang menggandeng Dini.
"Lo pulang duluan aja, gue ada urusan penting sama Dini," balas Dimas.
"Nggak bisa, gue..."
__ADS_1
Belum sempat Andi melanjutkan ucapannya, Anita tiba-tiba datang memanggilnya.
"Andiiiii."
"Tuh pacar lo dateng!" ucap Dimas sambil menggandeng tangan Dini lalu pergi.
Andi hanya bisa pasrah melihat Dini pergi bersama Dimas.
"Ada apa Nit?"
"Bantuin aku ngerjain PR lagi dong," pinta Anita.
"Di mana?"
"Di kelas."
Andi mengangguk lalu mengikuti Anita masuk ke kelasnya.
Sedangkan Dimas mengajak Dini untuk menemui Bu Ana dan meminta izin jika tidak bisa mengerjakan hukumannya hari ini, karena harus mengerjakan tugas dari Bu Indah secepatnya.
Bu Anapun mengizinkan dengan syarat menambah satu hari lagi hukumannya. Dimaspun setuju.
"Ndi, gue pulang sama Dini, lo sama Anita ya!" ucap Dimas pada Andi.
"Nggak bersih-bersih halaman?" tanya Andi.
"Enggak, gue udah izin sama Bu Ana, lo juga udah gue izinin."
"Bagus deh!"
"Lo nggak mau terimakasih sama gue?"
"Nggak," jawab Andi singkat.
"Udah, ayo pulang," ajak Dini pada Dimas sambil menarik tangannya.
Merekapun keluar dari kelas Anita. Membiarkan Andi dan Anita berdua di sana.
Sebelum pulang, Dimas mengajak Dini membuka loker miliknya.
"Buat apa Dim?"
"Aku mau liat ada apa di sana?"
"Kenapa kamu tiba-tiba jadi penasaran gini?"
"Aku kemarin liat pelakunya, dia masukin sesuatu ke loker kamu."
"Serius? siapa Dimas?"
"Wajahnya nggak keliatan, tapi aku inget jaket sama sepatu yang dia pake' kemarin."
Dinipun segera membuka lokernya, berharap ada petunjuk lain yang bisa ia dapat.
Namun ternyata tidak apapun yang ia lihat, lokernya kosong.
"Kosong Dim," ucap Dini pada Dimas.
"Kok kosong? aku yakin banget yang aku liat kemarin pelakunya, dia bawa sesuatu dan dimasukin ke loker kamu," ucap Dimas penuh keyakinan.
"Mungkin bukan dimasukin lokerku Dim," balas Dini memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain.
__ADS_1
"Enggak Andini, aku yakin kemarin dia masukin ke loker kamu, karena loker kamu di pojok jadi pasti kelihatan walaupun dari jauh," jawab Dimas yang masih sangat yakin atas apa yang dia lihat kemarin siang.